Rabu, 30 Juni 2010

Langkah Awal Merebut Palestina

Palestina Barometer Umat
Dalam sebuah seminar tentang Palestina, syaikh Dr. Sa’ad Abu Mahfuh mengatakan, “Kondisi al-Aqsha menjadi barometer kesungguhan umat Islam dalam memperjuangkannya.”

Masjid al-Aqsha dalam surah al-Israa ayat pertama, kita dapat lihat dengan jelas bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala begitu memuliakan masjidil al-Aqsha, kiblat pertama kaum muslimin. Masalah Palestina tidak bisa dipandang remeh, sebab ini menyangkut akidah kaum muslimin. Al-Aqsha yang kini dikuasai oleh zionis yahudi adalah harga diri dan kehormatan kaum muslimin yang diinjak-injak.

Namun semua itu adalah cerminan dari kondisi umat Islam, sekarang ini umat islam dalam keadaan lemah dan terpuruk. Tak lain karena telah terjangkiti oleh penyakit wahn. Al-Wahn (cinta dunia dan takut mati), inilah penyakit yang disinyalir oleh Rasulullah yang akan menimpa umatnya dimana umatnya akan diperebutkan oleh umat lain seperti memperebutkan makanan, padahal jumlah kaum muslimin merupakan mayoritas.


Cinta dunia dan takut mati adalah dua penyakit yang akan selalu berkaitan, ketika seseorang cinta dunia maka dipastikan dia juga takut akan mati. Dunia telah menjadi cita-cita utamanya, masalah akhirat itu urusan nanti atau hanya sekedar ilusi dalam benaknya, sebab ia memang tidak menginginkan bertemu dengannya alias takut mati. Otomatis semangat untuk berjuang di jalan Allah baik dengan harta apalagi jiwa juga akan pupus.

Dan inilah yang sekarang mewabah di tengah umat persis sebagaimana yang terjadi pada akhir abad 5 Hijriyah dimana kaum Muslimin kalah dari pasukan salib. Sebelum terjadi invasi pasukan Salib kondisi umat Islam berada dalam kemunduran dan kerusakan yang parah. Para penguasa meninggalkan amanat yang diemban dan gila dengan kemewahan serta kekuasaan, bahkan mereka berlaku dzolim kepada rakyat. Para ulama pun banyak yang menjadi “ulama dunia” dengan mencari muka di depan para penguasa demi sebuah simpati atau jabatan dan bahkan tidak jarang terjadi permusuhan dan saling menjatuhkan antar ulama. Singkatnya, ada arus penyimpangan kolektif yang dilakukan oleh berbagai lapisan umat setelah ditinggalkan oleh tiga generasi emas (shalafus shalih). Penyimpangan yang merambah semua kalangan umat baik pemerintah, ulama, tentara, kaum kaya dan masyarakat biasa.

Ada 2 hal yang benar-benar orang Yahudi takutkan, Yaitu ketika Semua umat Muslim benar-benar menjadikan Al-Quran sebagai Pedoman dalam semua aspek kehidupan, sehingga ghirah Al-Quran akan terasa pada diri setiap umat Muslim di dunia. Yang kedua berdasarkan pernyataan salah seorang pemimpin yahudi sendiri bahwa mereka baru akan takut kepada umat Islam ketika Jamaah shalat Subuh sama Banyaknya dengan Jamaah pada saat Shalat Jum’at.

Apalah gunanya mayoritas jika perhatiannya terhadap al-Qur’an tidak ada, bahkan beramai-ramai membuat hukum buatan mereka sendiri atau mengadopsi hukum buatan orang kafir? Apa artinya jumlah yang banyak jika mereka lebih doyan menonton bola berjama’ah sampai pagi dibanding shalat berjama’ah di masjid? Jika seruan Allah melalui mu’adzin “hayya ‘ala shalah!” (Mari menunaikan shalat!) saja diabaikan apatah lagi “Hayya’alal jihaad!” (Mari berperang di jalan Allah!)

Membangkitkan Generasi Shalahuddin
Menurut Dr. Adian Husaini dalam artikelnya yang berjudul “Sabar Membebaskan al-Aqsa” bahwa, PR terbesar umat ini adalah mengembalikan akhirat sebagai tujuan tertinggi, meskipun ini tidak mudah karena menyangkut pola pikir dan budaya. Perlu proses yang panjang. Dan inilah langkah awal sebagaimana yang dijelaskan tadi tentang cinta dunia dan takut mati sebagai penyebab lemah dan terpuruknya umat ini.

Menurut beliau, perjuangan membebaskan Palestina bukanlah kali pertama dilakukan umat Islam. Sejarah menunjukkan, perjuangan membebaskan diri dari suatu penindasan seringkali membutuhkan waktu yang panjang. Kita ingat, kemerdekaan Indonesia harus dicapai setelah ratusan tahun harus berjuang melawan penjajah Belanda. Dalam kaitan inilah, kita perlu meningat, bahwa syarat penting untuk meraih kemenangan dalam perjuangan adalah sabar dalam berjuang. “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan perkuatlah kesabaranmu dan bersiap-siagalah dan bertaqwalah kepada Allah, mudah-mudahan kamu meraih kemenangan.” (QS Ali Imran:200).

Dalam sebuah buku yang berjudul “Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib” memaparkan bahwa, sekitar 90 tahun setelah kekalahan kaum muslimin dari pasukan salib, tampil Shalahuddin Al-Ayyubi yang memimpin pasukannya merebut Hitthin sebagai pembuka jalan untuk merebut Palestina kembali. Apa gerangan yang terjadi? Apakah Shalahuddin Al-Ayyubi seoran utusan langit yang datang begitu saja untuk menyelamatkan umat? Apakah Shalahuddin seorang pahlawan tunggal yang berjuang sendirian dan mengandalkan segala keistimewaan pribadinya? Jawabannya tentu tidak. Sejak awal Shalahuddin “hanya” seorang anak didik Nuruddin Zanki yang sudah menyiapkan mimbar baru untuk Masjidil Aqsha jauh sebelum itu.

Di sisi lain, sejarah tidak mungkin melupakan karya dan peran signifikan sejumlah ulama dan tokoh umat Islam yang hidup dalam kurun waktu tersebut, seperti Al-Ghazali, Abdul Qodir al-Jilani, Ibnu Qudamah al-Madisi dan sederetan nama lainnya yang berhasil melakukan perubahan radikal pada paradigma pemikiran dan pendidikan umat. Mereka berhasil mengikis virus-virus yang menggerogoti imunitas internal umat berupa hegemoni filsafat, aliran kebatinan, dikotomi fiqih dan tasawuf, mazhabisme dan lain-lainnya, sebelum melahirkan sebuah generasi baru yang mengimplementasikan nilai-nilai nilai-nilai Islam dan mengusung panji kejayaannya saat berhadapan dengan lawan-lawannya.

Pertanyaan kemudian timbul dari Dr. Adian, apakah umat Islam saat ini mempunyai ulama-ulama yang hebat semacam itu? Jika tidak, maka kewajiban utama umat Islam adalah mewujudkannya. Setelah itu, para ulama didukung untuk mendidik satu generasi yang tangguh, sebagaimana dijelaskan dalam QS al-Maidah ayat 55. Yakni, generasi yang dicintai Allah dan mencintai Allah, berkasih sayang terhadap sesama mukmin, dan bersikap tegas terhadap kaum kafir, berjihad di jalan Allah, dan tidak takut terhadap berbagai celaan. Mereka yakin dan kokoh dengan keyakinan dan tujuan perjuangan.

Semua itu membutuhkan proses dan waktu yang panjang. Perjuangan Islam membutuhkan kesabaran, kesungguhan, dan kecerdikan. Sebab, tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Godaan untuk cepat-cepat melihat hasil perjuangan, bisa menghancurkan proses perjuangan. Godaan inilah yang menjadi penyebab hancurnya pasukan Islam pada perang Uhud, gara-gara sebagian pasukan panah tergoda oleh harta rampasan perang. Maka, keliru besar jika ada yang menyangka bahwa jika ada sebagian aktivis dakwah telah menduduki suatu jabatan tertentu di pemerintahan, dikatakan, bahwa mereka telah berhasil dalam dakwah.

Keliru juga jika menyangka bahwa pejuang dakwah yang hebat adalah yang rajin mengeluarkan pernyataan tentang perlunya berdiri sebuah negara Islam; sementara pada saat yang sama, dia tidak melakukan tindakan apa-apa untuk memajukan umat Islam dan melawan kemungkaran yang bercokol di sekitarnya.

Walhasil, perjuangan memerlukan kesabaran dan strategi yang matang. Perjuangan bisa berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya. Nafsu untuk cepat-cepat melihat hasil perjuangan dapat menghancurkan tujuan perjuangan itu sendiri. Karena itulah, kita sangat berutang budi pada para ustadz dan aktivis dakwah yang tidak pernah tersorot kamera TV atau liputan media massa, tetapi gigih mengajarkan aqidah Islam, baca tulis al-Quran, atau membendung gerakan-gerakan pemurtadan yang merusak umat Islam. Para pejuang Islam ini mungkin tidak menyadari, bahwa yang mereka kerjakan adalah sebuah langkah besar dalam menjaga aqidah dan eksistensi umat Islam, papar Dosen Pasca Sarjana- Progam Studi Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (PSTTI-UI) ini.

Kita semua bisa mengambil peran dalam memperjuangkan kejayaan Islam, memperjuangkan Palestina dengan apa yang kita punya dan potensi kita. Mulailah dari memperbaiki diri kita, keluarga kita dan masyarakat kita. Pelajarilah agama ini dengan baik. Amalkanlah semampu Anda. Insya Allah dengan terbentuknya masyarakat yang Islami maka Rahmat dan pertolongan Allah akan datang.

Istiqomah dalam Perjuangan

Kemenangan adalah anugerah Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia hanya diberikan kepada yang layak untuk mendapatkannya. Apakah kita akan menikmatinya atau tidak itu bukanlah sesuatu yang penting. Namun bagaimana peran kita dalam proses merebut kemenangan itu. Kemenangan yang nyata adalah istiqomah dalam memperjuangkan kebenaran, dan disinilah sebenarnya ujiannya.

Keinginan untuk cepat melihat hasil, tergesa-gesa alamat menebar benih kegagalan. Keikhlasan, hanya mengharap ridha Allah itu adalah hal utama yang harus tetap dipertahankan. wallahu a’lam.
Diterbitkan di buletin al-Balagh edisi 69 tahun V Rajab 1431H

Euforia Piala Dunia dan Nasib Palestina

Serangan zionis yahudi kepada relawan di kapal Mavi Mara yang membawa bantuan untuk rakyat Gaza beberapa pekan lalu membuat mata dunia sedikit berpaling ke negeri Islam yang kini dijajah zionis yahudi, Palestina khususnya kota Gaza yang selama 4 tahun terakhir berada dibawah blokade zionis. Kecaman dan gelombang protes berdatangan dari segala penjuru, terutama dari sebagian kaum muslimin. Berbagai upaya mereka lakukan seperti kampanye dan tabligh akbar peduli Palestina, hingga penggalangan dana dan relawan untuk Palestina.

Ini untuk kesekian kalinya, telah berkali-kali dan begitulah seharusnya muslim yang beriman, ketika saudara mereka merasakan kesakitan maka sontak merekapun merasakannya. Seperti satu tubuh.

“Orang-orang Muslim itu ibarat satu tubuh; apabila matanya marasa sakit, seluruh tubuh ikut merasa sakit; jika kepalanya merasa sakit, seluruh tubuh ikut pula merasakan sakit.” (HR Muslim)

Jasad mereka memang terpisah tapi asa dan tujuan mereka satu. Batas negara, perbedaan warna kulit dan bahasa tak menjadi masalah sebab akidah mereka sama.

Tapi saya katakan tadi “sebagian kaum muslimin”, bahkan sebagian kecil saja. Dengan kata lain sebagian besar mungkin hanya mematung, menonton atau malah pura-pura lupa atapun tidak ingin tahu.

Sebagian lagi malah sibuk menyalahkan, katanya dari dahulu sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pembantaian atas kaum muslimin telah ada, itu sunnatullah. Tidakkah mereka berpikir bahwa sunnatullah tidak mengajar kita untuk diam berpangku tangan, di dalamnya ada ujian bagi kita untuk menentukan dimana posisi kita. Apakah Rasulullah tinggal diam atas pembantaian itu?

Pada periode Makkah, dimana kaum muslimin masih sedikit, melihat penganiayaan kaum muslimin oleh kaum kafir Quraisy, Rasulullah dan para sahabatnya tidak tinggal diam. Melihat pembantaian atas keluarga Yasir, Rasulullah memang tidak bisa berbuat banyak tapi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menghibur dan mendoakan mereka. Melihat penganiayaan Bilal oleh tuannya, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga tidak tinggal diam, beliau kemudian menebusnya dengan tebusan yang tinggi dan memerdekakannya.

Pada periode Madinah tentu kita sudah pernah membaca bahwa Rasulullah kemudian mengusir kabilah-kabilah yahudi karena terbunuhnya seorang Muslim dan karena pelanggaran mereka atas perjanjian damai dengan kaum Muslimin.

Katanya lagi, rakyat Gaza tak layak untuk ditolong karena pelanggaran syariat mereka banyak, mereka berpecah dan sebagainya. Sekali lagi, kenapa mereka tidak berpikir bahwa sangkaan itu adalah urusan penduduk Gaza dengan Allah Ta’ala? Kenapa harus dihakimi? Setidaknya mereka adalah muslim yang berhak untuk ditolong, bukankah Rasulullah mengajar kita untuk menolong saudara muslim kita yang dizhalimi ataupun yang menzhalimi?

“Tolonglah saudaramu ketika dia berbuat zhalim atau ketika dia dizhalimi.” Seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, aku akan menolongnya jika ia terzhalimi, namun apabila dia berbuat zhalim, bagaimana aku menolongnya?” Beliau menjawab, “Cegahlah dia atau tahanlah dia dari berbuat zhalim, maka ini adalah pertolongan baginya.” (HR. Al Bukhari)

Jadi tak ada alasan untuk diam berpangku tangan.

Segolongan yang lain berkilah, kenapa harus membantu mereka sedangkan di negeri sendiri masih banyak orang yang juga berhak untuk dibantu? Kita katakan, penderitaan ataupun kesusahan yang dirasakan oleh sebagian masyarakat kita tidaklah sebanding dengan penderitaan rakyat Palestina khususnya di kota Gaza yang 1,5 juta warganya dalam kelaparan dan ketakutan, setiap saat rudal dan peluru zionis yahudi mengancam untuk menghancurkan rumah dan mengoyak tubuh mereka.

Alasan-alasan mereka tak lain hanya memperkerdil semangat jihad dan mempersempit ukhuwah.

Dari Gaza ke Afrika Selatan

Palestina dari dulu dan sekarang masih “sakit” dan sebagian besar mata kaum muslimin telah berpaling dari Gaza ke Afrika selatan menonton Piala Dunia.
Menurut ustadz Said Abdul Shamad, Lc., umat Islam sekarang ini seakan diamputasi tanpa mereka rasakan, karena sebelumnya mereka telah dibius dengan informasi dan hiburan semu. Membuat mereka tak sadar, satu persatu tubuh mereka dilucuti. Begitulah perumpamaannya, sejak tahun 1946 penjajahan zionis yahudi atas Palestina, jengkal demi jengkal negeri para Nabi mereka ambil, pengusiran demi pengusiran mereka lakukan, pembunuhan demi pembunuhan bahkan diperlihatkan di depan mata kaum muslimin.

Tapi sudah terlanjur, kaum muslimin telah terbius dengan euforia dunia yang sempit, sesempit lapangan sepakbola. Urusan tendang dan kejar satu bola kini jauh lebih penting daripada pembantaian-pembantaian kaum muslimin di Gaza. Dukungan untuk kemenangan klub-klub jagoan mereka jauh lebih penting dibanding dukungan agar menangnya kaum muslimin atas kafir yahudi. Mengenai siapa yang berhak merebut piala dunia lebih patut untuk diperjuangkan daripada kembalinya al-Quds kepangkuan kaum muslimin!

Lihatlah mereka rela merogoh kantong dalam-dalam untuk membeli atribut klub jagoannya sebagai bentuk dukungannya. Tapi apakah mereka akan melakukan hal yang sama ketika mereka diminta untuk membantu meringankan kelaparan rakyat Gaza?

Begitu mudahnya airmata mengalir dan lampiasan emosional mereka ketika sesuatu yang buruk menimpa tim jagoannya, tapi korban anak-anak dan wanita, gedung-gedung yang hancur, rumah yang digusur akibat kebejatan zionis yahudi apakah membuat hati mereka terketuk?

Singkatnya, begitu besar pengorbanan mereka untuk event ini, mereka seperti lupa bahwa di dunia ini tugas kita adalah untuk beribadah, detik demi detik seharusnya bernilai pahala. Apa yang mereka inginkan dari pengorbanan tersebut? Apakah mereka menginginkan pahala dari gelaran yang diramaikan dengan 40 ribu pelacur? Na’udzubillah.

Saya yakin jika mereka masih memiliki secuil keimanan dalam hati mereka tentu tidak ridha terhadap hal tersebut, hanya saja mungkin tidak tahu bahwa Rasulullah telah bersabda bahwa di akhirat kelak seseorang akan dikumpulkan bersama dengan orang yang dicintainya.

“Bius-bius” mematikan telah banyak disuntikkan oleh kaum kafir dalam tubuh kaum muslimin; adu domba, pendangkalan akidah, kebiasaan-kebiasaan buruk, dan sebagainya telah melenakan kaum muslimin. Dan untuk bangkit dari tidur panjang tersebut obatnya adalah kita kembali kepada agama ini, mempelajari agama ini dengan sebaik-baiknya dan mengamalkannya. Proteksilah diri kita dan anak-anak kita dari bius tersebut dengan didikan agama yang shahih.

Palestina tak membutuhkan kita.

Dalam catatan sejarah Palestina telah menjadi perebutan antara kaum muslimin dengan orang kafir dan kini ia kembali dikuasai oleh kaum kuffar yahudi, tapi jangan pernah berpikir bahwa ia membutuhkan kita. Tidak, bahkan sebaliknya kitalah yang membutuhkan untuk berjuang membebaskannya dari cengkraman penjajah zionis yahudi. Ada tidaknya kita takkan menjadi masalah, sebab kalau bukan kita yang memperjuangkannya maka pasti akan selalu ada yang lainnya. Namun alangkah ruginya jika kesempatan yang ada di depan mata kita abaikan dan lebih memilih sibuk untuk urusan yang tidak ada artinya.

Kita yakin bahwa cepat atau lambat Palestina akan kembali ke pangkuan kaum muslimin, namun pertanyaannya adalah apakah kita punya andil dalam usaha tersebut?

Meski kita belum bisa untuk ke sana maka hal yang minimal yang kita lakukan adalah turut andil dalam memberikan bantuan berupa harta yang mereka butuhkan. Ringankan penderitaan mereka, ingatlah masalah Palestina adalah masalah kaum muslimin masalah kita juga.

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, tidak menzhalimi atau mencelakakannya. Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya sesama Muslim dengan menghilangkan satu kesusahan darinya, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan di hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi aib seorang Muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR Bukhari)

Bercita-citalah dan rindukanlah untuk berkunjung ke Al-Quds kota suci ketiga kaum muslimin dan masjid al-Aqsha sebagaimana kerinduan anda untuk mengunjungi Masjidil Haram di Makkah dan masjid Nabawi di Madinah.

Tanamkanlah pada diri Anda dan generasi Anda bahwa tanah Palestina adalah milik kaum muslimin, milik Anda dan penerus Anda.

Jangan lupa senjata utama orang yang beriman yakni doa. Doakanlah mereka, sesungguhnya salah satu doa yang makbul adalah orang yang mendoakan saudaranya yang jauh.

Wallahu ‘alam.

Diterbitkan di Buletin Pekanan Al-Balagh edisi 68 Rajab 1431 H

Jumat, 25 Juni 2010

Akhwat, Kenapa Kau Harus Menghapus Fotomu di Internet?

Tulisan ini hanya sekedar peringatan buat akhwat yang masih suka memajang foto-fotonya di internet seperti di Blog, Situs Forum, khususnya di Facebook dimana sekarang hampir semua aktivis dakwah yang melek internet mempunyai akun di situs pertemanan tersebut.

Dari pengamatan saya selama memiliki akun di Facebook yang paling membuat miris adalah banyaknya wanita berjilbab yang memajang foto mereka bahkan beberapa di antaranya ada yang close up. Dari profile mereka ketahuan bahwa sebagian besar dari mereka adalah aktivis dakwah. Bagi yang masih mempunyai foto yang diupload ke FB, FS ataupun lainnya maka saya sarankan untuk segera menghapusnya dengan pertimbangan berikut ini:

1. Anda bisa jadi korban pornografi

Ketika Anda mengupload foto ke internet maka yakinlah foto tersebut sudah bukan milik Anda, tidak ada yang benar-benar privasi di dunia maya. Anda mungkin merasa aman karena foto tersebut tersimpan di akun Anda yang kapan saja kalau mau Anda bisa menghapusnya tapi itu hanya perkiraan Anda. Jutaan orang yang bisa mengakses ke profil Anda, mereka bisa mendownloadnya dan menyebarkannya di tempat lain. Jadi meskipun dikemudian hari Anda menghapusnya tapi ia sudah terlanjur menyebar dan mustahil bagi Anda untuk mencegahnya.

Hal yang paling ditakutkan adalah ketika orang-orang usil mendapatkannya dan “tergoda” untuk menjahili Anda. Ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang benci dengan Islam. Misalnya dengan memanipulasinya dan menjadikan Anda “Bintang Pornografi”. Dengan kecanggihan software pengolah gambar hal itu bisa dilakukan dengan waktu hanya beberapa menit. Setelah itu mereka bisa menebarnya ke ribuan link hanya dalam hitungan detik.

Hal ini sudah pernah terjadi pada seorang artis dimana foto syurnya beredar di internet, sampai-sampai harus menurunkan pakar telematika, Roy Suryo untuk membersihkan namanya dengan menjelaskan bahwa foto tersebut hasil manipulasi. Dan tidak dipungkiri bahwa banyak foto wanita berjilbab bahkan bercadar dengan tubuh telanjang yang bersiliweran di dunia maya, termasuk korbannya adalah salah seorang istri ustadz kondang.

Meski dengan mudah orang menebaknya sebagai sesuatu yang di rekayasa, tapi bukankah itu sudah cukup untuk menghinakan dan melecehkan, namun kitalah memberi peluang kepada orang hasad tersebut untuk melakukannya. Nah, sebelum terlanjur hapus foto Anda dari dunia maya!

2. Anda pajang untuk siapa?

Ada pertanyaan bagi muslimah yang memajang fotonya di internet, foto itu Anda pajang untuk siapa?

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan muslim dan muslimah untuk menjaga pandangannya dari lawan jenis yang bukan mahram. Tak sampai di situ Allah pun memerintahkan masing-masing kepada mereka untuk saling menjaga diri (An-Nur (24): 30-31). Di sini ada simbiosis mutualisme, jika seorang wanita yang menjaga dirinya dengan hijab yang syar’i maka dengan sendirinya laki lain juga akan terjaga pandangannya meski laki-laki tersebut tidak paham agama, nah bagaimana jika laki-laki tersebut juga paham akan agama tentu ia juga menjaga diri dan pandangannya. Sadar atau tidak mereka saling menguatkan dalam kebaikan, dan itulah mungkin maksudnya Allah menegaskan dalam firman-Nya bahwa laki-laki beriman dan wanita yang beriman adalah penolong bagi yang lainnya, dan mereka saling menguatkan dalam keimanan dan keta’atan (QS. at-Taubah (9) : 71.).

Ketika mengupload foto Anda di internet maka anda secara tak langsung telah “menandatangani kontrak” bahwa anda membebaskan siapapun bebas untuk memandang Anda tanpa terkecuali. Terus dimana penjagaan Anda terhadap kehormatan Anda dan orang lain?

Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mengatakan bahwa seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup dan melihat tingkah laku wanita pada zaman tersebut maka tentu beliau akan melarangnya untuk keluar rumah. Perkataan ini beliau katakan ketika para sahabat masih berada di tengah-tengah mereka dan mengajarkan ilmu kepada mereka, mereguk Islam seperti menikmati air langsung dari mata airnya, ketika para muslimah masih menjaga hijab-hijab mereka, bandingkanlah keadaan tersebut dengan sekarang ini dimana kebanyakan wanita sudah tidak bisa menjaga kehormatannya.

Wahai wanita malulah! Wahai para suami cemburulah! Wahai para orang tua jagalah anakmu dari kerusakan! Wahai para ikhwa yang akan menggenapkan separuh agamanya jagalah dirimu dan carilah wanita yang shalehah yang menjaga dirinya serta berlindunglah dari wanita yang masih suka “menjajakan” dirinya. Wallahu a'lam.

Senin, 21 Juni 2010

Facelim Alternatif Facebook, Buatan Muslim Muda Indonesia

Pelecehan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan event “Every body draw muhammad day” di Facebook menuai protes dari kaum Muslimin. Pemerintah Pakistan sendiri langsung memblokir facebook dan Youtube di negaranya karena memuat event tersebut. Ternyata hal tersebut juga memancing pemuda muslim untuk membuat situs jejaring sebagai alternative dari FB. Dimulai dari millatfacebook.com yang kabarnya dibuat oleh pemuda Pakistan dan kini telah mempunyai ratusan ribu user dari berbagai negeri. Dan alhamdulillah kini muncul situs pertemanan yang dibuat oleh pemuda muslim Indonesia facelim.com. Sekarang sudah memiliki ratusan anggota.


Dari tampilan sangat mirip FB tapi dengan warna dasar hijau. Versi bahasa yang tersedia masih ada dua yakni english dan Indonesia. Proses pendaftaran sangat mudah sebagaimana Facebook, bahkan lebih mudah karena Anda tak perlu nomor HP, untuk aktivasi cukup lewat email. Selain itu Anda dengan leluasa bisa merubah tampilan halaman berdasarkan pilihan yang ada. Dibanding dengan millatfacebook, akses facelim masih tergolong lebih cepat meski pernah drop, tapi alhamdulillah sudah berhasil ditangani.

Aplikasi boleh dibilang lengkap sebagaimana di FB bahkan ada yang menurut saya tidak ada di FB seperti fasilitas online store dan chat room. Yang lebih penting, Anda tak perlu menghilangkan iklan mesum (karena memang tidak ada, he..he). Anda tak perlu lagi menahan diri untuk klik iklan toh uangnya takkan mengalir ke Zionis Yahudi. Oh ya bagi Anda yang ingin beriklan silahkan hubungi nomor 081333679991 an. Haris Iwan.

Pengelola masih perlu untuk menambah kapasitas servernya untuk itu sangat diharapkan sokongan dana dari iklan dan juga donasi demi pengembangannya ke depan. Nah, cintai produk buatan muslim. Itu adalah boikot nyata!

Yahudi dalam Fakta dan al-Qur’an

Sekarang ini mendengar kata “yahudi” maka yang terlintas di kepala hanyalah kebobrokan demi kebobrokan kaum tersebut. Kejahatan, kebengisan, kelicikan, kecongkakan, pengingkaran, penjajahan, penjarahan, keras kepala dan rentetan keburukan yang lain selalu melekat di belakang nama kaum yang Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Qur’an juga menyebutnya dengan Bani Israil. Sejak dahulu sifat-sifat buruk tersebut telah melekat dan apa yang kita saksikan sekarang ini hanyalah lanjutan dari pendahulu-pendahulu mereka. Allah Subahanhu wa Ta’ala telah menegaskan dalam al-Qur’an:
“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”. (QS. al-Isra’ : 4).
Paling keras permusuhannya dengan Islam

Ketika kita kembali mengingat sejarah orang-orang yahudi yang suka membantah ajakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju jalan yang benar, maka kita bisa melihat betapa angkuh dan keras hati mereka. Kebencian mereka terhadap Islam tak akan pernah surut sampai kapan pun. Mereka tak akan pernah rela kepada umat Islam, sampai umat Islam mau mengikuti hawa nafsu mereka. Memang musuh Islam banyak (tak hanya yahudi), bahkan orang yang beragama Islam yang munafik kepada agama Islam bisa menjadi musuh Islam juga. Namun, rasa permusuhan yang ada dalam hati para yahudi lebih keras dan sadis dibanding dengan musuh-musuh yang lain.

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang yahudi dan orang-orang musyrik…” (QS. Al-Maidah : 82).

Kita semua sekarang juga bisa melihat fakta kebencian mereka terhadap orang-orang Islam yang ada di Gaza. Bertahun-tahun yahudi Israel menjajah, mengusir dan menyiksa rakyat Palestina.

Israel dan Amerika menuduh Hamas adalah kelompok teroris yang harus dihancurkan, padahal Israel dan AS yang sebenarnya lebih pantas disebut Teroris. Banyak fakta-fakta yang kuat yang bisa dijadikan penguat atas hal ini, seperti pembunuhan ratusan ribu orang di Irak atas tuduhan senjata pemusnah masal/nuklir yang akhirnya tak bisa dibuktikan oleh George W. Bush, begitu juga pembantaian oleh tentara-tentara Israel kepada warga sipil di Gaza, Palestina. Sungguh sikap mereka sangat keji dan tidak manusiawi.

Dan permusuhan tersebut akan berlanjut hingga akhir zaman sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan (pernah) senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka…” (QS. al-Baqarah : 120)
Membunuh adalah hal biasa

Pembunuhan ribuan orang di Gaza dan pembantaian 20-an relawan di kapal Mavi Marmara hanyalah rentetan kecil catatan kejahatan pembunuhan yang dilakukan oleh yahudi. Pembunuhan bukan hal asing dalam sejarah yahudi. Sebab dalam pandangan mereka wajib memerangi orang-orang yang kontroversi dengan keinginan mereka, bahkan nabi-nabi yang di utus kepada mereka, seperti Nabi Zakariya dan Nabi Yahya pun dibunuh. Mereka juga mengira telah berhasil membunuh Nabi Isa dan bangga atas usahanya. Tapi Al-Quran membantahnya (QS.an-Nisaa’:157).

Yahudi bangsa penakut

Penyerangan terhadap relawan di kapal Mavi Marmara adalah bukti kepengecutan yahudi. Relawan yang tak bersenjata di serang dengan persenjataan lengkap. Ketakutan yang berlebihan akan adanya senjata yang diselundupkan di kapal tersebut memperkuat bukti paranoidnya. Menurut statemen mereka sendiri bahwa mereka melarang selempeng besipun masuk di Gaza termasuk semen dan benda yang dianggap berbahaya, mereka takut para pejuang Hamas menjadikannya senjata. Padahal mereka dengan bebasnya membuat senjata nuklir, dan sebagaimana kita ketahui bahwa Israel adalah salah satu negara yang menolak menandatangani kesepakatan pembatasan nuklir di dunia!

Sejak dahulu bangsa yahudi memang penakut. Mereka pernah menolak janji Allah yang memastikan kemenangan jika mau berperang bersama Nabi Musa, membuktikan sebenarnya yahudi adalah bangsa penakut, pesimis, tamak terhadap dunia, dan lebih memilih hidup hina daripada mati mulia. Perhatikan dialog mereka dengan Nabi Musa ‘alaihi salam berikut ini yang termaktub dalam al-Qur’an

“Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.
Mereka berkata: “Wahai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.”
Berkatalah dua orang (Musa dan Harun) di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS. al-Mai’dah : 21-24)

Janji penyemangat dari Nabi Musa mereka tanggapi dingin, bahkan dengan sombongnya menyuruh Musa dan Tuhannya saja yang berperang.

“Mereka berkata: “Wahai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”. (QS. al-Mai’dah : 25)

Karena pembangkangannya kaum yahudi diharamkan untuk masuk di tanah suci tersebut.

Keras kepala dan Menghalalkan segala cara

Al-Quran menggambarkan bahwa kerasnya batu tidak bisa mengimbangi kerasnya hati kaum yahudi. Sebab masih ada batu yang terbelah lalu keluar mata air darinya dan ada juga yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah (QS. 2:74). Keras hati kaum yahudi ini di antaranya disebabkan hobi mereka mendengarkan berita dusta dan makan dari usaha yang diharamkan (QS. 5:24).

Salah satu sistem perdagangan hasil cetusan dari yahudi adalah riba, saat ini sistem ini telah menjamur baik di kalangan non muslim ataupun muslim sendiri, harta haram yang mereka makan dari sistem ini menjadi salah satu penyebab butanya hati mereka dari larangan Allah untuk melakukan praktek riba.

“Pintar” membolak-balikkan fakta

Ada hal yang mengherankan dari insiden “Mavi Marmara”. Zionis yahudi yang telah jelas-jelas melanggar karena menyerang masyarakat sipil tak bersenjata di perairan internasional,tapi dengan kekuatan media yang mereka kuasai, dengan mudahnya mereka membolak-balikkan fakta.

Mereka menyebarkan berita bohong di media-media bahwa merekalah yang diserang dengan senjata api dari para relawan, padahal sebilah pisaupun tidak dimiliki oleh relawan. Kalaupun tentara yahudi diserang oleh relawan toh itu adalah suatu hal yang wajar karena mereka datang seperti penyamun dan membajak kapal.

Merekapun berkilah bahwa tak akan membiarkan siapapun untuk mengganggu kedaulatannya, padahal para relawan datang bukan untuk menyerang Zinosi tapi untuk memberi bantuan kepada penduduk Gaza yang kelaparan. Bahkan zionislah yang mengganggu kedaulatan laut Gaza. Zionis tidak memiliki hak untuk mengendalikan perairan teritorial milik Gaza apalagi untuk menghentikan armada bantuan yang datang untuk masuk di perairan Gaza. Paradoks!

Kebiasaan membolak-balikkan fakta tersebut ternyata lagi-lagi bukanlah hal yang baru, kitab suci yang merupakan wahyu Allah mereka ubah dengan tangan mereka dan mengatakan ini dari Allah.

“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui.” (QS. al-Baqarah : 75)

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, karena apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, karena apa yang mereka kerjakan.” (QS. al-Baqarah : 79)

Suka melanggar dan ingkar janji

Penyerangan atas Mavi Marmara di perairan bebas internasional adalah melanggar hukum internasional. Penggunaan bom cluster, pembunuhan masyarakat sipil tak bersalah, penyiksaan dan pemerkosaan wanita dalam penjara adalah pelanggaran atas konvensi Jenewa. Tapi bagi zionis yahudi itu hal biasa. Berbagai perjanjian telah disepakati antara zionis dengan Palestina tapi semua berakhir dengan pengkhianatan yahudi. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan kepada kita akan karakter lekat yahudi tersebut

“(Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya).” (QS. al-Anfal : 56)

Inilah fakta lain tentang yahudi yang sudah diungkapkan Al-Quran sejak awal risalah Islam. Karenanya akan sangat aneh jika masih ada pemimpin Islam yang berharap banyak untuk mengadakan perjanjian dengan Israel, seolah-olah lupa dengan Fakta Quran dan fakta sejarah kenabian. Jika kita membaca ulang sejarah yahudi dalam Sirah Nabawiyah, maka akan ada kesimpulan utuh bahwa sejarah Yahudi adalah sejarah pembangkangan dan pengkhianatan.

Bahkan sampai-sampai Allah Ta’ala mengangkat bukti Thursina untuk mengambil janji agar mereka melaksanakan Taurat tapi mereka kemudian mengatakan “Kami dengar tetapi tidak mentaati”. (QS. al-Baqarah : 93)

Penutup

Sejak dahulu al-Qur’an telah membuka borok-borok yahudi dan sekarang kitapun masih melihat bahwa apa yang ada dalam al-Qur’an khususnya berkaitan dengan mereka adalah, dari dulu dan sekarang ternyata mereka sama saja.

Wallahu a’lam.

Diterbitkan di buletin al Balagh edisi 67 tahun V Jumadil Akhir 1431 H

Sabtu, 12 Juni 2010

Pelajaran dari Kebrutalan Zionis Yahudi

Untuk kesekian kalinya zionis israel kembali menunjukkan wajah aslinya di hadapan dunia internasional. Ancaman militer israel yang akan menyerang armada kapal Freedom Flotilla ternyata benar-benar dibuktikannya. Penyerangan yang dilakukan Israel ini dilakukan saat kapal Mavi Marmara sedang berada di perairan internasional. Padahal para aktivis tersebut tidak memiliki senjata yang membahayakan sebagaimana yang disinyalir oleh Israel, bahkan sebilah pisaupun karena ada aturan ketat bagi para aktivis untuk tidak mempersenjatai diri.

Dr Hazim Faruk Mansur relawan yang berasal dari Mesir menceritakan, sekitar jam empat dini hari, mereka melakukan shalat subuh berjamaah. Namun di tengah-tengah shalat, mereka dikejutkan dengan beberapa helikopter yang terbang di atas kapal mereka, serta 4 kapal yang dilengkapi dengan meriam dan 16 kapal lainnya yang membawa sekitar delapan orang di setiap kapal.

Kemudian helikopter itu langsung menurunkan serdadunya dengan senjata yang lengkap, dan menembakkannya kepada mereka. Seketika para relawan langsung berlarian. Namun sebagian dari mereka ada yang tertangkap oleh tentara Israel, dan tidak segan-segan tentara Israel itu membunuh mereka di depan relawan lainnya. Ketika itu sebanyak 14 relawan dari Turki langsung gugur di tempat, dan beberapa beberapa orang lainnya luka-luka.

Setelah itu tentara Israel menyerang tempat yang digunakan sebagai perlindungan para relawan perempuan. Tentara itu menodongkan senjata ke kepala mereka. Tentara Israel memperlakukan mereka dengan kejam, tidak pandang bulu. Semua orang akhirnya diborgol.

Armada kapal yang mengangkut 700 relawan dan 10.000 ton bantuan untuk rakyat Palestina akhirnya ditawan oleh Israel. Menurut kabar terakhir 20 aktivis gugur akibat dari insiden tersebut.

Beberapa hari sebelumnya teroris Israel juga melakukan serangan udara di jalur utara Gaza dan melukai sedikitnya 15 rakyat sipil dan polisi.

Zionisme, gerakan haus darah

Catatan sejarah telah mengoleksi berbagai kebengisan zionis yahudi, negara Israel yang mereka dirikan di atas tanah Palestina yang mereka rampas, mereka bangun dengan tumpahan darah kaum Muslimin. Sudah lebih 60 tahun Pelestina dan Masjidil Aqsha dalam cengkraman Israel, sudah ribuan nyawa muslim yang menjadi korban, dan tak terhitung rumah dan pemukiman yang digusur oleh buldozer Israel. Tak terhitung penduduk Palestina yang terusir dari kampung halamannya.

Insiden “Mavi Marmara” hanyalah contoh kejahatan “kecil” Israel, masih ingat dengan agresi militer yang dilakukan Israel terhadap penduduk Gaza pada Januari tahun 2009 lalu? Perang tak seimbang dan membabi buta tersebut menewaskan ribuan rakyat Palestina dan kebanyakan yang tewas adalah anak-anak dan wanita, jadi pembantaian di Mavi Marmara masih tergolong “kecil”.

Bahkan dengan bangganya Netanyahu, perdana menteri Israel dalam konferensi persnya mengatakan apa yang dilakukan tentaranya sudah benar. Kecaman-kecaman yang datang dari berbagai pihak hanya dianggap sebagai angin lalu dan nampaknya Israel memang sudah bermuka tebal untuk itu.

Jangan berharap pada orang kafir!

Tindakan brutal Israel yang telah jelas melanggar hukum internasional karena menyerang di kawasan perairan internasional ditanggapi dingin oleh Dewan Keamanan PBB. Amerika Serikat yang selama ini gencar memerangi “teroris” pun untuk kesekian kalinya bungkam dan hanya menyampaikan “penyesalan” pada korban jiwa dan cedera yang diakibatkan oleh penggunaan kekerasan oleh pasukan Israel, gedung putih hanya sampai pada kalimat ‘menyesalkan’ tanpa berani mengutuk.

Sungguh benar firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (QS: Al Maa’idah/5:51)

Untuk menyelesaikan konfrontasi-konfrontasi antara Palestina dan israel, sejak terbentuknya negara Israel secara sepihak, Amerika yang mengontrol PBB hanya mengeluarkan resolusi-resolusi yang menguntungkan Israel, dan jika dianggap merugikan oleh israel maka resolusi itu hanya akan menjadi basi, sebagaimana seruan AS kepada israel untuk menghentikan pembangunan 1000 pemukiman baru, namun selang setelah itu israel mengumumkan untuk tetap melanjutkan pembangunan pemukiman tersebut. Di mata internasional ini jelas mempermalukan AS, tapi alhasil hubungan keduanya masih akrab saja. Jadi semua hanya sebagai sandiwara saja, tak lebih!

Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan dalam sebuah hadits bahwa ada seorang lelaki dari kalangan musyrikin bertemu dengan Nabi shallahu ‘alaihi wa salam, dan ingin ikut berperang bersama-sama bersama beliau, kemudian beliau bersabda kepadanya, “Pulanglah, sesungguhnya kami tidak akan pernah meminta pertolongan kepada orang musyrik”.

Kemenangan tidak akan mungkin digantungkan dengan pertolongan dan berteman dengan orang-orang kafir, yang mereka sudah terang-terangan memusuhi kaum muslimin. Hal ini seperti juga dikemukakan oleh Ibnu Jarir, yang dengan sangat tegas, yang memberikan komentar firman Allah Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu)”, mengatakan, “Orang-orang yang mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin, maka ia digolongkan sebagai pengikut orang kafir”, ucapnya.

Karena orang yang orang lain sebagai pemimpin, maka ia akan selalu bersamanya, bersama keyakinannya dan bersama apa yagn diridhai pemimpinnya. Jika ia telah ridha kepadanya dan agamanya, berarti ia telah mengesampingkan segala hal yang ia benci dari sifat-sifat orang kafir.

Bahaya Sekularisme

Terus apa reaksi dunia, khususnya negara Islam? Seperti biasa tidak lebih dari sekedar kecaman dan penyampaian rasa prihatin belasungkawa. Pada agresi militer Israel tahun lalu, kaum muslimin yang berjumlah lebih dari 1,5 milar –termasuk saya dan Anda- hampir tak berkutik dan hanya menjadi penonton ketika saudaranya dibantai oleh yahudi yang hanya berjumlah 5 juta jiwa di Israel. Batasan teritorial negara telah memecah kekuatan kaum muslimin menjadi lemah, parahnya paham pemisahan antara urusan agama dengan urusan negara (sekularisme) telah menjadai “trend” di beberapa negara Islam. Agresi militer dan pencamplokan tanah yang dilancarkan oleh Israel terhadap Palestina hanya dianggap sebagai masalah antara dua negara saja.

Perlu untuk kita ketahui bahwa konflik Palestina-israel bukanlah konflik antar Negara tapi ia adalah konflik antar dua agama yang berbeda, Islam dan yahudi. Dalam melegitimasi aksinya israel mengklaim bahwa wilayah Palestina (Yerussalam) adalah “tanah yang dijanjikan” sebagaimana yang tertera dalam Talmud, kitab suci bagi mereka. Lebih dari itu, berdirinya “Negara Israel” merupakan hasil konspirasi musuh-musuh Islam terhadap kaum muslimin di Palestina khususnya dan masjid Al Aqsha, kiblat umat Islam yang pertama.

Terbukti hanya berselang 10 menit setelah proklamasi “kemerdekaan Israel” , Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman langsung mengumumkan sikap resmi negaranya dengan mengakui dan mendukung berdirinya “Negara Israel”, serta langsung membuka hubungan diplomatik secara resmi.

Tapi sayang, meski dianggap sebagai konflik agama, Negara Islam yang sudah dirasuki sistem sekuler tidak bisa berbuat apa-apa, semua kebijakan kemudian didasarkan pada untung rugi negara, ghirah ukhuwah Islamiyah (semangat persatuan Islam) sudah dikesampingkan di atas kepentingan negara.

Yang menggemaskan Negara Mesir yang notabene adalah Negara Islam juga turut membantu Israel melakukan blokade terhadap Palestina di Jalur Gaza dengan membuat tembok baja sepanjang perbatasan Mesir-Palestina untuk menutup terowongan yang selama ini digunakan untuk menyalurkan bantuan bagi rakyat Palestina. Meski pasca insiden “Mavi Marmara” jalur untuk masuk ke Mesir kembali dibuka itupun hanya pada jam-jam tertentu saja.

Jika pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, pembunuhan satu orang muslim karena membela kehormatan muslimah yang diganggu oleh yahudi sudah menjadi alasan kuat untuk mengusir satu kabilah yahudi dari Madinah, maka sekarang ini kematian ribuan kaum muslimin di tangan yahudi tak cukup kuat untuk menggerakkan pemimpin Negara Islam untuk sekedar mencegah penzhaliman tersebut. Ini adalah keberhasilan kaum kafir untuk memecah belah Islam dengan virus sekularisme yang mereka tanamkan dan tak jarang mereka paksakan untuk menjadi sistem dalam Negara Islam.

Keikhlasan dalam berjuang

Manusia hanya mampu berusaha dan hasilnya hanya Allah-lah yang menentukan. Keinginan para relawan untuk sampai dan memberikan bantuan pada rakyat Palestina di Gaza adalah hal yang mulia. Namun yang paling penting adalah keikhlasan dalam perjuangan tersebut dan dimanapun keikhlasan itu sebenarnya harus selalu ada dan dijaga. Meskipun mereka pada akhirnya tidak berhasil sampai di Gaza namun dengan niat mereka yang ikhlas insya Allah mereka dalam hal ini telah mendapat “kemenangan yang besar”. Dalam perjuangan menang kalah adalah hal yang lumrah. Bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sang Penentu, hasil bukanlah masalah namun sejauhmana keikhlasan yang dilandasi tauhid dalam proses tersebut.

Mudah-mudahan saudara-saudara kita yang telah berupaya untuk masuk ke Gaza mendapat pahala sebagaimana keikhlasan mereka. Tak lupa kita mendoakan saudara kita di Palestina untuk tetap sabar dalam cobaan yang mereka hadapi.

“…Ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, jalan keluar bersama kesempitan dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.” (HR. At Tirmidzi)

Wallahu A’lam