Sabtu, 29 Mei 2010

Belas Kasih Sejati pada Wanita

Antara Eksploitasi dan Kasih Sejati
Rima Fakih, namanya sempat mencuat di beberapa media karena keberhasilannya menjadi pemenang Ratu Kecantikan USA yang pertama dari keturunan Arab, konon kabarnya ia beragama Islam, dalam wawancara dia sendiri mengatakan bahwa di Islam liberal –ini agama jenis baru yang dipopulerkan kaum liberal. Meski banyak yang kontra khususnya kaum muslimin di USA sendiri, tapi banyak juga yang mengelu-elukannya.

Dengan bangganya Rima bertekad memanfaatkan gelar Ratu Kecantikan itu, untuk memperbaiki citra umat Islam di Amerika. Ia ingin semua orang bangga atas dirinya, baik sebagai imigran muslim maupun warga Amerika. Hebat, untuk menghilangkan image teroris ternyata harus berbikini di atas panggung. Na'udzubillah.


Pada tahun 2009 silam, dalam artikel di sebuah situs yang mengkritik keras keikutsertaan putri Indonesia, Zivanna Letisha Siregar dalam ajang Miss Universe 2009, situs ini secara tegas mengkritik kontes tersebut: ”Beginikah kiblat kemajuan sebuah peradaban dimana wanitanya harus berani meludahi ajaran para Nabi, terutama Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam? Beginikah simbol sebuah kemajuan peradaban dimana wanitanya akan dihormati manakala berani membuka dada dan paha? Ataukah beginikah standar kecantikan wanita manakala layak tubuhnya dijadikan simbol penglaris dagangan saja?”

Dalam sebuah artikelnya Prof. Daoed Joesoef menulis "Pemilihan ratu-ratuan seperti yang dilakukan sampai sekarang adalah suatu penipuan, disamping pelecehan terhadap hakikat keperempuanan dari makhluk (manusia) perempuan. Tujuan kegiatan ini adalah tak lain dari meraup keuntungan berbisnis, bisnis tertentu; perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan, dengan mengeksploitasi kecantikan yang sekaligus merupakan kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki dan kebutuhan akan uang untuk bisa hidup mewah. Sebagai ekonom aku tidak apriori anti kegiatan bisnis. Adalah normal mencari keuntungan dalam berbisnis, namun bisnis tidak boleh mengenyampingkan begitu saja etika. Janganlah menutup-nutupi target keuntungan bisnis itu dengan dalih muluk-muluk, sampai-sampai mengatasnamakan bangsa dan negara,”.

Bahkan, Daoed Joesoef menyamakan peserta kontes kecantikan itu sama dengan sapi perah: "setelah dibersihkan lalu diukur badannya dan kemudian diperas susunya untuk dijual, tanpa menyadari bahwa dia sebenarnya sudah dimanfaatkan, dijadikan sapi perah. Untuk kepentingan dan keuntungan siapa?

Hmm, kita memang hidup di akhir zaman, dimana antara yang haq dan bathil sudah terlalu biasa untuk dicampur adukkan, meski perbedaan keduanya amat jelas tapi perasaan dan akal kadang menjadi takaran penentu yang membutakan, tanpa memperhatikan lagi apa yang telah digariskan Allah melalui risalah yang dibawa Rasul-Nya. Atas nama kebebasan wanita kemudian di”ekspolitasi”, namun gayung bersambut dalam keadaan tersebut kebanyakan wanita seperti di atas menara gading “kasih sayang”.

Inilah Kasih Sayang Sejati
Coba kita sedikit tengok ke zaman Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam, sang panutan. Bagaimana seharusnya memberikan kasih sayang sejati kepada kaum wanita.

Dari Urwah bin Zubair diceritakan bahwa ada seorang wanita mencuri pada zaman Rasulullah di dalam Perang Fatah (Penaklukan Kota Makkah). Lalu kaum (keluarga) wanita tersebut mengadu kepada Usamah bin Zaid seraya memohon syafa'at (pertolongan) kepadanya. Kemudian, lanjut Urwah, ketika Usamah membicarakan hal itu dengan Rasulullah, maka wajah beliau pun berubah. Lalu beliau bertanya, “Apakah engkau berbicara denganku mengenai (dispensasi) dalam hal had (sanksi hukum) yang telah ditetapkan oleh Allah?” Usamah pun berkata, “Mohonkanlah ampunan untukku, ya Rasulullah.” Kemudian pada petang harinya Rasulullah berdiri seraya berkhutbah. Beliau memuji Allah dengan sifat-sifat yang layak bagi-Nya. Lalu beliau bersabda, “Amma ba'du, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian tidak lain adalah karena mereka dahulu apabila orang yang terhormat di antara mereka mencuri, maka mereka membiarkannya. Namun apabila orang yang lemah di antara mereka mencuri, maka mereka melakukan had (sanksi hukum) terhadapnya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, andaikata Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku akan memotong tangannya.” Kemudian Rasulullah memerintahkan agar wanita itu dipotong tangannya. Setelah itu wanita tersebut bertaubat dengan baik dan menikah. Aisyah mengatakan, “Setelah itu wanita tersebut datang kepadaku, lalu aku pun melaporkan keperluannya kepada Rasulullah .“ (HR. Bukhari)

Ini adalah lembar sejarah yang cemerlang dan sangat langka di dalam sejarah umat manusia pada umumnya. Saya kira kecemerlangan semacam itu tidak akan pernah terulang sampai Hari Kiamat. Sejarah belum pernah dan tidak akan pernah mengenal orang yang lebih hebat belas kasihnya kepada kaum wanita dibandingkan Rasulullah. Beliau berwasiat tentang wanita, memerintahkan untuk memuliakannya, menganjurkan untuk merawatnya, tabah menghadapi tabiatnya, dan memaafkan kekhilafannya.

Kendati rasa belas kasih beliau kepada kaum wanita demikian agung, namun beliau tidak akan pernah melanggar ketentuan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah. Bahkan ketika pemberlakuan ketentuan itu akan menimpa seorang wanita muslimah sekalipun.

Ini yang tidak kita jumpai pada diri banyak penguasa, para penanggung jawab maupun para orang tua yang menyerahkan kendali sepenuhnya kepada wanita, dengan dalih belas kasih kepadanya. Akibatnya, mereka tidak mencegah kaum wanita melakukan sesuatu yang melanggar syari'at Allah. Mereka membiarkan kaum wanita keluar rumah dengan pakaian yang tidak menutup aurat, bersolek, bergaul bebas dengan lawan jenis dan melakukan apa saja yang dikehendakinya. Ini sama sekali bukan belas kasih kepada wanita. Karena membiarkan wanita melakukan sesuatu yang bisa mengundang murka dan hukuman dari Allah bukanlah wujud belas kasih kepadanya.

Apakah seorang ibu bisa disebut berbelas kasih kepada putrinya ketika dia membiarkannya bermain korek api? Bukankah dia pasti mencegahnya atau mengambil korek api tersebut dari tangannya, kendati si anak sangat menikmati aktifitas menyalakan korek api tersebut, demi mencegahnya membakar dirinya atau membakar rumah beserta isinya?

Belas kasih yang sejati ialah apa yang diterapkan oleh Rasulullah, yakni syari'at Allah yang agung. Syariat itu berfungsi melindungi keselamatan manusia di dunia dan di akhirat, bahkan ketika ia mencegah mereka memperturutkan hawa nafsu mereka dari menghalangi mereka dari kesenangan-kesenangan yang diharamkan.

Barangkali taubat yang dilakukan oleh wanita dari kabilah Makhzum dengan dipotong tangannya tersebut memberikan peringatan (warning) kepada wanita muslimah masa kini yang merasa keberatan terhadap sesuatu yang jauh lebih ringan daripada harus dipotong tangannya. Yaitu wanita yang keberatan untuk menutup auratnya, keberatan untuk tinggal di rumah, dan keberatan untuk taat kepada suaminya. Peringatan itu menunjukkan bahwa semua itu bisa dilakukan oleh kaum wanita dengan pertolongan Allah. Dan di dalam taubat itulah terkandung jaminan keselamatan dan kemenangannya di dunia dan Akhirat.

Andaikata Sayyidah Fatimah mencuri, niscaya ayahnya yakni Nabi sendiri yang akan memotong tangannya. Apakah pemotongan itu paradoks (bertentangan) dengan rasa belas kasih?! Justru itulah belas kasih yang sejati. Karena adzab di Akhirat teramat pedih dan maha dahsyat, sementara melakukan eksekusi (pemotongan tangan) akan membuatnya selamat dan adzab Akhirat tersebut.

Maka dari itu, tidaklah berbelas kasih ketika seorang ayah membiarkan putrinya atau seorang suami membiarkan istrinya melakukan apa saja sesuka hatinya meski bermaksiat kepada Allah.

Peristiwa pencurian yang dilakukan oleh wanita Makhzumiyah itu terjadi pada waktu penaklukan kota Makkah. Yaitu sebuah momentum yang disambut dengan suka cita oleh seluruh kaum muslimin. Akan tetapi momentum suka cita itu tidak mengabaikan pelaksanaan hukuman (had) yang telah ditetapkan oleh Allah.

Tidak lupa juga kita memberikan perhatian khusus kepada iman yang dimiliki oleh wanita Makhzumiyah tersebut dan taubat yang dilakukannya dengan baik. Dia tidak murtad (keluar) dan agamanya ketika Nabi menolak syafa'at yang diajukan melalui Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu. Begitu juga ketika hukuman (had) dilakukan terhadap dirinya. Justru dia bensikap pasrah dan bertaubat. Dia bahkan mau datang kepada Sayyidah Aisyah , lalu keperluannya dilaporkan kepada Nabi. Ini adalah bukti nyata yang menunjukkan keseriusan dan kekuatan iman di dalam dirinya.

Hal itu juga akan menjadi persaksian baginya, dan dia -insya Allah- akan menemukan buah dan kepasrahannya itu di Akhirat kelak. Sebab, dunia ini akan berlalu bersama kenangan manis dan pahitnya. Sedangkan Akhirat akan tetap kekal dan abadi. Akhirat jauh lebih baik daripada dunia dengan perbandingan yang tiada tara. Karena nilai dunia jika dibandingkan dengan Akhirat tidak lebih dan air yang menempel di ujung jari ketika dicelupkan ke dalam samudera berbanding dengan seluruh air yang ada di dalamnya. Wallahu a’lam.[]


Selasa, 18 Mei 2010

Apa Koruptor punya Tuhan?

Siang itu, panas matahari terik menyengat, dua orang berjalan di tengah gurun pasir, dua orang itu tak lain adalah sahabat yang mulia Amirul Mukminin Umar bin Khattab dan Abdullah bin Dinar radhiyallahu ‘anhum. Mereka sedang mengadakan perjalanan dari Madinah ke Makkah. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan seorang anak gembala. Lalu timbul dalam hati Khalifah Umar untuk menguji sejauh mana kejujuran dan keamanahan si anak gembala itu.

Maka, terjadilah dialog berikut ini. “Wahai anak gembala, juallah kepadaku seekor anak kambing dari ternakmu itu!” ujar Amirul Mukminin. “Aku hanya seorang budak,’ jawab si gembala. Umar bin Khattab berkata lagi, “Katakan saja nanti pada tuanmu, anak kambing itu dimakan serigala.”

Anak gembala tersebut diam sejenak, ditatapnya wajah Amirul Mukminin, lalu keluar dari bibirnya perkataan yang menggetarkan hati Khalifah Umar, “Fa ainallah? (Dimana Allah?) Kurang lebih maknanya adalah, “Jika Tuan menyuruh saya berbohong, lalu di mana Allah? Bukankah Allah Maha Melihat? Apakah Tuan tidak yakin bahwa siksa Allah itu pasti bagi para pendusta?”

Umar bin Khattab adalah seorang khalifah, pemimpin umat yang sangat berwibawa lagi ditakuti, dan tak pernah gentar menghadapi musuh. Akan tetapi, menghadapi anak gembala itu beliau gemetar, rasa takut menjalari seluruh tubuhnya, persendian-persendian tulangnya terasa lemah, kemudian beliau menangis. Menangis mendengar kalimat tauhid itu, yang mengingatkan pada keagungan Allah, dan tanggung jawabnya di hadapan-Nya kelak.

Lalu dibawanya anak gembala yang berstatus budak itu kepada tuannya, kemudian ditebusnya, dan beliau berkata, “Dengan kalimat tersebut (Fa ainallah?) telah kumerdekakan kamu dari perbudakan itu dan dengan kalimat itu pula insya Allah kamu akan merdeka di akhirat kelak.” Peristiwa di atas jelas merupakan cermin jiwa yang ihsan, serta gambaran iman yang melahirkan sifat jujur dan amanah. Seorang anak yang terdidik dengan nilai-nilai Islam dan tauhid yang kuat. Manusia yang langka untuk zaman sekarang ini.

Alangkah indahnya negeri ini bila penduduknya memiliki iman dan ihsan seperti anak gembala itu. Apalagi jika iman dan ihsan itu ada pada orang-orang yang dominan memegang peranan penting di negeri ini. Kita akan menikmati kesungguhan presiden dengan jajaran para menteri kabinet dan seluruh aparat pemerintahannya untuk memajukan bangsa dan memakmurkan rakyatnya, bebas dari rasa takut, bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Dibandingkan dengan harapan tersebut realita yang ada hal tersebut masih sesuai dengan pepatah “jauh panggang dari api”. Berita-berita korupsi di tanah air seakan tak ada habis-habisnya. Menurut lansiran sebuah media bahwa data dari pihak kejaksaan agung angka tindak pidana korupsi tiap tahunnya meningkat sampai 100%. Uniknya kebanyakan kasus korupsi yang terungkap selalu saja kasusnya menggurita kemana-mana melibatkan banyak oknum, dengan kata lain ternyata “perampokan” tersebut sudah tidak dilakukan sendiri-sendiri tapi beramai-ramai.

Uang negara yang katanya ‘bantuan’ namun tak lain adalah utang dari luar negeri juga tak luput dari incaran koruptor. Profesor Sumitro Djoyohadikusumo, pendiri fakultas ekonomi dari Universitas Indonesia, pernah menyatakan bahwa paling sedikitnya 30% dari pinjaman yang diberikan kepada pemerintah Indonesia telah dicuri.

Baru-baru ini kita dicengangkan dengan berita bahwa, salah seorang ketua Pengadilan Negeri yang sekaligus ketua majelis hakim kasus Gayus, mengakui kecipratan uang haram sebesar Rp 50 juta. Ironisnya, uang hasil penyuapan tersebut digunakan untuk umrah. Itu menandakan bahwa para koruptor di negara ini sudah sedemikian parah. Mereka tidak lagi takut kepada peradilan yang ada di dunia ini, bahkan peradilan akhirat.

Dari berita-berita yang kasat mata bahwa banyak diantara pejabat yang terlibat kasus-kasus korupsi itu juga ibadat formalnya tidak kalah rajin juga, seperti salat maupun umrah, bahkan haji. Namun sebagaimana diketahui, ibadah dengan menggunakan uang haram tidak akan mendatangkan pahala, tapi dosa, bahkan laknat. Ibadah memang dianjurkan. Namun, harta yang dipakai untuk ibadah harus diperoleh dengan cara yang halal.

Dulu, pernah ada pertanyaan yang muncul di benak saya -mungkin juga Anda-, “Kok bisa ya orangnya shalat di masjid tapi pulangnya membawa sandal orang lain?”

Jawabannya mungkin kita bisa lihat dari hadits panjang berikut
“Dari Umar radhiyallahuanhu juga dia berkata: Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu”, kemudian dia berkata: “anda benar”. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman”. Lalu beliau bersabda: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk”, kemudian dia berkata: “anda benar“. Kemudian dia berkata lagi: “Beritahukan aku tentang ihsan”. Lalu beliau bersabda: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya”. Dia berkata: “Beritahukan aku tentang tanda-tandanya”, beliau bersabda: “Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya”, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “Tahukah engkau siapa yang bertanya?”. aku berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau bersabda: “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian”. (HR. Riwayat Muslim)

Dari hadits tersebut dikenal istilah ‘Islam’, ‘Iman’ dan ‘Ihsan’. Islam menekankan pada aspek ubudiyah atau ibadah formal, Iman menekankan pada aspek akidah dan Ihsan menekankan pada aspek moralitas. Celakanya ketiga aspek tersebut diterapkan secara parsial dan terpisah. Sendiri-sendiri tanpa menyatu. Aspek Islam, misalnya tadi, salat dan umrahnya rajin, tapi akidahnya kadang-kadang masih bolong-bolong dan bopeng. Masih suka ke dukun, para normal, ramalan bintang, dan sebagainya, mau jadi caleg, mau dapat jodoh ke mbah ini atau ke kuburan anu, dsb. Ada yang akidahnya bagus, kuat, tapi ‘Islam’nya (ibadahnya) berantakan. Shalat di masjid, keluar dari masjid, tukar sandal, nah. Andaikan bila ‘Ibadahnya bagus, imannya bagus, tapi ihsannya (moralitasnya) berantakan. Korupsinya rajin, menilep uang negara (rakyat) juga tak kalah gesit, dst. Kenapa??? Karena difahami bahwa ajaran Islam tidak diintegralkan dan disatukan.

“Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat daripadanya dari pada urat lehernya.” (QS. Qaaf 50:16)

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempat. Dan tiada pembicaraan antara lima orang, melainkan Dia-lah yang keenam. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melaikan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada, kemudian Dia akan memberitahukan kapada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Mujadalah 58:7)

Iman dan Ihsan erat kaitannya dengan muraqabatullah (senantiasa merasa diawasi oleh Allah) bila muraqabatullah ini terasa melemah ini menunjukkan iman juga sedang lemah. Kalau kita renungkan diantara penyebab penting hingga bangsa ini hampir bangkrut adalah lemahnya muraqabatullah. Kebohongan sudah menjadi kultur bangsa kita; mahasiswa nyontek, pejabat korup, bisnis penuh tipu, dan lain-lain itu bersumber karena lemahnya muraqabatullah.

Namun bila iman dan ihsan menyebar di negeri ini, maka kita akan mendapati politisi yang jujur, jauh dari praktik rekayasa negatif untuk menjatuhkan lawan politiknya, polisi yang mengayomi masyarakat, karyawan dan para buruh yang memiliki dedikasi dan tanggung jawab. Insya Allah, peraturan akan dipatuhi, negara akan aman, kemakmuran akan dinikmati, hati penduduk negeri menjadi damai.

Demikian memang jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka.” (Al A”raf: 96).

Wallahu Ta’ala A’lam. [af]

(Buletin Al-Balagh Edisi 63 Tahun V 1431 Jumadil Ula)