Minggu, 30 Agustus 2009

Tak Sesempit Mimbar

Setiap orang dikaruniai potensi yang berbeda, dan setiap potensi memiliki kelebihan dan kekurangan dibanding yang lainnya. Namun bukanlah potensi itu yang membuat manusia berbeda di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, melainkan bagaimana manusia memanfaatkan karunia tersebut untuk meraih derajat ketakwaan di sisi Allah Azza wa Jalla.
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu” (QS. Al Hujurat: 13)

Banyak di antara pejuang dakwah yang mundur teratur dari medan dakwah karena merasa tidak punya apa-apa yang bisa diberikan terhadap perjuangan. Alasan yang paling klasik adalah, “Saya tidak bisa ceramah, tidak menguasai materi, belum hafal dalil dan lain-lain...”

Mendengar kata "dakwah" mungkin kita akan tertuju pada suatu benda, “mimbar”, memang identik, tapi dunia dakwah tidaklah sesempit itu. Inti daripada dakwah adalah mengajak kepada Allah, kepada kebenaran, keselamatan dunia akhirat dan itu bukan hanya bisa kita lakukan di khutbah-khutbah, ceramah-ceramah, tarbiyah, majelis pengajian, seminar, tabligh akbar, forum kajian dan sejenisnya.

Da’i bukan saja yang bergelar ulama, ustadz, kiyai dan sebagainya. Semua orang layak dan berhak untuk berjuang menegakkan agama ini dengan memanfaatkan potensi dan apapun yang mereka miliki.

Ikut rapat dan turut memikirkan langkah-langkah yang dilakukan bagaimana agar dakwah bisa berkembang, membuat dan menyebarkan pamflet kajian, menjemput ustadz, membuat spanduk, membersihkan tempat dan menyiapkan kursi untuk peserta pengajian, mengajak teman untuk ikut pengajian atau shalat berjama’ah di masjid, membuat mading Islami, membagikan buletin dakwah, mencari dana untuk kegiatan dakwah, memasak makanan untuk peserta daurah, mencuci piring di waktu mabit, mengajari adik iqro’, memberikan buku atau majalah Islam, dan ah... masih banyak kerja-kerja dakwah yang tidak mungkin di tulis semua di sini. Apakah di antara bentuk konstribusi dalam dakwah di atas tidak ada yang bisa kita lakukan?

Lakukanlah sebaik-baiknya dan semampu yang kita bisa dan jangan pernah menganggap remeh apapun bentuk partisipasi itu. Sebab, ustadz tidak akan hadir kalau tidak ada yang menghubungi atau menjemput, ustadz tidak akan ceramah kalau peserta pengajian tidak ada yang datang gara-gara tidak ada yang mengajak peserta dan pamflet tidak tersebar, peserta daurah akan kelaparan kalau tidak ada yang memasak atau membeli makanan. Piring-piring akan menumpuk kalau petugas cuci piring mogok kerja... nah.

Suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menanyakan keberadaan orang yang selama ini menjadi penyapu masjid. Beliau diberitahu oleh sahabat bahwa orang tersebut telah meninggal dan dimakamkan. Mendengar itu Rasulullah menyesalkan kenapa beliau tidak diberi tahu supaya dia bisa menyalatkan dan mengantar jenazahnya. Kemudian beliau minta ditunjukkan kuburan penyapu masjid tersebut, hari itu juga beliau berziarah dan menyalatkan orang tersebut di kuburannya.

Begitulah Islam yang tidak pernah menganggap kecil seringan apapun suatu pekerjaan yang mungkin sebagian orang menganggapnya remeh.

Mudah-mudahan kisah di bawah ini membuat kita lebih bersemangat untuk berkhidmat dalam perjuangan ini;

Dikisahkan, ada seorang wanita bercadar yang datang menghadap panglima militer Islam, menjelang keberangkatan tentara mujahidin ke medan jihad. Wanita tersebut menyerahkan sebuah kotak kepada panglima. Betapa terkejutnya panglima tersebut ketika membuka kotak tersebut dan mengetahui di dalamnya berisi dua pilinan (kepangan) rambut yang sangat panjang.

Sang panglima bertambah kaget, setelah wanita bercadar itu mengatakan bahwa dua pilinan rambut yang sangat panjang itu adalah rambutnya sendiri. Ia adalah seorang janda miskin yang tidak memiliki harta untuk disumbangkan kepada tentara mujahidin. Wanita itu pun sengaja memotong rambutnya sendiri sebagai wujud partisipasinya dalam jihad.

Panglima tentara Islam semakin takjub, ketika wanita muslimah itu meminta agar kedua kepangan rambutnya dijadikan sebagai tali kekang kuda yang dipakai berjihad oleh tentara kavaleri Muslim.

Setelah wanita bercadar itu pulang ke rumahnya, sang panglima mujahidin memerintahkan para tentara Islam untuk segera berbaris rapi. Ia pun berpidato di hadapan para mujahidin dan menceritakan tentang adanya seorang wanita mukminah yang menyumbangkan dua kepangan rambutnya sendiri untuk dipakai sebagai tali kekang kuda perang.

Begitu mendengar informasi mengharukan sekaligus menakjubkan tersebut, para mujahidin secara spontan memekikkan takbir dan semangat tempur mereka bertambah besar, sehingga setelah berperang menghadapi musuh-musuh Islam di medan jihad, para mujahidin mengalami kemenangan yang gilang-gemilang. Allahu Akbar.

Apakah kita masih ingin meninggalkan medan ini hanya karena merasa tidak punya apa-apa? Bukankah Allah telah mengaruniakan hal yang sangat banyak pada diri kita?

“Dan pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. al-Dzariyaat: 21)

Nahnu Ladzina Baya`u Muhammadan,
`Alal jihadi ma Baqina `Abadan,
(Kamilah para pembai`at Muhammad,
Atas jihad yang takkan pernah kami tingalkan selamanya)

Buat adik-adik di KBM FT UNM, "Selamat berjuang dan tetap semangat untuk membentuk generasi pejuang, jalan dakwah terlalu indah untuk ditinggalkan"