Selasa, 16 Desember 2008

Dakwah, Jangan Kaku!

Kita memang telah terasing di tengah masyarakat yang rusak, tapi jangan menambah keterasingan itu dengan kejumudan –kekakuan- metode dakwah.

Seorang da’i hendaknya peka terhadap persoalan-persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Baik itu persoalan yang mendasar ataupun yang temporer. Dari situ seorang da’i bisa menentukan langkah-langkah dan metode dakwah yang dilakukan agar dakwahnya lebih efektif dan lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Seorang da’i yang tidak memperhatikan keadaan objek dakwahnya, boleh jadi dakwahnya akan sulit diterima. Kadang dakwah tidak diterima bukan karena isi dakwahnya, tapi cara menyampaikannya yang kurang menyentuh di hati objek dakwah.

Kekakuan akan menimbulkan kebosanan, memupus semangat dan akan membuat jarak.

Seorang da’i tidak sepantasnya kaku dalam hal metode, sebab metode dalam berdakwah adalah hal ijtihadiyah. Ia hanya sebatas sarana, alat atau media untuk mempermudah sampainya dakwah kepada objek dakwah. Hukum asal sarana adalah sesuai dengan tujuannya. Analoginya, sebagaimana pisau jika digunakan untuk hal mubah maka hukum menggunakannya adalah mubah, tapi jika digunakan untuk sesuatu yang haram misalnya menumpahkan darah yang haram untuk ditumpahkan maka hukum menggunakannya tentu haram.

Jadi, selama hal itu tidak bertentangan dalam kaca mata syari’at dan membawa manfaat yang banyak maka metode itu boleh saja diterapkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala pun ketika mengutus para Nabi dan rasul-Nya kepada suatu kaum, maka Dia membekali para utusan-Nya dengan mukjizat yang sesuai dengan keadaan kaum di mana para utusan tersebut di utus.

Misalnya Nabi Musa alaihi salam diberi mukjizat berupa tongkat yang bisa berubah menjadi ular, sesuai dengan keadaan kaum pada zaman dimana praktik sihir adalah sesuatu yang masyhur.

Begitupun dengan Nabi Isa as yang dengan izin Allah bisa menyembuhkan bahkan menghidupkan orang mati, ternyata pada zaman tersebut ilmu kedokteran sangat berkembang.

Sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dimana ia berdakwah di tengah bangsa yang terkenal dengan kefasihan dan kepintarannya dalam membuat syair. Al-Qur`an sebagai mukjizat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang diturunkan dengan bahasa yang sangat indah ternyata tidak bisa mereka kalahkan dengan syair-syair yang mereka buat. Sehingga banyak di antara mereka menyambut seruan Rasulullah saw untuk masuk Islam hanya dengan mendengar keindahan bahasa al-Qur`an.

Itu adalah ‘metode’ Allah dalam memberi petunjuk kepada hamba-Nya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sirah beliau kita kenal sebagai orang yang lemah lembut tapi kadang untuk orang tertentu beliau bersikap tegas. Dalam suatu riwayat beliau merobek-robek kain sutra yang digunakan oleh Ali ra, namun dalam riwayat yang lain beliau justru lemah lembut kepada orang yang meminta izin untuk berzina, kemudian beliau menasehati dengan bertanya, Apakah ia rela jika ibunya, istrinya dan saudara perempuannya dizinahi? Pemuda itu pun sadar dan mulai sejak itu zina menjadi sesuatu yang sangat dibencinya. Begitulah Rasulullah dalam memperlakukan seseorang sesuai dengan kadar ilmu dan keimanannya.

Ketika Beliau hendak mengirim surat kepada raja Romawi untuk mengajaknya masuk Islam, seorang sahabat menyarankan untuk membubuhi surat tersebut dengan stempel karena raja Romawi tidak menerima surat tanpa di stempel. Maka dari saran tersebut dibuatlah stempel khusus buat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berupa cincin bertuliskan lafadz “Muhammadun Rasulullah”. Ini menunjukkan bahwa beliau bukanlah orang yang tidak mau menyesuaikan metode dengan realita yang ada.

Pada masa kekhalifaan Utsman, ketika Islam telah menyebar ke berbagai pelosok negeri maka beliau mengambil inisiatif untuk menyalin dan memperbanyak mushaf al-Qur`an, kemudian di kirim ke beberapa negeri Islam.

Imam Bukhari mengumpulkan dan mentarjih hadits-hadits yang shahih kemudian menuliskannya dalam kitab yang saat ini kita sebut dengan Shahih Imam Bukhari merupakan kitab pegangan kaum muslimin setelah al-Qur`an. Langkah tersebut beliau ambil di mana pada masa itu telah banyak beredar hadits-hadits palsu.

Para ulama kita yang terdahulu untuk lebih memudahkan ummat dalam memahami makna tauhid, maka mereka kemudian membagi tauhid menjadi tiga yakni; tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Sifat.

Ini adalah sebagian kecil contoh-contoh metode dakwah yang dilakukan oleh para pendahulu kita di mana kita dapat mengambil pelajaran bahwa metode dakwah bisa saja berubah sesuai dengan kebutuhan dan keadaan masyarakat pada suatu zaman dan tentunya dengan tetap berpegang teguh pada syari’at. Wallahu A'lam Bishowab.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi komentar dengan tetap mengedepankan adab berkomunikasi secara syar'i

Cari Artikel