Sabtu, 26 Desember 2009

I Love "Yesus"

Diterbitkan di Buletin Pekanan Al-Balagh Edisi 43
Dalam edisi kali ini kita akan membahas tentang seorang nabi yang pernah ada di muka bumi ini, Nabi yang kini oleh segolongan orang yang mengaku sebagai pengikutnya menganggapnya sebagai Tuhan dan menyebutnya dengan Yesus, ialah Nabi Isa ‘alaihi salam, nabi terakhir Bani Israil.


Nabi Isa ‘alaihi salam dilahirkan sebagai bagian dari mu’jizat Allah, karena beliau dilahirkan tanpa bapak. Dalam tarikh At Thabari jilid 1 hal. 503 disebutkan Jibril alaihi salam berkata : “wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah mengutusku untuk menemuimu agar aku memberimu seorang anak yang suci.” Maryam menjawab : “Bagaimana saya dapat memiliki seorang anak, sementara saya masih perawan dan tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuh dan berhubungan denganku..?”
Jibril berkata : “itulah ketentuan Tuhanmu, dan demikianlah adanya”.
Setelah mendengar berita bahwa Maryam melahirkan seorang laki-laki padahal dia belum pernah bersuami, maka kaum Bani Israil menuduh Maryam telah melakukan sesuatu yang munkar. Atas tuduhan ini, maka Maryam menyuruh mereka bertanya saja langsung kepada bayinya. Tentu saja mereka bingung karena bagaimana mungkin bayi yang masih berumur 40 hari bisa bicara? Tetapi atas kehendak Allah, seperti yang disebutkan dalam al quran surat Al Maryam, bayi (Nabi Isa ‘alaihi salam) pun menjawab : “Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku kitab (Injil) dan menjadikanku seorang nabi.”
Kata-kata nabi Isa tersebut secara eksplisit adalah sebuah pernyataan bahwa Nabi Isa adalah nabi. (bukan Tuhan ataupun anak Tuhan). Di dalam Al Quran surat Maryam 35-36, Nabi Isa juga menegaskan : “Tidaklah layak bagi Allah mempunyai anak. Maha suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berfirman “Jadilah” maka jadilah ia. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu juga. Maka sembahlah Dia (Allah) oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.”

Kedudukan Nabi Isa ‘alaihi salam sangat tinggi dalam Islam
Kedudukan nabi Isa memang sangat tinggi dalam Islam. Allah subhanahu wa Ta’ala bahkan menyebut namanya dalam al-Qur’an sampai dua puluh lima kali.
Dan memang sesungguhnya Nabi Isa memang benar-benar seorang nabi yang wajib diimani dan dihormati. Tentunya dengan nabi-nabi yang lainnya. Walau pun tidak harus menjadikan sang Nabi sebagai tuhan.
Namun penghormatan kepada nabi Isa dalam pandangan Islam berbeda dengan pandangan kristiani. Islam tidak menuhankannya, Islam hanya mengakuinya sebagai manusia biasa, namun beliau menerima wahyu dan syariah yang berlaku untuk kaumnya saja.
Adapun untuk umat Islam, yang dijadikan sandaran dalam hukum syariah adalah sikap dan teladan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adanya Keterkaitan antara Isa ‘alaihi salam dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
Sebenarnya hubungan antara agama yang dibawa nabi Isa dengan yang dibawa oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. berasal dari sumber yang sama. Kecuali kemudian orang-orang sesat menyelengkan peninggalan beliau dan menggantinya dengan agama yang mereka karang sendiri.
Dan karena hubungannya sangat dekat, tidak aneh kalau nama Nabi Isa diulang-ulang sebagai 25 kali dalam Al-Quran.

Isa ‘alaihi salam dibunuh?
Menurut Islam adalah sebagai berikut : Bahwa setelah perdebatan antara nabi Isa dengan Yahudi yang tidak mempercayainya, keselamatan Nabi Isa semakin terancam. Iapun diburu oleh tentara Pilatus karena difitnah bahwa Nabi Isa ingin menjadi raja atas bani Israil. Pada saat perburuan ini, Nabi Isa dikhianati oleh muridnya yang murtad. Persembunyian nabi Isa dibocorkan oleh murid murtad tersebut dengan imbalan uang. Tetapi Allah telah menyelamatkan Nabi Isa, seperti yang disebutkan pada Q.S Ali Imran 54-55, yang menyebutkan bahwa nabi Isa akan diangkat ke langit. Sedangkan yang berhasil ditangkap dan disalib adalah murid yang murtad tadi, yang ternyata wajahnya mirip nabi Isa. Pada Q.S An Nisa 157 Allah berfirman : ”adapun orang-orang yang durhaka itu, tidaklah mereka membunuh dan menyalib Isa, tetapi hanya orang yang diserupakan Allah yang tersalib“.

Kenaikan Isa Al-Masih dalam Pandangan Islam
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak ada seorang nabi-pun antara saya dan Isa. Sesungguhnya, dia akan turun ke bumi. Maka jika kalian melihatnya, kenalilah dia. Dia adalah seorang laki-laki dengan ukuran sedang, berkulit putih kemerah-merahan. Dia memakai dua baju kuning terang. Kepalanya seakan-akan ada air yang mengalir walaupun sebenarnya ia tidak basah. Dia akan berperang melawan manusia untuk membela Islam. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapuskan jizyah. Allah akan menghapuskan semua agama di zamannya kecuali Islam. Isa akan menghancurkan Dajjal dan dia akan hidup di bumi selama 40 tahun dan kemudian dia meninggal, kaum muslimin akan menyembahyangkan jenazahnya.” HR Abu Dawud.
Menurut pandangan Islam, setelah nabi Isa ‘alaihi salam lolos dari rencana pembunuhan oleh orang-orang Yahudi, lalu diangkat ke langit dan masih hidup hingga saat ini, akan turun kembali nanti menjelang hari kiamat dan bertugas selama 40 tahun untuk menegakkan kebenaran Islam dan meluruskan ajarannya yang telah diselewengkan, diantaranya tentang salib, karena nabi Isa selama misinya hingga terangkatnya ke langit, sama sekali tidak pernah mengajarkan perihal salib, juga akan membunuh babi yang telah dihalalkan oleh umat Kristen, di mana beliau sendiri tidak pernah menghalalkannya sejak Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan.

Prinsip Islam terhadap Keyakinan Ketuhanan Isa’alaihi salam
Islam dengan tegas menyatakan bahwa orang-orang yang menuhankan Isa ‘Alaihi Salam adalah orang kafir. Allah Ta’ala berfirman: ”Sungguh telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah itu adalah Al Masih bin Maryam (Nabi Isa)”. (QS. Al Maidah: 17 dan 72).
Di ayat lainnya, Allah juga berfirman : “Sungguh telah kafirlah orang-orang yang menyatakan: “Sesungguhnya Allah adalah salah satu dari tuhan yang tiga (keyakinan trinitas)”. (QS. Al Maidah: 73).
Ayat di atas juga dengan tegas membantah paham pluralisme yang mengatakan bahwa semua agama itu sama, bagaimana bisa sama jika Allah sendiri yang mengatakannya kafir?

Turunnya Nabi Isa ‘alaihi salam
Nabi Isa ‘alaihi salam adalah nabi yang diutus kepada bani Israel yang disertai kemukjizatan sejak pada masa penciptaannya hingga pada masa menjalankan misinya, mukjizat-mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada beliau sangat nyata menunjukkan bahwa Isa putra Maryam adalah utusan Allah , namun sayang, hanya sedikit orang-orang Israel yang mempercayainya bahkan mereka berencana membunuh Isa ‘alaihi salam, karena mereka tidak percaya dengan nabi Isa as walaupun dengan kemukjizatan-kemukjizatan yang luar biasa, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan nabi Isa ‘alaihi salam dengan mengangkatnya ke langit dan menjaganya tetap hidup hingga sekarang ini.
Turunnya nabi Isa’alaihi salam menjelang hari kiamat nanti, merupakan kemukjizatan yang luar biasa bagi manusia, di mana Isa putra Maryam yang lahir ribuan tahun sebelumnya, ternyata masih hidup pada masa menjelang hari kiamat, tentu saja hal tersebut akan menjadikan seseorang sulit untuk tidak mempercayai kebenaran Isa putra Maryam. Sehingga ketika nabi Isa ‘alaihi salam menyampaikan kebenaran Islam tidak seorangpun yang menolak temasuk orang-orang Yahudi yang dulu sombong : “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An-Nisaa: 159)
Satu lagi, ditakdirkannya nabi Isa ‘alaihi salam belum mengalami mati hingga saat ini, adalah untuk menjelaskan dan membuktikan bahwa dirinya tidak disalib, sehingga orang-orang yang tidak mempercayai informasi al-Qur’an yang menyatakan nabi Isa as tidak dibunuh dan tidak pula disalib akan langsung percaya. Dan untuk menjelaskan bahwa beliau ‘alaihi salam tidak pernah menyampaikan kepada manusia untuk menyembah dirinya atau untuk mengakui dirinya sebagai Tuhan.
”Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku mengatakannya yaitu:”Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maaidah :117)
Padahal dalam Bible sendiri, tidak ditemukan ayat yang menyatakan “Yesus” mengaku sebagai Allah dan memerintahkan manusia untuk menyembah dirinya, mereka tidak percaya yang dinyatakan al-Qur’an, tetapi baru akan percaya bila “Yesus” sendiri yang menjelaskan.
Dari sini kita dapat melihat siapa sebenarnya yang telah menempatkan “Yesus” pada kedudukan yang semestinya sebagai seorang hamba dan utusan Allah? Tiada lain adalah kaum muslimin yang mencintai Isa ‘alaihi salam sebagaimana terhadap nabi-nabi lainnya. Meski tak harus ikut-ikutan atau sekedar memberikan ucapan selamat atas perayaan agama yang telah menuhankan beliau ’alaihi salam. Wallahu Ta’ala A’lam

Disusun dari berbagai sumber


Obat AIDS

Diterbitkan di Buletin Pekanan Al-Balagh Edisi 42
Pada tanggal 1 Desember 2009 lalu para penggiat yang katanya peduli dengan penderita HIV/AIDS kembali memperingati Hari HIV/AIDS sedunia, meski tiap tahunnya diperingati hari HIV/AIDS, namun jumlah penderitanya tak berkurang. Justru semakin meningkat secara signifikan. Data terakhir menunjukkan 298 ribu penduduk Indonesia hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).
Berapa banyak dana yang telah digelontorkan untuk mengkampanyekan kehati-hatian dan pencegahan terhadap HIV/AIDS. Namun hasilnya justru tidak sesuai harapan. Sayang rasanya jika dana sebesar itu digunakan untuk sesuatu yang terkesan tidak solutif. Bahkan timbul kesan ada komersialisasi produk pada kampanye tersebut.

Kondomisasi; Pembodohan Massal
Mau aman? Ya pakai kondom!” begitu bunyi slogan pada iklan layanan masyarakat tentang ajakan penggunaan kondom beberapa tahun lalu.
Iklan dan kampanye penggunaan kondom untuk mencegah AIDS sering dilakukan banyak pihak. Tidak hanya di situ, berbagai pihak juga kerapkali turun ke jalan membagi-bagikan kondom secara gratis pada peringatan hari AIDS se-dunia yang jatuh setiap 1 Desember ini.
Namun faktanya, meski ajakan dan sosialisasi terkait kondom sering dilakukan, angka penderita AIDS justru mengalami peningkatan. Apakah benar kondom bisa mengurangi penderita HIV/AIDS?
Mestinya mereka belajar dari negara AS dan Eropa, sejak 20 tahun lalu telah melakukan program ini, hasilnya justru mendongkrak jumlah penderita AIDS. Apalagi menurut ilmu kedokteran bahwa kondom sesungguhnya dibuat sebagai alat kontrasepsi alias pencegah kehamilan. Sementara virus HIV/AIDS ukurannya jauh lebih kecil dari diameter pori-pori kondom. Jadi bisa dikatakan penggunaan kondom hanyalah solusi bobrok yang dipaksakan atau boleh jadi ini justru adalah salah satu kampanye pelegalan seks bebas yang membuat penderita AIDS semakin menjamur. Ini terbukti dengan dibagikannya kondom secara gratis kepada siapa saja tanpa mau tahu apakah sudah punya istri/suami atau tidak, bahkan anak SD pun bisa mendapatkannya.
Secara tak langsung kampanye ini menyerukan kepada masyarakat, “Silahkan berhubungan seks dengan siapa saja asalkan pake kondom”.
Dan ajakan halus ini tenyata efektif, ini dapat kita lihat bahwa sikap permisifisme masyarakat terhadap seksualitas semakin menjadi-jadi. Hal itu diperparah oleh kondisi Indonesia yang berasaskan HAM yang sering disalahgunakan. Contohnya, dengan mengatasnamakan HAM banyak orang tidak malu berbuat sesuka hati mereka, seks bebas, homoseksual dan sebagainya. Padahal, HIV/AIDS penularannya sangat berpotensi dari situ. Tak hanya itu, Indonesia yang hingga kini ditengarai tempat suburnya peredaran narkoba.

Islam punya Obat
Direktur Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Prof. Dr. Ahmad Zahro, MA mengatakan, meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS pada tiap tahunnya membuktikan kegagalan manusia menangggulangi masalah itu.
Karena itu, Guru Besar Ilmu Fikih IAIN Sunan Ampel ini menentang keras upaya pencegahan HIV/AIDS dengan cara lama yang selama ini dilakukan pemerintah, baik melalui kondomisasi maupun lokalisasi.
Lebih jauh dia menegaskan, hukum yang dibuat manusia tidak sedikit pun bisa mengeliminasi dan memberantas penyakit tanpa obat itu. Alih-alih terkurangi, justru penyakit tersebut malah semakin massif.
“Tidak ada cara lain dalam memberantas HIV/AIDS, kecuali dengan menerapkan syariat Islam. Cara manusia sudah terbukti gagal total,” tegas Direktur Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.
Beda dengan Islam. Bagi para pezina, baik yang mukhson maupun ghoiru mukhson mendapat hukuman secara langsung. Bagi yang belum menikah (ghoiru muhson) akan dicambuk. Setidaknya hal itu merupakan shock therapy bagi mereka.
Namun kita juga tidak memungkiri, bahwa bukan hal mudah untuk memahamkan kepada masyarakat akan solusi syariat Islam dalam mencegah hal tersebut. Sebab saat ini saja masih banyak masyarakat Islam sendiri masih phobia dengan kata-kata syariat Islam. Padahal jika direnungkan dengan baik dan diresapi secara jujur dan ikhlas, maka akan sangat banyak solusi problematika kehidupan yang bisa didapatkan dari penerapannya. Salah satunya dalam persoalan HIV/AIDS ini.
Mari kita sedikit merenungkan sebuah ayat yang Allah Ta’ala turunkan dalam Al Qur’an: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. al-Isra’: 32)
Begitu juga dengan ayat:
“… janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan …” (Al Baqarah: 125)
Jika kedua ayat ini kita resapi dan kita coba untuk melaksanakannya, maka insya Allah penyakit HIV/AIDS bisa kita hindari.
Pertanyaannya, kok bisa?
Ya, bisa. Coba kita urai.
Bukankah kita semua sepakat, bahwa penyebab utama meluasnya HIV/AIDS adalah melalui hubungan seks bebas dan jarum suntik (pengguna narkoba)? Menurut Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) bahwa penularan AIDS 55% disebabkan seks bebas, 42% karena narkoba suntik, dan sisanya penyebab lain.
Nah, seks bebas dalam perspektif syariat Islam adalah perbuatan zina dan Allah Ta’ala telah melarangnya. Bukan hanya melakukannya, tapi mendekatinya.
Logikanya, jika mendekati saja dilarang, apalagi melakukannya.
Begitu pula dengan penggunaan narkoba. Tidak ada yang tidak sepakat akan bahaya narkoba bagi diri kita. Dan tidak ada yang akan membantah jika kita katakan bahwa penggunaan narkoba akan membawa penggunanya kepada kehancuran. Jika kita kembali merujuk pada ayat di atas, maka hal ini sangatlah jelas. Allah Ta’ala telah melarang kita jauh-jauh hari agar jangan menjatuhkan diri kepada apa saja yang bisa membawa kehancurannya. Sebenarnya bukan hanya narkoba saja, tapi sampai makanan yang tidak halal dan buruk pun dicegah olehNya. Seperti dalam ayat: “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah Yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. al-Mai’dah: 88)
Sebab, makanan yang tidak halal lagi baik akan membawa tubuh kita kepada kehancuran atau sakit. Dimulai dari Keluarga
mencegah HIV/AIDS dibutuhkan cara yang cukup kompleks. Tidak hanya tergantung peran pemerintah, yang terpenting adalah ketahanan orangtua. Jika dirunut secara garis besar ada tiga hal penyebab penularan HIV/AIDS. Yakni, pornografi, narkoba, dan musik (song). Ketiga hal tersebut terutama dialami para anak muda. Apalagi yang minim bimbingan dan asuhan dari orangtua. Pertama mereka akan terlena mendengar musik, kemudian mengonsumsi narkoba dan selanjutnya seks bebas. Ibaratnya keluarga adalah ‘benteng’ bagi seorang anak agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas dan orang tua adalah penjaga benteng tersebut.
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrim: 6)

Usaha Serius Pemerintah
Peran pemerintah juga sangat penting, namun selama ini pencegahan HIV/AIDS dilakukan secara parsial dan tidak menyeluruh sehingga menimbulkan kesan tidak serius, misalnya usaha mencegah penularan HIV/AIDS lewat penggunaan jarum suntik patut dicungi jempol tapi di sisi lain tempat-tempat prostitusi masih menjamur bahkan sebagiannya dilokalisasi. Langkah kongkret yang seharusnya diambil pemerintah adalah menutup semua tempat-tempat tersebut yang menjadi penyumbang terbesar bagi penularan HIV/AIDS. Tentu saja kita harapkan bukan hanya karena untuk mencegah penyakit mengerikan tersebut tapi lebih pada pertanggung jawaban di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang amat dimurkai-Nya.

Penutup
Kita tidak ingin menghakimi siapa pun dalam hal ini. Tulisan ini pun adalah juga dimaksudkan sebagai bentuk keprihatinan sekaligus partisipasi dalam menghadapi masalah ini.
Begitu pun dengan pengidap HIV/AIDS atau biasa disebut ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Tidak ada maksud untuk mengucilkan mereka. Bahkan kita mengajak mereka untuk kembali kepada rel syariat Islam. Sebab, setelah semua yang dialami, hanya kepada Dia jualah kita kembali.
Mencegah dan mengobati HIV/AIDS adalah tanggung jawab kita bersama. Oleh karena itu mari kita bersama-sama merenungi dan menerapkan apa yang telah Allah ajarkan kepada kita. Agar kita semua terhindar dari hal-hal yang merusak diri dan masyarakat sekitar kita.
Kepada sahabat-sahabatku para pemuda, mari kita dekatkan diri kita kepada Allah. Agar kita bisa terhindar dari keburukan seperti HIV/AIDS. Amin. Wallahul Musta’an.

Rabu, 11 November 2009

Ngaku Salafi Tapi Kok Hipokrit?

Salaf ataupun salafi, jika dulu istilah ini hanya dikenal di lingkungan pesantren maka seiring dengan munculnya gerakan-gerakan kebangkitan Islam istilah ini mulai popular dikalangan aktivis dakwah yang kemudian menjadi familiar dalam khutbah-khutbah dan ceramah juga di majalah-majalah islam.

Salaf dan salafi
Dari sebuat artikel dipaparkan secara singkat mengenai istilah salaf, berikut kutipannya
“Kata salaf secara lughawi semakna dengan kata qobla yang berarti sebelum atau yang lampau. Kata ini sering dilawankan dengan khalaf, yang berarti belakangan. Dalam perkembangannya makna Salaf menyempit untuk menyebut suatu babakan histories tertentu dalam sejarah Islam yang berwenang memberi legitimasi ajaran Islam atas kurun dan sesudahnya.
Menurut Dr. Muhammad Said Ramadan al-Buthi, otoritas tersebut hanyalah melekat pada tiga generasi awal Islam, yakni para Sahabat, Tabiin, dan Tabiit Tabiin. Pemahaman Muhammad Said Ramadan tersebut mungkin banyak diilhami oleh sabda Nabi, “Sebaik-baik kurun adalah masa saya, kemudian yang mengikutinya, lalu yang mengikutinya.
Sudah selayaknya jika generasi sahabat pendamping setia Nabi, lebih banyak mendengar langsung ajaran Islam dari beliau. Bahkan menyaksikan langsung segenap derap langkah dan gerak-gerik Nabi, sehingga otoritas mereka tidak diragukan lagi. Hal serupa dapat pula kita temukan pada generasi tabiin, dan generasi Tabiit Tabiin.”
Berdasarkan penjelasan di atas maka ber-Islam sesuai dengan metode (manhaj) Salaf adalah wajib, dan tidaklah orang yang membenci mereka kecuali orang-orang yang tidak suka kepada Islam itu sendiri.
Dalam sebuah tulisan karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah yang berjudul "Mengapa harus Salafi?" di antaranya menyebutkan "Siapa saja yang memisahkan antara Al-Kitab dan As-Sunnah dengan As-Salafus Shalih bukanlah seorang yang benar selama-lamanya." Dan juga artikel dari beliau lainnya yang menyebutkan, "Sesungguhnya kelompok atau perkumpulan Islam mana saja yang tidak tegak di atas kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wassalam serta di atas manhaj salafus shalih tentu ia dalam kesesatan yang nyata!"
Kemudian istilah salafi sendiri adalah orang-orang yang berusaha untuk konsisten mengikuti, memahami dan mengamalkan Islam sesuai dengan apa yang telah ditempuh oleh salaf ash sholeh, yakni tiga generasi terbaik.
Dengan ini saya mengaku salafi. Perkenalkan saya bermanhaj salaf, anda boleh percaya boleh tidak itu hak Anda. Bahkan Anda wajib tidak percaya jika perbuatan-perbuatan yang saya lakukan berseberangan dengan pengakuan saya. Sebagaimana yang saya baca dalam iklan yang mempromosikan sebuah buku berjudul “Aku Bukan Salafi?” tertulis “Kalau kata Salafi itu berarti berkata-kata kasar, mudah menuduh sesama muslim sebagai Ahli Bid’ah, mudah menganggap bahwa hanya diri sendiri salafi sementara salafi lain adalah salafi palsu, maka saksikanlah SAYA BUKAN SALAFI.” Ya, semua orang bisa menisbatkan diri pada istilah ini. Tapi jika isinya tidak sesuai labelnya atau bahkan berseberangan maka ini sangat berbahaya sebagaimana bahayanya menempel sertifikat halal pada kemasan dendeng babi!!!
Sejatinya Laila adalah gadis suci yang menjaga diri tapi ia terstigma sebagai wanita penggombal karena banyaknya laki-laki yang tergila-gila sampai harus mencium tembok saking cintanya pada Laila. Ini sebagai perumpamaan kondisi sekarang ini dimana banyak orang yang mengaku salafi tapi karena perilakunya tidak mencerminkan akhlak salaf sehingga istilah salafi sendiri kemudian menjadi sesuatu momok yang dibenci oleh sebagian masyarakat. Salafi kemudian diidentikkan dengan kata-kata kasar, suka menuduh tanpa dasar, mudah membid’ahkan tanpa bukti, mencela ulama dan sebagainya. Alhasil salaf ash-sholeh pun mendapat cipratan buruknya, mereka seakan menjadi tertuduh sebagai sumbernya semua itu. Tapi pemahaman ini tidak akan terjadi pada orang yang tahu duduk persoalannya dan objektif dalam menilai.

Salaf ash sholeh Anti Hipokrit
Hipokrit dalam Kamus Besar Bahasa Indobesia (KBBI) adalah kata sifat yang mempunyai arti 'munafik'--'orang yang suka berpura-pura', sementara itu, kata 'munafik' sendiri mempunyai arti 'suka (selalu) mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perkataannya'—
Dalam penjelasan lain Hipokrit berasal dari bahasa Yunani ὑποκρίτης (hypokrites), yang artinya orang yang berpura-pura memiliki sikap yang baik, tetapi perbuatannya sangat bertolak belakang dengan sikapnya.
Jika mencermati sejarah generasi terbaik Islam maka kita akan dapati bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat anti dengan istilah munafik, mereka sangat takut jika perilaku yang diancam dengan azab di kerak neraka ini menimpa mereka. Apa-apa yang mereka kerjakan akan selalu mereka usahakan untuk sesuai dengan apa yang terucap dari lisannya dan dimantapkan dengan hatinya.
Seorang yang hipokrit dalam amalan sehari-harinya akan penuh dengan kontradiksi antara amalan dengan ucapannya atau amalan yang satu dengan amalan yang lainnya.

Contoh Kasus pengaku ‘Salafi’ yang Hipokrit
Untuk contoh kasus ini saya lebih suka memakai istilah hipokrit yang lebih halus dibanding dengan kata munafik, saya harap Anda sebagai pembaca pun demikian, jadi cukup pada taraf hipokrit tidak lebih.
Berikut kasusnya; Ini menimpa segelintir orang yang mengaku salafi dan mengelola website yang bernama almakassari.com dalam sebuah artikel berseri mereka yang berjudul Mengapa Saya Keluar dari Wahdah Islamiyah? (Bag. 1) yang ditulis oleh Abu Abdillah Sofyan Chalid bin Idham Ruray salah satu pragrafnya tertulis, “Sampai hari ini, apabila kita melihat situs-situs atau blog-blog pribadi orang-orang WI, maka kita akan dapati mereka mencantumkan sebagai LINK mereka, situs Ar Rahmah.com dan Eramuslim.com. Demi Allah, hal ini tidak akan dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kecemburuan kepada manhaj yang haq dan terdidik di atas manhaj yang haq, mengingat dalam kedua situs tersebut dengan sangat jelas terdapat banyak sekali penyimpangan bahkan celaan kepada para Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”
Begitulah pengaku ‘salafi’ tipe ini, hanya suka menuduh dan mencela tanpa sedikitpun memberikan solusi. Bagi saya pribadi dua situs Islam tersebut mungkin ada kekurangan dan kesalahannya tapi manfaat yang diambil oleh kaum muslimin utamanya berita-berita tentang perkembangan dunia Islam sangat banyak. Seharusnya kita harus adil dalam hal ini, vonis total yang mematikan karakter hanya akan memperkeruh masalah, jika ada yang salah maka disitulah kita mengambil peran dalam ber-islah.
Sekarang ini di era slogan “siapa yang menguasai media maka akan menguasai dunia,” website yang betul-betul memberikan pemberitaan yang bertanggung jawab masih dihitung jari, kecuali jika almakassari.com bisa mengakomodir semuanya maka saya akan menyambut baik, tapi sayang tulisan yang ada hanya berkisar pada tulisan yang membosankan dari dulu hanya pada satu topik, “Kesesatan Wahdah Islamiyah”.
Lebih jelasnya kenapa mereka saya beri gelar hipokrit? Ternyata ketika mereka menghujat media-media Islam tersebut beserta pemberitaannya, pada saat yang sama berita dari media yang tidak islami justru mereka pasang di website mereka Anda bisa melihat di http://almakassari.com/wahdah-islamiyah-makassar-terlibat-jaringan-teroris
Berita dusta tersebut sudah diklarifikasi oleh Wahdah Islamiyah, namun ketika isu terorisme kembali marak merekapun mengungkit-ungkit lagi berita basi tersebut di awal tulisan buletin mereka, “Mungkin kita sama-sama telah membaca Harian Fajar tanggal 3 Maret 2007 halaman 11, yang memuat tentang pernyataan resmi dari Polda SulSel, bahwa ada enam kelompok yang disinyalir sebagai kelompok teroris.” 28 Juli 2009) Lihat di http://almakassari.com/artikel-islam/aqidah/jangan-buang-bom-sembarang-tempat.html

Juga ketika terjadi tragedi “keseleo pena” oleh wartawan yang menulis bahwa Wahdah Islamiyah akan membentuk partai politik (http://www.tribun-timur.com/read/artikel/55329) seseorang dari mereka mengangkat hal tersebut dalam kolom komentar website almakassari.com, itupun langsung diapprove dan diamini oleh adminnya (Berita tersebut telah diklarifikasi melalui jumpa pers dan website resmi Wahdah Islamiyah).
Lihatlah mereka lebih percaya pada media yang menampilkan gambar wanita pengumbar syahwat dan tak jarang memunculkan artikel-artikel syi’ah daripada klarifikasi oleh Wahdah Islamiyah sendiri. Mereka selayaknya ditanya dengan pertanyaan mereka sendiri, “Mana kecemburuan terhadap yang haq tersebut?”
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” QS. al-Hujurat (49) : 6

Penutup
Hindarilah sikap hasad, dengki dan penyakit-penyakti lainnya sebab itu hanya akan melahirkan sikap hipokrit sebagaimana dedengkot munafik Abdullah bin Ubay bin Salul yang hasad kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena merasa kekuasaanya di Madinah direbut oleh Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Abdullah bin Ubay bin Salul pun melakoni peran yang sangat melelahkan di dunia, hipokrit. Penyakit hati juga bisa menularkan kebiasaan lalat yang suka mencari sesuatu yang kotor-kotor dan tak sadar jika ia sebenarnya juga dalam keadaan kotor, jadinya hidup penuh kontradiksi.
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” QS. an-Nisa' (4) : 82
Jika sekiranya sesuatu itu bukan dari Allah (kebenaran) maka pastilah akan didapatkan berbagai pertentangan di dalamnya.
Wallahu Musta’an.

Kamis, 05 November 2009

Resensi Situs almakassari.com

“Situs ini adalah Situs Informasi Ahlussunnah Makassar. Situs ini bertujuan untuk mendekatkan dakwah ahlussunnah kepada kaum muslimin di Makassar dan Indonesia pada khususnya serta Dunia pada umumnya.” Itu adalah sepenggal kalimat yang bisa kita baca dari profil situs almakassari.com.

Dari segi artistik tampilan, website ini lumayan cukup bagus dengan paduan warna putih dan didominasi dengan warna hijau. Penempatan navigasi menu dan link juga menambah apik website ini apalagi di poles dengan animasi javascript yang atraktif.

Website ini dikelola oleh beberapa orang yang bisa kita lihat di bagian profil, diantaranya Ustadz Dzulqarnain, dan Ustadz Lukman Jamal sebagai Penasehat, dan sebagai administrator yakni Ustadz Hammad Abu Muawiyah, Abu Ismail Sulthan, Abu Fudhail Ulla’, Abu Khalil Habibi, Abu Zubair Bahrul.

Pengunjung website ini bisa dibilang cukup banyak, dalam sehari sekitar 140 orang mengakses website ini.

Rubrik-rubrik yang ditampilkan pun cukup beragam mulai dari akidah, manhaj, fiqh, fatwa dll.
Tapi dibalik penampilannya yang elegan, jika kita amati sebagian besar artikel-artikelnya maka kita akan dapatkan bahwa tag atau kata kunci yang paling banyak dipakai adalah “WAHDAH ISLAMIYAH” berdampingan dengan "TERORIS", "KHAWARIJ" dll. Di modul Artikel Pilihan pun didominasi oleh artikel-artikel yang menjelaskan tentang ‘kesesatan’ Wahdah Islamiyah’. Artikel terbaru website inipun lagi-lagi menyoal tentang alasan seseorang keluar Wahdah Islamiyah dan terbit pas pada hari berlangsungnya Mukernas VI Lembaga Dakwah yang berpusat di Makassar tesebut. Dan tak tanggung-tanggung langsung menempati urutan terfavorit alias paling banyak dibaca.

Mulanya saya berharap akan menemukan artikel yang menyoal tentang beredarnya “Pin bergambar ‘Nabi’” mengingat kasus ini terjadi di Makassar, kota pengelola website ini, tapi saat mencarinya lewat widget search dengan kata kunci “pin nabi” saya tidak menemukannya, malah yang saya dapatkan justru artikel yang tidak nyambung dan lagi-lagi dikaitkan dengan Wahdah Islamiyah dengan judul “Jangan Buang BOM Sembarang Tempat!!!”

Mungkin pengelolanya tidak tahu, lupa atau memang lebih sibuk membuat artikel tentang Wahdah Islamiyah, namun secara pribadi timbul pertanyaan jika saja tuduhan mereka terhadap Wahdah Islamiyah adalah betul, manakah yang lebih berbahaya, “Bid’ahnya Wahdah Islamiyah atau kekafiran syi’ah?” Ataukah ini adalah efek dari penyakit hati yang disebut dengan hasad sehingga mengalahkan ghirah yang seharusnya lebih dominan?

Dari hal tersebut sebagai kesimpulan atas resensi website dengan deskripsi “Situs Informasi Ahlussunnah Makassar” ini mungkin lebih tepat jika disebut dengan “WAHDAH ISLAMIYAH WATCH”.

Penilaian saya di atas hanya pendapat pribadi dan tentu saja kebenaran hanyalah dari Allah Azza wa Jalla dan kepadanya kita senantiasa bermohon ampun atas segala yang salah dan tersalah dari kita. Wallahu ta’ala a’lam.

Selasa, 03 November 2009

Imam Syafi’i Rahimahullah dengan Syi’ah

Sedikit catatan atas tulisan ”Iran, Syiah, dan Pengaruhnya di Indonesia” Oleh: Ismail Amin di Rubrik Opini Harian Tribun Timur, Jumat, 23 Oktober 2009

Saya tidak akan menanggapi secara detail dan menyeluruh, hanya catatan dari beberapa kejanggalan yang saya tangkap dari tulisan tersebut.

Sebenarnya uneg-uneg ini telah lama ada semenjak saya membaca artikel tersebut, namun karena beberapa kesibukan akhirnya saya tunda dan baru bisa menuliskannya setelah ada kesempatan.

Dari penilaian saya secara umum, Ismail berusaha untuk memberikan fakta-fakta kepada pembaca bahwa Syi’ah yang sekarang dianggap sebagai aliran sempalan dan berbahaya oleh masyarakat sunni di Indonesia justeru adalah agama ”nenek moyang” bangsa Indonesia sendiri dan jika menolaknya sama saja mengabaikan dan tidak menghargai budaya nenek moyang bangsa Indonesia.

Bagi pembaca dengan modal ilmu agama yang pas-pasan dan akidah yang rapuh boleh jadi akan tergugah dengan tulisan tersebut. Tapi jelas ini adalah manhaj (metodologi) beragama yang salah dan dicela oleh Allah, dalam al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya “Jika dikatakan kepada mereka, Ikutilah apa yang Allah turunkan. Mereka menjawab, Tidak. Akan tetapi kami mengikuti (melakukan) apa yang kami dapati dari pendahulu kami.” (QS. Luqman : 21).

Selain itu, Al-Qur’an juga melarang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan,
“Dan janganlah kalian mengikuti apa yang tidak kalian ketahui.” (QS. Al-Isra : 36).

Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam pun berpesan kepada kita “Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian ashabiyah Jahiliyah dan kebanggaan dengan nenek moyang. Sesungguhnya yang ada hanyalah seorang mukmin yang bertakwa atau pendurhaka yang tercela. Manusia adalah anak cucu Adam, dan Adam diciptakan dari tanah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang Ajam kecuali dengan takwa” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dan lainnya).

Jika sejarah dirunut lebih ke belakang, jauh sebelum ”Syi’ah” –sebagaimana anggapan Ismail- datang ke negeri ini, agama nenek moyang kita adalah mayoritas Hindu dan beberapa aliran kepercayaan bahkan paganisme. Pertanyaannya adalah apakah ketika ada misionaris Hindu yang berusaha untuk menyebarkan agamanya di tengah kaum muslimin bisa dianggap sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja dan tidak membahayakan dengan alasan mereka juga adalah agama nenek moyang kita?

Kita baru berbicara metode, belum subtansi ajarannya.

Imam Syafi’i Rahimahullah adalah Syi’ah?
Hal yang paling menggelikan buat saya dari tulisan tersebut adalah ketika Ismail juga berusaha memberikan pendekatan bahwa madzhab syafi’i yang mayoritas dianut di Indonesia dipengaruhi oleh ajaran syi’ah, seperti barzanji, wirid-wirid, membuat kubah di kuburan dsb. Lagi-lagi Ismail meluputkan pembaca dari masalah subtansi;. Satu lagi pertanyaan, Apakah memang betul itu adalah ajaran Imam Syafi’i?

Barzanji sendiri baru ada sekitar tahun 1180 M atau kurang lebih 3 abad setelah Imam Syafi’i meninggal dunia, bagaimana ia bisa dianggap sebagai bagian dari madzhab Imam Syafi’i?

Imam Syafi’i rahimahullah sebagai salah satu Imam Ahlusunnah dikenal tegar dalam memperjuangkan dan membela sunnah dan membenci segala bentuk dan perilaku bid’ah dan kesyirikan mustahil jika beliau membolehkan wirid-wirid bid’ah apalagi mengagung-agungkan kuburan dengan membangun kubah di atasnya sebagaimana tradisi Syi’ah –seharusnya Ismail membaca buku ”Aqidah 4 Imam Madzhab-. Sebenarnya usaha seperti yang Ismail lakukan ini bukanlah hal yang baru, ini telah dilakukan oleh orang-orang syi’ah sejak dulu, misalnya adanya klaim dari syi’ah bahwa Imam Syafi’i memiliki pemahaman kesyi’ah-syi’ahan. Dalil yang mereka sering angkat adalah syair dari Imam syafi’i yang mengatakan, "Jika benar Syi’ah Rafidhah itu adalah cinta keluarga Muhammad… maka hendaklah jin dan manusia bersaksi bahwa aku adalah orang Syi’ah Rafidhah.”

Sayang, syair yang dibuat Imam Syafi'i itu justru untuk mempermalukan mereka sebagaimana yang menimpa kafir Ahlul Kitab yang menganggap bahwa Allah punya anak, Allah azza wa Jalla menyindir mereka;
”Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu)." (QS Az-Zukhruf: 81).

Dan perhatikanlah perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Syi'ah Rafidhah dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal, 2/27-28, karya Al-Imam Adz-Dzahabi)

Syi’ah Akar Penyempalan Madzhab
Di akhir tulisan tersebut secara tidak langsung Ismail mengklaim bahwa semua tradisi-tradisi bid’ah dan kesyirikan khususnya di tanah air ini, mulai dari barzanji, wirid-wirid dan segala bentuk bid’ah bahkan sampai taraf syirik, seperti mengambil berkah di kuburan, ajaran wihdatul wujud atau Manunggal ing Kawula Gusti adalah asli produk syi’ah.

Kalaupun kemudian dikatakan bahwa terjadi sinkritisme antara madzhab Syafi’i di Indonesia dengan tradisi Syi’ah maka saya berterima kasih kepada Ismail atas artikel yang ia buat karena membuat cakrawala berpikir saya semakin terbuka. Ternyata Syi’ah tidak jauh beda dari induk semangnya, Yahudi la’natullah ’alaihi. Yahudi merupakan sang akar pembelotan agama samawi dari ajaran tauhidnya, dan Syi’ah yang merupakan representasi keberhasilan misi Yahudi dalam menghancurkan Islam juga berbuat sama yakni menyempalkan ajaran madzhab dalam hal ini madzhab syafi’i dari ajaran sebenarnya.

Nyatanya saya semakin mengenal Syi’ah tapi kemurnian tauhid saya –mudah-mudahan- dengan tegas mengatakan, "Saya semakin membenci Syi’ah".
Wallahu muwaffiq.

Jumat, 02 Oktober 2009

Setelah Ramadhan, Apa yang Bertahan?

Dimuat di Buletin al-Balagh
Bulan penuh ampunan, berkah, dan berbagai macam kemuliaan ukhrawi telah berlalu beriring dengan berjalannya waktu. Pergi untuk selamanya atau kembali pada tahun berikutnya. Menyadari itu mungkin ada di antara kita yang merasa sedih, menyesal atau perasaan semacamnya tapi kembali kita diingatkan oleh pesan ulama ”Kun rabbaniyyan wala takun Ramadhaniyyan”, (Jadilah hamba-hamba Allah dan janganlah menjadi hamba-hamba Ramadhan). Dan juga pesan mereka adalah “Man ya'budu ramadhan fa innahu qod fata, wa man ya'budullah fa innahu hayyun la yamut”

Ramadhan ibarat ladang pahala yang sangat subur sehingga wajar ketika amalan ibadah pada bulan tersebut kita tingkatkan kualitas dan kuantitasnya, tapi ia bukanlah momen untuk berspekulasi ataupun memanipulasi iman, semua maksiat terhenti untuk sementara tapi setelah Ramadhan dilanjutkan kembali. Sebagaimana yang dilansir dalam suatu media islam bahwa saat awal hingga akhir Ramadhan pencari kata “seks” dari sebuah mesin pencari menurun drastis. Namun, ketika Ramadhan berakhir, para pengguna internet yang mencari kata “seks” berlipat-lipat lagi, dan bahkan mencapai puncaknya.

Beroperasinya kembali tempat-tempat maksiat setelah ditutup secara resmi selama sebulan. Seolah Allah hanya ada pada bulan Ramadhan. Menurut ulama bahwa mereka adalah seburuk-buruk orang yang hanya mengenal Allah pada bulan Ramadhan saja. Padahal, Allah adalah Tuhan dan Pemilik semua bulan, tak pernah lengah sedetikpun, Maha Hidup dan tak pernah tidur.

Ramadhan seharusnya menjadi ajang latihan buat untuk menjadi hamba yang lebih baik dari sebelumnya. Keberhasilan dari suatu latihan dilihat di arena pertandingan bukan hanya saat latihan saja. Satu bulan penuh kita latihan dan sebelas bulan berikutnya adalah waktu untuk bertanding dan saat inilah penentuan kemenangan.

Bukti diterimanya ibadah dalam satu musim kebaikan adalah setelah melakukan ibadah tersebut. Begitupun dalam bulan Ramadhan, ada banyak amalan shaleh baik yang wajib maupun sunnah dapat kita lakukan dengan mudah dan ringan, alangkah baiknya jika amalan-amalan tersebut tetap dipertahankan meski dengan intensitas yang lebih sedikit dibanding dalam bulan Ramadhan. Berikut ini beberapa contoh amalan tersebut.

Shaum/Puasa
Shaum adalah kewajiban selama sebulan penuh di bulan Ramadhan, di bulan lain pun ada banyak shaum sunnah yang bisa dilakukan dan bisa kita rutinkan misalnya shaum hari senin dan kamis, shaum 3 hari pada tanggal 13, 14, 15 tiap bulan hijriyah, atau shaum sebagaimana Nabi Daud 'alaihi salam sehari shaum dan sehari berbuka. Dari jenis shaum tersebut kita bisa merutinkan apa yang termudah dan bisa kita lakukan, dan mudah-mudahan dengan itu kita mendapatkan sebagaimana kabar gembira dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam buat orang-orang yang ahli shaum:
“Sesungguh dalam syurga ada satu pintu yang disebut dengan rayyan, orang-orang yang shaum akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut tak ada orang selain mereka yang memasukinya. Jika telah masuk orang terakhir yang puasa ditutuplah pintu tersebut barang siapa yang masuk akan minum dan barang siapa yang minum tak akan merasa haus untuk selamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan banyak lagi keutamaan shaum yang tidak bisa disebutkan satu persatu di ruang yang terbatas ini.

Ada juga jenis shaum pada momen tertentu misalnya shaum hari arafah 9 Dzulhijjah, shaum 6 hari di bulan Syawal.

Untuk shaum yang terakhir di atas Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa shaum penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (shaum) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia shaum selama satu tahun ." (HR. Muslim).

Imam Ahmad dan An-Nasa'i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Shaum Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (shaum) sepuluh bulan, sedangkan shaum enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (shaum) dua bulan, maka itulah bagaikan shaum selama setahun penuh." (Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam "Shahih" mereka.)

Shaum 6 hari di bulan Syawal tidak mesti berurutan, dilakukan selang-seling insyaAllah tak mengapa.

Shalat Lail
Shalat tarwih yang kita lakukan tiap malam Ramadhan sebenarnya adalah shalat lail sebagaimana tahajjud dan witir. Alangkah baiknya jika shalat lail tetap ditegakkan di bulan-bulan lainnya. Bagi pemula, shalat tahajjud yang dikerjakan setelah tidur mungkin agak berat sehingga memerlukan latihan yang bertahap. Paling minimal kita menjaga shalat witir tiap malam. Kalaupun masih berat dilakukan pada seperdua atau sepertiga malam setelah tidur maka witir bisa dikerjakan sebelum beranjak untuk tidur.
"Barang siapa takut tidak bangun di akhir malam, maka witirlah pada awal malam, dan barang siapa berkeinginan untuk bangun di akhir malam, maka witirlah di akhir malam, karena sesungguhnya shalat pada akhir malam masyhudah ("disaksikan") (HR. Muslim).

Shalat Berjama'ah
Pada bulan Ramadhan khususnya di malam awal-awal Ramadhan masjid menjadi ramai, tapi sayang seiring dengan berlalunya Ramadhan masjid kembali sepi sebagaimana semula. Hukum shalat berjama'ah bagi laki-laki dalam hal ini ada ikhtilaf di kalangan ulama, sebagian mengatakan wajib dan ada yang berpendapat sunnah muakkadah (sunnah yang mendekati wajib). Terlepas dari itu motivasi-motivasi untuk shalat berjama'ah dari banyak hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seharusnya membangkitkan semangat kita untuk senantiasa memenuhi panggilan dan menjadi tamu di rumah-rumah Allah di tiap waktu shalat dan berjama'ah di dalamnya.

Tadarrus al-Qur'an
Pada Ramadhan lalu mungkin di antara kita ada yang sempat khatam al-Qur'an satu, dua atau bahkan lebih tiga kali. Keakraban dengan al-Qur'an yang terbina pada bulan al-Qur'an tersebut sedapat mungkin tetap terjaga pada bulan-bulan lainnya. Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu pernah mengatakan bahwa seharusnya seorang muslim membaca al-Qur'an sekurangnya 80 ayat tiap hari.

Pada bulan lainpun seharusnya kita punya target untuk mengkhatamkan al-Qur'an misalnya satu bulan sekali, kalaupun dirasa berat maka bisa sekali khatam dalam dua atau tiga bulan. Ini akan terasa ringan jika tiap hari kita menyediakan waktu khusus untuk bersama dengan al-Qur'an meski sebentar.

Tentu saja kedekatan dengan al-Qur'an kita tidak inginkan hanya sebatas huruf-huruf saja tapi mengetahui makna-makna yang terkandung di dalamnya kemudian mengamalkan dan mendakwahkannya adalah merupakan kewajiban setiap muslim. Dengan itu mudah-mudahan kita bukan termasuk orang yang diadukan oleh Rasulullah kepada Allah sebagaimana dalam al-Qur'an

Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan ". (QS. al-Furqan (25) : 30)

Shadaqah
Bulan Ramadhan menjadi berkah tersendiri bagi fakir miskin, bagaimana tidak? Banyak di antara orang-orang yang punya menjadikan Ramadhan sebagai bulan berbagi. Shadaqah di bulan Ramadhan memang lebih utama dibandingkan di luar Ramadhan, karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutnya dengan bulan muwasah/saling tolong menolong. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sangat dermawan di bulan Ramadhan, tepatnya ketika malaikat Jibril menemuinya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lebih dermawan terhadap hartanya daripada angin yang berhembus. Tapi beliau tetaplah seorang yang dermawan di luar bulan Ramadhan.

Berdo’a

Tak satupun di antara kita yang bisa memastikan amalan ibadah pada bulan Ramadhan diterima oleh Allah atau tidak. Pada akhirnya kita tetap berharap mudah-mudahan keikhlasan dan keinginan untuk i'tiba' (mengikuti) Rasulullah menjadi sebab diterimanya amalan ibadah kita. Ulama salaf memberikan teladan kepada kita, bahwasanya 6 bulan setelah Ramadhan maka salah satu lantunan do’a yang senantiasa keluar dari bibir mereka adalah agar amalan ibadah mereka yang telah di kerjakan pada bulan Ramadhan di terima oleh Allah Azza wa Jalla, mereka begitu khawatir jangan sampai amalan mereka sia-sia, tentunya kita pada generasi sekarang ini lebih berhak untuk itu.

Itulah sekelumit amalan-amalan yang sebaiknya tetap dipertahankan agar kita menikmati Ramadhan sepanjang masa dan ketakwaan yang telah tumbuh tak layu meski Ramadhan telah berlalu. Wallahu a'lam bishshowab.

Rabu, 16 September 2009

Kenapa Pohon dan Batu Masih Enggan untuk Berbicara?

Yahudi sejatinya telah menjadi musuh seluruh penduduk langit dan bumi. Alam telah bosan dengan sederet pembangkangan, pengkhianatan, kekejian dan kekejaman yang Allah Azza wa Jalla sendiri mengabadikannya dalam Kitab suci-Nya, dan itu masih bisa kita lihat hingga sekarang ini.

Kitapun yakin bahwa puncak dari perseteruan ini adalah ketika semua saling bahu membahu untuk melenyapkan bangsa yang pernah dikutuk menjadi kera ini. Dalam sebuah riwayat nubuwwah dikabarkan bahwa sampai-sampai pohon dan batu akan berbicara kepada orang yang mengejar si yahudi yang bersembunyi dan menyuruhnya untuk segera membunuhnya.

Rabu, 09 September 2009

Ini Jalan ke Bioskop dan Ini Jalan ke Masjid

Abu Basyar berkata, “Aku bepergian bersama temanku menuju kta Shan’a (Yaman). Pada suatu malam kami sepakat untuk pergi ke bioskop yang kami belum tahu jalan menuju ke sana. Karena kami tahu bahwa pergi ke bioskop adalah sebuah perbuatan yang tercela, kami pun tidak bertanya kepada orang-orang dewasa di mana tempatnya. Maka kami mencari-cari anak-anak kecil.

Di saat kami sedang mencari cari, tampak di hadapan kami seorang anak kecil yang usianya tidak sampai sembilan tahun. Sat itu adalah waktu antara dua shalat, yaitu shalat Maghrib dan shalat Isya’. Lalu kamipun bertanya kepadanya tentang jalan menuju bioskop.

Anak kecil itu melihat kepada kami dengan merenung kemudian berkata, ”Ini adalah jalan yang akan mengantarkan kalian ke bioskop, dan ini adalah jalan yang akan mengantarkan kalian ke masjid.” Dan dia mengisyaratkan dengan tangannya kepada dua jalan tersebut.

Kami pun tercengang dengan jawaban dan kebijaksanaannya saat dia memperingatkan kami bahwa jalan yang kami tuju adalah jalan keburukan, dan dia menjelaskan kepada kami jalan kebaikan. Maka kami pun meniti jalan menuju masjid, lalu kami melangkah dengan langkah-langkah kembali bertaubat kepada Allah. Alangkah baiknya anak itu, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala membalasnya dengan kebaikan, demikian pula kami. (Majalah Qiblati Edisi 11 Tahun IV)

***

Membaca kisah di atas saya jadi teringat dengan sebuah film ’Islami’ yang akan ditayangkan serentak di bioskop seluruh Indonesia pada tanggal 17 September 2009 mendatang, Ketika Cinta Bertasbih (KCB) 2. Ironinya adalah pemutaran perdana film ini dalam suasana 10 hari terakhir Ramadhan. Hari-hari yang siang dan malamnya seharusnya diisi dengan memperbanyak ibadah kepada Allah khususnya i’tikaf di masjid justru digeser oleh bioskop yang notabene adalah tempat yang mudharatnya –maksiatnya- lebih banyak dari manfaatnya.

Anggaplah film ini ditonton tak kurang dari 3 juta orang sebagaimana KCB 1, maka milyaran uang akan terbuang untuk sesuatu tidak terlalu bermanfaat –kalaupun ada manfaatnya-. Bukankah uang itu akan berpahala jika disedekahkan untuk fakir miskin yang kita temukan tiap hari di jalanan? Terlebih di bulan Ramadhan ini dimana shiyam yang kita lakukan seharusnya menyentil sedikit rasa kemanusiaan kita untuk peduli terhadap kelaparan yang mereka rasakan tak mengenal waktu siang dan malam.

Mungkin sebagian besar dari penonton juga ikut larut dalam cerita fiksi tersebut dan tak jarang air mata juga harus ’disumbangkan’, perasaan khusyuk yang mestinya dihadirkan saat membaca ayat-ayat Allah dan air mata takut akan kebesaran-Nya menjadi sia-sia di tribun bioskop.

Asumsi di atas hanya berdasar kemungkinan-kemungkinan, tapi kalkulasi kerugian pahala bisa kita lihat dengan sangat jelas meski dengan prediksi minimal sekalipun dan masih banyak kerugian dari sisi lain yang belum kita hitung; waktu, tenaga dan sebagainya.

Saya tidak tahu apa alasan peluncuran perdana film ini pada bulan Ramadhan, terlebih di 10 hari terakhir, mungkin agar kesan ’religi’-nya lebih terasa. Tapi akan lebih menghormati bulan mulia ini jika diputar pada bulan lain saja, paling cepat setelah Idul Fitri.

Jadi, tanggal 17 September nanti Anda dimana? Ini jalan ke Masjid dan itu Jalan ke Bioskop, pilih mana? Wallahu muwaffiq.

Minggu, 30 Agustus 2009

Tak Sesempit Mimbar

Setiap orang dikaruniai potensi yang berbeda, dan setiap potensi memiliki kelebihan dan kekurangan dibanding yang lainnya. Namun bukanlah potensi itu yang membuat manusia berbeda di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, melainkan bagaimana manusia memanfaatkan karunia tersebut untuk meraih derajat ketakwaan di sisi Allah Azza wa Jalla.
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu” (QS. Al Hujurat: 13)

Banyak di antara pejuang dakwah yang mundur teratur dari medan dakwah karena merasa tidak punya apa-apa yang bisa diberikan terhadap perjuangan. Alasan yang paling klasik adalah, “Saya tidak bisa ceramah, tidak menguasai materi, belum hafal dalil dan lain-lain...”

Mendengar kata "dakwah" mungkin kita akan tertuju pada suatu benda, “mimbar”, memang identik, tapi dunia dakwah tidaklah sesempit itu. Inti daripada dakwah adalah mengajak kepada Allah, kepada kebenaran, keselamatan dunia akhirat dan itu bukan hanya bisa kita lakukan di khutbah-khutbah, ceramah-ceramah, tarbiyah, majelis pengajian, seminar, tabligh akbar, forum kajian dan sejenisnya.

Da’i bukan saja yang bergelar ulama, ustadz, kiyai dan sebagainya. Semua orang layak dan berhak untuk berjuang menegakkan agama ini dengan memanfaatkan potensi dan apapun yang mereka miliki.

Ikut rapat dan turut memikirkan langkah-langkah yang dilakukan bagaimana agar dakwah bisa berkembang, membuat dan menyebarkan pamflet kajian, menjemput ustadz, membuat spanduk, membersihkan tempat dan menyiapkan kursi untuk peserta pengajian, mengajak teman untuk ikut pengajian atau shalat berjama’ah di masjid, membuat mading Islami, membagikan buletin dakwah, mencari dana untuk kegiatan dakwah, memasak makanan untuk peserta daurah, mencuci piring di waktu mabit, mengajari adik iqro’, memberikan buku atau majalah Islam, dan ah... masih banyak kerja-kerja dakwah yang tidak mungkin di tulis semua di sini. Apakah di antara bentuk konstribusi dalam dakwah di atas tidak ada yang bisa kita lakukan?

Lakukanlah sebaik-baiknya dan semampu yang kita bisa dan jangan pernah menganggap remeh apapun bentuk partisipasi itu. Sebab, ustadz tidak akan hadir kalau tidak ada yang menghubungi atau menjemput, ustadz tidak akan ceramah kalau peserta pengajian tidak ada yang datang gara-gara tidak ada yang mengajak peserta dan pamflet tidak tersebar, peserta daurah akan kelaparan kalau tidak ada yang memasak atau membeli makanan. Piring-piring akan menumpuk kalau petugas cuci piring mogok kerja... nah.

Suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menanyakan keberadaan orang yang selama ini menjadi penyapu masjid. Beliau diberitahu oleh sahabat bahwa orang tersebut telah meninggal dan dimakamkan. Mendengar itu Rasulullah menyesalkan kenapa beliau tidak diberi tahu supaya dia bisa menyalatkan dan mengantar jenazahnya. Kemudian beliau minta ditunjukkan kuburan penyapu masjid tersebut, hari itu juga beliau berziarah dan menyalatkan orang tersebut di kuburannya.

Begitulah Islam yang tidak pernah menganggap kecil seringan apapun suatu pekerjaan yang mungkin sebagian orang menganggapnya remeh.

Mudah-mudahan kisah di bawah ini membuat kita lebih bersemangat untuk berkhidmat dalam perjuangan ini;

Dikisahkan, ada seorang wanita bercadar yang datang menghadap panglima militer Islam, menjelang keberangkatan tentara mujahidin ke medan jihad. Wanita tersebut menyerahkan sebuah kotak kepada panglima. Betapa terkejutnya panglima tersebut ketika membuka kotak tersebut dan mengetahui di dalamnya berisi dua pilinan (kepangan) rambut yang sangat panjang.

Sang panglima bertambah kaget, setelah wanita bercadar itu mengatakan bahwa dua pilinan rambut yang sangat panjang itu adalah rambutnya sendiri. Ia adalah seorang janda miskin yang tidak memiliki harta untuk disumbangkan kepada tentara mujahidin. Wanita itu pun sengaja memotong rambutnya sendiri sebagai wujud partisipasinya dalam jihad.

Panglima tentara Islam semakin takjub, ketika wanita muslimah itu meminta agar kedua kepangan rambutnya dijadikan sebagai tali kekang kuda yang dipakai berjihad oleh tentara kavaleri Muslim.

Setelah wanita bercadar itu pulang ke rumahnya, sang panglima mujahidin memerintahkan para tentara Islam untuk segera berbaris rapi. Ia pun berpidato di hadapan para mujahidin dan menceritakan tentang adanya seorang wanita mukminah yang menyumbangkan dua kepangan rambutnya sendiri untuk dipakai sebagai tali kekang kuda perang.

Begitu mendengar informasi mengharukan sekaligus menakjubkan tersebut, para mujahidin secara spontan memekikkan takbir dan semangat tempur mereka bertambah besar, sehingga setelah berperang menghadapi musuh-musuh Islam di medan jihad, para mujahidin mengalami kemenangan yang gilang-gemilang. Allahu Akbar.

Apakah kita masih ingin meninggalkan medan ini hanya karena merasa tidak punya apa-apa? Bukankah Allah telah mengaruniakan hal yang sangat banyak pada diri kita?

“Dan pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. al-Dzariyaat: 21)

Nahnu Ladzina Baya`u Muhammadan,
`Alal jihadi ma Baqina `Abadan,
(Kamilah para pembai`at Muhammad,
Atas jihad yang takkan pernah kami tingalkan selamanya)

Buat adik-adik di KBM FT UNM, "Selamat berjuang dan tetap semangat untuk membentuk generasi pejuang, jalan dakwah terlalu indah untuk ditinggalkan"

Minggu, 19 Juli 2009

Akal-akalan yang tak Masuk Akal; buat Penolak Hadits Ahad

Hadits Ahad Bukan untuk Aqidah
Saya sendiri tidak tahu kapan dan siapa yang pertama kali memunculkan pemikiran nyeleneh ini namun yang jelas pemikiran ini timbul dari orang-orang yang mengandalkan akal dan syak wasangka saja. Berbagai dalil akal mereka lontarkan untuk menguatkan pendapatnya, tapi yang namanya kesesatan memang takkan pernah masuk logika sehat dan tentu saja pasti berseberangan dengan dalil naqli (al-Qur'an dan as Sunnah).

“Hadits ahad tidak kuat (qathi) karena hanya diriwayatkan oleh satu orang”.
Ini sih pemikiran demokrator sejati. Alhamdulillah, pemikiran ini tidak merasuki penduduk Madinah ketika bertemu dengan Mush`ab bin Umair radhiyallahu anhu sang duta Rasulullah Shallallahu `alahi wa Sallam sebagian besar penduduk kota Madinah masuk Islam dengan sebab da`wah beliau, padahal Mush`ab sendirian artinya hadits yang ia sampaikan adalah ahad. Begitupun penduduk Yaman ketika bertemu dengan Mu`adz bin Jabal radhiyallahu anhu, penduduk Najran ketika bertemu dengan Abu Ubaidah Amir bin Al Jarrah radhiyallahu 'anhu dan lain-lain.
Penganut pemikiran ini jika sekiranya mereka konsisten maka mereka tidak menyampaikan sesuatu kepada orang lain jika mereka sendirian, yah minimal dua orang agar apa yang disampaikannya tidak ditolak oleh orang lain!?

“Bukan ditolak, dapat dijadikan landasan dalam perkara selain aqidah (hukum, muamalah, amaliyah, fiqih, dan lain-lain) karena kita tidak boleh main-main dalam aqidah.”
Sepintas memang seperti pemikiran yang ‘sangat hati-hati’, namun kami lebih ‘ekstra hati-hati” menyatakan bahwa kita tidak boleh main-main dengan agama ini dalam perkara apapun, bukan hanya aqidah, sepakat?!
Diterima tapi tidak boleh diyakini jika berkaitan dengan aqidah namun boleh dalam perkara lain. Dari sini muncul kerancuan pokok. Mari kita cermati kasus berikut; ada hadits Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam yang menganjurkan kita untuk berlindung dari empat hal sebelum salam pada saat tahiyyat akhir yaitu: dari adzab neraka, adzab kubur, fitnah dajjal dan fitnah kehidupan serta kematian. Jika hadits ini adalah hadits ahad maka sesuai dengan pemahaman di atas kita tidak boleh meyakini keempat hal tersebut karena ini adalah masalah akidah tapi kita boleh saja mengamalkan hadits tersebut pada saat tahiyat karena ini dalam tataran fikih, singkatnya mengamalkan iya meyakini tidak boleh. Logika macam apa ini? Bagaimana mungkin orang berlindung dari hal yang tidak diyakininya. Lalu siapa sebenarnya yang bermain-main?!!!

Para sahabat, tabi`in dan atba`ut tabi`in tidak pernah mempersyaratkan kesahihan hadits dari segi banyak tidaknya orang yang meriwayatkan. Jika hadits tersebut disampaikan oleh orang yang terpercaya dan sampai dengan sanad yang bersambung maka wajib diimani dan dibenarkan, serta tidak ada keraguan untuk menjadikannya landasan dalam aqidah serta perkara yang lainnya, baik itu berupa hadits ahad maupun hadits mutawatir. Apakah generasi terbaik tersebut adalah orang yang suka bermain-main dan lalai dalam menjalankan agama ini? Tentu tidak, bahkan mereka adalah orang yang sangat wara` (hati-hati) dalam agama ini.

Akibatnya?
Keistimewaan Nabi Muhammad Shallallahu `alahi wa Sallam melebihi semua Nabi `Alaihimus Salam; syafaat Beliau Shallallahu `alahi wa Sallam yang besar di akhirat; semua mu`jizat selain al Qur`an; jembatan, telaga dan timbangan amal, sifat hari kiamat dan padang mahsyar, proses permulaan makhluk, sifat malaikat dan jin, sifat neraka dan surga yang tidak diterangkan dalam al Qur`an; pertanyaan malaikat di alam kubur; adzab kubur; keimanan bahwa Allah Subhanahu wa Ta`ala menetapkan kepada semua manusia akan keselamatannya, sengsaranya, rezkinya, dan matinya ketika masih dalam kandungan ibunya; berita kepastian bahwa 10 sahabat dijamin masuk surga; bagi orang yang melakukan dosa besar tidak kekal selama-lamanya dalam neraka; semua tanda kiamat, seperti keluarnya imam Mahdi, keluarnya Dajjal, turunnya Nabi Isa `Alaihi Salam, munculnya matahari dari barat; dan aqidah lainnya hanya akan menjadi dongeng belaka jika mengikuti pemikiran sesat ini. Nau`dzu Billahi min Dzalik.

Penutup
Memperjuangkan agama Allah tidak hanya butuh semangat, tapi juga harus dilandasi dengan ilmu yang shahih. Bagaimana mungkin Allah Subhanahu wa Ta`ala memberi kemenangan kepada orang-orang yang dengan pemikirannya yang sesat sehingga lebih dari sepertiga aqidah dalam agama-Nya terkikis. Dan penulis sangat yakin adanya ‘pihak ketiga’ yang memanfaatkan golongan ini untuk menggerogoti Islam, jika dibiarkan maka Islam hanya tinggal nama!! Na`udzu Billahi min Dzalik.
Wallahu Ta`ala A`lam
Coretan lama waktu masih sibuk 'perang' di kampus

Jumat, 03 Juli 2009

Untuk Pejuang; Baca dan Tulislah!

Di tengah kesibukan dan aktivitas kita ada baiknya kita menyempatkan diri di waktu senggang untuk hal yang bermanfaat, seperti membaca atau menulis. Membaca mungkin sudah menjadi kebiasaan kita, tapi menulis mungkin jarang diantara kita yang melakukannya. Tulislah apa yang anda anggap bermanfaat untuk Anda dan orang lain meski tak harus Anda sebar –hanya untuk konsumsi pribadi-.

Banyak hal yang bisa ditulis, pengalaman indah bersama para ikhwah, penjelasan suatu hukum, bantahan terhadap syubhat dan sebagainya. Tulislah dengan teknik dan bahasa Anda sendiri. Anda akan menuai banyak manfaat dari aktivitas ini. Selain untuk mengasah kemampuan menulis bisa jadi tulisan Anda menjadi media untuk dakwah lebih lanjut mungkin akan menjadi prasasti nyata bahwa Anda pernah ada meski telah tiada.

Simpanlah tulisan-tulisan Anda itu dengan baik. Jika kepenatan dan kebosanan mulai menjangkiti Anda, maka bukalah tulisan itu dan bacalah. Mudah-mudahan dengan itu semangat Anda kembali bangkit, sebab tulisan itu akan memberi kekuatan tersendiri yang tidak diberikan oleh tulisan orang lain. Yah, karena tulisan itu adalah karya Anda sendiri! Anda akan bernostalgia, betapa semangatnya Anda dulu, indahnya hidup bersama para pejuang dan kenangan indah lainnya. Maka, tulislah selagi Anda bersemangat!

Ini hanyalah sebuah upaya agar kita tetap dalam barisan perjuangan. Meski tak harus, tapi Insya Allah bermanfaat.

Cerdas Beribadah di Bulan Rajab

Alhamdulillah, bulan Rajab kembali bersua dengan kita, yakni salah satu bulan haram di antara empat bulan lainnya, sebagaimana firman Allah:
"Daripadanya ada tempat bulan haram." (Qs. At-Taubah:36).

Namun banyak sekali amalan-amalan yang dilakukan oleh sebagian besar kaum muslimin untuk memuliakan bulan ini dengan sesuatu yang tidak berdasar dari Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam. Juga tidak sedikit yang hanya sekedar ikutan saja melaksanakan amalan tersebut tanpa mengetahui apa yang menjadi dasar dari amalannya tersebut. Entah dengan mengkhususkan puasa, shalat bahkan acara-acara lainnya. Salah satu kaidah yang disepakati oleh para fuqaha bahwasanya “Setiap ibadah itu pada dasarnya adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkannya”.


Dalam kaidah hukum Islam, aktifitas apapun apakah urusan akidah atau ibadah jika tidak dikerjakan atau dibenarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam maka aktifitas itu dinamakan bid'ah dan Nabi shallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda, "Setiap bid'ah itu sesat dan setiap kesesatan itu di neraka.”

Sebagai seorang Muslim kita semua pasti telah sepakat bahwa standar kebenaran dalam agama kita berasal dari al-Qur'an dan as Sunnah. Tidak semua yang kelihatan baik di mata manusia itu baik di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala, meski kebanyakan manusia atau bahkan seluruh manusia melakukannya. Misalnya puasa, pada dasarnya puasa adalah ibadah yang amat dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala tapi jika itu dilakukan dengan sebab atau pengkhususan yang tidak ada perintahnya baik dari Allah maupun contoh dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam maka jelas puasa itu akan tertolak.

Menanggapi banyaknya amalan bid'ah yang dilakukan oleh sebgaian kaum muslimin di bulan Rajab, dalam salah satu khutbahnya Syaikh Muhammad Shalih bin ‘Utsaimin mengatakan,
“…Maka janganlah engkau menganiaya dirimu di dalamnya (empat bulan tersebut), dan yang Allah Ta'ala telah haramkan di dalamnya berperang kecuali untuk membela diri. Inilah bulan-bulan yang salah satunya ialah bulan Rajab, tidaklah dikhususkan dengan sesuatu yang telah dijelaskan dari ibadah-ibadah, kecuali bulan Muharram, maka di dalamnya terdapat keutamaan berupa shiyam, dan bulan Dzulhijjah, maka di dalamnya terdapat ibadah qurban.
Sedangkan bulan Rajab, maka sesungguhnya tidak ada pengkhususannya berupa shiyam maupun qiyam, tidak ada hadits shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Setiap hadits yang datang tentang keutamaan shalat di bulan rajab atau keutamaan shiyam di bulan rajab, seluruhnya merupakan hadits-hadits dha'if sekali, bahkan sebagian ulama telah mengatakan bahwa sesungguhnya hadits-hadits tersebut maudhu'ah (palsu) dan makdzubah (dusta) atas nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka tidaklah halal bagi seseorang untuk menyengaja (berbuat sesuatu) atas dasar hadits-hadits yang dha'if ini. Bahkan yang dikatakan sesungguhnya itu adalah hadits-hadits maudhu', tidaklah halal bagi seseorang untuk menyengaja (berbuat sesuatu) atasnya, dan dia mengkhususkan bulan rajab dengan shiyam atau shalat. Tidak halal.”

Karena sandaran yang lemah lagi palsu

Amalan-amalan yang umumnya dilakukan dengan berdasar pada hadits lemah bahkan palsu, sebagaimana kebanyakan kaum muslimin sekarang ini yang mengkhususkan berpuasa di bulan Rajab dengan berdasar pada hadits:
“Sesungguhnya di surga terdapat sebuah sungai yang dinamakan Rajab yang lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu, barangsiapa yang berpuasa selama satu hari dibulan Rajab, maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan memberinya minum dari sungai tersebut.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam al-Majrubin dan al-Baihaqi dalam Fadhail al-Auqat dan al-Syairazi dalam al-Alqab seperti yang diisyaratkan oleh al-Suyuti. Kesemuanya dari Anas. Hadits ini telah dihukumi palsu oleh beberapa ulama seperti Ibn al-Jauzi, al-Dzahabi dan Ibn Hajar dalam Lisan al-Mizan. Penyebabnya adalah di dalam sanad hadits ini terdapat perawi pendusta yaitu Manshur ibn Yazid. Ibn al-Jauzi mengatakan banyak yang tidak diketahui. Akan tetapi al-Suyuti dan Ibn Hajar dalam kitab Tahyin al-'Ajab hanya mendhaifkan hadits ini, berbeda dengan hukuman beliau dalam kitab Lisan al-Mizan. Beliau berkata ”Isnadnya secara umum adalah dha'if, akan tetapi ia belum sampai menjadikan hadits ini palsu”.

Dalam Kitab Durratun Nashihin yang ditulis oleh Dr Ahmad Luthfi Fathullah MA, setidaknya ada 9 hadits dhaif dan palsu yang berkaitan dengan bulan Rajab termasuk hadits di atas.

Ibnu Hajar al-Asqalani ketika beliau berkata: “Tidak dijumpai hadits shahih yang dapat dijadikan hujjah mengenai keutamaan bulan Rajab, puasa Rajab, puasa pada hari tertentu dibulan Rajab dan beribadah pada malam tertentu dibulan Rajab. Kepastian ini telah ditetapkan sebelumnya oleh al-Imam al-Hafizh Abu Ismail al-Harawi, dia berkata:”Adapun hadits-hadits mengenai Keutamaan bulan Rajab atau Keutamaan puasa Rajab atau puasa pada hari-hari tertentu dibulan Rajab cukuplah jelas dan tebagi menjadi dua bagian yaitu Dha'if (lemah) dan Maudhu' (Palsu)”

Ibnu Qayyim al-Jauziyah juga telah mengisyaratkan qaidah yang disebutkan oleh Ibnu Hajar. Beliau berkata dalam kitab al-Manar al-Munir
“Semua Hadits mengenai puasa Rajab dan Shalat pada beberapa malam di bulan Rajab adalah dusta yang nyata”

Syaikh ‘Utsaimin sendiri pernah mendapati orang-orang pendatang di negeri beliau berpuasa pada hari pertama bulan Rajab dengan alasan bahwa hal ini umum mereka laksanakan di negeri asalnya. Kemudian syaikh menasehati mereka bahwa sesungguhnya amalan tersebut adalah bid'ah dan sesungguhnya tidak boleh seseorang untuk mengkhususkan suatu waktu ataupun tempat dengan ibadah yang Allah dan rasul-Nya tidak meng-khususkannya dengannya. Oleh karena kita beribadah dengan syari'at Allah, bukan dengan hawa nafsu kita dan bukan dengan kecenderungan kita dan keinginan kita. Sesungguhnya wajib atas kita untuk berkata "Kami mendengar dan kami taat, kami mengerjakan apa-apa yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa-apa yang Allah larang, dan kami tidak mensyariatkan diri-diri kami dengan ibadah-ibadah yang Allah dan rasul-Nya tidak mensyariatkannya.”

Kreatif tidak diperlukan
Sesungguhnya di dalam apa-apa yang datang dalam kitabullah dan di dalam apa-apa yang telah shahih dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dari amal-amal yang shalih telah cukup daripada apa-apa yang datang di dalam hadits-hadits dha'ifah (lemah) atau maudhu'ah makdzubah (palsu lagi dusta) atas Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Sebuah ungkapan yang sangat bijak dan cerdas dari salah seorang sahabat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam adalah, “Sedikit tapi sunnah jauh lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid'ah.”
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Maka siapa saja yang hidup sepeninggalku niscaya ia akan menemukan banyak perselisihan. Oleh karena itu ikutlah sunnahku dan sunnah para penerusku yang mendapat petunjuk (al-Khulafaur Raasyidun)…gigitlah (peganglah) sunnah tersebut kuat-kuat dan jauhilah olehmu perkara-perkara baru yang diadakan orang karena apa yang diada-adakan tersebut adalah bid'ah”.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam melewati hari-hari kita dengan ibadah-ibadah yang kita laksanakan sesuai apa yang telah diperintahkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Amin. Wallahu a'lam.
Diterbitkan di buletin al Balag edisi 23 tahun IV Rajab 1430

Jumat, 12 Juni 2009

Tiap Suku Mempunyai Tempat Minum Masing-masing

Tulisan ini juga dimuat di wimakassar.org rubrik muhasabah.

“Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing.” (QS. Al A’raf: 160).

Ketidaksempurnaan adalah hal yang biasa dan pasti ada pada diri seorang makhluk yang bernama manusia biasa. Itu adalah ketentuan-Nya yang tentu saja dibalik itu terkandung hikmah yang sangat banyak meski oleh sebagian kita kadang menganggapnya sebagai kekurangan bahkan kehinaan pada kondisi tertentu. Tiap manusia punya celah, punya kekurangan tak berbilang, namun tiap manusia pasti mempunyai kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh manusia lainnya.

Dalam konteks kemasyarakatan, keanekaragaman adalah lumrah bahkan memang sudah seharusnya begitu agar hidup tetap seimbang. Beranekaragamnya keahlian, minat, bakat, profesi, keinginan, kemampuan dan sebagainya adalah tanda kebesaran Allah. Kita tidak bisa bayangkan jika semua orang dalam satu keinginan, misalnya semua ingin pekerjaan yang sama karena keahlian mereka sama, yakin kehidupan akan kacau, dan pincang dan mungkin lumpuh sama sekali.

Nyatanya tidak semua bisa kita peroleh atau mengerjakannya sendiri meski perbendaharaan langit dan bumi kita milik tapi harus ada pihak ketiga yang kita dan mereka saling membutuhkan. Pasti, karena kita memang tidak sempurna.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengibaratkan kaum mu'minin ibarat satu tubuh, dimana dalam berbagai keadaan semua organ harusnya turut andil, punya kontribusi tanpa kecuali. Dalam satu tubuh yang lengkap mesti ada yang menjadi kaki, tangan, kepala, hidung telinga, mata dan seterusnya. Semua menikmati apapun posisi mereka dan qana'ah dengan tugas masing-masing.

Seharusnya begitulah kaum muslimin, perbedaan tugas, strata, keahlian tidaklah dipandang sebagai bahan berpecah, apalagi untuk hasad atau memandang remeh yang lain.Selama berpijak di atas pondasi tauhid, tak layak ‘tubuh’ itu diceraiberaikan.

Arogan, mau menang sendiri, merasa paling benar dan jago adalah godam peretak sendi-sendi penghubung ‘tubuh’ itu. Tapi mau tak mau harus diakui semua harus merasakan perih, sakit ketika salah satu organ teramputasi. Mereka harus buta jika kehilangan mata, mereka akan pesot jika kaki tidak ada. Karena tangan bukan untuk berjalan, dan telinga hanya untuk mendengar bukan untuk melihat.

Dalam lingkup keluarga, lembaga, antar lembaga, komunitas hingga kaum muslimin seluruhnya panganalogian di atas tetap berlaku. Misalnya dalam suatu lembaga atau organisasi meski orang-orang yang berada di dalamnya mempunyai pandangan yang sama tetapi mereka harus siap melakoni peran yang berbeda sesuai dengan keahlian dan kecenderungannya masing-masing. Sekecil apapun peran itu dan serendah apapun tingkatannya tapi mereka semua tidak bisa diabaikan, mereka semua berjasa dan mereka semua adalah ‘pahlawan’.

Dalam lingkup yang lebih makro, antar organisasi Islam misalnya, maka kitapun mendapati sesuatu yang lebih plural, meski sekali lagi mempunyai visi yang sama tapi di tengah kehidupan dan problem yang kompleks tak semua akan memilih dan memiliki misi yang sama. Mereka adalah manusia-manusia biasa yang tidak bisa mengerjakan semuanya.

Yah, kaum muslimin tanpa terkecuali tak bisa dipisahkan, kita semua saling membutuhkan untuk saling melengkapi. Kadang perbedaan adalah anugerah yang harus disyukuri bukan untuk disesali, dicela atau saling mencari celah yang hanya akan menghilangkan berkah dan malah membuat lumpuh. Kebenaran sudah jelas, begitupun sumber dan sandarannya, ketika ada yang tersalah maka kewajiban untuk saling islah dengan hikmah. Dan ketika ada yang berbeda bukan berarti serta merta sesat atau menyempal, sebab mungkin saja kita minum dari mata air yang sama tapi ditempat yang berbeda, karena memang “tiap suku mempunyai tempat minum masing-masing.” Wallahu Ta’ala A’lam.

12 Jumadil Tsani’ 1430 H

Rabu, 03 Juni 2009

Agar tidak Seperti Buih…

Tulisan ini telah diterbitkan di buletin al-Balagh DPC WI Makassar edisi 18 dan juga dimuat di wimakassar.org.

Amerika Serikat kembali mengucurkan dana sebesar 91,3 milyar Dollar AS untuk pendanaan perang di Afghanistan dan juga Iraq. Dana ini dialokasikan hanya sampai 30 September. Perang di sana akan bertambah panjang dan konsekuensinya akan memakan lebih banyak korban lagi. (Eramuslim.com)

Helikopter Israel hari Senin (25/5) pagi menyebarkan selebaran ke Jalur Gaza. Isi selebaran itu memerintahkan warga Palestina di Gaza untuk menjauh dari perbatasan dan mengancam akan menembak siapa pun yang mendekati perbatasan. (Eramuslim.com)

Lembaga Human Right Watch yang berbasis di New York juga mengumumkan bahwa kekerasan atau pelecehan dalam penjara Irak merupakan aktivitas yang rutin dan lumrah terjadi. Lembaga tersebut mengatakan bahwa para tahanan dihukum dalam waktu yang lama dengan tangan diborgol di belakang, dan secara rutin dipukul dengan kabel dan batang besi, dan juga sengaja disengatkan listrik ke telinga dan kemaluan mereka oleh para penjaga tahanan. (Arrahmah.com)

Berita-berita yang menguji ghirah, cemburu, marah dalam diri kita sebagai seorang muslim hampir setiap hari kita dapatkan di berbagai media elektronik maupun cetak, belum lagi berita penghinaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, penistaan terhadap al Qur’an, munculnya aliran sesat dan sebagainya. Dan lagi-lagi kita hanya bisa menjadi penonton tanpa upaya yang berarti. Jujur kita harus mengakui kehinaan dan kelemahan yang menimpa kita yang tentu saja ini semua adalah dari Allah disebabkan karena kelalaian kita sendiri.

Sebabnya Kemunduran
Dilihat dari berbagai aspek, kaum muslimin memang terbelakang dibanding kaum kafir, baik dari segi pendidikan, ekonomi, teknologi, kekuatan militer dan sebagainya, tapi apakah itu semua yang menjadi penyebabnya? Dalam sebuah majalah menyebutkan, “Sesungguhnya negara-negara yang akan jaya dan mulia adalah negara dengan teknologi yang maju…..” Memang logis, tapi ia lupa dengan firman Allah yang menyatakan, “Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rosul-Nya dan bagi orang-orang mukmin” (QS. Al-Munafiqun: 8)



Sejarahpun menceritakan kepada kita, umat Islam generasi-generasi awal ketika melakukan ekspansi dakwah dan mengalahkan kekuatan militer dua negara adidaya di dunia pada waktu itu (Romawi dan Persia), tidaklah disebut bangsa yang maju ilmu pengetahuan dan teknologinya. Bahkan secara teknologi dan militer mereka terbelakang dibandingkan dengan negara-negara yang dikalahkannya, yang dihancurkan singgasananya dan pada akhirnya ditaklukkan.

Alur kisah menjadi berbalik justru ketika kaum muslimin mencapai puncak kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa pemerintahan daulah Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Kota Baghdad dan perpustakaan-perpustakaannya menjadi pusat ilmu pengetahuan (baik ilmu dunia maupun syari’ah) di muka bumi pada waktu itu. Banyak pelajar-pelajar dari seluruh penjuru dunia menimba ilmu di sini. Tapi ketika bangsa Tartaar (Mongolia) menyerang kaum muslimin di akhir masa pemerintahan daulah Abbasiyah. Mereka mengalahkan kaum muslimin, menyerbu sebagian besar wilayah daulah Abbasiyah. Ketika itu bangsa Mongol unggul padahal ilmu pengetahuan yang mereka miliki masih terbelakang dibandingkan dengan daulah Abbasiyah. Dan contoh-contoh seperti ini banyak sekali dalam sejarah.

Jadi apa sebenarnya yang menjadi sebab utama kemunduran itu?
Lebih 14 abad yang lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan kepada kita akan datangnya masa seperti ini serta penyebabnya.
Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Hampir terjadi keadaan yang mana ummat-ummat lain akan mengerumuni kalian bagai orang-orang yang makan mengerumuni makanannya." Salah seorang sahabat berkata; "Apakah karena sedikitnya kami ketika itu? Nabi berkata: Bahkan, pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai ghutsa' (buih kotor yang terbawa air saat banjir). Pasti Allah akan cabut rasa segan yang ada didalam dada-dada musuh kalian, kemudian Allah campakkan kepada kalian rasa wahn. " Kata para sahabat: "Wahai Rasulullah, apa Wahn itu?
Beliau bersabda: "Cinta dunia dan takut mati." (HR. Abu Daud)

Cinta dunia dan takut mati adalah dua hal akan saling berbanding lurus dalam hati seseorang, ketika cinta dunia menguasai hatinya maka dipastikan ia pun akan semakin takut terhadap kematian. Dan penyakit inilah yang menimpa kebanyakan kaum muslimin sekarang ini. Dan bentuk efek dari wahn ini bisa kita lihat dari sabda Rasulullah berikut ini:
"Jika kalian berdagang dengan sistem riba, kalian ridha dengan peternakan, kalian ridho dengan pertanian dan kalian meninggalkan jihad maka Allah timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan dicabut sampai kalian kembali kepada agama kalian” (HR. Imam Ahmad, dan Abu Daud)


Maka tidak ada jalan bagi kita kaum muslimin untuk mencabut kehinaan ini dari diri kita, kecuali kita kembali kepada agama kita seperti yang telah disebutkan oleh hadist di atas: “Allah timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan dicabut sampai kalian kembali kepada agama kalian” . Dan kami ingatkan Anda dengan ucapan Imam Malik rahimahullah: “Tidak akan baik umat terakhir ini kecuali dengan kebaikan yang ada pada umat pertama” . Dan generasi pertama umat ini tidaklah baik dengan teknologi akan tetapi mereka baik dengan keteguhan mereka dalam memegang agama Islam.

Kembali Kepada Islam Adalah Solusinya, akan Tetapi Bagaimana Caranya?
"Barat meninggalkan agama yang salah, maka mereka maju. Sedang umat Islam meninggalkan agama yang benar, maka mereka tertinggal." -Dr. Mahmoud Husein, dosen Universitas al Azhar-

Berikut ini upaya-upaya kita untuk kembali pada agama kita:

Pertama: Kita memahami agama Islam dengan pemahaman yang benar sesuai yang dipahami oleh Nabi kita Shallallahu alaihi was sallam, para sahabat Beliau (semoga Allah ridha kepada mereka semua) dan para pendahulu kita yang shalih.

“dan bahwa ( yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa” (Hadist Shahih, dishohihkan oleh al-Albani dalam tahrij syarh At-Thohawiyah No. 810).

Jauhnya kita dari pemahaman Islam yang benar hanya akan melemahkan dan menceraiberaikan kita. Oleh karena itu sudah menjadi keharusan bagi kita untuk memahami Islam dengan pemahaman yang benar sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabat Beliau dan para pendahulu kita yang shalih memahaminya (semoga Allah ridha kepada mereka semua). Hal ini kita lakukan agar kita dapat mengikuti jalan Allah yang lurus.

Kedua: Menerapkan Islam (yang telah dipahami dengan benar) dengan penerapan yang tepat, dan tidak mengingkarinya sedikitpun baik itu perkara yang kecil (menurut anggapan sebagian orang) atau perkara yang besar, hanya karena kita tidak mampu melakukan atau dengan kata yang lebih tepat kita tidak menginginkannya atau berat bagi kita untuk berpegang teguh dengan perkara ini atau itu.
Wajib bagi kita untuk bertakwa kepada Allah semampu kita. Dan wajib bagi kita untuk memahami, bahwa barang siapa yang tidak menerapkan sebagian perintah-perintah agama, bisa jadi posisi dia adalah orang yang berdosa , maksiat, ataupun fasik. Namun orang yang mengingkari sesuatu perintah dari agama Islam (walaupun yang diingkari itu sunnah) atau mengingkari suatu larangan agama maka dia adalah orang kafir (jika ia telah mengetahui kebenaran yang diingkarinya itu) sampai ia kembali dan bertaubat. Dan inilah yang banyak menimpa orang-orang ketika kita dapati mereka tidak menerapkan sebagian ajaran Islam atau tidak meninggalkan sebagian larangannya. Setan masuk kepada mereka dan menghiasi mereka, hingga mereka mengatakan: “Tidak, ini bukan merupakan kewajiban atau ini bukan larangan.” Mereka menentang dan menyangka sudah lepas dari tanggung jawab serta bebas dari siksaan karena keingkarannya. Padahal masalah yang sebenarnya sangat jauh sekali dari yang mereka sangkakan itu. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka sembunyikan dalam dada mereka.

Ketiga: Kita menyeru dan mengamalkan agama ini dengan sebenar-benarnya, yaitu Islam yang telah kita pahami dan praktikan dengan betul. Dan sebesar-besar bentuk da’wah adalah menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan (al-amru bil ma’ruf wa nahyu ‘anil munkar). Rasulullah Shallallahu alaihi was sallam bersabda: “Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, kalian benar-benar memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar atau Allah benar-benar akan menimpakan kepada kalian siksa kemudian kalian berdoa dan tidak dikabulkan” (Shohih Sunan Tirmidzi menurut Al-Albani No.1762)

Sudah menjadi keharusan bagi kita untuk mengajak manusia dan menyeru mereka kepada yang baik dan mencegah dari yang buruk, dan kita mulai dari diri kita sendiri, kemudian orang yang terdekat. Dan kita memulai dari rumah kita dengan mencegah dan menghilangkan keburukan yang ada di dalamnya. Menasihati dengan lemah-lembut orang yang berada dalam tanggungan kita terlebih dahulu. Kemudian jika mereka tidak menghiraukan maka bagi kita untuk memaksa mereka, karena Rasulullah Shallallahu alaihi was sallam telah bersabda:
“Sesungguhnya Allah bertanya kepada setiap pengembala tentang apa yang digembalakannya apakah ia menjaganya atau menyia-nyiakannya, sampai-sampai seorang laki-laki akan ditanya tentang keluarganya” (Shohih Jami’us Shoghiir : 774)

Inilah jalan yang bisa kita tempuh untuk menghilangkan kekalahan yang menimpa kita dan umat kita, serta membebaskan tanah-tanah kita yang terampas. Karena kitalah yang berhak mendapat kemenangan dari Allah (dengan keutamaan-Nya dan kemuliaan-Nya) dengan sebab kembalinya kita kepada agama kita dan pertolongan dari Allah. Dan setelahnya, jika kita mampu untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih dari yang dimiliki Eropa dan Amerika maka tidak ada masalah, bahkan ini merupakan hal yang diharapkan. Wallahu Ta’ala A’lam.

Cinta dan Benci

Tulisan ini juga dimuat di wimakassar.org rubrik muhasabah.

Aku mencintai rembulan dengan pendar putihnya, tapi ia tetaplah bulan yang punya sisi gelap, hingga aku membencinya, ah bukan, pada kelam hitamnya.

Dalam penghambaan hanya kepada Allah, selayaknya setiap jenak kehidupan selalu tersandarkan hanya karena-Nya. Pun dalam persoalan hati, lebih spesifik cinta dan benci; semua akan bernilai dan mulia jika ia hadir bersama ketulusan sebab, untuk, dan hanya karena-Nya.

Dengan keilmuan kita akan hak dan batil, salah dan benar –insya Allah- kebencian akan kesalahan dan kecintaan akan kebenaran dengan mudah kita hadirkan hanya karena Rabbul Izzati. Tapi kadang ada penzhaliman ketika kita menerapkannya pada satu sisi saja, ia tidak lagi menempati tempat yang semestinya, ia labil dalam kebingungan, posisinya absurd -tidak jelas-. Ibarat melihat bulan sabit kita kadang terpesona pada cahayanya saja dan mengabaikan sisi hitam yang menutupi purnamanya atau sebaliknya kita hanya sibuk menggerutui noda hitamnya dan lupa bahwa bahwa masih ada sisi putih yang lebih cantik untuk dipandang.

Tak jarang cinta dan benci menjadi buta, ketika ia datang dengan sebab yang tak terduga disertai alasan yang dipaksakan atau kalau perlu dibuat-buat, hingga pertanyaan yang mengikutinya bukan lagi APA tapi SIAPA. Padahal noda hitam pasti tetap ada meski pada purnama yang justru memastikan bahwa ia adalah bulan bukan khayalan.

Proporsional dan objektif; adalah kata kunci sekaligus jawaban untuk masalah di atas.

Proporsional, kata lain dari adil. Dengan Kalam-Nya Allah Subahnahu wa Ta'ala mewanti-wanti kita untuk bersikap adil kepada siapapun hatta itu adalah musuh kita. Dalam soal dua rasa (cinta dan benci) keadilan mesti tetap dikedepankan pada siapapun. Ketika kita mencintai seseorang maka ingatlah pada saat yang sama ada sesuatu yang mungkin kita bisa benci darinya, sebaliknya ketika ada yang mengharuskan kita untuk membencinya maka jangan lupa bahwa alasan kita untuk mencintainya pun juga mungkin lebih banyak.

Begitu juga dengan kadarnya, ketika kesalahannya adalah sebiji maka bencilah ia sekadar sebiji itu jangan kurang apalagi lebih begitupun sebaliknya.

Objektif, sebagaimana adil ia juga berlaku untuk semua dan siapa saja. Saat cinta atau benci, maka seharusnya ia bukan ditujukan pada pelaku tapi pada laku-lakunya, pada sebab kenapa kita harus mencintai atau membencinya. Ketika ada kata “Aku mencintai/membenci fulan” maka hakikat seharusnya adalah “Aku mencintai/membenci perlilaku fulan”.

Tak ada kecintaan mutlak kecuali kepada Allah dan kebaikan yang Dia telah tetapkan dan tak ada kebencian mutlak kecuali kepada setan juga kepada keburukan yang ia tebarkan.

Yah, kita memang harus menjadi raja atas cinta dan benci itu, jangan sampai mereka menguasai diri kita atas dasar nafsu belaka yang akhirnya hanya akan membuat kita buta meski lidah melisankan hanya karena-Nya, sebab setan penuh tipu daya.

Jadi, saat cinta dan benci mesti ada, dan ketika wala’ dan bara’ harus berwajah seharusnya kita tahu hati kita seperti apa…

Makassar, 28 Jumadil Ula 1430 H

Kita, Ukhuwah dan Sandiwara

Tulisan ini juga dimuat di wimakassar.org rubrik muhasabah.

Senyumnya tak lagi seindah dulu, saat awal aku diajak untuk menuntut ilmu. Sapaannya tak selembut dan sesering dulu, saat menutup aurat aku masih canggung dan malu, kini ketika aku terbaring sakit berkeluh tak ada pelipur yang membuat haru meski sekedar pelaru rindu. Ah, seandainya bukan karena Rabb-ku aku ingin kembali seperti dulu. Atas nama ukhuwah aku menuntut kemana ia berlalu?

Saudaraku, mungkin setiap hari kita senantiasa menyebut kata ukhuwah, menceramahkannya, menceritakan keindahan dan keutamaannya dan –mungkin- tak jarang kita bahkan terkagum-kagum dengan kisah-kisah lampau yang menggambarkan keajaiban ukhuwah yang terjalin di antara pejuang sofwah Islamiyah, menjadikan kita bersemangat untuk mengejawantahkannya dalam kehidupan sehari-hari kita baik kepada sesama penuntut ilmu dan pejuang dakwah maupun kepada orang awam sekeliling kita, terlebih kita tahu bahwa ia adalah salah satu sendi agama kita.

Tapi pernahkah kita berpikir dan merenung, seiring dengan perjalanan waktu ia kadang menguap tak terasa dan meninggalkan kesan bahwa ia hanya dibutuhkan untuk sementara, hanya untuk menarik simpati belaka.

Suatu saat kita disibukkan untuk mengajak orang-orang ke jalan Allah, dengan bahasa-bahasa lisan dan gerak yang memukau, tapi pada saat yang sama kita justru melupakan orang yang pernah berjuang dengan kita dan kini terbaring tak berdaya ditemani kenangan indah masa lalu saat ia terpukau dengan bahasa indah kita, terlepas kita lupa atau tidak tahu.

Saudaraku –ah, kata ini terlalu indah hingga saya suka mengulangnya, tapi mudah-mudahan tidak membosankan apalagi menghilangkan makna keanggunannya-, kita memang bukan orang sempurna dalam segala hal, di tengah kesibukan kita apalagi seruan iblis la’natullah ‘alaihi memang kadang membuat pikiran kita terpecah -parsial- antara prioritas dan bukan, bahkan membuat kita lupa dan menjadikan kita tak sadar. Tapi tahukah kita dalam keadaan penuh kesadaran pun kadang kita menginjak keagungan ukhuwah tersebut. Penyakit individualis adalah propaganda iblis untuk mengikis ukhuwah yang seharusnya menjadi ciri khas kaum muslimin terlebih bagi para pejuang dakwah telah menimpa kebanyakan kita, jika begitu apa yang membedakan kita dengan orang awam? Mungkin hanya pakaian dan beberapa amalan lainnya.

Saudaraku, manusia terbaik dan paling bertaqwa yang pernah ada di muka bumi ini ditegur oleh Sang Khalik ketika beliau tidak memperdulikan seorang buta datang kepadanya untuk bertanya dan lebih mementingkan berbicara dengan orang kafir yang sombong dengan harapan mereka masuk Islam. Tak tanggung-tanggung, teguran itu diabadikan-Nya dalam kitab suci-Nya, Al Qur’an al Karim dan dikhususkan dalam sebuah surah yang bernama ‘Abasa (Ia bermuka masam) mungkin kita sudah tahu bahkan sudah menghapalnya.

Sejak teguran itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam semakin bersikap lunak kepada semua orang dan teguran itu semakin memposisikan beliau sebagai makhluk yang maksum (terjaga) dalam penjagaan-Nya.

Mungkin peristiwa tersebut di atas juga bisa kita samakan kebanyakan fenomena sekarang ini, ketika kehangatan ukhuwah hanya ada pada jumpa pertama, hanya menjadi senjata pamungkas untuk mengajak orang ke jalan Allah. Meski untuk tujuan baik lagi mulia tapi itu adalah tindakan yang hampir mirip dengan sandiwara, ukhuwah bukanlah kebutuhan sementara.

Saudaraku, tiap hari kita menyaksikan para pejuang yang datang dan pergi -futur- dan tahukah kita apa yang membuat mereka meninggalkan jalan yang seharusnya mengasyikkan ini? Kebanyakan mereka beralasan yang menunjukkan adanya ketimpangan dalam ukhuwah itu. Di satu sisi alasan mereka memang tidak bisa kita benarkan sebab dalam perjuangan kita hanya membutuhkan Allah dan keridhoan-Nya tanpa mengharap dari makhluk, tapi di sisi yang lain seharusnya membuat kita intropeksi akan perilaku ukhuwah kita yang memang kebanyakan temporer. Dari itu kita seharusnya semakin memperbaiki diri sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah ditegur, tentu saja bukan hanya karena untuk mempertahankan keutuhan pejuang semata tapi lebih dari itu memang ia adalah kewajiban. Ukhuwah tidak hanya dibutuhkan untuk mengkader.

Saudaraku, tulisan ini bukan untuk memvonis siapapun, hanya sekedar nasehat buat penulis dan buat kita semua sebagai bentuk cinta atas dasar ukhuwah Islamiyah dan mudah-mudahan ia tak berakhir sampai di sini…

Makassar, Ba’da Isya 15 Jumadil Ula 1430 H

Jumat, 29 Mei 2009

Pendampingku; Aktivis atau Bukan?

Sebelumnya maksud aktivis di sini adalah orang yang diberi karunia oleh Allah keinginan untuk menuntut ilmu syar’i dan diberi azam untuk mendakwahkannya. Ikhwan atau Akhawat begitulah mungkin lumrahnya gelar bagi mereka. Kata ustadz, muslim/ah plus :-).

Aktivis atau bukan, Dilema? Pertanyaan ini atau senada dengan ini pernah penulis dengar sendiri dari beberapa ikhwan serta alasan-alasannya yang membuat mereka bingung seakan berada diantara dua kutub yang sama kuatnya, entah karena orang tua, orang di kampunglah, sampai pada alasan yang menurut saya hanyalah alasan dibuat-buat dan membuat mereka plin-plan sendiri.

Bagi seorang aktivis yang masih peduli dengan cita-cita dan masa depan perjuangannya, persoalan pilih memilih pasangan pada kriteria “aktivis atau bukan” seharusnya tidak menjadi sebuah dilema. Meski ada yang nekat dan dengan nada sedikit sombong, “Insya Allah saya akan membinanya”. Seolah dia adalah pemilik dan penentu hidayah.

Ketika membaca artikel yang membeberkan tentang perilaku pergaulan bebas pemuda-pemudi zaman sekarang yang sudah berada pada titik nadir tanpa batas. Bulu kuduk ini sampai merinding dan dalam hati bertanya, “Masih adakah pemuda dan wanita yang dijaga oleh Allah dari perbuatan tersebut?” Insya Allah masih ada. Siapa? Anda pasti tahu jawabannya.

Laki-laki shaleh manapun di dunia ini ia pasti ingin menikah dengan wanita yang tahu akan hak-hak dan kewajibannya terhadap suaminya dan dapat mendidik anaknya menjadi anak shaleh dan shalehah. Karena itu adalah salah satu sumber kebahagiaan utamanya di dunia ini,
"Bagi seorang mukmin laki-laki, sesudah taqwa kepada Allah, maka tidak ada sesuatu paling berguna bagi dirinya, selain istri yang shaleh, yaitu; taat bila diperintah, melegakan bila dilihat, amanah bila diberi janji, dan menjaga kehormatan dirinya dan suaminya, ketika suaminya pergi." (HR. 1bnu Majah)

Begitu pun sebaliknya, setiap wanita pasti menginginkan suami shaleh yang bertanggung jawab dan tahu akan kewajibannya terhadap istri dan anak-anaknya.

“Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya”, relakah anak kita dididik oleh orang yang tidak jelas pemahaman agamanya. Begitupun sebaliknya seorang muslimah yang baik pasti akan berpikir beberapa kali untuk dipimpin oleh seorang suami yang tidak peduli dengan agama, tidak punya semangat dakwah apalagi jihad. Makanya, “Bila nasi sudah ada kenapa pilih beras?” begitu logika praktis yang mungkin biasa kita dengar.

Ada prinsip yang kadang dipakai dan semakin membuat mereka terlena dalam kedilemaan, “Keshalehan seseorang tidak dapat diukur dari pakaiannya saja, rajinnya ke majelis, atau aktifnya dalam lembaga dakwah.” Pernyataan ini memang ada benarnya, tapi merupakan prinsip yang lemah dan cenderung mengikuti hawa nafsu. Prinsip yang kuat adalah: “Jika orang yang menampakkan syiar, mempelajari dan mendakwahkan Islam, saja belum tentu ‘shaleh’ apalagi yang tidak.” Benar atau betul?

Ikhwan fillah, pernikahan bukan hanya untuk memadukan hati atau pemenuhan kebutuhan biologis semata tapi lebih dari itu mesti ada penyatuan cita-cita dan asa yang bukan hanya untuk satu dua tahun ke depan, serta tidak sebatas kebahagiaan di dunia saja tapi juga di akhirat. Rumah tangga ibarat bahtera yang mengarungi lautan yang penuh dengan ombak, angin dan badai yang kapan saja bisa menghantam. Bahtera tidak akan berjalan dengan baik jika di dalamnya ada dua nakhoda yang berlainan keinginan dalam menentukan arah perjalanan. Kesamaan fikrah dan pemahaman tentu akan sangat membantu membangun kekompakan dan sinergitas perjalanan rumah tangga.

Suami Isteri yang sefikrah, mempunyai cita-cita dan tujuan yang sama dalam memperjuangkan Islam, maka dipastikan mereka akan saling menguatkan, saling menasehati bila salah seorang di antara mereka ada yang lalai, saling mendorong dalan keta’atan dan saling membantu meraih derajat ketakwaan di sisi Allah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memuji seorang lelaki yang membangunkan istrinya untuk shalat malam dan kalau istrinya masih enggan ia perciki mukanya dengan air, begitu pun perempuan yang membangunkan suaminya untuk shalat malam dan kalau suaminya masih enggan ia perciki mukanya dengan air. Sssstt... jangan lakukan ini jika pasangan Anda tidak paham agama!

Simaklah syair di bawah ini:
Menikahi karena kecantikannya, maka kau dijadikan pelayan,
Menikahi karena hartanya, maka kau dijadikannya jadi budak belian,
Menikahi karena keturunannya, maka kau dijadikannya hamba sahaya,
Menikahi karena agamanya, maka kau dijadikannya hamba Allah.

Nah..! aktivis atau bukan, masih dilema?
"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqaan: 74)

Cari Artikel