Minggu, 22 Februari 2009

Seharusnya Cinta...

Ketertarikan pada lawan jenis adalah wajar bagi manusia normal, tapi bukan berarti membebaskan manusia berperilaku kurang ajar dan abnormal. Jatuh cinta adalah manusiawi, tapi tidak untuk dijadikan alasan dalam melanggar syari`at dan berperilaku hewani.

Rasa cinta yang paling tinggi seharusnya ditujukan hanya kepada Dzat yang tidak rela untuk diduakan, Allah arrafiqul a’la. Ketika cinta kepada selain-Nya itu datang menyelinap di relung hati, maka sebaik-baik pengaduan adalah kepada-Nya. Sadarilah bahwa itu cobaan dari-Nya dan akuilah bahwa bahwa kita sangat lemah untuk menghadapi cobaan yang satu ini. Mintalah petunjuk jangan sampai rasa itu menggeser dan melebihi cintamu kepada-Nya, dan mintalah pertolongan dalam menanggulangi cinta itu jangan sampai rasa itu membuatmu terperosok melakukan sesuatu yang membuatmu menjadi hina di hadapan-Nya. Dengan begitu Anda akan semakin dekat kepada-Nya. Ia adalah sebaik-baik Kekasih yang tidak akan menyia-nyiakan cinta orang yang mencintai-Nya.
Saat mencintai-Mu, kami lupa semua yang berharga,
Kau bagi kami adalah yang paling berharga,
kami dicela karena mencintai-Mu,
dan cukuplah kemuliaan saat kami dicela karena mencintai-Mu
I love you... Allah!

Senin, 16 Februari 2009

Surat Terbuka kepada TV...

Surat ini telah kami kirim ke TV yang bersangkutan dalam bentuk E-Mail. Dengan alasan etika dan privasi nama TV tidak kami sebutkan.
Tadi malam menjelang dinihari (15/02/2009)dalam dua acara berturut-turut yang disiarkan oleh salah satu TV swasta Indonesia, menceritakan kiprah pasukan Amerika dan sekutunya di beberapa negara di timur tengah, ada yang membuat saya tidak sreg yakni, perkataan narator yang melabeli pejuang Taliban, Irak sebagai teroris, pemberontak dan semacamnya. Sementara menempatkan tentara Amerika dan sekutunya seolah-olah sebagai pahlawan dunia yang harus didukung.
Kita semua tahu bahkan anak kecil pun tahu siapa teroris dunia sekarang ini. Dengan logika sederhana saja kita bisa menjawab pertanyaan, "Apakah membela negara, menjaga kehormatan, mempertahankan harta dan hak-hak dengan melawan hegemoni arogansi kekuasaan dapat disebut sebagai tindakan teroris?" dengan gelengan kepala. Tapi jika jawabannya anggukan maka pada saat yang sama kitapun akan menganggap bahwa apa-apa yang telah dilakukan oleh Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin dan pejuang kemerdekaan lainnya adalah tindakan teroris dan label pahlawan yang disematkan kepada mereka selama bertahun-tahun harus dilepas.
Kalaupun kita mengatakan pasukan Amerika dan sekutunya mendapat dukungan dari pasukan lokal maka kita katakan itu hanya sebagian kecil dan tidak lain dalam buku pelajaran sejarah kita sebut dengan PENGKHIANAT yang juga harus dihadapi para pejuang kemerdekaan tersebut.
Saya tahu bahwa yang membuat film dokumentar tersebut adalah Amerika sehingga menjadikannya tidak berimbang sebagaimana yang saya sebutkan di atas. Perlakuan keji mereka terhadap tahanan, pemerkosaan yang mereka lakukan dan pelecehan seksual lainnya yang mereka lakukan kepada muslimah di pendudukan mereka pasti mereka tidak akan ungkap.
Saya harap di lain acara atau kesempatan ada baiknya TV... juga menampilkan profil pasukan pejuang Taliban, Irak dan Pejuang muslim lainnya yang video-videonya banyak beredar baik di situs internet maupun dalam bentuk CD. Mereka hanya menginginkan impian 'sederhana' yang semua orang menginginkannya, KEMERDEKAAN. Mereka benci perang sebagaimana fitrah manusia, tapi tidak akan tinggal diam jika mereka diserang. Mereka adalah manusia yang memiliki kesempurnaan akal dibandingkan dengan semut yang akan menyerang siapapun yang menyerang mereka. Mereka tidak akan tinggal diam dengan segala bentuk hegemoni yang ingin merubah tatanan kehidupan mereka apalagi menyangkut hal yang krusial dan sensitif, AGAMA.
Umat Islam telah 'kenyang' dengan segala bentuk penindasan yang menyakiti mereka. Pemberitaan yang tidak adil sudah cukup untuk menyakiti dan mengorek 'luka' mereka yang belum sembuh.
Sekian, terima kasih.

Jumat, 13 Februari 2009

Setia Hingga Akhir...

Muslim Rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda:
“Ada seseorang yang benar-benar beramal dalam waktu yang panjang dengan amalan ahli surga kemudian ia menutup amalnya dengan amalan ahli neraka. Dan ada seseorang yang benar-benar beramal dalam waktu yang panjang dengan amalan ahli neraka kemudian ia menutupnya dengan amalan ahli surga.”
Al-Bukhari Rahimahullah meriwayatkan dari Shal bin Sa`d, dari Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
“Ada seorang hamba yang benar-benar beramal dengan amalan ahli neraka tapi dia termasuk ahli surga, dan ada seorang yang benar-benar beramal dengan amalan ahli surga tapi dia termasuk ahli neraka. Sesungguhnya amalan itu tergantung akhirannya.”

Membaca hadits di atas, mungkin membuat kita ciut dan menghadirkan rasa pesimis dalam hati kita. Tapi tidak! Justru dengan kabar dari Rasulullah tersebut harusnya menjadikan kita lebih bersemangat dalam melakukan ketaatan dan tetap berada dalam kebenaran, karena tidaklah dilemparkan ke neraka kecuali orang-orang yang berhenti dari ketaatan dan berpaling dari kebenaran.
Memang sangat GR jika dengan ketaatan yang kita lakukan selama ini membuat merasa sudah punya kavling di Surga. Sejarah telah banyak mencatat kisah-kisah ahli ibadah yang justru akhir hidupnya ketika dia berada dalam kekafiran. Salah satu satu kisah nyata di bawah ini selayaknya menjadi renungan buat kita.
Diriwayatkan dari negeri Mesir terdapat seorang pria yang senantiasa berada di masjid untuk mengumandangkan adzan dan shalat. Keelokan ibadah dan cahaya keta`atan tampak dalam dirinya. Suatu hari ia naik menara seperti biasanya untuk mengumandangkan adzan. Di bawah menara tersebut terdapat rumah seorang Nashrani Dzimmi. Ketika melongok rumah tersebut, ia melihat putri pemilik rumah tersebut. Ia tergoda dengannya dan meninggalkan adzan. Ia turun untuk menemuinya dan masuk rumahnya. Perempuan itu bertanya, “Apa keperluanmu, apakah yang kamu inginkan?” Ia mengatakan kepadanya, “Kamu mempesona hatiku dan menarik sepenuh hatiku.” Perempuan itu mengatakan, “Aku tidak memenuhi keinginanmu.” Ia mengatakan kepadanya, “Aku akan menikahimu.” Perempuan itu mengatakan, “Kamu Muslim, sedangkan aku Nashrani, dan ayahku tidak menikahkanku denganmu.” Ia berkata kepadanya, “Aku akan memeluk Nashrani.” Perempuan itu mengatakan, “Jika kamu melakukannya, maka aku pun melakukannya.” Maka, ia pun memeluk Nashrani untuk menikahinya dan tinggal bersama mereka di rumah tersebut. Ketika pada pertengahan hari itu, ia naik loteng rumahnya, lalu ia jatuh darinya dan meninggal. Akhirnya, ia mati dalam keadaan telah keluar dari agamanya dan tidak mendapatkan wanita tersebut.
Sungguh celaka, celaka, celaka...
Ia menukar akhirat dengan kehinaan dunia,
Pergi sebelum menikmati pembayarannya,
Telah menunggu keabadian api neraka,

Kita berlindung kepada Allah. Sekali lagi, kita berlindung kepada Allah dari –su’ul khatimah- akhir yang buruk.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian).” (QS. al-Hijr: 99)