Sabtu, 27 Desember 2008

Islam Bukan 'Gado-gado'

Coretan di akhir tahun miladiyah, di tengah musibah global "krisis akidah".

Salah satu polemik dari tahun ke tahun dan tak pernah selesai di tiap akhir tahun masehi adalah tema; boleh tidaknya memberi selamat hari raya agama lain (baca aja: Kafir). Ironisnya, polemik ini beredar di tengah kaum muslimin sendiri, semua merasa benar dengan argumen dari dalil, dalih, pendapat sendiri, atas dasar perasaan, dsb.

Suatu masalah memang tidak akan selesai jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, meski memakai satu dalil. Tapi penyelamatan dan pembelajaran akidah yang haq terhadap ummat harus selalu dan menjadi prioritas utama dalam dakwah.

Yang kalah, yang latah
Sudah menjadi konsekuensi dan fenomena umum bahwa bangsa/kaum yang kalah akan takluk dan latah kepada bangsa/kaum yang mengalahkannya. Baik dalam hal perekonomian, budaya, hukum pendidikan sampai dalam tataran agama sekalipun. Sadar atau tidak hal itu telah kita lihat di depan mata kita sekarang ini, bangsa, budaya hukum, tak ketinggalan agama kita.

Saya tidak mengatakan Islam sebagai satu-satunya agama yang di sisi Allah kalah, tidak! Islam tetap meninggi dengan kemuliaannya. Yang kalah adalah kebanyakan pemeluknya sekarang ini. Penyebab kekalahannya cuma satu, tidak konsisten dengan ajaran yang dianutnya. berdasarkan hadits dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:

Apabila kalian telah terlibat jual beli ‘inah (riba), kalian telah mengambil ekor-ekor sapi, merasa senang dengan pertanian dan kalian tinggalkan jihad, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan timpakan kehinaan kepada kalian. Tak akan dicabut kehinaan itu hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3458)

"Sungguh kalian akan mengikuti jejak orang-orang yang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai sekalipun mereka memasuki lubang biawak, kalian tetap mengikutinya." Kami bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang Yahudi dan Nasrani?" Beliau menjawab: "Siapa lagi (kalau bukan mereka)?" (HR Bukhari dan Muslim)

Adalah sunnatulah bahwa siapapun yang konsisten dan komitmen dengan keyakinannya maka dia akan menjadi pemenangnya, meskipun itu adalah kebatilan. Jadi, dimanapun dalam keadaan apapun rumus kemenangan adalah KONSISTEN. Dalam agama kita tentunya kita sudah mahfum (paham) yang dimaksud di sini adalah konsisten dengan sumber hukum tertinggi; Al Qur'an dan As Sunnah. Masih bingung konsistennya bagaimana? Konsistenlah sebagaimana konsistennya golongan yang dijamin oleh Allah dan Rasulnya yakni para sahabat, tabi'in dan atba'ut tabi'in, itu sudah cukup. (Hmm, sebenarnya jika semua kaum muslimin sepakat dengan ini polemik tidak akan berlanjut hingga hari ini).

Kita anggap semua sepakat. Pertanyaannya adalah apakah Rasulullah dan generasi terbaik setelahnya pernah mengucapkan hari raya kepada agama lain? Nyatanya tak satupun dalil yang menyatakan itu, bahkan hari-hari raya buatan yang kebanyakan kaum muslimin sekarang lakukan juga tidak mereka lakukan.

Kalau Anda menang, Anda takkan latah. Kalau Anda Konsisten, Anda takkan kalah.

Setan itu Step by step
Salah satu ciri khas ajaran Islam adalah proteksinya terhadap jalan-jalan kemaksiatan. Jauh sebelum kemaksiatan itu terjadi semua sumber dan sebab kemaksiatan itu memang sudah dilarang untuk dilakukan.

Misalnya; zina, jauh sebelum zina itu dilakukan, pintu-pintu yang mengarahkan kepada perzinahan memang sudah ditutup. Makanya wajar jika ada orang yang berzina dan telah beristri/bersuami dihukum rajam, sebab begitu banyak pintu larangan yang telah ia buka.

Terlebih dalam masalah tauhid sebagai pondasi agama ini, jauh sebelum kesyirikan itu terjadi sebab-sebab yang bisa menimbulkan kesyirikan sudah sangat dilarang, tak selubang jarum pun. Misalnya; penyembahan patung dan sebagainya, gambar-gambar makhluk bernyawa memang sudah dilarang oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengan ancaman laknat yang keras bagi pembuatnya.

Mengapa se'ekstrim' itu? Sebab jika itu dibiasakan cepat atau lambat itu akan berpengaruh terhadap aqidah, akan mengikis kepekaan kita terhadap tauhid, sesuai dengan syair "katsratul massas, qillatul ihsas" (banyak sentuhan sedikit kepekaan). Bagaimanapun entengnya perilaku itu pasti akan berpengaruh terhadap hati, semakin sering kita lakukan maka pengaruhnya juga akan semakin kuat dan menyingkirkan semua keyakinan dan idealisme yang selama ini dipegang. Jadi, Bagaimana dengan pendapat yang mengatakan bahwa kita boleh mengucapkan selamat natal dengan catatan hati kita mengatakan selamat lahir kepada nabi Isa as? Jawabnya: Jika Anda lakukan maka lambat laun Anda akan menyanyi natal bersama mereka.

Setan tidak akan langsung membisikkan kepada kita, "Sembahlah Yesus (Isa)" sebab jika itu bisikan pertamanya dijamin takkan berhasil. Yang pertama mungkin bisikan, "Natal itu hari kelahiran Isa Alaihi salam.....", “Yang kita rayakan adalah maulid Nabi Isa...” (mirip dengan pernyataan-pernyataan di beberapa artikel yang pernah penulis baca).

Adil terhadap Isa Alaihi Salam?
Kengganan kita untuk ikut dalam perayaan Natal sama sekali tidak mengurangi penghormatan kita kepada Beliau Alaihi Salam sebagai salah satu Rasul Allah yang wajib kita imani, sebab yang menjadi masalah di sini bukan kerasulan Isa 'Alaihi Salam. Tapi keyakinan mereka (ummat kristiani) yang menempatkan Isa pada tempat yang sangat tidak adil, pada tataran Tuhan! Jika Anda mu'min sejati ini sudah cukup untuk membuat Anda benci dan muak akan hal ini.

Belum ditinjau dari histori natal yang 'dipaksakan' sebagai hari lahir Isa, meski betul merayakan hari lahir dengan acara-acara tertentu pun adalah ajaran dari luar Islam.

Menyinggung soal adil, penulis jadi teringat dengan kisah seorang nasrani yang bertanya kepada seorang muslim, kira-kira percakapannya begini;
Nasrani : “Agama Anda sungguh tidak Adil, kalian boleh menikahi wanita ahlul kitab sedangkan kami tidak boleh menikahi wanita kalian.
Muslim : "Yang tidak adil itu kalian, kami beriman kepada Musa Alaihi Salam, Isa Alaihi Salam, dan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tapi kalian hanya beriman pada keduanya tidak pada Muhammad, jika kalian ingin menikahi wanita kami mestinya kalian juga harus beriman pada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Sangat adil.

Kau Islam atau...
Salah satu pembatal keislaman adalah ketika seorang muslim tidak mengkafirkan orang kafir. Tidak dikatakan beriman seseorang ketika tidak ada penolakan terhadap yang bertolak belakang dengan keimanan itu. Lebih jelasnya dalam kalimat tauhid laailaha illallah, pada kalimat pertama laailaha (tiada tuhan); kalimat itu disebut an nafi' (peniadaan/penolakan) terhadap segala bentuk ketuhanan. Disusul dengan kalimat kedua illallah (kecuali Allah); adalah kalimat penetapan al itsbat (penetapan). Unsur peniadaan dan penetapan ini adalah syarat tauhid, tanpa salah satunya maka tertolak. Tidak dikatakan bertauhid jika tidak ada penolakan terhadap seluruh bentuk thagut (sesembahan selain Allah).

Dalam konteks muamalah sehari-hari pun kaidah tersebut berlaku, tidak dikatakan sempurna keimanannya jika tidak ada pengingkaran terhadap suatu bentuk kemaksiatan meskipun itu di dalam hati.
Dengan ini akan jelas beda antar yang mu’min dengan yang tidak.

Toleransinya mana?
Hal yang sering dipertanyakan dan dijadikan alasan bagi para pendukung perayaan agama lain adalah kita harus toleransi dengan pemeluk agama lain, "Mereka juga mengucapkan selamat idul fitri kepada kita, kan tidak adil kalau kita tidak berlaku sama terhadap mereka." Katanya.

Begitukah toleransi? Dalam Islam batasan toleransi sangat tegas dan jelas, "lakum dinukum waliyadin" (bagimu agamamu dan bagi kami agama kami). Anda tak perlu memberi ucapan selamat kepada kami, kami memang tidak menunggu untuk itu. Begitupun kalian silahkan rayakan hari raya Anda, kami tidak akan mengganggu tapi jangan berharap ucapan selamat dari kami sebab "Laa'abuduma ta'buduna, walaa antum 'abiduna maa'abudu" (Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah).
Toleransi yang sangat toleran, adil dan proporsional.

Ciri Ibadurrahman
Salah satu karakter ibadurrahman (hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang) adalah seperti yang disebutkan dalam surah al-Furqan ayat 72 :
Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
Oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma Makna azzuur (persaksian palsu) juga berarti menyaksikan/menghadiri hari raya orang kafir.

Penutup
Dengan kesempurnaan syariat Islam seharusnya menjadikan kita merasa cukup dengan itu, tanpa harus mengekor dengan agama lain. Merasa mulia dengannya yang menghilangkan keminderan kita untuk menampilkan dan melaksanakan syiar-syiar Islam tanpa harus mencontek agama lain. Allah Subhanahu wa Ta'ala sudah memberikan hari-hari raya terbaik yang dengannya kita merasa cukup dengan itu tak perlu inovasi apalagi ikut-ikutan dalam perayaan agama lain.

Mari kita konsisten (istiqomah) dengan ajaran agama haq ini, berpegang teguh dengan akidah yang sahih tanpa perlu mencampurnya dengan akidah dan ajaran lain. Islam bukan agama 'Gado-gado'.
Allahu Musta’an
Makassar, 27 Desember 2008

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi komentar dengan tetap mengedepankan adab berkomunikasi secara syar'i

Cari Artikel