Ijinkan Saya untuk Menebas Batang Lehernya…
11:17:00 AM | Diposting oleh: Abu Fauzan ibnu Lamu

Kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah kewajiban, hal mutlak yang harus ada pada diri setiap muslim, konsekuensi kalimat kedua yang memasukkan kita ke dalam golongan kaum muslimin, wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Kecintaan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manifestasi dari kecintaan kepada yang telah mengutus beliau, Allah Jalla wa A’la. Sebagai wujud kongkrit kuatnya keimanan seseorang kepada Allah, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memang benar-benar telah mengutus manusia terbaik untuk menyebarkan risalah yang suci dan agung. Membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan kepada makhuk menuju penghambaan hanya kepada Allah semata (minal ibadatil ibad, ila ibadatil rabbil ibad).

Pun sebaliknya, kebencian kepada beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah tabuhan genderang perang kepada Allah, dan kaum muslimin yang mencintai Beliau.
Dari dulu sampai sekarang usaha-usaha untuk merendahkan kehormatan Rasulullah akan senantiasa ada oleh orang-orang yang tidak senang dengan syariat yang Beliau bawa. Diabadikan dalam Al Qur’an oleh Allah,
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al Baqarah: 120)
Penghinaan kepada Rasulullah dalam bentuk film kartun yang menggambarkan perilaku yang tidak selayaknya dinisbatkan kepada Rasulullah adalah bukti nyata akan kebencian mereka sejak dari pendahulu-pendahulu mereka.
Sebagaimana kewajiban untuk mencintai segala pribadi dan sunnah Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka kebencian terhadap segala bentuk penghinaan dan pelecehan kepada beliau adalah juga harusnya ada dihati-hati kaum yang masih merasa sebagai pengikut Beliau. Sebab penghinaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tak lain dan tak bukan merupakan penghinaan kepada Allah, kepada syiar-syiar Allah,
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al Hajj: 32).
Dipertanyakan keimanan seorang muslim jika tidak ada sedikitpun kebencian dan kemarahan ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dihinakan dan dilecehkan. Kita mungkin saja berkilah, “Itu tergantung anggapan kita, apakah kita menganggap bahwa gambar itu Muhammad atau bukan.” (tanggapan seseorang yang penulis pernah baca dalam suatu artikel). Tapi bagaimana jika pembuat kartun itu memaksakan penisbatan bahwa itu tokoh dalam kartun keji itu adalah ayah, ibu atau bahkan kita sendiri? Tidak wajar kalau Anda tidak marah, itu fitrah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih berhak kita bela melebihi Ayah, Ibu atau bahkan diri kita sendiri. Sebab karena jasa Beliaulah yang memberikan petunjuk kepada kita jalan menuju Surga dengan selamat.
Walaupun sebenarnya tanpa pembelaan kita, Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tetap dalam kemuliaan kehormatannya yang mulia disisi Allah, tak berkurang sedikitpun. Tapi keimanan perlu pembuktian bukan sekedar penghias bibir saja, peristiwa-peristiwa seperti ini adalah momen menguji wala’ (loyalitas) dan bara’ (berlepas diri) kita, apakah kita berada dalam barisan kaum muslimin atau sebaliknya.
Apakah kita sebagaimana kaum munafik yang adem ayem saja bahkan senang dengan segala bentuk penghinaan kepada syiar dan syari’at Allah, atau kita seperti Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu yang berkata kepada Rasulullah ketika terjadi pengkhianatan dari kalangan sahabat sendiri, “Ya Rasulullah ijinkan saya untuk menebas batang lehernya…”
Wallahu Ta’ala A’lam
Baca Selengkapnya...

Link ke posting ini
Hari Gini, Masih Mencari Tuhan?!!!
1:43:00 PM | Diposting oleh: Abu Fauzan ibnu Lamu

Tulisan ini sebagai tanggapan atas selebaran kaleng yang beredar di Fakultas Teknik UNM tahun 2006 lalu, dimana inti dari tulisan tersebut adalah mempertanyakan keberadaan Tuhan dengan dalih logika-logika mereka
Menebarkan keragu-raguan dan menggugat akan eksistensi Tuhan baik Sifat maupun Perbuatan-Nya tidak hanya ada pada zaman dahulu oleh kaum kafir dan munafiq (Al Baqarah : 55,118) namun masih ada sampai sekarang, bahkan oleh orang yang mengaku Muslim. Dimana semua dogma-dogmanya menjurus pada kesimpulan bahwa Tuhan tidak ada.

Meski pernyataan itu oleh sebagian mereka menganggapnya sebagai wahana untuk melatih dan membuka cakrawala atau meraih kepuasan berpikir (tidak disertai dengan keyakinan). Tapi sodara, ini agama, bukan hal yang
bisa untuk dipermainkan.

"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka , tentulah mereka akan menjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu, niscaya Kami akan mengazab golongan disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa". (TQS. At Taubah : 65-66)

Dan ini jelas akan berimplikasi pada pelaksanaan syari`at-syari`at-Nya. Lihatlah, berapa banyak teman kita yang tidak shalat dengan alasan belum mengenal Tuhan. Na`udzubillah.

Sungguh sangat kasihan, ketika orang-orang sedang khusyuk shalat, masih saja ada orang yang mencari Tuhan. Menghabiskan
umur yang singkat hanya untuk berdebat akan keberadaan Tuhan.

Teori : Untuk yakin mesti ragu dulu.
Yakin dengan teori di atas? Mestinya anda meragukan kebenaran teori itu dulu, betul nggak?

Bicara agama, yang ilmiah dong
Agama (termasuk ke-Tuhanan tentunya) adalah sesuatu hal yang sangat ilmiah. Untuk membicarakannya mesti dengan sumber hukum yang jelas dan pasti. Berbicara agama dengan akal semata tanpa batasan koridor, dicampur dengan hawa nafsu bukan ilmiah namanya. Atau dengan mengutip pemikiran ahli filsafat apalagi orang-orang non Islam (Membeli kain di penjual ikan, mungkinkah? Kalaupun ada pasti bau kan)

Mengenal Tuhan lewat akal kan bisa?
Bisa, asalkan saja dengan batasan dalil dari Al Qur`an dan Al Hadits yang shahih. Tapi bila dengan akal saja, maka kami katakan tidak akan bisa. Jangankan Tuhan, coba kenali yang menulis ini dengan akal anda, bisa nggak? (Mau main tebak-tebakan?) Kalau saya menyerahkan kartu nama saya, nah baru anda bisa kenal siapa saya. Ingin kenal Allah? Baca Al Qur`an dan Al Hadits yang shahih. Dalam banyak ayat Allah menyuruh kita untuk memikirkan ayat-ayat Qur`ani maupun Kauniyah (berupa ciptaan-Nya) agar kita lebih yakin akan keberadaan dan kesempurnaan-Nya, bukan sebaliknya. Adapun adanya nash/dalil dari Al Qur`an atau Al Hadits yang shahih namun tidak sesuai dengan akal kita yang sangat terbatas, maka jangan sekali-kali menyalahkan nash tersebut, tapi pahamilah bahwa akal kita yang belum mampu untuk mencernanya.

Dalam Islam akal ditempatkan dipertengahan, tidak dinafikan namun juga tidak untuk dipertuhankan. Mari kita mempelajari agama ini dari sumbernya, bukan dari buku-buku yang merusak keorisinilan Islam, yang memang dikarang untuk itu. (Logisnya, memperbaiki kulkas tolong jangan pakai buku petunjuk perbaikan mobil).
Wallahu a`lam bishowab.
Baca Selengkapnya...

Link ke posting ini
Korban Mode, Modis, Model, dan Modern
12:51:00 AM | Diposting oleh: Abu Fauzan ibnu Lamu

“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka),” (QS. Al Hijr : 3)
“Jika kamu tidak punya malu lagi, lakukan apa yang kamu kehendaki.” (HR. Bukhari)

Era modern dengan segala propagandanya telah meluluh lantakkan nilai-nilai moral di seluruh dunia. Remaja digiring pada nilai-nilai materialisme yang menjunjung tinggi hedonisme tanpa melibatkan nilai-nilai agama. Akibatnya muncul euforia sekularis, yakni tergila-gila pada materi dan menjadikan uang sebagai Tuhan. Saban hari remaja-remaja di seluruh dunia histeris memuja-muja sosok hedonis (artis) yang sudah menjelma menjadi nabi. Kehidupan glamor artis ini memberikan inspirasi bahwa materi adalah segala-galanya. Artis menjadi sumber rujukan. Maka menjamurlah mode dan model jahiliyyah modern.

Selebmania
Kekaguman yang berlebihan yang berlebihan terhadap artis sudah menjadi wabah penyakit di kalangan remaja modern.

Rata PenuhPara remaja tanpa melihat moral artis, tetap saja tergila-gila dengan sosok artis idolanya bahkan berlomba meniru artis pujaannya.

Artis di zaman modern telah berubah menjadi nabi baru. Segala ucap dan langkah gerak mereka menjadi panutan. Para pengikutnya (pengidola) akan rela antri berjam-jam hanya untuk membeli tiket dan berdesak-desakan hanya untuk melihat artis pujaannya. Tingkahnya pun bermacam-macam ada yang menangis histeris, berlari sambil berteriak mengejar artis idolanya bahkan jatuh pingsan. Apa sebenarnya mereka cari?! Hanya kepuasan semu belaka. Secara akal sehat, yang mereka dapatkan hanyalah kerugian materi, waktu dan tenaga. Tak lebih!

Melihat ketenaran artis idolanya mereka pun ingin menjadi artis. Berlomba-lombalah mereka untuk mengikuti audisi-audisi, kontes-kontes yang bisa menjadi jembatan mereka untuk menjadi artis. Mereka mengandalkan apapun yang ada pada diri mereka, hingga seorang remaja putri rela untuk berpose “berani”, demi untuk mendapat lirikan sang produser. Jalan pintas!

Body Building
Era modern selalu menggembar-gemborkan pentingnya penampilan tubuh yang langsing, sintal, dan sehat. Maka maraklah senam pagi massal, aerobik, pusat-pusat kebugaran, fitnes center, dan senam lainnya yang kini lagi ngetrend. Media pun tak mau kalah, mereka berlomba mengiklankan produk-produk berteknologi canggih untuk melangsingkan tubuh, menghancurkan lemak, mengencangkan payudara dan alat-alat kebugaraan lainnya. Bahkan setiap pagi stasiun televisi swasta selalu menayangkan senam pagi dengan pakaian yang extra ketat.

Ada remaja yang ingin langsing lalu melakukan diet, bahkan ada yang rela bertubuh kerempeng yang mereka sebut sebagai tubuh langsing. Ada juga yang memakai pakaian full pressed body demi menampakkan lekuk tubuh langsingnya meskipun sedikit gembrot.

Sehat dan bugar dalam Islam tidak dilarang justru dianjurkan, namun jika bugar untuk dipamerkan dan sekedar ingin dilihat oleh orang lain bahwa tubuhnya seksi, masalahnya menjadi lain.

Astrologi
Ramalan bintang (astrologi) adalah bentuk syirik yang digandrungi remaja masa kini, terutama di kalangan remaja putri. Tak jarang di antara mereka belum beraktivitas sebelum membaca ramalan bintang terlebih dahulu. Inilah yang ditakutkan oleh Rasulullah Sallallahu `Alaihi wa Sallam dalam haditsnya:” Aku takutkan pada umatku setelah aku tiada atas dua perkara; mendustakan qadar dan percaya (ramalan) bintang.” (HR. Ibnu Uyainah).

“Barangsiapa yang mengambil sebagian ilmu bintang (astrologi) berarti dia telah mengambil dari ilmu sihir. Bertambah ilmu bintangnya bertambah ilmu sihirnya.” (HR. Abu Daud)

Kudung Gaul
Sebagian besar remaja putri Islam saat ini tak lebih dari korban keganasan modern. Mereka terimbas dengan model pakaian yang lahir dari budaya non Islam. Sebagai seorang Muslimah mereka tidak mau menanggalkan jilbabnya, tapi juga tidak mau ketinggalan zaman alias tidak mau dikatakan kampungan, kuno, dan terbelakang. Maka mereka pun memakai kudung gaul; kerudung dililitkan ke leher, tidak ditutupkan ke dada, baju dan celana ketat bahkan transparan, Jadinya pakaian bukan lagi untuk menutup aurat tapi hanya membungkus.

Ada juga yang berjilbab hanya ikut-ikutan tanpa didasari keyakinan, akibatnya mereka berjilbab semaunya dan hanya pada saat tertentu saja. Misalnya, saat ke kampus berjilbab, pulang kampus mereka membuka buka jilbabnya. sehingga aurat mereka dapat dilihat oleh lelaki yang bukan mahramnya. (Lihat QS. Al Ahzab ayat 59).

Pacaran
Pacaran sudah lama ‘dilegalkan’ bahkan oleh sebagian orang dianggap sebagai kelengkapan hidup. Bukan saja halal, tapi wajib dilakukan. Malah kini banyak orang tua yang gelisah bila putra putrinya belum punya pacar. Mereka lebih senang bila melihat anaknya berpacaran. Alasannya supaya mereka saling mengenal, sehingga dalam menjalani rumah tangga nanti, mereka sudah tahu kekurangan masing-masing. Impossible! Adakah orang yang pacaran tidak munafik. Mereka akan berusaha untuk tidak memperlihatkan kekurangan mereka. Faktanya, dari sekian banyak kasus perceraian, lebih 80% adalah pasangan yang pacaran sebelum menikah (PN Makassar).
Dalam Islam tidak dikenal adanya pacaran terlebih ‘pacaran Islami’. Islam hanya mengajarkan khitbah (melamar), dalam khitbah dibolehkan melihat aurat lawan jenis dalam batas-batas tertentu. Setelah khitbah dan ada kecocokan antara keduanya, dalam arti si wanita menerima khitbah pria, maka dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama diharuskan segera menikah untuk menghindari fitnah. Nah, inilah pelegalan hubungan yang insya Alllah diridhoi Allah subhanahu wata`ala, lebih indah, dan lebih langgeng.

Memburu Alat Kecantikan
Keinginan untuk mendapat pujian dan jadi pusat perhatian adalah dilema tersendiri bagi wanita. Kebanyakan wanita memberhalakan alat-alat kecantikan untuk mempercantik wajahnya agar mendapat pujian laki-laki. Mereka lebih pusing memikirkan kemulusan dan kecantikan wajahnya daripada memikirkan urusan akhirat. Lantas apa yang mereka dapat tiada lain hanyalah kepuasan semu. Sementara modal yang dikeluarkan adalah harta sia-sia. Sementara di akhirat mendapat dosa berlipat, selain dosa tabarruj juga dosa karena menyeret laki-laki pada dosa pula.

Islam hakikatnya tidak anti pada kecantikan. Wajah tampil cantik, putih dan mulus adalah suatu keharusan. Tapi semua kecantikan itu hanya untuk suami bukan untuk dipajang di jalanan supaya laki-laki lain bisa menikmatinya.

“Siapa diantara kalian (para istri dan ibu) ikhlas tinggal di rumah untuk mengasuh anak-anak dan melayani segala urusan suaminya, maka memperoleh pahala yang kadarnya sama dengan pahala para mujahidin di jalan Allah.” (HR. Bukhari- Muslim).

Musik Mania
Musik, nyanyian, dan menari-nari adalah hal yang identik dan menjadi kebutuhan yang tak terpisahkan dari dunia remaja. Diperparah dengan media entertainment yang saling berlomba untuk menyajikan hiburan-hiburan, maka digelarlah audisi-audisi, kontes-kontes menyanyi dengan iming-iming menjadi artis beken, para penggemar pun larut mendukung idolanya walaupun mengorbankan hartanya untuk membeli pulsa, sementara itu dibelakang layar, perusahaan entertainment dengan relasinya sibuk membagi keuntungan yang mencapai milyaran rupiah. Suatu penipuan yang sangat halus.

Musik memang lebih ampuh dari obat bius yang meninabobokan remaja. Membuat mereka cinta dunia dan lupa akhiratnya. Mereka akan lebih tenang bila mendengar musik daripada mendengar atau membaca Al Qur`an, membaca buku-buku agama, menghadiri majelis `ilmu dan hal yang bermanfaat lainnya. Seperti firman Allah dalam surah Luqman Ayat 6, “Dan di antara manusia ada yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka akan mendapat adzab yang menghinakan.”

“Sesungguhnya sebagian manusia dari ummatku akan minum khamar, mereka menyebutnya bukan dengan namanya, mereka bernyanyi dengan menggunakan musik dan nyanyian perempuan, maka Allah akan menjadikan mereka lemah akalnya dan sebagian mereka akan dijadikan kera dan babi.” (HR. Ibnu Majah)

Emansipasi
Fitrah kewanitaan merupakan hal yang sulit dimengerti oleh sebagian wanita muslim, ditunggangi oleh paham-paham sekularis yang selalu menggembar-gemborkan bahwa Islam merampas hak-hak kebebasan wanita. Mereka seperti kacang lupa kulitnya. Padahal Islam telah mengangkat derajat dan memuliakan kaum wanita ketika wanita pada zaman jahiliyyah dianggap sangat hina oleh kaum kafir Quraisy, bahkan mereka sangat malu bila dalam keluarga mereka lahir bayi perempuan sehingga banyak yang mengubur bayi perempuan mereka hidup-hidup. Dan walaupun dibiarkan hidup wanita hanya dijadikan sebagai harta benda pemuas nafsu, yang dapat diwariskan.
Para ‘pejuang’ emansipasi sepertinya tidak belajar dari akibat perbuatan mereka. Akibat dari kebebasan yang mereka perjuangkan telah membuahkan hasil yang sangat fantastis; Maraknya free seks, perkosaan, penyalahgunaan alat kontrasepsi, ini disebabkan karena kurang kontrolnya dari orang tua yang melalaikan anaknya karena sibuk dengan pekerjaannya dan kebebasan yang ia berikan kepada putrinya untuk bergaul dengan siapa saja dengan alasan ‘hak kebebasan wanita’. Emansipasi yang mereka perjuangkan justru membawa wanita pada jurang kebobrokan.

“Hai segenap wanita! Bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar karena aku melihat kalian lebih banyak di neraka.” Seorang wanita bertanya,”Ya, Rasulullah, mengapa demikian.” Rasulullah menjawab, “Karena kalian sering mengutuk dan mengkufuri (melanggar) pergaulan…” (HR. Bukhari)

Belum lama ini ummat Islam di gemparkan dengan wanita yang menjadi khatib dan imam shalat Jum`at di salah satu gereja di Moskow, mu`adzinnya pun wanita yang tidak menutup aurat dan memakai jeans dan ma`mum laki-laki dan perempuan sejajar. Na`udzu billahi mindzalik. Korban emansipasi! Dengan dalih persamaan hak menjadikan mereka berani menentang hukum yang telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wata`ala.
Firman Allah Ta`ala : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena itu Allah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) terhadap sebagian (wanita), dan karena laki-laki telah menfkahkan dari harta. Sebab itu wanita yang saleh adalah yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada.” (QS. An Nisaa ayat 34)
Wallahu a`lam bishshowab
Diramu dari berbagai sumber

Baca Selengkapnya...

Link ke posting ini
Kritis "Ayat-ayat Cinta"
11:34:00 PM | Diposting oleh: Abu Fauzan ibnu Lamu

“Cukuplah orang dikatakan bodoh, bila menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak ada”.

Peluncuran film layar lebar ‘Ayat-ayat Cinta’ di bioskop tanah air disambut dengan antusias masyarakat tak terkecuali oleh aktivis-aktivis Islam. Sehingga jika anda pergi ke bioskop-bioskop pada saat penayangan film tersebut, maka anda tidak akan sulit menemukan wanita-wanita jilbaber dan laki-laki muslim yang mungkin masih memakai pecinya berada di antara sekian banyak penonton. Banyak juga yang terhanyut dengan kesedihan sampai-sampai ikut menyumbangkan air matanya.

Hmm, kalo itu terjadi pada orang awam mungkin biasa-biasa saja, tapi kalo aktivis maka ini luar biasa –maksudnya, keluar dari kebiasaan-. Walau aktivis juga manusia, tapi ia bukan manusia awam, mestinya mereka adalah manusia-manusia kritis yang tetap mempertahankan idealismenya kapan pun dan dimana pun, tidak mudah terpengaruh oleh gelombang yang terjadi. Saya tidak bermaksud mencela mereka, namun kewajiban saling menasehatilah yang mendorong saya untuk menulis tulisan ini.

Inikan Film Islami?
Hati-hati menyandarkan label Islam pada sesuatu, sebab bisa saja itu akan menjadi bumerang yang justru akan menodai kemuliaan Islam. Sangat berbahaya, sebagaimana bahayanya menempeli botol minuman keras dengan label 100% halal!

Kalau kemarin umat Islam marah-marah dengan kasus penistaan Islam oleh Ahmad Musadeq, seharusnya kita juga marah-marah dengan label “ISLAM” yang disematkan pada film ini.
Kita tidak pungkiri bahwa memang ada nilai-nilai positif yang terkandung dalam film tersebut. ada kemanusiaan, ada kesetiaan, ada pembelaan terhadap Islam, simpati dan empati terhadap masalah orang lain, namun itu semua tidak bisa menghapus nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam. Kita bisa saksikan bagaimana bercampur baur (ikhtilat), berdua-duaan (khalwat) saling memandang dengan lawan jenis adalah hal yang biasa, musik background yang menghanyutkan, belum lagi menampilkan wanita dengan aurat yang terbuka, puncaknya adalah dengan mempertontonkan adegan ciuman. Produser film itu bisa saja berkilah, “Itu hanya simulasi komputer.” Tapi pantaskah adegan suami istri itu ditampilkan di film yang katanya ‘Islami’ dan kita hanya bisa terdiam ikut ‘menikmatinya’.

Generasi yang suka dibohongi
Terlepas dari perbedaan pendapat para Ulama tentang haram tidaknya kisah fiktif. Entah sudah tabiat manusia mungkin yang suka dibohongi, sejak kecil kita suka diceritakan dengan dongeng-dongeng yang tak pernah terjadi sama sekali. Meski ada pelajaran yang dapat diambil tapi bukankah banyak juga kisah nyata yang dapat dipelajari, yang tidak kalah menarik dari kisah bohongan tersebut.

Lebih lucu lagi jika kisah bohongan itu menjadi bahan pertengkaran, dan diskusi yang ditanggapi dengan serius, bahkan beberapa organisasi Islam kelihatan sangat serius untuk mengaktualisasikannya. Sadar atau tidak kita digiring menjadi manusia-manusia penghayal dan pemimpi.

Ya, sadar atau tidak, umat Islam digiring untuk mengambil sumber lain dalam mengaktualisasikan agamanya. Umat Islam digiring untuk melupakan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber utama syariat Islam. Sekali lagi, mungkin ada pelajarandan hikmahnya, tapi ingat saudaraku, salah sau senjata paling ampuh dari Syaitan adalah menghias sesuatu yang batil dengan keindahan. Dan ingat juga sebuah kaidah yang diajarkan oleh para ulama rabbani, mencegah mudharat lebih diutamakan dari pada mengambil manfaat.

Aktivis-aktivis Cinta
Kita semua sudah tahu bahwa problematika yang menimpa ummat Islam sangat banyak, sehingga sebagai aktivis hendaknya kita memenuhi agenda kita dengan sesuatu yang lebih bermanfaat, karena kewajiban kita jauh lebih banyak daripada umur kita. Persoalan cinta adalah persoalan pelik tak berujung pangkal, namun sangat naif bagi seorang aktivis jika hanya berkubang pada masalah tersebut sebab kita adalah aktivis-aktivis Islam bukan aktivis-aktivis cinta. Menjadi aktivis memang tidak mudah, jika ia ‘terjatuh’, maka puluhan orang awam yang melihatnya mungkin juga akan ‘berusaha jatuh’ persis sepertinya -mudah-mudahan dipahami-.

Epilog : "Apa yang bisa diberikan oleh generasi penghayal untuk mengangkat kemuliaan Dien ini."

Baca Selengkapnya...

Link ke posting ini
Jangan Nodai Cadarku
10:38:00 PM | Diposting oleh: Abu Fauzan ibnu Lamu

Sukses menyedot perhatian jutaan penonton dengan film layar lebar “Ayat-ayat Cinta”, film religi dengan tema dan lakon yang mirip pun bermunculan ditayangkan dalam bentuk sinetron di televisi-televisi. Dari dulu memang dunia perfileman di Indonesia tak lepas dari praktik dan budaya ‘beo’.

Tak pelak wanita bercadar menjadi salah satu tokoh utama dalam film tersebut. Tanpa mengabaikan sisi positif yang ada, tapi ‘memperkenalkan’ cadar di tengah masyarakat yang masih awam lewat film apalagi dengan tema basi ‘skandal cinta’ bukan ide dan cara yang bagus. Bahkan ini akan memberikan preseden yang buruk dan pelecehan terhadap syariat yang dikhususkan kepada muslimah ini.


Cadar sebagai pakaian yang menunjukkan ketaqwaan sempurna seorang mu’minah dalam menjaga kehormatannya tak berlaku dalam film yang lumrah dengan ikhtilath, khalwat dan berbagai pelanggaran syari’at lainnya. Setidaknya tayangan-tayangan itu akan melahirkan pemikiran dalam benak penonton, “Yang pakai cadar saja begitu….!” Dan berbagai stigma buruk lainnya dan hanya akan menjadi dalih buat mereka untuk membenarkan suatu kemaksiatan.

Cadar Sebenarnya
Ketaqwaan memang tidak bisa diukur dengan pakaian, tapi setidaknya pakaian seseorang akan menunjukkan ketakwaannya. Apakah dalam pikiran Anda bahwa wanita yang pamer aurat sama dengan yang menutup auratnya? Tentu tidak bukan?

Terlepas dari perbedaan pendapat para ulama tentang wajib tidaknya cadar, misalnya kita ambil saja pendapat yang menganggap cadar adalah sunnah, jika menilik pada pernyataan Syekh Al Hilami tentang makna daripada takwa, “Hakikat takwa itu melaksanakan semua perintah, baik yang wajib maupun yang sunnah, dan menjauhi semua larangan, yang makruh dan yang tidak perlu karena maksud daripada takwa adalah membentengi diri dari neraka, dan itu telah saya sebutkan.” Tidak muluk kalau saya katakan, “Insya Allah wanita bercadar lebih bertakwa dari yang tidak.” Sebagaimana pernyataan Syekh Bin Baz rahimahullah yang memuji Syekh Albani rahimahullah, “Ketakwaannya melebihi fatwanya.” Kenapa? Karena ternyata meski dalam hal di atas mereka berbeda pendapat, dimana syekh Bin Baz berpendapat bahwa cadar adalah wajib bagi muslimah sedangkan syekh Albani berpendapat bahwa cadar adalah sunnah, namun istri dan anak perempuan syekh Albani tetap memakai cadar.

Subhanallah…, zaman dimana kebanyakan wanita berlomba-lomba untuk menampilkan kecantikannya ternyata masih ada wanita yang menjaga kehormatannya, menutup wajah cantiknya dari pandangan syahwat laki-laki asing dan mempersembahkan hanya untuk suaminya., tak sampai di situ pandangan dan pergaulan dengan lawan jenisnya pun ia jaga, cukup jauh dari perilaku wanita bercadar yang ditampilkan di film-film tersebut…

Ia akan tetap suci…
Disyari’atkan oleh Dzat yang Maha Suci
Agar Makhluk yang disayangi-Nya tetap suci
Ia tak pernah khilaf dan salah
Yang bersalah hanyalah pelaku dosa

Epilog: sesuatu yang saya khawatirkan bukan lagi jilbab-jilbab gaul yang sudah bertebaran tapi munculnya cadar-cadar gaul. Wallahu Musta’an.
Baca Selengkapnya...

Beda Tandzim dengan Hizbiyah
10:23:00 AM | Diposting oleh: Abu Fauzan ibnu Lamu

Sebelumnya, tulisan ini bukan untuk membantah atau untuk membela apapun dan siapapun. Tak lebih dari sekedar mengajak kita untuk melihat sesuatu hal dan persoalan dengan adil, proporsional dan objektif tanpa tendensi pribadi dicampur dengan su’udzhon –pra sangka buruk- apalagi dirasuki dengan penyakit-penyakit hati.

Tandzim dan Hizbiyah
Tandzim dari segi bahasa amat berbeda dengan Hizbiyah. Tandzim bermakna pada keteraturan, kerapian, terkontrol yang diwujudkan dalam kerja dalam satu jama’ah/kelompok. Sedangkan Hizbiyah lebih pada paham atau sifat loyalitas yang berkonotasi negatif yakni ta’ashub/fanatisme buta terhadap kelompoknya dan menganggap salah di luar kelompoknya.

Tandzim dan Dakwah
Jika tandzim dikaitkan dengan dakwah, maka dakwah harus tertandzim, sebagaimana firman Allah dalam surah as-Shaff ayat 4:
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun dikenal sebagai organisator yang ulung. Seringkali beliau berkumpul dengan para sahabat Ridhwanullahi ‘Ajmain dan meminta pendapat dari mereka tentang suatu persoalan. Dalam memberikan suatu urusan kepada seseorang beliau tidak secara serampangan menunjuk dan persoalan waktu diperhitungkan secermat mungkin.

Misalnya dalam peperangan, tidak serta merta semua laki-laki pada masa itu boleh ikut berperang, makanya sebelum pergi berperang diadakan semacam ‘pendaftaran’ kepada beliau kemudian beliau memutuskan apakah layak untuk ikut atau tidak. Di medan perang, penempatan dan pembagian tugas kepada prajurit sesuai dengan keahliannya. Pasukan tidak boleh menyerang sebelum ada perintah dari pimpinan. Itulah secuil gambaran bagaimana Rasulullah dan para sahabat menjalankan dakwah dengan tandzim. Sebenarnya masih banyak namun tidak cukup ruang untuk itu.

Tandzim/Organisasi Dakwah masa kini
Jika dibandingkan penerapan tandzim sekarang dengan pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka mungkin akan sedikit berbeda dalam hal kontekstual tapi secara subtansi tetap sama. Pada masa Rasulullah tandzim dakwah lebih banyak bersifat pada metode, maka tandzim dakwah sekarang berkembang bukan hanya bersifat metode tapi juga sebagai sarana. Apakah ini bertentangan dengan Sunnah Rasulullah? Tidak sama sekali. Menurut Syaikh Utsaimin Rahimahullah bahwa al Wasa’il (sarana-sarana) itu tergantung pada niat (maksud)nya, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh para ulama, bahwa sarana itu memiliki hukum yang sama dengan hukum niatnya selama sarana tersebut bukan sarana yang diharamkan, sebab jika ia merupakan sarana yang diharamkan maka tidak ada kebaikannya sama sekali.
Lain jika organisasi dijadikan sebagai tujuan bukan lagi sekedar metode atau sarana, sehingga para du’at bukan lagi mengajak ummat kepada Islam tapi justru kepada organisasinya, mengagungkan semboyan, jargon dan simbol-simbol organisasinya dan parahnya menganggap organisasi lain sesat dan julukan lainnya tanpa bukti. Hal inilah yang dikhawatirkan menjadi bibit penyakit hizbiyah.

Siapa Hizbiyah?

Nah, apakah dalam setiap tandzim ada hizbiyah? Jawaban yang adil adalah: tidak semua tandzim menganut paham hizbiyah sebagaimana juga tidak semua orang yang tidak mau bertandzim bebas dari penyakit hizbiyah. Ya, hizbiyah adalah penyakit yang bisa menimpa kelompok mana saja, baik yang punya nama atau tidak. Meskipun ia mengatakan bahwa ia bukan dan benci hizbiyah tapi ketika ia hanya senang dan suka dengan orang-orang yang satu kajian dengannya, dan bahkan mungkin ia hanya ingin memberi salam atau menjawab salam dari muslim yang ia ketahui sepaham dengannya maka dipastikan ia mengidap penyakit HIZBIYAH. Wallahu musata’an
Baca Selengkapnya...

Link ke posting ini
Download
3:10:00 PM | Diposting oleh: Abu Fauzan ibnu Lamu

Silahkan download file MP3 ceramah, ta'lim dan khutbah di Sini
Khutbah Jum'at

Muharram 1430 H

  1. 5 Muharram 1430 H (Ustadz Jahada Mangka, LC.)
  2. 12 Muharram 1430 H (Ustadz Ilham Jaya, LC.)
  3. 19 Muharram 1430 H (Ustadz Ahmad Said LC., MA.)
  4. 26 Muharram 1430 H (Ustadz Lukman Hakim, LC.)

Safar 1430 H

  1. 3 Safar 1430 (Ust. Dr. Hamid Habbe)
  2. 10 Safar 1430 (H Ust. Nur Ihsan, LC.)

Silahkan Download E-Book di Sini

Referensi Jihad

  1. Fiqih Jihad
  2. Jawaban Seputar Jihad
  3. Tiada Khilafah Tanpa Tauhid
  4. Inilah jalan Para Rasul
  5. Yang Tegar di Jalan Jihad
  6. Thaifah Manshurah
  7. Kepada yang Buron dan Tertawan
  8. Hukum Membunuh Tawanan
  9. Idhoat Ala Darbil Jihad

Referensi Hakikat Syi'ah

  1. Referensi tentang Syi'ah
  2. Ajaran Syiah
  3. Akhlak Kang Jalal
  4. Apakah Abu Bakar Membuat Fatimah Murka
  5. Apakah Imam Maksum Taklid
  6. Apakah Maksum Masih Maksum
  7. Aqidah Thinah
  8. Asyura
  9. Imam ataukah Tuhan?
  10. Imam bukan Manusia
  11. Imam maksum-bermuka-masam
  12. Indahnya-persatuan
  13. Keajaiban Syiah
  14. Keluarga Sahabat
  15. Mengapa membedakan sunni syiah?
  16. Mengenal Perawi Syi'ah
  17. Nasab Umar bin Khattab
  18. Nasehat pencari kebenaran
  19. Nasehat Untuk Syiah
  20. Pendekatan sunnah dan Syiah
  21. Sekilas Syiah
  22. Taqiyah Perisai Syiah
  23. Ulama Syiah dan Al Qur'an
  24. Upaya Pendekatan Sunni-Syiah
Baca Selengkapnya...

Link ke posting ini

Rekomendasi

Ada kesalahan di dalam gadget ini