Jumat, 27 Maret 2009

Bangsa Penghibur, Terancam Hancur

Historia Vitae Magistra, kalimat yang hingga saat ini masih saya ingat dari pelajaran sejarah kelas 1 SMU (sekarang SMA). Meski sudah lupa dari bahasa apa tapi maknanya kira-kira begini; sejarah adalah guru bagi kehidupan. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa yang telah lampau bahkan beberapa detik yang lalu. Dalam al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak menyebutkan kisah-kisah orang terdahulu sebagai pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahnya. Bahkan 1/3 isi dari al-Qur’an adalah kisah-kisah yang tentu saja bebas dari dusta, kebohongan karena goresan-goresan tangan manusia yang jahil.

"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman". (QS. Yusuf: 111)

Saya telah banyak membaca kisah orang, bangsa dan peradaban. Bagi saya semua bermanfaat tapi tidak ada yang membuat saya kagum selain kisah-kisah Islam, pada awal datangnya, perjuangan Rasulullah serta sahabat, dilanjutkan dengan masa tabi’in, selanjutnya atba’ut tabi’in. Baik penilaian secara umum maupun perorangan bagi saya semua kata yang melukiskannya dengan proporsional adalah mutiara, semua istimewa, semua sempurna, dan semua adalah guru.

Untuk menjadi mujahid sejati maka kisah mereka tak berbilang, Anda tak perlu kisah bohongan Rambo yang bisa melawan tentara Vietnam seorang diri. Bukalah lembaran sejarah Bara’ bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu si ‘kurus’ pemburu syahid yang berhasil membunuh 100 musuh dalam sekali perang tanding satu lawan satu. Tidakkah Anda tergetar dengan seruannya menyemangati tentara kaum muslimin ketika terdesak, “Wahai penduduk Madinah, hari ini Madinah tidak lagi milik kalian. Tapi yang ada hanya Allah dan surga.”.

Ingin menjadi menjadi ibu atau istri yang baik? Ratusan teladan ummahat lebih bermanfaat untuk Anda simak daripada cerita karangan di novel, cerpen atau sinetron yang dari dulu hanya berputar pada tema yang sama. Lihatlah Aisyah binti Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhuma dalam menjaga kesucian dan kehormatan dirinya meski pada orang yang telah meninggal, saat masuk kamar tempat Rasulullah dan Abu Bakar dimakamkan beliau tidak menjaga hijabnya, tapi itu tidak ia lakukan setelah Umar bin Khattab juga dikuburkan di dekat makam Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Atau simaklah perkataan Asma’ binti Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhuma dalam mendidik dan mengajarkan kepada anaknya tentang arti sebuah kepahlawanan "Terserah engkau, ya Abdullah! Bukankah engkau sendiri yang lebih tahu tentang dirimu. Bila engkau yakin dalam kebenaran, maka teguhkan hatimu seperti para prajuritmu yang telah gugur. Tapi bila engkau menginginkan kemewahan dunia, sudah tentu engkau seorang laki-laki yang pengecut. Berarti engkau mencelakakan diri sendiri, dan menjual murah harga sebuah kepahlawanan."

Ingin menjadi pemimpin yang baik dan disegani? Belajar dari pemimpin-pemimpin sukses dunia kontemporer ada baiknya, tapi tidak ada di antara mereka yang menyamai kisah Umar bin Abdul Aziz yang atas izin Allah seluruh wilayah dalam kepemimpinannya dalam keadaan sejahtera sampai-sampai tidak ada orang yang mau menerima zakat sehingga muzakki (pemberi zakat) pun bingung dimana ia berikan zakatnya. Kematian beliau ditandai oleh penggembala dengan dimangsanya gembalaannya oleh serigala yang biasanya rukun bahkan minum bersama hewan gembalaannya. Adakah pemimpin sekarang ini seperti beliau yang tidak ingin menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan keluarga meski hanya minyak lampu tempel dalam beberapa menit saja? Apalagi untuk korupsi. Pantas saja puncak kegemilangan Islam Allah berikan pada kekhalifaannya.

Bagi pemuda, seharusnya cemburu dengan Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘Anhu yang diangkat oleh Rasulullah menjadi panglima perang dalam umur 17 tahun membawahi pasukan yang juga terdiri dari sahabat senior semisal Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan lainnya. Atau kisah Abdullah bin Abbas yang ahli tafsir pada umur masih belia dan masih banyak lagi kisah pemuda-pemuda hebat lainnya yang menelaahnya jauh lebih bermanfaat daripada membaca komik atu novel rekaan semata.

Singkatnya mereka semua adalah teladan dan guru kehidupan, mengidolakannya bukanlah kemunduran zaman. Zaman hanyalah hitungan waktu yang tidak bisa mengubah subtansi dari suatu kehidupan di era manapun ia terjadi. Justru merekalah tokoh-tokoh yang dirindukan oleh tiap orang di setiap zaman meski kebanyakan manusia mencarinya dengan cara yang salah.

Kisah-kisah mereka telah dikaburkan dengan hiburan-hiburan melenakan. Tergantikan dengan hayalan-hayalan pengarang yang dituang dalam skenario sinetron kemudian dilakonkan oleh manusia yang bernama selebritis. Meski status mereka tidak pernah bergeser dari istilah ‘penghibur’. Tapi merekalah yang memenuhi benak-benak sebagian besar masyarakat kita sekarang ini. Betapa banyak pemuda-pemudi yang kemudian tergiur untuk mengikuti jejak ‘kesuksesan’ mereka. Parahnya standar kebenaran seolah-olah ada pada tangan orang-orang yang biasanya hanya mengandalkan tampang tersebut. Meski kehidupan realitas para sebagian selebritis sering diliputi dengan berita yang tidak beres, anehnya itupun menjadi tontonan yang menarik sampai pada urusan nomor sepatu yang cocok buat mereka sangat hangat untuk didiskusikan dan dibuat acara khusus untuk itu.

Kampanye akhir-akhir ini membuat lapangan kerja baru buat selebritis ini, dengan alasan menarik massa meski dengan biaya berjuta-juta kampanye tidak lengkap tanpa kehadiran mereka. Sedihnya, partai-partai yang mengatasnamakan Islampun menggunakan trik politik ini. Wallahu musta’an. Saya jadi teringat dengan sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang juga nasihat Aisyah Radhiyallahu ‘Anha melalui surat kepada Muawiyah bin Abu Sufyan, “Barangsiapa mencari keridhaan Allah dengan (sesuatu yang menyebabkan) kemarahan manusia, maka Allah akan melindunginya dari kejahatan manusia. Dan barangsiapa mencari keridhaan manusia dengan (sesuatu yang menyebabkan) kemurkaan Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia”

Tujuan yang baik tidaklah bisa menghalalkan semua cara, mestilah ditempuh dengan cara yang baik pula.
Imam Malik Rahimahullah pernah berkata bahwa, tidak akan pernah jaya umat ini –kaum muslimin- melainkan apa yang telah membuat jaya dahulu. Hadits dari Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa SallamApabila kalian telah terlibat jual beli ‘inah (riba), kalian telah mengambil ekor-ekor sapi, merasa senang dengan pertanian dan kalian tinggalkan jihad, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan timpakan kehinaan kepada kalian. Tak akan dicabut kehinaan itu hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3458)

Sejak dahulu, tidak ada bangsa yang bisa dijayakan dengan mengandalkan selebritis, bukalah lipatan sejarah adakah yang mereka punya andil untuk itu. Bahkan malah sebaliknya kebanyakan mereka dijadikan alat oleh musuh-musuh suatu negara untuk melenakan anak-anak bangsa tersebut dalam buaian hedonisme, biusan paham materialistik sehingga lahir generasi-generasi pengecut, kehilangan jati diri dan pegangan yang dengan mudahnya dipermainkan, menjual harga diri dan bangsa dengan setumpuk uang dan untuk selanjutnya bangsa tersebut tinggal menghitung waktu kehancurannya.

Prestasi apa yang dipersembahkan oleh para penjual kecantikan/ketampanan dan kemerduan suara untuk bangsa ini? Apakah prestasi itu membuat kita semakin maju dan terhormat di mata masyarakat dunia yang dengannya kita semakin disegani? Atau malah kita sudah dianggap tidak lebih sebagai bangsa penghibur, tidak diperhitungkan oleh mereka kecuali applause sebagaimana yang dilakukannya pada tukang sirkus.

Agama Islam tidaklah anti dengan hiburan, tapi semua mempunyai batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar oleh manusia dalam menghamba kepada-Nya. Selama tidak melanggar syari’at hiburan boleh dilakukan dengan seperlunya, tidak melenakan kita dari mengingat-Nya. Hiburan seharusnya bukanlah menjadi tujuan pokok apalagi menjadi arus utama (mainstream) dalam masyarakat sebagaimana yang kita rasakan sekarang ini khususnya di Indonesia. Wallahu Musta’an.

Rabu, 25 Maret 2009

Bukan Suara Tuhan

Siapa saya ini, Anda, kita dan semua?
Pongah berfatwa; maunya saya, Anda, kita dan semua adalah kehendak-Nya

Dimana akal ini, Anda, kita dan semua?
Skenanya berfikir; keputusan saya, Anda, kita dan semua melebihi kebijaksanaan-Nya

Darimana diri ini, Anda, kita dan semua?
Masa bodoh atau pura-pura lupa akan ke-Ilahian-Nya

Mau kemana diri ini, Anda dan kita dan semua?
Dalih kesepakatan bersama berani melanggar batasan-batasan-Nya

Berapa sih saya, Anda dan kita dan semua?
Ujub tak berdosa, bangga dengan kuantitas di hadapan-Nya

Suara saya, Anda, kita dan semua suara Tuhan?
Sangat cukup untuk membinasakan saya, Anda dan kita semua dengan sekali libasan-Nya

Suara rakyat bukan suara Tuhan!

Selasa, 24 Maret 2009

Baliho Indah Sang Pemimpin

Menjelang pemilu, di sepanjang jalan baliho caleg dan partai adalah suguhan yang tak terelakkan, mulai ukuran kecil hingga ukuran raksasa, dari harga dua puluh ribuan sampai yang berharga jutaan rupiah perbaliho. Siapapun tahu, apapun pesannya dan gambarnya, bohong ataupun betulan, bahwa tujuan dari baliho-baliho adalah agar mereka terkenal dan dikenal sebagai orang baik-baik dan layak untuk menjadi salah satu orang yang mengatur bangsa ini maka itu pilihlah ia.
Saya tidak akan terlalu banyak bercerita tentang mereka. Saya hanya ingin mengajak Anda untuk melihat baliho yang pernah ada di muka bumi ini masih tersimpan baik dalam arsip lipatan sejarah. Indah dan saya belum mendapatkannya hingga saat ini.


Siang di bumi Madinah, suatu hari. Matahari tengah benderang.

Teriknya sungguh garang menyapa hampir setiap jengkal kota dan pepasir lembah. Jalanan senyap, orang-orang lebih memilih istirahat di dalam rumah daripada bepergian dan melakukan perniagaan. Namun tidak baginya, lelaki tegap, berwajah teduh dan mengenakan jubah yang sederhana itu berjalan menyusuri lorong-lorong kota sendirian. Ia tidak peduli dengan panas yang menyengat. Ia tak terganggu dengan debu-debu yang naik ke udara. Ia terus saja bersemangat mengayun langkah. Sesekali ekor matanya berkerling ke sana ke mari seperti tengah mengawasi. Hatinya lega, ketika daerah yang dilewatinya sentosa seperti kemarin.

Hingga ketika ia melewati salah satu halaman rumah seorang penduduk, tiba-tiba ia berhenti. Langkahnya surut. Pandangannya tertuju pada anak kecil di sana. Ditajamkan pendengarannya, samar-samar ia seperti mendengar suara lirih cericit burung. Perlahan ia mendatanginya dan dengan lembut ia menyapa bocah laki-laki yang tengah asyik bermain.

"Nak, apa yang berada di tanganmu itu?" Wajah si kecil mendongak, hanya
sekilas dan menjawab.

"Paman, tidakkah paman lihat, ini adalah seekor burung," polosnya ringan.
Pandangan lelaki ini meredup, ia jatuh iba melihat burung itu mencericit parau.
Di dalam hatinya mengalun sebuah kesedihan, "Burung ini tentu sangat ingin terbang dan anak ini tidak mengerti jika mahluk kecil ini teraniaya."

"Bolehkah aku membelinya, nak? Aku sangat ingin memilikinya," suaranya penuh harap. Si kecil memandang lelaki yang tak dikenalnya dengan seksama. Ada gurat kesungguhan dalam paras beningnya. Lelaki itu masih saja menatapnya lekat. Akhirnya dengan agak ragu ia berkata, "Baiklah paman," maka anak kecil pun segera bangkit menyerahkan burung kepada lelaki yang baru pertama kali dijumpainya.

Tanpa menunggu, lelaki ini merogoh saku jubah sederhananya. Beberapa keping uang itu kini berpindah. Dalam genggamannya burung kecil itu dibawanya menjauh. Dengan hati-hati kini ia membuka genggamannya seraya bergumam senang, "Dengan menyebut asma Allah yang Maha Penyayang, engkau burung kecil, terbanglah...terbanglah..."

Maka sepasang sayap itu mengepak tinggi. Ia menengadah hening memandang burung yang terbang ke jauh angkasa. Sungguh, langit Madinah menjadi saksi, ketika senyuman senang tersungging di bibirnya yang seringkali bertasbih. Sayup-sayup didengarnya sebuah suara lelaki dewasa yang membuatnya pergi dengan langkah tergesa. "Nak, tahukah engkau siapa yang membeli burung mu itu? Tahukah engkau siapa lelaki mulia yang kemudian membebaskan burung itu ke angkasa? Dialah Khalifah Umar nak..."

***
Malam-malam di kota Madinah, suatu hari.

Masih seperti malam-malam sebelumnya, ia mengendap berjalan keluar dari rumah petak sederhana. Masih seperti malam kemarin, ia sendirian menelusuri jalanan yang sudah seperti nafasnya sendiri. Dengan udara padang pasir yang dingin tertiup, ia menyulam langkah-langkah merambahi rumah-rumah yang penghuninya ditelan lelap. Tak ingin malam ini terlewati tanpa mengetahui bahwa mereka baik-baik saja. Sungguh tak akan pernah rela ia harus berselimut dalam rumahnya tanpa kepastian di luar sana tak ada bala. Maka ia bertekad malam ini untuk berpatroli lagi.

Madinah sudah tersusuri, malam sudah hampir di puncak. Angkasa bertabur
kejora. Ia masih berjalan, meski lelah jelas terasa. Sesekali ia mendongak
melabuhkan pandangan ke langit Madinah yang terlihat jelita. Maka ia pun
tersenyum seperti terhibur dan memuja pencipta. Tak terasa Madinah sudah
ditinggalkan, ia berjalan sudah sampai di luar kota. Dan langkahnya terhenti
ketika dilihatnya seorang lelaki yang tengah duduk sendirian menghadap sebuah
pelita.

"Assalamu'alaikum wahai fulan," ia menegur lelaki ini dengan santun.

"Apakah yang engkau lakukan malam-malam begini sendirian," tambahnya. Lelaki itu tidak jadi menjawab ketika didengarnya dari dalam tenda suara perempuan yang memanggilnya dengan mengaduh. Dengan tersendat lelaki itu memberitahu bahwa istrinya akan melahirkan. Lelaki itu bingung karena di sana tak ada sanak saudara yang dapat diminta pertolongannya.

Setengah berlari maka ia pun pergi, menuju rumah sederhananya yang masih
sangat jauh. Ia menyeret kakinya yang sudah lelah karena telah mengelilingi Madinah. Ia terus saja berlari, meski kakinya merasakan dengan jelas batu-batu
yang dipijaknya sepanjang jalan. Tentu saja karena alas kakinya telah tipis dan dipenuhi lubang. Ia jadi teringat kembali sahabat-sahabatnya yang mengingatkan
agar ia membeli sandal yang baru.

"Ummu Kultsum, bangunlah, ada kebaikan yang bisa kau lakukan malam ini," Ia membangunkan istrinya dengan nafas tersengal. Sosok perempuan itu menurut tanpa sepatah kata. Dan kini ia tak lagi sendiri berlari. Berdua mereka membelah
malam. Allah menjadi saksi keduanya dan memberikan rahmah hingga dengan selamat mereka sampai di tenda lelaki yang istrinya akan melahirkan.

Ummu Kultsum segera masuk dan membantu persalinan. Allah Maha Besar, suara tangis bayi singgah di telinga. Ibunya selamat. Lelaki itu bersujud mencium
tanah dan kemudian menghampirinya sambil berkata, "Siapakah engkau, yang begitu mulia menolong kami?"

Lelaki ini tidak perlu memberikan jawaban karena suara Ummi Kultsum saat itu
memenuhi lengang udara, "Wahai Amirul Mukminin, ucapkan selamat kepada tuan rumah, telah lahir seorang anak laki-laki yang gagah."

***
Berulangkali aku memandang baliho di atas. Ah, jika saja para caleg-caleg dan capres bisa membuat baliho indah seperti itu. Bukan untuk kepentingan sesaat, apalagi dunia dengan kekuasaannya. Atas nama amanah yang jauh dari lubuk hatinya ia takuti apalagi untuk menginginkan dan memperebutkannya. Bukan untuk cari muka tapi hanya mengharap wajah Allah Azza wa Jalla. Saya pasti memilihnya.

Sumber: eramuslim.com dengan perubahan seperlunya

Rabu, 18 Maret 2009

Hanya untuk Sang Kekasih...

Dari sekian miliar manusia di muka bumi hanya sebagian yang Islam, dari yang Islam hanya sebagian yang beriman, dari yang beriman hanya sebagian yang mempelajari Islam, dari sekian yang belajar Islam hanya sebagian yang mengamalkannya, dari yang mengamalkannya hanya sebagian yang mendakwahkannya, dari yang mendakwahkannya hanya sebagian yang memperjuangkannya dan dari yang memperjuangkannya hanya sedikit yang ikhlas.

Itulah Ikhlas, menghendaki keridhaan Allah dengan suatu amal, membersihkannya dari segala tendensi individual maupun duniawi. Tidak ada yang melatarbelakangi suatu amalannya kecuali karena Allah dan demi hari akhirat. Ia akan selalu menjadi berometer sekaligus filter bagi amalan-amalan manusia.

Imam al Ghazali menyebutkan bahwa semua orang pasti akan binasa kecuali orang yang berilmu. Orang-orang yang berilmu pasti akan binasa kecuali orang yang aktif beramal. Semua orang yang aktif beramal akan binasa kecuali yang ikhlas.

Salah satu lawan dari pada Ikhlas adalah riya’, yakni menampakkan suatu amalan dengan maksud mendapat pujian, penghargaan, atau balasan lainnya dari makhluk. Allah Subhanahu wa Ta'ala mencela pelaku syirik kecil ini dengan firman-Nya,
“Apakah kamu meminta upah kepada mereka?", Maka upah dari Tuhanmu adalah lebih baik, dan dia adalah pemberi rezki yang paling baik.” (QS. al-Mukminun: 72)

Sebenarnya pelaku riya’ juga tidak akan dibuat rugi sebab ia akan memperoleh sesuai dengan niatnya,
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang Telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud : 15-16)

Ikhlas; Syarat Diterimanya Ibadah
Ikhlas merupakan syarat utama diterimanya suatu amalan, tanpa keikhlasan semua akan sia-sia belaka sehingga jika Anda ingin melihat orang yang tercapek di dunia maka anda bisa melihatnya pada orang-orang yang tidak ikhlas. Mereka tidak mendapat balasan selain apa yang ia niatkan, bagaimanapun pengorbanannya dalam melakukan suatu amalan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman bahwa segala amalan yang dikerjakan dengan niat selain daripada Allah sebagai sesuatu yang sia-sia,
“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Al-Furqan: 23)

Ikhlas; Amalan Biasa jadi Luar Biasa
Tujuan penciptaan kita di dunia ini tiada lain adalah untuk beribadah kepada Allah, ditegaskan dalam ayat yang mungkin sudah kita hapal,
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. al-Dzariyat).

Dari ayat ini kita pahami bahwa semua aktivitas, gerak langkah kita seharusnya bernilai ibadah di sisi Allah. Kuncinya adalah pengharapan ridha Allah atas apa yang kita lakukan.

Karena pengaruh niat yang ikhlas, maka hal-hal yang mubah pun bahkan kebiasaan dan kebutuhan bisa menjadi ibadah. Makan, tidur, mandi dan aktivitas serupa adalah kebutuhan yang sudah biasa bagi kita, tapi jika lakukan dengan niat mengharap pahala dan keridhaan Allah atas perbuatan tersebut maka itu adalah luar biasa.

Ikhlas; Bahan Bakar Perjuangan
Ikhlas merupakan bahan bakar yang menyebabkan berkelanjutannya suatu amalan. Seseorang yang melakukan sesuatu dengan niat yang tidak lurus dan dia tidak berusaha meluruskan niatnya, maka dipastikan ada dua kemungkinan yang terjadi pada dirinya. Kemungkinan pertama; jika ia tahu bahwa tujuannya takkan tercapai maka ia akan berhenti dengan keputusasaannya, kemungkinan kedua; Jika ia mendapatkan apa yang diinginkannya maka ia berhenti dengan kepuasan semunya.

Orang yang mukhlis karena Allah tidak akan melemah dari janji-janji yang diobral, tidak bergeming karena ancaman, tidak menjadi hina karena kerusakan dan tidak bisa dicegah karena rasa takut.

Orang yang beramal karena Allah, tidak akan memutuskan amalnya, tidak mundur dan tidak malas-malasan sama sekali. Sebab alasan yang melatarbelakanginya tidak pernah sirna. Wajah Allah tetap abadi sedangkan wajah manusia dan semua makhluk akan binasa sebagaimana firman-Nya,
“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan kepada-Nyalah kalian dikembalikan.” (Al-Qashshas: 88)

Ikhlas; Sumber Kekuatan
Anda akan mendapati yang ikhlas itu adalah orang yang kuat meski secara fisik mungkin lemah, tetapi keikhlasannya akan membuahkan kesabaran dan kesabaran akan membuat orang yang lemah sekalipun menjadi orang yang kuat.
"Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah: 249)
“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu'min untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.” (Al-Anfaal: 65)

Ikhlas; Sebab Datangnya Pertolongan Allah

Perjuangan dakwah adalah perjuangan mulia yang seharusnya dilandasi dengan niat yang suci. Memurnikan niat hanya karena Allah dalam ibadah dan jihad ini merupakan amalan yang fundamental agar amalan diterima dan sukses.

Salim bin Abdullah pernah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz, berisi nasehat baginya, “Ketahuilah bahwa pertolongan Allah yang diberikan kepada hamba tergantung kepada kadar niatnya. Barangsiapa niatnya sempurna, maka pertolongan Allah pun akan sempurna. Barangsiapa niatnya berkurang, maka kadar pertolongan itu juga akan berkurang.”

DR. Yusuf al Qardhawi menyatakan bahwa kehidupan ini tidak akan bisa dikendalikan kebenaran, ditaburi kebaikan, kalimat iman tidak menjadi tinggi dan bendera keutamaan tidak akan berkibar jika diisi orang-orang yang memperdagangkan prinsip, yang tidak berbuat kecuali untuk keduniaan, atau diisi orang-orang yang riya’ yang tidak berbuat kecuali agar semua orang memusatkan pandangan kepadanya, mendengarnya, membicarakannya dan menunjuk ke arah dirinya. Kebenaran, kebaikan dan iman akan menjadi menang dengan keberadaan orang-orang yang mukhlis, yang berpegang teguh kepada prinsip dan mengutamakannya, mau berkorban dan tidak mengambil keuntungan, memberi dan bukan mengambil.

Sebaiknya kita berhenti sejenak, menghela napas sembari merenung langkah-langkah yang kita lakukan selama ini. Tanya pada diri kita, seberapa keikhlasan kita dalam perjuangan ini? Murnikah karena Allah atau ada maksud lain? Masih ada kesempatan untuk memperbaiki niat-niat kita. Ingat, perjuangan terberat adalah menjaga keikhlasan.

Munculkan dan menjaga keikhlasan, bagaimana?
Dalam menjaga keikhlasan DR. Yusuf Qardhawi menyampaikan beberapa tips buat kita diantaranya;

1. Ilmu yang mantap
Ini adalah hal yang mutlak harus ada. Ikhlas adalah amalan hati, amalan akan muncul dengan keyakinan dan keyakinan muncul dari ilmu. Singkatnya ikhlas yang sempurna akan muncul akibat adanya pengetahuan yang sempurna pula tentang keikhlasan; tentang makna, urgensi, balasan keikhlasan dan sebagainya.

2. Bergaul dengan orang yang ikhlas
Faktor yang bisa mendorong ikhlas adalah berteman dengan orang-orang yang ikhlas serta hidup bersama mereka, agar dia bisa mengikuti irama langkah mereka, mengambil pelajaran dari mereka dan mencontoh akhlak mereka.

3. Membaca kisah orang-orang yang ikhlas.

Salah faktor yang juga bisa menumbuhkan keikhlasan dalam diri kita adalah membaca sirah orang-orang mukhlisin, mengenali kehidupan mereka, mengikuti jejak dan petunjuk mereka. Jika orang-orang yang meniti jalan kepada Allah tidak mendapatkan orang-orang yang mukhlis untuk dijadikan teman, maka tidak sedikit orang-orang mukhlis yang sudah meninggal untuk menemaninya. Sebab akhlak dan pemikiran tidak bisa mati. Sekalipun orangnya telah mati.

Saya ingin membagi cerita kepada Anda tentang kisah keikhlasan yang sangat mengesankan bagi saya;

Diceritakan oleh Abdullah bin Sinan, ketika dua kubu telah berhadapan, pasukan kaum Muslimin dan pasukan kafir Romawi. Sebagaimana biasanya sebelum perang dimulai diadakan perang tanding satu lawan satu. Seorang Romawi maju dan menantang perang tanding. Maka seorang muslim maju, lelaki kafir itu menerjang dan membunuhnya. Begitulah berlangsung hingga lelaki kafir itu telah berhasil membunuh enam orang muslim. Ia dengan angkuh berdiri di antara dua kubu menantang perang tanding. Namun tak seorang pun yang melayaninya. Tiba-tiba Ibnul Mubarak menoleh kepdaku seraya berkata, “Wahai fulan kalau aku terbunuh, kerjakan ini dan ini.” Kemudian beliau menutup mukanya, mengayuh tunggangannya menyerang lelaki kafir tersebut. Akhirnya beliau berhasil membunuhnya, beliaupun menantang perang tanding. Seorang kafir lainnya maju menghadapi beliau, namun berhasil membunuhnya. Begitu terus berlangsung hingga beliau berhasil membunuh enam orang kafir. Beliau terus menantang bertanding, namun mereka sepertinya menjadi penakut. Beliau lantas menghempaskan tunggangannya menembus dua kubu yang berhadapan lalu menghilang. Kami seolah-olah tidak merasakan apa-apa (saking terpananya). Tiba-tiba beliau sudah beliau berada di sisiku seperti sebelumnya, seraya menandaskan, “Wahai fulan, selama aku masih hidup, jangan engkau ceritakan hal ini pada siapa-siapa.”

4. Mujahadah melawan hawa nafsu

Maksudnya, mengarahkan kehendak untuk memerangi hawa nafsu yang menjurus kepada keburukan, mengendalikan egoisme dan kecenderungan kepada keduniaan, hingga ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta'ala.

5. Berdoa dan memohon pertolongan kepada Allah
Tatkala semua usaha telah dilakukan, maka ketuklah pintu rahmat-Nya lewat doa dan mohonlah karunia dan petunjuk-Nya agar senantiasa kita digolongkan sebagai orang-orang yang mukhlis. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengajarkan sebuah do’a kepada kita,
“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu untuk (tidak) menyekutukan sesuatu yang kami ketahui dengan-Mu dan kami memohon kepada-Mu dari sesuatu yang tidak kami ketahui.”

Selamat menikmati penghambaan hanya kepada-Nya, untuk Wajah Sang Kekasih.

Selasa, 03 Maret 2009

Futur, Na’udzu Billahi min Dzalik!

Futur adalah istilah yang biasa dikenal di kalangan aktivis dakwah. Futur sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti “lemah setelah setelah kuat”. Secara umum futur bisa menimpa siapapun, tapi yang kami maksud di sini adalah futur yang menimpa aktivis dakwah. Jelasnya, seseorang yang diberi karunia oleh Allah untuk mengenal jalan dakwah, bersemangat mempelajari dan mengamalkan Islam namun kemudian semangatnya memudar bahkan meninggalkan jalan dakwah serta amalan-amalan keta`atan yang selama ini dia kerjakan.

Fenomena Futur
Tidak ada maksud penulis untuk membeberkan aib atau kejelekan saudara-saudara kita apalagi menertawakan mereka, kami hanya ingin kita semua mengambil pelajaran dari kisah orang-orang futur di bawah ini dengan berdasar pada firman Allah,

“Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 66)
Mudah-mudahan kita dapat mengambil ibrah dalam kisah berikut;
 

Kisah ini diceritakan oleh seorang ikhwah kepada kami. Suatu waktu Ikhwa tersebut melaksanakan suatu tugas kuliah bersama beberapa temannya di salah satu perusahaan swasta. Di perusahaan tersebut dia menjadi perhatian oleh seorang karyawan, ikhwah ini penampilannya memang agak ‘nyentrik’ dengan pakaian nyunnahnya dibanding dengan temannya yang lain.

Setelah berkenalan, si Ikhwah kemudian diajak ke salah satu sudut ruangan oleh karyawan tersebut. Singkat cerita karyawan ini mulai menceritakan masa lalunya. Ternyata dulu dia juga seorang aktivis dakwah, penuntut ilmu, membina kelompok kajian bahkan dia juga bisa memahami bahasa Arab dengan baik sehingga bila ada Syekh yang ceramah dengan bahasa Arab ia bisa memahami langsung tanpa ada penerjemah.
 

Namun setelah bekerja di perusahaan tersebut sedikit demi sedikit aktivitas dakwahnya dan kegiatan menuntut ilmu ia mulai tinggalkan, sampai akhirnya semua hanya tinggal kenangan baginya.
Ikhwah yang saat itu adalah murabbi kami menutup pengisahannya kepada kami dengan pesan untuk berhati-hati dengan godaan dunia yang melenakan siapapun yang mengejarnya.
***
 

Diceritakan seorang muslimah, sebut saja Bunga -bukan nama sebenarnya- sempat membuat heran sekaligus gembira teman kuliahnya yang juga teman dalam kelompok kajiannya. Bagaimana tidak, dia dulu yang sehari-harinya mengenakan pakaian ‘ala kadarnya’, tidak lama setelah mengikuti kajian tiba-tiba dia datang ke kampus dengan jilbab besar lengkap dengan cadarnya. Temannya pun sempat merasa ‘kalah’ karena ia sendiri lebih dulu mengenal kajian Islam namun belum bisa sesempurna itu.
 

Tidak lama, datanglah keluhan dari Bunga bahwa ternyata keluarganya tidak merestui perubahan drastis tersebut. Bahkan kemudian keluarganya memboikot uang kuliah dan biaya hidup yang biasa diberikan kepadanya.
 

Temannya berusaha membantu dan menasehatinya supaya bersabar dengan ujian tersebut. Suatu waktu Bunga mengatakan bahwa ia sudah tidak tahan dan ingin kembali ke kehidupan seperti yang dulu. Ia pun mulai menjauhi teman-temannya dan meninggalkan majelis-majelis ilmu yang selamai ini dia ikuti bersama temannya.
 

Hingga suatu hari temannya melihatnya kembali menggunakan pakaian-pakaian seronoknya bahkan pergaulannya pun lebih ‘berani’ dari sebelumnya. Nau’dzubillah. Di akhir cerita, temannya yang merupakan penutur kisah ini menyampaikan pesan yang cukup menyentuh bahwa betapa ilmu sangat penting sebelum diamalkan.
***
 

Alhamdulillah bukan saya” mungkin itu yang terbetik dalam hati Anda, tapi tidak sepatutnya kita merasa aman dari penyakit ini. Selama Anda berada di lorong dakwah maka penyakit ini akan senantiasa mengintai dan kadang menginkubasi tanpa kita sadari.
 

Kita memang hanya bisa berusaha sekuatnya dan berdo`a sekhusyuknya, mudah-mudahan kita adalah orang-orang yang senantiasa dalam penjagaan Allah Azza wa Jalla. Bagaimanapun juga Dia adalah penentu segalanya.

Futur, na’dzubillahi min dzalik!