Selasa, 30 Desember 2008

Bukan Kebebasan Sayang, tapi 'Eksploitasi'...

Apa hubungannya mobil di pameran itu dengan gadis-gadis ‘berseragam’ seronok sambil lenggak-lenggok mengelilingi mobil, ini pameran mobil atau wanita? Apa fungsinya wanita dengan rok ‘BUPATI’ itu duduk di kursi tinggi ongkang kaki di belakang etalase kaca toko HP, yang mau dibeli apa atau siapa? Apa laki-laki yang nganggur sudah habis sehingga karyawan SPBU sekarang diambil alih kaum hawa? Kenapa iklan baliho di pinggir jalan itu selalu menawarkan “bonus” senyum wanita? Duh, kenapa yang memperingatkan kalau pulsa saya hampir habis selalu suara wanita?

Itu kan kemajuan? Ya, maju menuju ke jurang kehinaan. Ini ‘keberhasilan’ para pejuang kebebasan. Mereka bebas tapi hak, kehormatan dan kodratnya sebagai wanita dirampas. Mereka mungkin merasa lebih ‘dihargai’ tapi bukan sebagai manusia melainkan ‘barang komoditi non migas’ yang mudah ditukar dan didapatkan dengan beberapa rupiah. Mereka memang ‘diberdayagunakan’ tapi tidak lebih dari sekedar hiasan yang bila usang akan diganti.

Saudariku, tahu tidak? Wanita-wanita barat di tengah kehidupan serba bebas dan glamour, mereka sebenarnya sangat cemburu dengan adab bangsa timur yang memperlakukan wanitanya bak ratu di rumahnya.

Dalam suatu kisah seorang wanita tua non muslim yang bertetangga dengan keluarga muslim, mengungkapkan kecemburuannya melihat kehidupan keluarga muslim tersebut. Di mana sang istri sepanjang hari di rumah menemani anak-anaknya. Ketika sang ayah datang dari tempat kerja disambut dengan derai tawa dan peluk anak-anaknya disusul senyum sang istri seraya mencium tangan suaminya. Sederhana, tapi surga. Wanita tua itu saat berkunjung ke rumah keluarga bahagia tersebut mengungkapkan bahwa andaikan ia masih muda maka ia akan bersuamikan dengan seorang pria muslim sebagaimana suami keluarga tersebut.

Ternyata dulu dia adalah wanita karir. Demi karirnya ia meninggalkan tugas utamanya di rumah; mendidik dan mengasuh anaknya. Tanpa tergantung pada suami semua kebutuhannya terpenuhi oleh pekerjaannya lebih dari cukup, tapi semua terasa hambar. Ia kehilangan nilai dan kesempatan yang sangat berharga, sesuatu yang seharusnya menjadi hak fitrah dan kodratnya; sebagai seorang Ibu untuk anak-anaknya dan sebagai seorang istri yang melayani dan dinafkahi oleh suaminya, terampas.

Suaminya telah meninggal. Kini ia ditinggalkan oleh anak-anaknya yang tak sempat ia didik dengan baik, yang tak mengenal arti seorang ibu apalagi untuk berbakti padanya.

Pernah dengar Marlin Mondroe? Artis cantik dan kaya di Amerika Serikat yang mati tragis bunuh diri. Sebelum bunuh diri ia sempat membuat sebuah surat yang dimasukkan dalam sebuah kotak di sebuah bank di New York:
“Berhati-hatilah dengan ketenaran, berhati-hatilah dan wapadalah terhadap sinar-sinar yang menipu kalian. Sesungguhnya aku adalah wanita yang paling celaka di dunia! Aku tak mampu menjadi seorang ibu. Aku adalah seorang wanita yang mencintai rumah. Kehidupan keluarga adalah simbol kebahagiaan seorang wanita, bahkan simbol bagi kemanusiaan, kebahagiaan kemanusiaan itu sendiri. Aku adalah seorang wanita yang benar-benar telah terzhalimi oleh manusia-manusia lain. Bekerja dalam sebuah teater atau perfileman betul-betul menjadikan wanita sebagai barang dagangan murahan dan remeh, meskipun dia mendapatkan popularitas dan ketinggian.”

Sungguh amat sangat terlalu naif sekali ketika mereka mengutuk gaya hidup mereka sendiri, wanita-wanita timur justru berlomba menjadi pemuja dan pendamba ‘barang’ yang selama ini membelenggu dan ingin mereka buang.

Saudariku, musuh-musuh agama ini sangat tahu apa yang telah membuat kehidupan sosial, budaya, etika, moral dan agama mereka berantakan. Dalam sejarah peradaban bangsa-bangsa yang runtuh pun begitu, jatuh, hancur disebabkan oleh makhluk lembut yang bernama wanita. Mereka ingin menularkan penyakit itu kepada kita.

Saudariku, musuh-musuh Allah telah merayakan kemenangannya pada kali pertama berhasil ‘menyeret’ para muslimah dari rumah kehormatannya, menjejali jalan, memenuhi pasar-pasar, instansi-instansi dsb. Tak sampai di situ merekapun kemudian menelanjanginya dengan pakaian seadanya.

Dan merekapun tahu apa yang membuat kita jaya dan menguasai dunia selama bertahun-tahun. Mujahidin yang gagah perkasa itu tidak terbentuk begitu saja, ia ditempa oleh tangan lembut ibu yang shalehah di setiap suapan, dalam belaian, dan rintihan doanya.

Ketahanan dan betahnya di medan perjuangan bukan tanpa alasan, di belakangnya ada permata dunia yang senantiasa mendorong dan mendo’akannya, Istri shalihah yang membuatnya lebih cinta kepada Allah dari segalanya, pun tak perlu khawatir meninggalkan jundi-jundinya di pangkuan sang istri yang pasti mempersiapkan sebagai penerusnya.

Dalam suatu kisah yang masyhur, ada seorang wanita yang datang menghadap panglima militer Islam, menjelang keberangkatan tentara mujahidin ke medan jihad. Wanita bercadar tersebut menyerahkan sebuah kotak kepada panglima. Betapa terkejutnya panglima tersebut ketika membuka kotak tersebut dan mengetahui di dalamnya berisi dua pilinan (kepangan) rambut yang sangat panjang.

Sang panglima bertambah kaget, setelah wanita itu mengatakan bahwa dua pilinan rambut yang sangat panjang itu adalah rambutnya sendiri. Ia adalah seorang janda miskin yang tidak memiliki harta untuk disumbangkan kepada tentara mujahidin. Wanita itu pun sengaja memotong rambutnya sendiri sebagai wujud partisipasinya dalam jihad.

Panglima tentara Islam semakin takjub, ketika wanita muslimah itu meminta agar kedua kepangan rambutnya dijadikan sebagai tali kekang kuda yang dipakai berjihad oleh tentara kavaleri Muslim.

Setelah wanita itu pulang ke rumahnya, sang panglima mujahidin memerintahkan para tentara Islam untuk segera berbaris rapi. Ia pun berpidato di hadapan para mujahidin dan menceritakan tentang adanya seorang wanita mukminah yang menyumbangkan dua kepangan rambutnya sendiri untuk dipakai sebagai tali kekang kuda perang.

Dan kau tahu, itu sangat cukup untuk membakar semangat para mujahidin untuk memporak-porandakan musuh Allah.

Apakah andil wanita itu sebatas itu? Setelah mujahidin pulang dari medan perang Sang wanita itu tersenyum, mengucapkan hamdalah saat mendapati anaknya sebagai salah satu mujahidin yang gugur dalam pertempuran tersebut.

Sekali lagi musuh Allah sangat tahu di mana letak kekuatan itu dan ingin melemahkannya, secara halus, dengan iming-iming segepok rupiah, lambat tapi pasti ia ingin menggiring semua muslimah untuk masuk dalam ‘kubangan eksploitasi’. Bukan kebebasan sayang, tapi eksploitasi...

Ah, sinar matamu masih terlalu polos untuk mengerti semua ini. Pesanku belajarlah baik-baik. Saya yakin, suatu saat kau akan menyadari seraya tersungkur sujud bahwa syariat-Nya terlalu sempurna untuk engkau tolak.

Sebelum kau tidur kulafalkan syair ini

Bukan dari tulang ubun ia dicipta
Sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja
Tak juga dari tulang kaki
Karena nista menjadikannya diinjak dan diperbudak

Tetapi dari rusuk kiri
Dekat ke hati untuk dicintai
Dekat ke tangan untuk dilindungi

*Jangan anggap sepele, urusannya separuh agama
Jangan biarkan ia sendiri, bimbing ia, asalnya ia bengkok
Jangan keras, bisa patah
Jangan lembek, susah bila terlanjur

Kecup keningmu adik kecilku...

*Penambahan oleh penulis dari syair asli

Sabtu, 27 Desember 2008

Islam Bukan 'Gado-gado'

Coretan di akhir tahun miladiyah, di tengah musibah global "krisis akidah".

Salah satu polemik dari tahun ke tahun dan tak pernah selesai di tiap akhir tahun masehi adalah tema; boleh tidaknya memberi selamat hari raya agama lain (baca aja: Kafir). Ironisnya, polemik ini beredar di tengah kaum muslimin sendiri, semua merasa benar dengan argumen dari dalil, dalih, pendapat sendiri, atas dasar perasaan, dsb.

Suatu masalah memang tidak akan selesai jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, meski memakai satu dalil. Tapi penyelamatan dan pembelajaran akidah yang haq terhadap ummat harus selalu dan menjadi prioritas utama dalam dakwah.

Yang kalah, yang latah
Sudah menjadi konsekuensi dan fenomena umum bahwa bangsa/kaum yang kalah akan takluk dan latah kepada bangsa/kaum yang mengalahkannya. Baik dalam hal perekonomian, budaya, hukum pendidikan sampai dalam tataran agama sekalipun. Sadar atau tidak hal itu telah kita lihat di depan mata kita sekarang ini, bangsa, budaya hukum, tak ketinggalan agama kita.

Saya tidak mengatakan Islam sebagai satu-satunya agama yang di sisi Allah kalah, tidak! Islam tetap meninggi dengan kemuliaannya. Yang kalah adalah kebanyakan pemeluknya sekarang ini. Penyebab kekalahannya cuma satu, tidak konsisten dengan ajaran yang dianutnya. berdasarkan hadits dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:

Apabila kalian telah terlibat jual beli ‘inah (riba), kalian telah mengambil ekor-ekor sapi, merasa senang dengan pertanian dan kalian tinggalkan jihad, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan timpakan kehinaan kepada kalian. Tak akan dicabut kehinaan itu hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3458)

"Sungguh kalian akan mengikuti jejak orang-orang yang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai sekalipun mereka memasuki lubang biawak, kalian tetap mengikutinya." Kami bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang Yahudi dan Nasrani?" Beliau menjawab: "Siapa lagi (kalau bukan mereka)?" (HR Bukhari dan Muslim)

Adalah sunnatulah bahwa siapapun yang konsisten dan komitmen dengan keyakinannya maka dia akan menjadi pemenangnya, meskipun itu adalah kebatilan. Jadi, dimanapun dalam keadaan apapun rumus kemenangan adalah KONSISTEN. Dalam agama kita tentunya kita sudah mahfum (paham) yang dimaksud di sini adalah konsisten dengan sumber hukum tertinggi; Al Qur'an dan As Sunnah. Masih bingung konsistennya bagaimana? Konsistenlah sebagaimana konsistennya golongan yang dijamin oleh Allah dan Rasulnya yakni para sahabat, tabi'in dan atba'ut tabi'in, itu sudah cukup. (Hmm, sebenarnya jika semua kaum muslimin sepakat dengan ini polemik tidak akan berlanjut hingga hari ini).

Kita anggap semua sepakat. Pertanyaannya adalah apakah Rasulullah dan generasi terbaik setelahnya pernah mengucapkan hari raya kepada agama lain? Nyatanya tak satupun dalil yang menyatakan itu, bahkan hari-hari raya buatan yang kebanyakan kaum muslimin sekarang lakukan juga tidak mereka lakukan.

Kalau Anda menang, Anda takkan latah. Kalau Anda Konsisten, Anda takkan kalah.

Setan itu Step by step
Salah satu ciri khas ajaran Islam adalah proteksinya terhadap jalan-jalan kemaksiatan. Jauh sebelum kemaksiatan itu terjadi semua sumber dan sebab kemaksiatan itu memang sudah dilarang untuk dilakukan.

Misalnya; zina, jauh sebelum zina itu dilakukan, pintu-pintu yang mengarahkan kepada perzinahan memang sudah ditutup. Makanya wajar jika ada orang yang berzina dan telah beristri/bersuami dihukum rajam, sebab begitu banyak pintu larangan yang telah ia buka.

Terlebih dalam masalah tauhid sebagai pondasi agama ini, jauh sebelum kesyirikan itu terjadi sebab-sebab yang bisa menimbulkan kesyirikan sudah sangat dilarang, tak selubang jarum pun. Misalnya; penyembahan patung dan sebagainya, gambar-gambar makhluk bernyawa memang sudah dilarang oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengan ancaman laknat yang keras bagi pembuatnya.

Mengapa se'ekstrim' itu? Sebab jika itu dibiasakan cepat atau lambat itu akan berpengaruh terhadap aqidah, akan mengikis kepekaan kita terhadap tauhid, sesuai dengan syair "katsratul massas, qillatul ihsas" (banyak sentuhan sedikit kepekaan). Bagaimanapun entengnya perilaku itu pasti akan berpengaruh terhadap hati, semakin sering kita lakukan maka pengaruhnya juga akan semakin kuat dan menyingkirkan semua keyakinan dan idealisme yang selama ini dipegang. Jadi, Bagaimana dengan pendapat yang mengatakan bahwa kita boleh mengucapkan selamat natal dengan catatan hati kita mengatakan selamat lahir kepada nabi Isa as? Jawabnya: Jika Anda lakukan maka lambat laun Anda akan menyanyi natal bersama mereka.

Setan tidak akan langsung membisikkan kepada kita, "Sembahlah Yesus (Isa)" sebab jika itu bisikan pertamanya dijamin takkan berhasil. Yang pertama mungkin bisikan, "Natal itu hari kelahiran Isa Alaihi salam.....", “Yang kita rayakan adalah maulid Nabi Isa...” (mirip dengan pernyataan-pernyataan di beberapa artikel yang pernah penulis baca).

Adil terhadap Isa Alaihi Salam?
Kengganan kita untuk ikut dalam perayaan Natal sama sekali tidak mengurangi penghormatan kita kepada Beliau Alaihi Salam sebagai salah satu Rasul Allah yang wajib kita imani, sebab yang menjadi masalah di sini bukan kerasulan Isa 'Alaihi Salam. Tapi keyakinan mereka (ummat kristiani) yang menempatkan Isa pada tempat yang sangat tidak adil, pada tataran Tuhan! Jika Anda mu'min sejati ini sudah cukup untuk membuat Anda benci dan muak akan hal ini.

Belum ditinjau dari histori natal yang 'dipaksakan' sebagai hari lahir Isa, meski betul merayakan hari lahir dengan acara-acara tertentu pun adalah ajaran dari luar Islam.

Menyinggung soal adil, penulis jadi teringat dengan kisah seorang nasrani yang bertanya kepada seorang muslim, kira-kira percakapannya begini;
Nasrani : “Agama Anda sungguh tidak Adil, kalian boleh menikahi wanita ahlul kitab sedangkan kami tidak boleh menikahi wanita kalian.
Muslim : "Yang tidak adil itu kalian, kami beriman kepada Musa Alaihi Salam, Isa Alaihi Salam, dan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tapi kalian hanya beriman pada keduanya tidak pada Muhammad, jika kalian ingin menikahi wanita kami mestinya kalian juga harus beriman pada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Sangat adil.

Kau Islam atau...
Salah satu pembatal keislaman adalah ketika seorang muslim tidak mengkafirkan orang kafir. Tidak dikatakan beriman seseorang ketika tidak ada penolakan terhadap yang bertolak belakang dengan keimanan itu. Lebih jelasnya dalam kalimat tauhid laailaha illallah, pada kalimat pertama laailaha (tiada tuhan); kalimat itu disebut an nafi' (peniadaan/penolakan) terhadap segala bentuk ketuhanan. Disusul dengan kalimat kedua illallah (kecuali Allah); adalah kalimat penetapan al itsbat (penetapan). Unsur peniadaan dan penetapan ini adalah syarat tauhid, tanpa salah satunya maka tertolak. Tidak dikatakan bertauhid jika tidak ada penolakan terhadap seluruh bentuk thagut (sesembahan selain Allah).

Dalam konteks muamalah sehari-hari pun kaidah tersebut berlaku, tidak dikatakan sempurna keimanannya jika tidak ada pengingkaran terhadap suatu bentuk kemaksiatan meskipun itu di dalam hati.
Dengan ini akan jelas beda antar yang mu’min dengan yang tidak.

Toleransinya mana?
Hal yang sering dipertanyakan dan dijadikan alasan bagi para pendukung perayaan agama lain adalah kita harus toleransi dengan pemeluk agama lain, "Mereka juga mengucapkan selamat idul fitri kepada kita, kan tidak adil kalau kita tidak berlaku sama terhadap mereka." Katanya.

Begitukah toleransi? Dalam Islam batasan toleransi sangat tegas dan jelas, "lakum dinukum waliyadin" (bagimu agamamu dan bagi kami agama kami). Anda tak perlu memberi ucapan selamat kepada kami, kami memang tidak menunggu untuk itu. Begitupun kalian silahkan rayakan hari raya Anda, kami tidak akan mengganggu tapi jangan berharap ucapan selamat dari kami sebab "Laa'abuduma ta'buduna, walaa antum 'abiduna maa'abudu" (Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah).
Toleransi yang sangat toleran, adil dan proporsional.

Ciri Ibadurrahman
Salah satu karakter ibadurrahman (hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang) adalah seperti yang disebutkan dalam surah al-Furqan ayat 72 :
Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
Oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma Makna azzuur (persaksian palsu) juga berarti menyaksikan/menghadiri hari raya orang kafir.

Penutup
Dengan kesempurnaan syariat Islam seharusnya menjadikan kita merasa cukup dengan itu, tanpa harus mengekor dengan agama lain. Merasa mulia dengannya yang menghilangkan keminderan kita untuk menampilkan dan melaksanakan syiar-syiar Islam tanpa harus mencontek agama lain. Allah Subhanahu wa Ta'ala sudah memberikan hari-hari raya terbaik yang dengannya kita merasa cukup dengan itu tak perlu inovasi apalagi ikut-ikutan dalam perayaan agama lain.

Mari kita konsisten (istiqomah) dengan ajaran agama haq ini, berpegang teguh dengan akidah yang sahih tanpa perlu mencampurnya dengan akidah dan ajaran lain. Islam bukan agama 'Gado-gado'.
Allahu Musta’an
Makassar, 27 Desember 2008

Selasa, 23 Desember 2008

Bunda, Baktiku di Seluruh dan Sepenuh Hari-hari

Binar matamu memandangku penuh sayang, sesekali mengecup dahi dan pipiku tak bosan. Igauan dan geliatku menambah gemasmu. Tiap hari, bahkan kadang sepanjang malam matamu rela tidak terpejam, di awal-awal pekan mengenal dunia aku memang rewel. Entah berapa kali lentik jarimu membelaiku, tak rela seekor nyamukpun menyentuh tubuhku. Tanpa rasa bersalah kotoranku sering membasahi pakaianmu, itu jua tak mengurangi sayangmu bahkan kau membalasnya dengan kecupan lagi. Ah, kenangan indah saat pertama mengenalmu, cinta pertamaku.

Hari berlalu hari, aku makin mengenalmu, kau bukan sekedar pengasuh, demi aku, demi kami kau adalah guru…, kau adalah pembela…, kau adalah penjaga…, kau adalah dokter…, kau adalah segalanya bagi kami.

Tak jarang kami mengecewakanmu bahkan menangis, membuat menyesal bertalu dalam dada kami. Tapi sungguh, kau tak pernah memendamnya untuk kami, kau hanya menganggapnya tak lebih dari fatamorgana hidup. Kerelaanmu membawa kami kepangkuanmu, rengkuhanmu dan sekali lagi kecupanmu.

Bunda, telah 24 tahun aku menikmati hari-hari itu, piutang jasamu terlalu menumpuk untuk saya bayar dengan sekedar bakti ala kadarnya.

Bunda, hari ini (22 Desember) banyak yang mengatakan adalah hari Ibu. Sehari dalam setahun ini apapun cara mereka lakukan untuk menyenangkan Bunda mereka. Ah, mereka memang picik, latah. Tapi saya bukan mereka Bunda, bagi saya semua hari untuk Bunda tak terkecuali. Bunda, baktiku di seluruh dan sepenuh hari-hari, baktiku tak mengenal hari Ibu. Bunda tak perlu menunggu sehari dalam setahun itu untuk mendapat bakti dari saya, setiap hari Bunda, insya Allah.

Meski saya sadar itu semua tak mampu dan takkan pernah bisa membalas setetes air mata dan satu desah napas Bunda saat melahirkanku. Takkan pernah. Tapi ini semua saya lakukan untuk mendapatkan keridhoanmu, aku ingin mati dalam keadaan itu.

Bunda, doakan aku agar menjadi anak yang saleh, aku ingin menjadi syafaat bagimu di hari perhitungan kelak. Mudah-mudahan itulah hadiah terbesar dari saya buat Bunda.

"Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa kedua orangtuaku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil."
“Ya Allah kumpulkanlah kami sebagaimana Engkau mengumpulkan kami di dunia dalam surga-Mu”
“Ya Allah jadikanlah kami termasuk orang yang bertaqwa kepada-Mu dan janganlah Engkau golongkan kami termasuk dalam orang yang bermusuhan.”

Setitik bakti buat Bunda.

Sabtu, 20 Desember 2008

Retorika Kondom & Budaya Selingkuh VS Elegi Poligami

Tulisan ini pernah saya publikasikan 2 tahun lalu (2006), tapi saya berinisiatif untuk menampilkan lagi, mengingat kontennya relevan dengan Peringatan Hari HIV/AIDS sedunia yang marak baru-baru ini.

“Anda mau selamat pakailah kondom!” ini mungkin pesan yang dapat kita tangkap dari iklan-iklan kondom di TV atau slogan-slogan orang-orang yang katanya ‘peduli’ dengan HIV/AIDS. Tidakkah pesan ini akan sangat indah, lebih bermoral dan proteksi jika kalimatnya : “Anda mau selamat takutlah kepada Allah dan setialah kepada pasangan anda”.

Ketika menyaksikan beberapa berita yang kisaran peringatan hari AIDS sedunia ada perasaan geli, jijik, dan sedih. Pasalnya, kebanyakan aksi yg dilakukan 1 Desember 2006 lalu mengusung tema yang sama “Selamatkan diri dengan kondom”.
Tidak dapat disangkal lagi, alat kontrasepsi yang satu ini sudah membumi dan mudah diperoleh, sehingga anak umur TK pun mungkin bukan barang yang asing bagi mereka. Coba bayangkan, dalam sehari itu saja, sekelompok mahasiswa-mahasiswi Universitas Atmajaya keliling Jakarta sambil melakukan ‘devile’ sejuta kondom untuk dibagikan kepada siapapun yang dijumpai. Mungkin ada pelajar dan sejenisnya yang juga ‘ketiban rejeki’ kondom.
Ada teori ekonomi yang mengatakan “barang dan jasa akan ada bedasarkan prioritas atau ketika permintaan meninggi”. Dari sini saja, kita bisa lihat, kondom yang dulunya diprioritaskan terbatas untuk memenuhi program KB, sekarang jadi trend. Ya, sesuai teori di atas, artinya kini permintaan kondom membludak seiring ‘asset’ melihat WIL (Wanita Idaman Lain) dan semakin banyaknya wanita yang terjerat rayuan laki-laki hidung belang. Cukup logis dan realistis kan.
Kenapa ya , sebagian besar kita tidak berfikir, seandainya sepasang suami istri saling mengisi satu sama lain, mungkin kondom dan accesoris-nya tidak akan pernah laku di nusantara ini. Seribu sayang, harapan ini hanya gigitan jari beberapa orang minoritas yang meyakini dan memperjuangkan bahwa agama di atas segalanya.
Kasus perselingkuhan yang dilakukan YZ dan ME (videonya beredar dikalangan anggota DPR) merupakan aib politik sekaligus personal accident seorang tokoh panutan, wakil rakyat. Namun, sebuah nilai poligami yang kini dilakoni Kyai Parahiyangan Bandung Aa Gym lebih menjadi polemik dari pada kasus YZ di atas, ironisnya polemik yang diangkat adalah mengapa video seronok itu bisa beredar, bukan kenapa perselingkuhan bisa terjadi. Sehingga anda mungkin akan melihat media-media akan mengangkat kedua pelaku perzinahan diatas hanyalah sebagai ‘KORBAN’ politik. Bisa diartikan kemungkinannya masyarakat mulai terbiasa selingkuh (Baca: berzina) daripada poligami atau selingkuh lebih dianggap terhormat daripada poligami. Padahal selingkuh dan poligami adalah dua hal yang sangat berbeda. Selingkuh merupakan jurang kehinaan, sedangkan poligami (yang memenuhi syarat syari`at) merupakan puncak kemuliaan sebuah rumah tangga.
Sederet infotainment (hari Ahad 3 Desember 2006) menayangkan pernyataan keikhlasan Teh Ninih, istri pertama Aa, perihal poligami yang sudah sejak lama diusulkannya ini. Ketika beberapa masyarakat dimintai pendapatnya tentang ‘gosip’ Aa Gym ini, masih terlihat pro dan kontra yang luar biasa. Seakan tidak menerima.
Dalam psikologi suami istri, diulas beberapa alasan keengganan (kebanyakan) wanita untuk mengizinkan suaminya berpoligami. Belum menyatunya pemahaman agama dan perasaan, adanya kekhawatiran (istri pertama) akan tersisih, ketakutan suaminya tidak dapat berlaku adil, kekhawatiran seputar masa depan diri dan anak-anak hingga kekhawatiran pandangan miring masyarakat.
Masyarakat memang belum terlalu (di) (per) kenal (kan) oleh tokoh poligami yang ‘sukses’.
Sebut saja Puspo Wardoyo pemilik rumah makan Ayam Bakar Wong Solo. Atau tokoh lainnya yang melakukan poligami secara proporsional, sesuai dengan syarat dan ketentuan yang digariskan Islam. Tapi sebagaimana kata Aa, jangan lakukan ini sekiranya belum mampu.
Jadi mari kita mulai membiasakan untuk menerima segala syari`at yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta`ala dan apa yang dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wasallam. Sehingga kondom tidak bisa lagi beretorika, selingkuh terhina dan ditinggalkan, serta poligami bukan lagi elegi penyebab alergi.
Diramu dari berbagai sumber, Desember 2006

Selasa, 16 Desember 2008

Dakwah, Jangan Kaku!

Kita memang telah terasing di tengah masyarakat yang rusak, tapi jangan menambah keterasingan itu dengan kejumudan –kekakuan- metode dakwah.

Seorang da’i hendaknya peka terhadap persoalan-persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Baik itu persoalan yang mendasar ataupun yang temporer. Dari situ seorang da’i bisa menentukan langkah-langkah dan metode dakwah yang dilakukan agar dakwahnya lebih efektif dan lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Seorang da’i yang tidak memperhatikan keadaan objek dakwahnya, boleh jadi dakwahnya akan sulit diterima. Kadang dakwah tidak diterima bukan karena isi dakwahnya, tapi cara menyampaikannya yang kurang menyentuh di hati objek dakwah.

Kekakuan akan menimbulkan kebosanan, memupus semangat dan akan membuat jarak.

Seorang da’i tidak sepantasnya kaku dalam hal metode, sebab metode dalam berdakwah adalah hal ijtihadiyah. Ia hanya sebatas sarana, alat atau media untuk mempermudah sampainya dakwah kepada objek dakwah. Hukum asal sarana adalah sesuai dengan tujuannya. Analoginya, sebagaimana pisau jika digunakan untuk hal mubah maka hukum menggunakannya adalah mubah, tapi jika digunakan untuk sesuatu yang haram misalnya menumpahkan darah yang haram untuk ditumpahkan maka hukum menggunakannya tentu haram.

Jadi, selama hal itu tidak bertentangan dalam kaca mata syari’at dan membawa manfaat yang banyak maka metode itu boleh saja diterapkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala pun ketika mengutus para Nabi dan rasul-Nya kepada suatu kaum, maka Dia membekali para utusan-Nya dengan mukjizat yang sesuai dengan keadaan kaum di mana para utusan tersebut di utus.

Misalnya Nabi Musa alaihi salam diberi mukjizat berupa tongkat yang bisa berubah menjadi ular, sesuai dengan keadaan kaum pada zaman dimana praktik sihir adalah sesuatu yang masyhur.

Begitupun dengan Nabi Isa as yang dengan izin Allah bisa menyembuhkan bahkan menghidupkan orang mati, ternyata pada zaman tersebut ilmu kedokteran sangat berkembang.

Sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dimana ia berdakwah di tengah bangsa yang terkenal dengan kefasihan dan kepintarannya dalam membuat syair. Al-Qur`an sebagai mukjizat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang diturunkan dengan bahasa yang sangat indah ternyata tidak bisa mereka kalahkan dengan syair-syair yang mereka buat. Sehingga banyak di antara mereka menyambut seruan Rasulullah saw untuk masuk Islam hanya dengan mendengar keindahan bahasa al-Qur`an.

Itu adalah ‘metode’ Allah dalam memberi petunjuk kepada hamba-Nya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sirah beliau kita kenal sebagai orang yang lemah lembut tapi kadang untuk orang tertentu beliau bersikap tegas. Dalam suatu riwayat beliau merobek-robek kain sutra yang digunakan oleh Ali ra, namun dalam riwayat yang lain beliau justru lemah lembut kepada orang yang meminta izin untuk berzina, kemudian beliau menasehati dengan bertanya, Apakah ia rela jika ibunya, istrinya dan saudara perempuannya dizinahi? Pemuda itu pun sadar dan mulai sejak itu zina menjadi sesuatu yang sangat dibencinya. Begitulah Rasulullah dalam memperlakukan seseorang sesuai dengan kadar ilmu dan keimanannya.

Ketika Beliau hendak mengirim surat kepada raja Romawi untuk mengajaknya masuk Islam, seorang sahabat menyarankan untuk membubuhi surat tersebut dengan stempel karena raja Romawi tidak menerima surat tanpa di stempel. Maka dari saran tersebut dibuatlah stempel khusus buat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berupa cincin bertuliskan lafadz “Muhammadun Rasulullah”. Ini menunjukkan bahwa beliau bukanlah orang yang tidak mau menyesuaikan metode dengan realita yang ada.

Pada masa kekhalifaan Utsman, ketika Islam telah menyebar ke berbagai pelosok negeri maka beliau mengambil inisiatif untuk menyalin dan memperbanyak mushaf al-Qur`an, kemudian di kirim ke beberapa negeri Islam.

Imam Bukhari mengumpulkan dan mentarjih hadits-hadits yang shahih kemudian menuliskannya dalam kitab yang saat ini kita sebut dengan Shahih Imam Bukhari merupakan kitab pegangan kaum muslimin setelah al-Qur`an. Langkah tersebut beliau ambil di mana pada masa itu telah banyak beredar hadits-hadits palsu.

Para ulama kita yang terdahulu untuk lebih memudahkan ummat dalam memahami makna tauhid, maka mereka kemudian membagi tauhid menjadi tiga yakni; tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Sifat.

Ini adalah sebagian kecil contoh-contoh metode dakwah yang dilakukan oleh para pendahulu kita di mana kita dapat mengambil pelajaran bahwa metode dakwah bisa saja berubah sesuai dengan kebutuhan dan keadaan masyarakat pada suatu zaman dan tentunya dengan tetap berpegang teguh pada syari’at. Wallahu A'lam Bishowab.

Selamat Tinggal Mujahidah

Tampak diwajah mereka masih terbalut kesedihan, meskipun menyambut kami serombongan dengan senyum yang tak henti-henti. Yah, mereka memang baru saja mendapatkan ujian dari Allah, dengan kematian anak gadisnya. Dengan bahasa bugis mereka mulai menceritakan peristiwa naas yang menimpa buah hatinya sampai pada kepribadian Almarhumah yang sungguh membuat kami berdecak kagum seraya memuji kesucian Allah.

Sang Mujahidah
Adalah Hadana, nama Almarhumah, meraih sarjana di Universitas Negeri Makassar tepatnya Fakultas Teknik jurusan PKK tahun 2005 lalu, angkatan 1998. Dalam keseharian ketika masih berstatus mahasiswa beliau dikenal sebagai muslimah yang taat, dengan militansi da`wah yang kuat terbukti ketika beliau bergabung dengan lembaga da`wah fakultas Kelompok Belajar Muslim FT UNM.

Ketika telah menyelesaikan studinya, beliau kembali ke kampung halamannya, desa Padang Lampe, Pinrang. Setiap hari Almarhumah mengajar anak-anak tetangganya mengaji di rumahnya dan di Masjid yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumahnya dan biasa menempuhnya dengan berjalan kaki. Dan pada waktu tertentu beliau juga menyempatkan diri mengajar di pesantren yang cukup jauh dari kampungnya, walaupun hujan deras sekalipun beliau tetap bersikeras untuk pergi mengajar.

Almarhumah yang setiap harinya berjilbab besar dan bercadar adalah sosok yang tegar terhadap berbagai tantangan yang beliau hadapi. Termasuk celaan dan sindiran dari orang-orang yang belum paham syari`at (awam). Sebagaimana pengisahan Bapak Almarhumah, bahwa ada orang yang pernah memperingatkannya untuk hati-hati dengan tingkah laku anak gadisnya dan bahkan menuduhnya sakit jiwa, ini dikarenakan almarhumah dengan pakaian tertutupnya sering berjalan kaki menuju masjid dan menjadikannya bahan perbincangan bagi orang-orang sepanjang jalan yang ia lalui, terlebih hanya beliau yang berpakaian seperti itu di kampung. Namun itu sama sekali tidak membuat pendiriannya goyah, semua itu ia anggap sebagai angin lalu saja.

Perjalanan da`wah memang akan selalu diliputi berbagai gesekan, begitu pula dengan yang almarhumah alami. Terkadang mengalami pertentangan dengan orang tua beliau namun itu tidak menghalanginya untuk tetap berbakti pada keduanya. Dan subhanallah, dengan sebab usaha da`wah almarhumah terhadap keluarganya, sang ibu tercinta akhirnya mau memakai jilbab, begitu pula dengan kakak perempuan beliau. Acara-acara bid`ah pun mulai ditinggalkan, terus terang kami sempat berprasangka kalau kami akan menemukan acara penamatan al qur`an, tahlilan kematian atau hal bid`ah lainnya, tapi alhamdulillah apa yang kami temui bertolak belakang dengan apa yang ada dalam pikiran kami.

Ketika Peristiwa Naas itu Terjadi
Ajal adalah rahasia Allah azza wa jalla, jika ia telah datang maka tak seorang pun yang bisa menolak, mengundurkan ataupun memajukannya. Hari itu, Senin 1 Mei 2006 sekitar jam 20.00, sang Kekasih Allah memanggilnya.

Beberapa hari sebelumnya sang Ibu memang merasa 'agak aneh' dengan anaknya, karena sering mengulang-ulang membaca surah Yasin. Siang harinya Almarhumah melakukan puasa. Setelah buka beliau ke masjid sebagaimana yang ia lakukan tiap hari dan baru pulang setelah Isya`. Kebetulan hari itu Almarhumah menggunakan sepeda motor ke masjid. Setelah shalat Isya` beliau bersiap untuk pulang, ketika akan masuk ke jalan raya dengan motornya tiba-tiba datang pengendara sepeda motor lain dengan laju yang kencang menabrak Almarhumah beserta motornya. Almarhumah menghembuskan nafas terakhirnya sesaat setelahnya. Innalillahi wainna ilaihi raji`uun.

Selamat jalan Mujahidah, engkau memang telah tiada tapi semangatmu akan senantiasa ada di hati Mujahid dan Mujahidah penerusmu. Kibaran jilbab keiffahan dan keizzahanmu akan senantiasa menghiasi Muslimah sepertimu.

Ya Allah, Ya Rabb, berikanlah kepada beliau tempat yang layak di sisimu, lapangkanlah kuburnya, dan Rahmatilah Ia di akhirat kelak, ampunilah segala dosanya dan terimalah segala amal salehnya, jadikanlah ia sebagai syafa`at bagi orang tua dan keluarganya dan berilah ketabahan kepada orang yang kehilangan dirinya. Amin.
Rabu 3 Mei 2006

Awas HAM Langgar KAM, Selingkuh dengan Gender

Jika anda membaca tulisan ini, selamat! Ternyata anda terlahir dan ada pada zaman dimana segala perkara di dunia ini bisa dengan mudah diputarbalikkan, kebenaran bisa diplintir sehingga menjadi (dianggap) keburukan dengan argumentasi yang dihias retorika, fakta yang nyata dengan mata kepala bisa direkayasa menjadi fatamorgana belaka, dunia menjadi panggung sandiwara dengan skenario; konspirasi. Kesalahan yang anda lakukan tidak akan nampak jika anda mampu membesar-besarkan ‘kesalahan’ lain. Sadar atau tidak, anda berada pada zaman peperangan yang besar. Perang Pemikiran.

Masih ingatkah anda ketika ‘polisi’ HAM dunia, amerika dan konco-konconya memborbardir Irak, Afghanistan tanpa pandang bulu, wanita, anak-anak, tua muda. Atau ketika anak emasnya si yahudi israel melakukan hal yang sama terhadap rakyat Palestina dan Lebanon sampai sekarang. Atau negara ‘pembela’ HAM, perancis melarang pemakaian simbol-simbol keagamaan di tempat umum dan di sekolah, yang imbasnya Muslimah di sana dilarang untuk menutup aurat mereka dengan jilbab.

Hak Azasi Manusia, inilah senjata ampuh dalam melawan segala bentuk aturan apapun dan dari siapapun yang dianggap melanggar 3 kata di atas. Namun seperti kata pepatah “gajah mati di pelupuk mata tidak nampak, kuman mati di seberang lautan tampak”. Bandingkan dengan fakta di atas! Apakah penduduk sipil, mulai dari masyarakat awam, wanita hingga anak-anak sekalipun tidak mempunyai sertifikat untuk hidup yang merupakan hak yang paling azasi? Bukankah kebebasan dalam menjalankan agama adalah hak azasi? Apalagi yang dilarang bukanlah simbol keagamaan seperti yang mereka duga, itu adalah kewajiban sebagaimana kewajiban lainnya. Ternyata para ‘pejuang’ HAM ini tidak bisa lulus dengan batu ujian yang mereka buat sendiri!!!

Bagaimana ‘pejuang’ HAM di negeri ‘pembeo’ ini? Ternyata buah kelapa betul tidak jauh dari pohonnya. Dimana suara mereka ketika tuan mereka melakukan pelanggaran HAM di atas? Justru ketika rancangan UU pornografi dan pornoaksi ingin ditelorkan, wuih….! Ributnya bukan main. “Tolak!!! UU hanya memenggal kreatifitas dan kebebasan berekspresi!!!” Beberapa waktu lalu dengan ditunggangi perasaan kewanitaan (GENDER) dan berada diketiak ‘pejuang’ pemberdayaan perempuan, mereka ribut lagi terkait poligami yang dilakukan oleh da`i kondang, Aa Gym.

Poligami yang jelas-jelas merupakan syari`at Islam dan bisa dilakukan jika sesuai dengan syarat, dianggap sebagai bentuk ketidakadilan dan pelecehan terhadap perempuan. Dimana akal mereka simpan? Ketika pornoaksi dan pornografi dibebaskan, yang menjadi korban dan dilecehkan siapa? Bukankah kaum perempuan sendiri. Atau apakah mereka menganggap bahwa perempuan lebih terhormat jika bisa dinikmati banyak orang dan digauli secara tidak sah ketimbang harus dipoligami. Lagi-lagi mereka tidak lulus dengan batu ujian yang mereka buat sendiri!

Entahlah, manusia kok kadang lebih mendahulukan Hak dari pada Kewajiban, padahal untuk mendapat hak mesti melakukan kewajiban terlebih dahulu. Mestinya mereka mendahulukan dan memperjuangkan Kewajiban Azasi Manusia yaitu menyembah Allah Subhanahu wa Ta`ala dengan penuh keta`atan, baru meminta hak mereka.

Aku bukanlah orang yang antipati dengan HAM, bahkan aku merasa lebih pantas untuk mendapat gelar Pejuang HAM daripada mereka, namun aku lebih bangga dengan gelar Pejuang KAM (Kewajiban Azasi Manusia). Wallahu Ta`ala A`lam.
catatan : ini bukan kemarahan, ini ghirah hmm apa bedanya yaa?:)
Januari 2007

Senin, 15 Desember 2008

Sekilas tentang Audisi Masuk Surga (AMS)

Menjadi ‘Super Star’ di Surga? Semua orang pasti mau. Untuk itulah dilakukan audisi. Audisi ini beda dengan audisi-audisi yang lain. Sejak Nabi Adam `alaihi salam diciptakan dan dikeluarkan dari Surga bersama Hawa, istrinya, audisi ini telah dimulai. Sudah milyaran peserta yang kini tinggal menunggu hasil pengumumannya, masih banyak pula yang sementara mengikuti audisi ini. Yang namanya audisi tentu semua pesertanya ingin menang minimal sangat berharap untuk masuk dalam peringkat besar, bahkan kalau bisa masuk dalam kategori pemenang tanpa dihitung skornya (dihisab). Suatu kabar baik, audisi ini tidak membatasi jumlah pemenangnya. Siapapun yang mau dan bersedia mengikuti segala peraturan yang dibuat dan ditetapkan ‘Penyelenggara’ audisi maka ia akan termasuk pemenangnya.

Semua peserta akan diuji ketabahan dan kesabaran mereka dalam menjalankan semua perintah dan menghindari hal-hal yang dilarang oleh ’Penyelenggara’ audisi. Sebagai bekal peserta diberi akal dan petunjuk berupa Al Qur`an dan As Sunnah, selama peserta melakukan sesuai petunjuk tersebut maka peserta dijamin tidak tersesat. Sebagai tantangan peserta diberi nafsu dan teman yang senantiasa menggoda (iblis). Tantangan lainnya, adalah berupa larangan-larangan yang tidak boleh dikerjakan oleh peserta.

Layaknya audisi lainnya, semua peserta audisi pasti memiliki idola. Mereka akan berusaha menjadi seperti idolanya, Maradona? Elvis Prestley? Atau manusia paling mulia yang pernah ada di bumi ini yaitu Muhammad .

Dalam audisi ini dijamin tidak ada ‘main mata’ di dalamnya, semua peserta pasti akan mendapat imbalan yang sesuai dengan skor yang ia dapatkan tanpa dikurangi atau dilebihkan. Semua tingkah laku peserta akan dicatat oleh petugas (Malaikat), tanpa ada satupun yang terlewatkan.

Audisi ini tidak menyediakan polling lewat sms, telepon atau lainnya, sehingga baik yang kaya maupun yang miskin berpeluang untuk menjadi pemenangnya. Dalam audisi ini juga tidak ada pengistimewaan berdasarkan jabatan, pangkat, golongan, status, dan lain-lain. Semua dianggap sama, yang membedakan hanyalah tingkat keyakinan dan takutnya terhadap ‘Peng-audisi’. Benar-benar audisi yang sangat adil.

Satu lagi yang membedakan dengan audisi lainnya adalah peserta audisi ini diterima secara otomatis tanpa proses pendaftaran, dan peserta tidak usah capek-capek mengantri untuk mendaftar serta tidak bisa mengundurkan diri. Peserta akan mulai di audisi ketika sudah mencapai baligh dan berakal sehat. Audisi dilakukan tidak dengan satu persatu peserta tapi, semua peserta audisi di audisi secara serempak. Masa akhir audisi ditandai dengan dipanggilnya peserta untuk menghadap ‘Penyelenggara’ audisi untuk mempertanggung jawabkan segala tingkah laku, perkataan, perbuatannya saat audisi.

Audisi akan ditutup ketika lampu (matahari) terbit dari barat dan panggung audisi (bumi) dihancurkan beserta hiasan-hiasannya dihamburkan. Kemudian seluruh peserta audisi mulai dari peserta pertama sampai peserta terakhir akan dibangunkan dari peraduannya. Semua peserta audisi akan dikumpulkan dalam suatu lapangan yang sangat luas (Padang Masyhar), menanti hasil pengumuman dengan hati yang berdebar-debar. Buku-buku laporan akan diberikan pada setiap peserta. Skor akan ditimbang dengan sangat teliti tanpa ada pembulatan.

Hingga saat ini audisi masih terus berlangsung. Saat menulis ini, saat anda membaca tulisan ini, ingat kita sedang di audisi. Mari tampil dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan apa yang telah diperintahkan “Peng-audisi”, supaya kita menjadi salah satu ‘Super Star’ di Surga.

Kamis, 27 November 2008

Ijinkan Saya untuk Menebas Batang Lehernya…

Kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah kewajiban, hal mutlak yang harus ada pada diri setiap muslim, konsekuensi kalimat kedua yang memasukkan kita ke dalam golongan kaum muslimin, wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Kecintaan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manifestasi dari kecintaan kepada yang telah mengutus beliau, Allah Jalla wa A’la. Sebagai wujud kongkrit kuatnya keimanan seseorang kepada Allah, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memang benar-benar telah mengutus manusia terbaik untuk menyebarkan risalah yang suci dan agung. Membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan kepada makhuk menuju penghambaan hanya kepada Allah semata (minal ibadatil ibad, ila ibadatil rabbil ibad).

Pun sebaliknya, kebencian kepada beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah tabuhan genderang perang kepada Allah, dan kaum muslimin yang mencintai Beliau.
Dari dulu sampai sekarang usaha-usaha untuk merendahkan kehormatan Rasulullah akan senantiasa ada oleh orang-orang yang tidak senang dengan syariat yang Beliau bawa. Diabadikan dalam Al Qur’an oleh Allah,
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al Baqarah: 120)
Penghinaan kepada Rasulullah dalam bentuk film kartun yang menggambarkan perilaku yang tidak selayaknya dinisbatkan kepada Rasulullah adalah bukti nyata akan kebencian mereka sejak dari pendahulu-pendahulu mereka.
Sebagaimana kewajiban untuk mencintai segala pribadi dan sunnah Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka kebencian terhadap segala bentuk penghinaan dan pelecehan kepada beliau adalah juga harusnya ada dihati-hati kaum yang masih merasa sebagai pengikut Beliau. Sebab penghinaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tak lain dan tak bukan merupakan penghinaan kepada Allah, kepada syiar-syiar Allah,
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al Hajj: 32).
Dipertanyakan keimanan seorang muslim jika tidak ada sedikitpun kebencian dan kemarahan ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dihinakan dan dilecehkan. Kita mungkin saja berkilah, “Itu tergantung anggapan kita, apakah kita menganggap bahwa gambar itu Muhammad atau bukan.” (tanggapan seseorang yang penulis pernah baca dalam suatu artikel). Tapi bagaimana jika pembuat kartun itu memaksakan penisbatan bahwa itu tokoh dalam kartun keji itu adalah ayah, ibu atau bahkan kita sendiri? Tidak wajar kalau Anda tidak marah, itu fitrah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih berhak kita bela melebihi Ayah, Ibu atau bahkan diri kita sendiri. Sebab karena jasa Beliaulah yang memberikan petunjuk kepada kita jalan menuju Surga dengan selamat.
Walaupun sebenarnya tanpa pembelaan kita, Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tetap dalam kemuliaan kehormatannya yang mulia disisi Allah, tak berkurang sedikitpun. Tapi keimanan perlu pembuktian bukan sekedar penghias bibir saja, peristiwa-peristiwa seperti ini adalah momen menguji wala’ (loyalitas) dan bara’ (berlepas diri) kita, apakah kita berada dalam barisan kaum muslimin atau sebaliknya.
Apakah kita sebagaimana kaum munafik yang adem ayem saja bahkan senang dengan segala bentuk penghinaan kepada syiar dan syari’at Allah, atau kita seperti Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu yang berkata kepada Rasulullah ketika terjadi pengkhianatan dari kalangan sahabat sendiri, “Ya Rasulullah ijinkan saya untuk menebas batang lehernya…”
Wallahu Ta’ala A’lam

Sabtu, 22 November 2008

Hari Gini, Masih Mencari Tuhan?!!!

Tulisan ini sebagai tanggapan atas selebaran kaleng yang beredar di Fakultas Teknik UNM tahun 2006 lalu, dimana inti dari tulisan tersebut adalah mempertanyakan keberadaan Tuhan dengan dalih logika-logika mereka
Menebarkan keragu-raguan dan menggugat akan eksistensi Tuhan baik Sifat maupun Perbuatan-Nya tidak hanya ada pada zaman dahulu oleh kaum kafir dan munafiq (Al Baqarah : 55,118) namun masih ada sampai sekarang, bahkan oleh orang yang mengaku Muslim. Dimana semua dogma-dogmanya menjurus pada kesimpulan bahwa Tuhan tidak ada.

Meski pernyataan itu oleh sebagian mereka menganggapnya sebagai wahana untuk melatih dan membuka cakrawala atau meraih kepuasan berpikir (tidak disertai dengan keyakinan). Tapi sodara, ini agama, bukan hal yang
bisa untuk dipermainkan.

"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka , tentulah mereka akan menjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu, niscaya Kami akan mengazab golongan disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa". (TQS. At Taubah : 65-66)

Dan ini jelas akan berimplikasi pada pelaksanaan syari`at-syari`at-Nya. Lihatlah, berapa banyak teman kita yang tidak shalat dengan alasan belum mengenal Tuhan. Na`udzubillah.

Sungguh sangat kasihan, ketika orang-orang sedang khusyuk shalat, masih saja ada orang yang mencari Tuhan. Menghabiskan
umur yang singkat hanya untuk berdebat akan keberadaan Tuhan.

Teori : Untuk yakin mesti ragu dulu.
Yakin dengan teori di atas? Mestinya anda meragukan kebenaran teori itu dulu, betul nggak?

Bicara agama, yang ilmiah dong
Agama (termasuk ke-Tuhanan tentunya) adalah sesuatu hal yang sangat ilmiah. Untuk membicarakannya mesti dengan sumber hukum yang jelas dan pasti. Berbicara agama dengan akal semata tanpa batasan koridor, dicampur dengan hawa nafsu bukan ilmiah namanya. Atau dengan mengutip pemikiran ahli filsafat apalagi orang-orang non Islam (Membeli kain di penjual ikan, mungkinkah? Kalaupun ada pasti bau kan)

Mengenal Tuhan lewat akal kan bisa?
Bisa, asalkan saja dengan batasan dalil dari Al Qur`an dan Al Hadits yang shahih. Tapi bila dengan akal saja, maka kami katakan tidak akan bisa. Jangankan Tuhan, coba kenali yang menulis ini dengan akal anda, bisa nggak? (Mau main tebak-tebakan?) Kalau saya menyerahkan kartu nama saya, nah baru anda bisa kenal siapa saya. Ingin kenal Allah? Baca Al Qur`an dan Al Hadits yang shahih. Dalam banyak ayat Allah menyuruh kita untuk memikirkan ayat-ayat Qur`ani maupun Kauniyah (berupa ciptaan-Nya) agar kita lebih yakin akan keberadaan dan kesempurnaan-Nya, bukan sebaliknya. Adapun adanya nash/dalil dari Al Qur`an atau Al Hadits yang shahih namun tidak sesuai dengan akal kita yang sangat terbatas, maka jangan sekali-kali menyalahkan nash tersebut, tapi pahamilah bahwa akal kita yang belum mampu untuk mencernanya.

Dalam Islam akal ditempatkan dipertengahan, tidak dinafikan namun juga tidak untuk dipertuhankan. Mari kita mempelajari agama ini dari sumbernya, bukan dari buku-buku yang merusak keorisinilan Islam, yang memang dikarang untuk itu. (Logisnya, memperbaiki kulkas tolong jangan pakai buku petunjuk perbaikan mobil).
Wallahu a`lam bishowab.

Minggu, 16 November 2008

Korban Mode, Modis, Model, dan Modern

“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka),” (QS. Al Hijr : 3)
“Jika kamu tidak punya malu lagi, lakukan apa yang kamu kehendaki.” (HR. Bukhari)

Era modern dengan segala propagandanya telah meluluh lantakkan nilai-nilai moral di seluruh dunia. Remaja digiring pada nilai-nilai materialisme yang menjunjung tinggi hedonisme tanpa melibatkan nilai-nilai agama. Akibatnya muncul euforia sekularis, yakni tergila-gila pada materi dan menjadikan uang sebagai Tuhan. Saban hari remaja-remaja di seluruh dunia histeris memuja-muja sosok hedonis (artis) yang sudah menjelma menjadi nabi. Kehidupan glamor artis ini memberikan inspirasi bahwa materi adalah segala-galanya. Artis menjadi sumber rujukan. Maka menjamurlah mode dan model jahiliyyah modern.

Selebmania
Kekaguman yang berlebihan yang berlebihan terhadap artis sudah menjadi wabah penyakit di kalangan remaja modern.

Rata PenuhPara remaja tanpa melihat moral artis, tetap saja tergila-gila dengan sosok artis idolanya bahkan berlomba meniru artis pujaannya.

Artis di zaman modern telah berubah menjadi nabi baru. Segala ucap dan langkah gerak mereka menjadi panutan. Para pengikutnya (pengidola) akan rela antri berjam-jam hanya untuk membeli tiket dan berdesak-desakan hanya untuk melihat artis pujaannya. Tingkahnya pun bermacam-macam ada yang menangis histeris, berlari sambil berteriak mengejar artis idolanya bahkan jatuh pingsan. Apa sebenarnya mereka cari?! Hanya kepuasan semu belaka. Secara akal sehat, yang mereka dapatkan hanyalah kerugian materi, waktu dan tenaga. Tak lebih!

Melihat ketenaran artis idolanya mereka pun ingin menjadi artis. Berlomba-lombalah mereka untuk mengikuti audisi-audisi, kontes-kontes yang bisa menjadi jembatan mereka untuk menjadi artis. Mereka mengandalkan apapun yang ada pada diri mereka, hingga seorang remaja putri rela untuk berpose “berani”, demi untuk mendapat lirikan sang produser. Jalan pintas!

Body Building
Era modern selalu menggembar-gemborkan pentingnya penampilan tubuh yang langsing, sintal, dan sehat. Maka maraklah senam pagi massal, aerobik, pusat-pusat kebugaran, fitnes center, dan senam lainnya yang kini lagi ngetrend. Media pun tak mau kalah, mereka berlomba mengiklankan produk-produk berteknologi canggih untuk melangsingkan tubuh, menghancurkan lemak, mengencangkan payudara dan alat-alat kebugaraan lainnya. Bahkan setiap pagi stasiun televisi swasta selalu menayangkan senam pagi dengan pakaian yang extra ketat.

Ada remaja yang ingin langsing lalu melakukan diet, bahkan ada yang rela bertubuh kerempeng yang mereka sebut sebagai tubuh langsing. Ada juga yang memakai pakaian full pressed body demi menampakkan lekuk tubuh langsingnya meskipun sedikit gembrot.

Sehat dan bugar dalam Islam tidak dilarang justru dianjurkan, namun jika bugar untuk dipamerkan dan sekedar ingin dilihat oleh orang lain bahwa tubuhnya seksi, masalahnya menjadi lain.

Astrologi
Ramalan bintang (astrologi) adalah bentuk syirik yang digandrungi remaja masa kini, terutama di kalangan remaja putri. Tak jarang di antara mereka belum beraktivitas sebelum membaca ramalan bintang terlebih dahulu. Inilah yang ditakutkan oleh Rasulullah Sallallahu `Alaihi wa Sallam dalam haditsnya:” Aku takutkan pada umatku setelah aku tiada atas dua perkara; mendustakan qadar dan percaya (ramalan) bintang.” (HR. Ibnu Uyainah).

“Barangsiapa yang mengambil sebagian ilmu bintang (astrologi) berarti dia telah mengambil dari ilmu sihir. Bertambah ilmu bintangnya bertambah ilmu sihirnya.” (HR. Abu Daud)

Kudung Gaul
Sebagian besar remaja putri Islam saat ini tak lebih dari korban keganasan modern. Mereka terimbas dengan model pakaian yang lahir dari budaya non Islam. Sebagai seorang Muslimah mereka tidak mau menanggalkan jilbabnya, tapi juga tidak mau ketinggalan zaman alias tidak mau dikatakan kampungan, kuno, dan terbelakang. Maka mereka pun memakai kudung gaul; kerudung dililitkan ke leher, tidak ditutupkan ke dada, baju dan celana ketat bahkan transparan, Jadinya pakaian bukan lagi untuk menutup aurat tapi hanya membungkus.

Ada juga yang berjilbab hanya ikut-ikutan tanpa didasari keyakinan, akibatnya mereka berjilbab semaunya dan hanya pada saat tertentu saja. Misalnya, saat ke kampus berjilbab, pulang kampus mereka membuka buka jilbabnya. sehingga aurat mereka dapat dilihat oleh lelaki yang bukan mahramnya. (Lihat QS. Al Ahzab ayat 59).

Pacaran
Pacaran sudah lama ‘dilegalkan’ bahkan oleh sebagian orang dianggap sebagai kelengkapan hidup. Bukan saja halal, tapi wajib dilakukan. Malah kini banyak orang tua yang gelisah bila putra putrinya belum punya pacar. Mereka lebih senang bila melihat anaknya berpacaran. Alasannya supaya mereka saling mengenal, sehingga dalam menjalani rumah tangga nanti, mereka sudah tahu kekurangan masing-masing. Impossible! Adakah orang yang pacaran tidak munafik. Mereka akan berusaha untuk tidak memperlihatkan kekurangan mereka. Faktanya, dari sekian banyak kasus perceraian, lebih 80% adalah pasangan yang pacaran sebelum menikah (PN Makassar).
Dalam Islam tidak dikenal adanya pacaran terlebih ‘pacaran Islami’. Islam hanya mengajarkan khitbah (melamar), dalam khitbah dibolehkan melihat aurat lawan jenis dalam batas-batas tertentu. Setelah khitbah dan ada kecocokan antara keduanya, dalam arti si wanita menerima khitbah pria, maka dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama diharuskan segera menikah untuk menghindari fitnah. Nah, inilah pelegalan hubungan yang insya Alllah diridhoi Allah subhanahu wata`ala, lebih indah, dan lebih langgeng.

Memburu Alat Kecantikan
Keinginan untuk mendapat pujian dan jadi pusat perhatian adalah dilema tersendiri bagi wanita. Kebanyakan wanita memberhalakan alat-alat kecantikan untuk mempercantik wajahnya agar mendapat pujian laki-laki. Mereka lebih pusing memikirkan kemulusan dan kecantikan wajahnya daripada memikirkan urusan akhirat. Lantas apa yang mereka dapat tiada lain hanyalah kepuasan semu. Sementara modal yang dikeluarkan adalah harta sia-sia. Sementara di akhirat mendapat dosa berlipat, selain dosa tabarruj juga dosa karena menyeret laki-laki pada dosa pula.

Islam hakikatnya tidak anti pada kecantikan. Wajah tampil cantik, putih dan mulus adalah suatu keharusan. Tapi semua kecantikan itu hanya untuk suami bukan untuk dipajang di jalanan supaya laki-laki lain bisa menikmatinya.

“Siapa diantara kalian (para istri dan ibu) ikhlas tinggal di rumah untuk mengasuh anak-anak dan melayani segala urusan suaminya, maka memperoleh pahala yang kadarnya sama dengan pahala para mujahidin di jalan Allah.” (HR. Bukhari- Muslim).

Musik Mania
Musik, nyanyian, dan menari-nari adalah hal yang identik dan menjadi kebutuhan yang tak terpisahkan dari dunia remaja. Diperparah dengan media entertainment yang saling berlomba untuk menyajikan hiburan-hiburan, maka digelarlah audisi-audisi, kontes-kontes menyanyi dengan iming-iming menjadi artis beken, para penggemar pun larut mendukung idolanya walaupun mengorbankan hartanya untuk membeli pulsa, sementara itu dibelakang layar, perusahaan entertainment dengan relasinya sibuk membagi keuntungan yang mencapai milyaran rupiah. Suatu penipuan yang sangat halus.

Musik memang lebih ampuh dari obat bius yang meninabobokan remaja. Membuat mereka cinta dunia dan lupa akhiratnya. Mereka akan lebih tenang bila mendengar musik daripada mendengar atau membaca Al Qur`an, membaca buku-buku agama, menghadiri majelis `ilmu dan hal yang bermanfaat lainnya. Seperti firman Allah dalam surah Luqman Ayat 6, “Dan di antara manusia ada yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka akan mendapat adzab yang menghinakan.”

“Sesungguhnya sebagian manusia dari ummatku akan minum khamar, mereka menyebutnya bukan dengan namanya, mereka bernyanyi dengan menggunakan musik dan nyanyian perempuan, maka Allah akan menjadikan mereka lemah akalnya dan sebagian mereka akan dijadikan kera dan babi.” (HR. Ibnu Majah)

Emansipasi
Fitrah kewanitaan merupakan hal yang sulit dimengerti oleh sebagian wanita muslim, ditunggangi oleh paham-paham sekularis yang selalu menggembar-gemborkan bahwa Islam merampas hak-hak kebebasan wanita. Mereka seperti kacang lupa kulitnya. Padahal Islam telah mengangkat derajat dan memuliakan kaum wanita ketika wanita pada zaman jahiliyyah dianggap sangat hina oleh kaum kafir Quraisy, bahkan mereka sangat malu bila dalam keluarga mereka lahir bayi perempuan sehingga banyak yang mengubur bayi perempuan mereka hidup-hidup. Dan walaupun dibiarkan hidup wanita hanya dijadikan sebagai harta benda pemuas nafsu, yang dapat diwariskan.
Para ‘pejuang’ emansipasi sepertinya tidak belajar dari akibat perbuatan mereka. Akibat dari kebebasan yang mereka perjuangkan telah membuahkan hasil yang sangat fantastis; Maraknya free seks, perkosaan, penyalahgunaan alat kontrasepsi, ini disebabkan karena kurang kontrolnya dari orang tua yang melalaikan anaknya karena sibuk dengan pekerjaannya dan kebebasan yang ia berikan kepada putrinya untuk bergaul dengan siapa saja dengan alasan ‘hak kebebasan wanita’. Emansipasi yang mereka perjuangkan justru membawa wanita pada jurang kebobrokan.

“Hai segenap wanita! Bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar karena aku melihat kalian lebih banyak di neraka.” Seorang wanita bertanya,”Ya, Rasulullah, mengapa demikian.” Rasulullah menjawab, “Karena kalian sering mengutuk dan mengkufuri (melanggar) pergaulan…” (HR. Bukhari)

Belum lama ini ummat Islam di gemparkan dengan wanita yang menjadi khatib dan imam shalat Jum`at di salah satu gereja di Moskow, mu`adzinnya pun wanita yang tidak menutup aurat dan memakai jeans dan ma`mum laki-laki dan perempuan sejajar. Na`udzu billahi mindzalik. Korban emansipasi! Dengan dalih persamaan hak menjadikan mereka berani menentang hukum yang telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wata`ala.
Firman Allah Ta`ala : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena itu Allah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) terhadap sebagian (wanita), dan karena laki-laki telah menfkahkan dari harta. Sebab itu wanita yang saleh adalah yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada.” (QS. An Nisaa ayat 34)
Wallahu a`lam bishshowab
Diramu dari berbagai sumber

Sabtu, 15 November 2008

Kritis "Ayat-ayat Cinta"

“Cukuplah orang dikatakan bodoh, bila menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak ada”.

Peluncuran film layar lebar ‘Ayat-ayat Cinta’ di bioskop tanah air disambut dengan antusias masyarakat tak terkecuali oleh aktivis-aktivis Islam. Sehingga jika anda pergi ke bioskop-bioskop pada saat penayangan film tersebut, maka anda tidak akan sulit menemukan wanita-wanita jilbaber dan laki-laki muslim yang mungkin masih memakai pecinya berada di antara sekian banyak penonton. Banyak juga yang terhanyut dengan kesedihan sampai-sampai ikut menyumbangkan air matanya.

Hmm, kalo itu terjadi pada orang awam mungkin biasa-biasa saja, tapi kalo aktivis maka ini luar biasa –maksudnya, keluar dari kebiasaan-. Walau aktivis juga manusia, tapi ia bukan manusia awam, mestinya mereka adalah manusia-manusia kritis yang tetap mempertahankan idealismenya kapan pun dan dimana pun, tidak mudah terpengaruh oleh gelombang yang terjadi. Saya tidak bermaksud mencela mereka, namun kewajiban saling menasehatilah yang mendorong saya untuk menulis tulisan ini.

Inikan Film Islami?
Hati-hati menyandarkan label Islam pada sesuatu, sebab bisa saja itu akan menjadi bumerang yang justru akan menodai kemuliaan Islam. Sangat berbahaya, sebagaimana bahayanya menempeli botol minuman keras dengan label 100% halal!

Kalau kemarin umat Islam marah-marah dengan kasus penistaan Islam oleh Ahmad Musadeq, seharusnya kita juga marah-marah dengan label “ISLAM” yang disematkan pada film ini.
Kita tidak pungkiri bahwa memang ada nilai-nilai positif yang terkandung dalam film tersebut. ada kemanusiaan, ada kesetiaan, ada pembelaan terhadap Islam, simpati dan empati terhadap masalah orang lain, namun itu semua tidak bisa menghapus nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam. Kita bisa saksikan bagaimana bercampur baur (ikhtilat), berdua-duaan (khalwat) saling memandang dengan lawan jenis adalah hal yang biasa, musik background yang menghanyutkan, belum lagi menampilkan wanita dengan aurat yang terbuka, puncaknya adalah dengan mempertontonkan adegan ciuman. Produser film itu bisa saja berkilah, “Itu hanya simulasi komputer.” Tapi pantaskah adegan suami istri itu ditampilkan di film yang katanya ‘Islami’ dan kita hanya bisa terdiam ikut ‘menikmatinya’.

Generasi yang suka dibohongi
Terlepas dari perbedaan pendapat para Ulama tentang haram tidaknya kisah fiktif. Entah sudah tabiat manusia mungkin yang suka dibohongi, sejak kecil kita suka diceritakan dengan dongeng-dongeng yang tak pernah terjadi sama sekali. Meski ada pelajaran yang dapat diambil tapi bukankah banyak juga kisah nyata yang dapat dipelajari, yang tidak kalah menarik dari kisah bohongan tersebut.

Lebih lucu lagi jika kisah bohongan itu menjadi bahan pertengkaran, dan diskusi yang ditanggapi dengan serius, bahkan beberapa organisasi Islam kelihatan sangat serius untuk mengaktualisasikannya. Sadar atau tidak kita digiring menjadi manusia-manusia penghayal dan pemimpi.

Ya, sadar atau tidak, umat Islam digiring untuk mengambil sumber lain dalam mengaktualisasikan agamanya. Umat Islam digiring untuk melupakan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber utama syariat Islam. Sekali lagi, mungkin ada pelajarandan hikmahnya, tapi ingat saudaraku, salah sau senjata paling ampuh dari Syaitan adalah menghias sesuatu yang batil dengan keindahan. Dan ingat juga sebuah kaidah yang diajarkan oleh para ulama rabbani, mencegah mudharat lebih diutamakan dari pada mengambil manfaat.

Aktivis-aktivis Cinta
Kita semua sudah tahu bahwa problematika yang menimpa ummat Islam sangat banyak, sehingga sebagai aktivis hendaknya kita memenuhi agenda kita dengan sesuatu yang lebih bermanfaat, karena kewajiban kita jauh lebih banyak daripada umur kita. Persoalan cinta adalah persoalan pelik tak berujung pangkal, namun sangat naif bagi seorang aktivis jika hanya berkubang pada masalah tersebut sebab kita adalah aktivis-aktivis Islam bukan aktivis-aktivis cinta. Menjadi aktivis memang tidak mudah, jika ia ‘terjatuh’, maka puluhan orang awam yang melihatnya mungkin juga akan ‘berusaha jatuh’ persis sepertinya -mudah-mudahan dipahami-.

Epilog : "Apa yang bisa diberikan oleh generasi penghayal untuk mengangkat kemuliaan Dien ini."

Jangan Nodai Cadarku

Sukses menyedot perhatian jutaan penonton dengan film layar lebar “Ayat-ayat Cinta”, film religi dengan tema dan lakon yang mirip pun bermunculan ditayangkan dalam bentuk sinetron di televisi-televisi. Dari dulu memang dunia perfileman di Indonesia tak lepas dari praktik dan budaya ‘beo’.

Tak pelak wanita bercadar menjadi salah satu tokoh utama dalam film tersebut. Tanpa mengabaikan sisi positif yang ada, tapi ‘memperkenalkan’ cadar di tengah masyarakat yang masih awam lewat film apalagi dengan tema basi ‘skandal cinta’ bukan ide dan cara yang bagus. Bahkan ini akan memberikan preseden yang buruk dan pelecehan terhadap syariat yang dikhususkan kepada muslimah ini.


Cadar sebagai pakaian yang menunjukkan ketaqwaan sempurna seorang mu’minah dalam menjaga kehormatannya tak berlaku dalam film yang lumrah dengan ikhtilath, khalwat dan berbagai pelanggaran syari’at lainnya. Setidaknya tayangan-tayangan itu akan melahirkan pemikiran dalam benak penonton, “Yang pakai cadar saja begitu….!” Dan berbagai stigma buruk lainnya dan hanya akan menjadi dalih buat mereka untuk membenarkan suatu kemaksiatan.

Cadar Sebenarnya
Ketaqwaan memang tidak bisa diukur dengan pakaian, tapi setidaknya pakaian seseorang akan menunjukkan ketakwaannya. Apakah dalam pikiran Anda bahwa wanita yang pamer aurat sama dengan yang menutup auratnya? Tentu tidak bukan?

Terlepas dari perbedaan pendapat para ulama tentang wajib tidaknya cadar, misalnya kita ambil saja pendapat yang menganggap cadar adalah sunnah, jika menilik pada pernyataan Syekh Al Hilami tentang makna daripada takwa, “Hakikat takwa itu melaksanakan semua perintah, baik yang wajib maupun yang sunnah, dan menjauhi semua larangan, yang makruh dan yang tidak perlu karena maksud daripada takwa adalah membentengi diri dari neraka, dan itu telah saya sebutkan.” Tidak muluk kalau saya katakan, “Insya Allah wanita bercadar lebih bertakwa dari yang tidak.” Sebagaimana pernyataan Syekh Bin Baz rahimahullah yang memuji Syekh Albani rahimahullah, “Ketakwaannya melebihi fatwanya.” Kenapa? Karena ternyata meski dalam hal di atas mereka berbeda pendapat, dimana syekh Bin Baz berpendapat bahwa cadar adalah wajib bagi muslimah sedangkan syekh Albani berpendapat bahwa cadar adalah sunnah, namun istri dan anak perempuan syekh Albani tetap memakai cadar.

Subhanallah…, zaman dimana kebanyakan wanita berlomba-lomba untuk menampilkan kecantikannya ternyata masih ada wanita yang menjaga kehormatannya, menutup wajah cantiknya dari pandangan syahwat laki-laki asing dan mempersembahkan hanya untuk suaminya., tak sampai di situ pandangan dan pergaulan dengan lawan jenisnya pun ia jaga, cukup jauh dari perilaku wanita bercadar yang ditampilkan di film-film tersebut…

Ia akan tetap suci…
Disyari’atkan oleh Dzat yang Maha Suci
Agar Makhluk yang disayangi-Nya tetap suci
Ia tak pernah khilaf dan salah
Yang bersalah hanyalah pelaku dosa

Epilog: sesuatu yang saya khawatirkan bukan lagi jilbab-jilbab gaul yang sudah bertebaran tapi munculnya cadar-cadar gaul. Wallahu Musta’an.

Beda Tandzim dengan Hizbiyah

Sebelumnya, tulisan ini bukan untuk membantah atau untuk membela apapun dan siapapun. Tak lebih dari sekedar mengajak kita untuk melihat sesuatu hal dan persoalan dengan adil, proporsional dan objektif tanpa tendensi pribadi dicampur dengan su’udzhon –pra sangka buruk- apalagi dirasuki dengan penyakit-penyakit hati.

Tandzim dan Hizbiyah
Tandzim dari segi bahasa amat berbeda dengan Hizbiyah. Tandzim bermakna pada keteraturan, kerapian, terkontrol yang diwujudkan dalam kerja dalam satu jama’ah/kelompok. Sedangkan Hizbiyah lebih pada paham atau sifat loyalitas yang berkonotasi negatif yakni ta’ashub/fanatisme buta terhadap kelompoknya dan menganggap salah di luar kelompoknya.

Tandzim dan Dakwah
Jika tandzim dikaitkan dengan dakwah, maka dakwah harus tertandzim, sebagaimana firman Allah dalam surah as-Shaff ayat 4:
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun dikenal sebagai organisator yang ulung. Seringkali beliau berkumpul dengan para sahabat Ridhwanullahi ‘Ajmain dan meminta pendapat dari mereka tentang suatu persoalan. Dalam memberikan suatu urusan kepada seseorang beliau tidak secara serampangan menunjuk dan persoalan waktu diperhitungkan secermat mungkin.

Misalnya dalam peperangan, tidak serta merta semua laki-laki pada masa itu boleh ikut berperang, makanya sebelum pergi berperang diadakan semacam ‘pendaftaran’ kepada beliau kemudian beliau memutuskan apakah layak untuk ikut atau tidak. Di medan perang, penempatan dan pembagian tugas kepada prajurit sesuai dengan keahliannya. Pasukan tidak boleh menyerang sebelum ada perintah dari pimpinan. Itulah secuil gambaran bagaimana Rasulullah dan para sahabat menjalankan dakwah dengan tandzim. Sebenarnya masih banyak namun tidak cukup ruang untuk itu.

Tandzim/Organisasi Dakwah masa kini
Jika dibandingkan penerapan tandzim sekarang dengan pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka mungkin akan sedikit berbeda dalam hal kontekstual tapi secara subtansi tetap sama. Pada masa Rasulullah tandzim dakwah lebih banyak bersifat pada metode, maka tandzim dakwah sekarang berkembang bukan hanya bersifat metode tapi juga sebagai sarana. Apakah ini bertentangan dengan Sunnah Rasulullah? Tidak sama sekali. Menurut Syaikh Utsaimin Rahimahullah bahwa al Wasa’il (sarana-sarana) itu tergantung pada niat (maksud)nya, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh para ulama, bahwa sarana itu memiliki hukum yang sama dengan hukum niatnya selama sarana tersebut bukan sarana yang diharamkan, sebab jika ia merupakan sarana yang diharamkan maka tidak ada kebaikannya sama sekali.
Lain jika organisasi dijadikan sebagai tujuan bukan lagi sekedar metode atau sarana, sehingga para du’at bukan lagi mengajak ummat kepada Islam tapi justru kepada organisasinya, mengagungkan semboyan, jargon dan simbol-simbol organisasinya dan parahnya menganggap organisasi lain sesat dan julukan lainnya tanpa bukti. Hal inilah yang dikhawatirkan menjadi bibit penyakit hizbiyah.

Siapa Hizbiyah?

Nah, apakah dalam setiap tandzim ada hizbiyah? Jawaban yang adil adalah: tidak semua tandzim menganut paham hizbiyah sebagaimana juga tidak semua orang yang tidak mau bertandzim bebas dari penyakit hizbiyah. Ya, hizbiyah adalah penyakit yang bisa menimpa kelompok mana saja, baik yang punya nama atau tidak. Meskipun ia mengatakan bahwa ia bukan dan benci hizbiyah tapi ketika ia hanya senang dan suka dengan orang-orang yang satu kajian dengannya, dan bahkan mungkin ia hanya ingin memberi salam atau menjawab salam dari muslim yang ia ketahui sepaham dengannya maka dipastikan ia mengidap penyakit HIZBIYAH. Wallahu musata’an

Cari Artikel