Sabtu, 12 Juni 2010

Pelajaran dari Kebrutalan Zionis Yahudi

Untuk kesekian kalinya zionis israel kembali menunjukkan wajah aslinya di hadapan dunia internasional. Ancaman militer israel yang akan menyerang armada kapal Freedom Flotilla ternyata benar-benar dibuktikannya. Penyerangan yang dilakukan Israel ini dilakukan saat kapal Mavi Marmara sedang berada di perairan internasional. Padahal para aktivis tersebut tidak memiliki senjata yang membahayakan sebagaimana yang disinyalir oleh Israel, bahkan sebilah pisaupun karena ada aturan ketat bagi para aktivis untuk tidak mempersenjatai diri.

Dr Hazim Faruk Mansur relawan yang berasal dari Mesir menceritakan, sekitar jam empat dini hari, mereka melakukan shalat subuh berjamaah. Namun di tengah-tengah shalat, mereka dikejutkan dengan beberapa helikopter yang terbang di atas kapal mereka, serta 4 kapal yang dilengkapi dengan meriam dan 16 kapal lainnya yang membawa sekitar delapan orang di setiap kapal.

Kemudian helikopter itu langsung menurunkan serdadunya dengan senjata yang lengkap, dan menembakkannya kepada mereka. Seketika para relawan langsung berlarian. Namun sebagian dari mereka ada yang tertangkap oleh tentara Israel, dan tidak segan-segan tentara Israel itu membunuh mereka di depan relawan lainnya. Ketika itu sebanyak 14 relawan dari Turki langsung gugur di tempat, dan beberapa beberapa orang lainnya luka-luka.

Setelah itu tentara Israel menyerang tempat yang digunakan sebagai perlindungan para relawan perempuan. Tentara itu menodongkan senjata ke kepala mereka. Tentara Israel memperlakukan mereka dengan kejam, tidak pandang bulu. Semua orang akhirnya diborgol.

Armada kapal yang mengangkut 700 relawan dan 10.000 ton bantuan untuk rakyat Palestina akhirnya ditawan oleh Israel. Menurut kabar terakhir 20 aktivis gugur akibat dari insiden tersebut.

Beberapa hari sebelumnya teroris Israel juga melakukan serangan udara di jalur utara Gaza dan melukai sedikitnya 15 rakyat sipil dan polisi.

Zionisme, gerakan haus darah

Catatan sejarah telah mengoleksi berbagai kebengisan zionis yahudi, negara Israel yang mereka dirikan di atas tanah Palestina yang mereka rampas, mereka bangun dengan tumpahan darah kaum Muslimin. Sudah lebih 60 tahun Pelestina dan Masjidil Aqsha dalam cengkraman Israel, sudah ribuan nyawa muslim yang menjadi korban, dan tak terhitung rumah dan pemukiman yang digusur oleh buldozer Israel. Tak terhitung penduduk Palestina yang terusir dari kampung halamannya.

Insiden “Mavi Marmara” hanyalah contoh kejahatan “kecil” Israel, masih ingat dengan agresi militer yang dilakukan Israel terhadap penduduk Gaza pada Januari tahun 2009 lalu? Perang tak seimbang dan membabi buta tersebut menewaskan ribuan rakyat Palestina dan kebanyakan yang tewas adalah anak-anak dan wanita, jadi pembantaian di Mavi Marmara masih tergolong “kecil”.

Bahkan dengan bangganya Netanyahu, perdana menteri Israel dalam konferensi persnya mengatakan apa yang dilakukan tentaranya sudah benar. Kecaman-kecaman yang datang dari berbagai pihak hanya dianggap sebagai angin lalu dan nampaknya Israel memang sudah bermuka tebal untuk itu.

Jangan berharap pada orang kafir!

Tindakan brutal Israel yang telah jelas melanggar hukum internasional karena menyerang di kawasan perairan internasional ditanggapi dingin oleh Dewan Keamanan PBB. Amerika Serikat yang selama ini gencar memerangi “teroris” pun untuk kesekian kalinya bungkam dan hanya menyampaikan “penyesalan” pada korban jiwa dan cedera yang diakibatkan oleh penggunaan kekerasan oleh pasukan Israel, gedung putih hanya sampai pada kalimat ‘menyesalkan’ tanpa berani mengutuk.

Sungguh benar firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (QS: Al Maa’idah/5:51)

Untuk menyelesaikan konfrontasi-konfrontasi antara Palestina dan israel, sejak terbentuknya negara Israel secara sepihak, Amerika yang mengontrol PBB hanya mengeluarkan resolusi-resolusi yang menguntungkan Israel, dan jika dianggap merugikan oleh israel maka resolusi itu hanya akan menjadi basi, sebagaimana seruan AS kepada israel untuk menghentikan pembangunan 1000 pemukiman baru, namun selang setelah itu israel mengumumkan untuk tetap melanjutkan pembangunan pemukiman tersebut. Di mata internasional ini jelas mempermalukan AS, tapi alhasil hubungan keduanya masih akrab saja. Jadi semua hanya sebagai sandiwara saja, tak lebih!

Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan dalam sebuah hadits bahwa ada seorang lelaki dari kalangan musyrikin bertemu dengan Nabi shallahu ‘alaihi wa salam, dan ingin ikut berperang bersama-sama bersama beliau, kemudian beliau bersabda kepadanya, “Pulanglah, sesungguhnya kami tidak akan pernah meminta pertolongan kepada orang musyrik”.

Kemenangan tidak akan mungkin digantungkan dengan pertolongan dan berteman dengan orang-orang kafir, yang mereka sudah terang-terangan memusuhi kaum muslimin. Hal ini seperti juga dikemukakan oleh Ibnu Jarir, yang dengan sangat tegas, yang memberikan komentar firman Allah Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu)”, mengatakan, “Orang-orang yang mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin, maka ia digolongkan sebagai pengikut orang kafir”, ucapnya.

Karena orang yang orang lain sebagai pemimpin, maka ia akan selalu bersamanya, bersama keyakinannya dan bersama apa yagn diridhai pemimpinnya. Jika ia telah ridha kepadanya dan agamanya, berarti ia telah mengesampingkan segala hal yang ia benci dari sifat-sifat orang kafir.

Bahaya Sekularisme

Terus apa reaksi dunia, khususnya negara Islam? Seperti biasa tidak lebih dari sekedar kecaman dan penyampaian rasa prihatin belasungkawa. Pada agresi militer Israel tahun lalu, kaum muslimin yang berjumlah lebih dari 1,5 milar –termasuk saya dan Anda- hampir tak berkutik dan hanya menjadi penonton ketika saudaranya dibantai oleh yahudi yang hanya berjumlah 5 juta jiwa di Israel. Batasan teritorial negara telah memecah kekuatan kaum muslimin menjadi lemah, parahnya paham pemisahan antara urusan agama dengan urusan negara (sekularisme) telah menjadai “trend” di beberapa negara Islam. Agresi militer dan pencamplokan tanah yang dilancarkan oleh Israel terhadap Palestina hanya dianggap sebagai masalah antara dua negara saja.

Perlu untuk kita ketahui bahwa konflik Palestina-israel bukanlah konflik antar Negara tapi ia adalah konflik antar dua agama yang berbeda, Islam dan yahudi. Dalam melegitimasi aksinya israel mengklaim bahwa wilayah Palestina (Yerussalam) adalah “tanah yang dijanjikan” sebagaimana yang tertera dalam Talmud, kitab suci bagi mereka. Lebih dari itu, berdirinya “Negara Israel” merupakan hasil konspirasi musuh-musuh Islam terhadap kaum muslimin di Palestina khususnya dan masjid Al Aqsha, kiblat umat Islam yang pertama.

Terbukti hanya berselang 10 menit setelah proklamasi “kemerdekaan Israel” , Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman langsung mengumumkan sikap resmi negaranya dengan mengakui dan mendukung berdirinya “Negara Israel”, serta langsung membuka hubungan diplomatik secara resmi.

Tapi sayang, meski dianggap sebagai konflik agama, Negara Islam yang sudah dirasuki sistem sekuler tidak bisa berbuat apa-apa, semua kebijakan kemudian didasarkan pada untung rugi negara, ghirah ukhuwah Islamiyah (semangat persatuan Islam) sudah dikesampingkan di atas kepentingan negara.

Yang menggemaskan Negara Mesir yang notabene adalah Negara Islam juga turut membantu Israel melakukan blokade terhadap Palestina di Jalur Gaza dengan membuat tembok baja sepanjang perbatasan Mesir-Palestina untuk menutup terowongan yang selama ini digunakan untuk menyalurkan bantuan bagi rakyat Palestina. Meski pasca insiden “Mavi Marmara” jalur untuk masuk ke Mesir kembali dibuka itupun hanya pada jam-jam tertentu saja.

Jika pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, pembunuhan satu orang muslim karena membela kehormatan muslimah yang diganggu oleh yahudi sudah menjadi alasan kuat untuk mengusir satu kabilah yahudi dari Madinah, maka sekarang ini kematian ribuan kaum muslimin di tangan yahudi tak cukup kuat untuk menggerakkan pemimpin Negara Islam untuk sekedar mencegah penzhaliman tersebut. Ini adalah keberhasilan kaum kafir untuk memecah belah Islam dengan virus sekularisme yang mereka tanamkan dan tak jarang mereka paksakan untuk menjadi sistem dalam Negara Islam.

Keikhlasan dalam berjuang

Manusia hanya mampu berusaha dan hasilnya hanya Allah-lah yang menentukan. Keinginan para relawan untuk sampai dan memberikan bantuan pada rakyat Palestina di Gaza adalah hal yang mulia. Namun yang paling penting adalah keikhlasan dalam perjuangan tersebut dan dimanapun keikhlasan itu sebenarnya harus selalu ada dan dijaga. Meskipun mereka pada akhirnya tidak berhasil sampai di Gaza namun dengan niat mereka yang ikhlas insya Allah mereka dalam hal ini telah mendapat “kemenangan yang besar”. Dalam perjuangan menang kalah adalah hal yang lumrah. Bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sang Penentu, hasil bukanlah masalah namun sejauhmana keikhlasan yang dilandasi tauhid dalam proses tersebut.

Mudah-mudahan saudara-saudara kita yang telah berupaya untuk masuk ke Gaza mendapat pahala sebagaimana keikhlasan mereka. Tak lupa kita mendoakan saudara kita di Palestina untuk tetap sabar dalam cobaan yang mereka hadapi.

“…Ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, jalan keluar bersama kesempitan dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.” (HR. At Tirmidzi)

Wallahu A’lam

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi komentar dengan tetap mengedepankan adab berkomunikasi secara syar'i