Selasa, 16 Desember 2008

Selamat Tinggal Mujahidah

Tampak diwajah mereka masih terbalut kesedihan, meskipun menyambut kami serombongan dengan senyum yang tak henti-henti. Yah, mereka memang baru saja mendapatkan ujian dari Allah, dengan kematian anak gadisnya. Dengan bahasa bugis mereka mulai menceritakan peristiwa naas yang menimpa buah hatinya sampai pada kepribadian Almarhumah yang sungguh membuat kami berdecak kagum seraya memuji kesucian Allah.

Sang Mujahidah
Adalah Hadana, nama Almarhumah, meraih sarjana di Universitas Negeri Makassar tepatnya Fakultas Teknik jurusan PKK tahun 2005 lalu, angkatan 1998. Dalam keseharian ketika masih berstatus mahasiswa beliau dikenal sebagai muslimah yang taat, dengan militansi da`wah yang kuat terbukti ketika beliau bergabung dengan lembaga da`wah fakultas Kelompok Belajar Muslim FT UNM.

Ketika telah menyelesaikan studinya, beliau kembali ke kampung halamannya, desa Padang Lampe, Pinrang. Setiap hari Almarhumah mengajar anak-anak tetangganya mengaji di rumahnya dan di Masjid yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumahnya dan biasa menempuhnya dengan berjalan kaki. Dan pada waktu tertentu beliau juga menyempatkan diri mengajar di pesantren yang cukup jauh dari kampungnya, walaupun hujan deras sekalipun beliau tetap bersikeras untuk pergi mengajar.

Almarhumah yang setiap harinya berjilbab besar dan bercadar adalah sosok yang tegar terhadap berbagai tantangan yang beliau hadapi. Termasuk celaan dan sindiran dari orang-orang yang belum paham syari`at (awam). Sebagaimana pengisahan Bapak Almarhumah, bahwa ada orang yang pernah memperingatkannya untuk hati-hati dengan tingkah laku anak gadisnya dan bahkan menuduhnya sakit jiwa, ini dikarenakan almarhumah dengan pakaian tertutupnya sering berjalan kaki menuju masjid dan menjadikannya bahan perbincangan bagi orang-orang sepanjang jalan yang ia lalui, terlebih hanya beliau yang berpakaian seperti itu di kampung. Namun itu sama sekali tidak membuat pendiriannya goyah, semua itu ia anggap sebagai angin lalu saja.

Perjalanan da`wah memang akan selalu diliputi berbagai gesekan, begitu pula dengan yang almarhumah alami. Terkadang mengalami pertentangan dengan orang tua beliau namun itu tidak menghalanginya untuk tetap berbakti pada keduanya. Dan subhanallah, dengan sebab usaha da`wah almarhumah terhadap keluarganya, sang ibu tercinta akhirnya mau memakai jilbab, begitu pula dengan kakak perempuan beliau. Acara-acara bid`ah pun mulai ditinggalkan, terus terang kami sempat berprasangka kalau kami akan menemukan acara penamatan al qur`an, tahlilan kematian atau hal bid`ah lainnya, tapi alhamdulillah apa yang kami temui bertolak belakang dengan apa yang ada dalam pikiran kami.

Ketika Peristiwa Naas itu Terjadi
Ajal adalah rahasia Allah azza wa jalla, jika ia telah datang maka tak seorang pun yang bisa menolak, mengundurkan ataupun memajukannya. Hari itu, Senin 1 Mei 2006 sekitar jam 20.00, sang Kekasih Allah memanggilnya.

Beberapa hari sebelumnya sang Ibu memang merasa 'agak aneh' dengan anaknya, karena sering mengulang-ulang membaca surah Yasin. Siang harinya Almarhumah melakukan puasa. Setelah buka beliau ke masjid sebagaimana yang ia lakukan tiap hari dan baru pulang setelah Isya`. Kebetulan hari itu Almarhumah menggunakan sepeda motor ke masjid. Setelah shalat Isya` beliau bersiap untuk pulang, ketika akan masuk ke jalan raya dengan motornya tiba-tiba datang pengendara sepeda motor lain dengan laju yang kencang menabrak Almarhumah beserta motornya. Almarhumah menghembuskan nafas terakhirnya sesaat setelahnya. Innalillahi wainna ilaihi raji`uun.

Selamat jalan Mujahidah, engkau memang telah tiada tapi semangatmu akan senantiasa ada di hati Mujahid dan Mujahidah penerusmu. Kibaran jilbab keiffahan dan keizzahanmu akan senantiasa menghiasi Muslimah sepertimu.

Ya Allah, Ya Rabb, berikanlah kepada beliau tempat yang layak di sisimu, lapangkanlah kuburnya, dan Rahmatilah Ia di akhirat kelak, ampunilah segala dosanya dan terimalah segala amal salehnya, jadikanlah ia sebagai syafa`at bagi orang tua dan keluarganya dan berilah ketabahan kepada orang yang kehilangan dirinya. Amin.
Rabu 3 Mei 2006

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi komentar dengan tetap mengedepankan adab berkomunikasi secara syar'i

Cari Artikel