Minggu, 25 Januari 2009

Apa Kata Allah dan Rasul-Nya?

Hal yang mustahil terwujud adalah membuat semua orang suka dengan kita dan hal yang paling bodoh adalah berusaha menyenangkan orang lain dengan hal yang tidak disukai oleh Allah.
Biar pun Anda memiliki perbendaharan bumi dan langit beserta isinya kemudian Anda membagikannya merata ke seluruh penduduk bumi, jangan harap semua akan suka dengan Anda. Walaupun Anda jungkir balik, bahkan sampai Anda bunuh diri di hadapan mereka sebagai bentuk pengorbanan kepada mereka, sangat konyol jika dengan itu anda berharap semua orang akan menyanjung Anda. Mungkin ada yang menangisi Anda, Ada yang bertepuk tangan, dan tidak sedikit yang tertawa menganggap Anda gila!!! Serba salah.
Itulah gambaran jika kita mencari ridha dari makhluk yang tidak pernah puas yang bernama, MANUSIA.
Makanya, ketika Anda melakukan sesuatu, tiap langkah, ucapan dan lainnya pastikan dan tanya dalam hati “Apa kata Allah dan Rasul-Nya?” Jangan pernah terbetik, “Apa kata orang...? Apa kata dunia...?”
Seorang Ikhwah pernah mengeluh, “Saya kayaknya tidak bisa walimah kalau tamunya dipisah dengan hijab, masalahnya bagaimana pendapat keluarga dan orang-orang di kampung nanti?”
Kami katakan, “Walaupun Anda mengadakan resepsi sesuai keinginan orang banyak di sana, bahkan Anda adakan semeriah mungkin dengan hiburan maksiat sebagaimana kebiasaan mereka, Anda tidak akan bisa menyumbat semua mulut-mulut orang untuk tidak mengatakan hal yang buruk dengan pernikahan Anda. Pasti ada saja celah yang akan menjadi gosipan mereka.”
Ibarat ungkapan, “Kalau menanam padi maka pasti rumput juga akan tumbuh, kalau menanam rumput jangan harap padi akan tumbuh.” Sekalipun kebaikan yang kita perbuat tidak akan otomatis semua orang menganggapnya baik, terlebih keburukan.
“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,” (Al-Qalam: 10-11)
Kadang kita memang harus tutup telinga atau pura-pura tidak mendengar celotehan-celotehan yang hanya akan membuat kita ciut dan menghambat gerak kita. Toh, kita memang tidak butuh penilaian mereka,
“Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. al-Taubah: 105)
Sudah menjadi sunnatullah, dunia dakwah tidak akan pernah sunyi dari teriakan orang-orang yang suka mencela, pendengki dan penebar syubhat. Sudah, jangan pikirkan apa kata mereka! Sebab mereka memang tidak punya hak untuk menilai apa yang kita lakukan. Sebagaimana kata orang bijak:
“Perkataan manusia baik itu pujian ataupun celaan tidak akan mempengaruhi penilaian Allah Subhanahu wa Ta’ala”
Mungkin manusia memuji Anda tapi Anda menyimpang dari jalan yang benar maka Anda tidaklah terpuji di langit Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sebaliknya mungkin banyak orang yang mengkritik Anda tapi ternyata Anda adalah orang yang dikenal di penduduk langit.
Cukuplah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang menjadi contoh bagi kita dalam hal ini. Beliau adalah manusia terbaik, paling bertakwa di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apakah beliau disukai semua orang? Tidak, bahkan orang kafir Quraisy mengejeknya tukang sihir, penyair gila dan celaan lainnya. Namun itu semua tidak menyurutkan langkah beliau dalam mendakwahkan Islam.
“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (Al-Muzzammil: 10)
Hasbiyallahu wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashir.[]

1 komentar:

  1. Bismillah. afwan ustadz, ana mau sedikit kasi saran. tolong blognya mgkn bisa di edit sedikit krn kalau di save dan dibaca di rumah dalam status offline, latarnya berubah jadi hitam jadi ana kesulitan bacanya. Syukran wa jazakallah khair.

    BalasHapus

Silahkan mengisi komentar dengan tetap mengedepankan adab berkomunikasi secara syar'i