Kamis, 29 Juli 2010

Back to al-Qur’an

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)
Al-Qur’an adalah petunjuk dan jalan hidup
Sebuah alat elektronik biasanya dilengkapi dengan buku petunjuk operasional. Kita semua tentu tahu dan  sepakat bahwa jika penggunaan alat tersebut tidak sesuai dengan yang tertera dalam buku petunjuk, tentu akan berdampak negatif terhadap alat tersebut yang pada akhirnya hanya akan membuatnya rusak dan tidak bisa digunakan. Iya, karena kita yakin buku itu dibuat oleh si pembuat alat tersebut yang tentu lebih tahu cara mengoperasikan dan menjaga agar alat tersebut tidak rusak.

Begitulah al-Qur’an dan sunnah, dua warisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, petunjuk segala lini dan sendi kehidupan manusia dalam upaya meraih kebahagiaan hakiki dunia akhirat. Secara khusus al-Qur’an berisi firman-firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan yang menciptakan kita, dunia dan seisinya, yang lebih tahu apa yang terbaik buat kita, Yang lebih tahu apa yang dapat merusak kehidupan kita.
Maka jika kita percaya pada apa yang dijelaskan si pembuat buku, terus kenapa kita tidak percaya kepada yang menciptakan kita?


Seorang penulis pernah menyatakan bahwa sebagian kaum muslimin sekarang ini seakan menderita penyakit “rabun dekat”. Menurutnya, segala petunjuk dalam menjalani kehidupan menuju kebahagiaan hakiki telah ada di depan mata mereka, namun mereka tak peduli dan lebih memilih petunjuk yang lain. Kaum muslimin katanya melihat al-Qur’an sebagai petunjuk ketika mereka berada di masjid, namun ketika mereka berada di pasar-pasar, bank-bank, kantor-kantor maka petunjuk itu hilang tak berbekas berganti dengan aturan-aturan buatan manusia yang tentu saja sangat jauh dari kesempurnaan. Aturan yang hanya me-manage masalah secara kasuistik, parsial, temporer, jauh dari semangat dan nilai ukhrawi serta sederet kekurangan lainnya.
Jika mereka berpedoman pada al-Qur’an tentunya mereka telah meninggalkan transaksi riba. Jika betul mengaku sebagai hamba Allah, mengapa perintah menggunakan jilbab dalam al-Qur’an masih banyak dilalaikan oleh para muslimah? Jika betul mereka adalah hamba yang berserah diri kepada Allah, kenapa mereka lebih rela kepada hukum buatan manusia daripada hukum Allah? Singkatnya masih banyak amalan-amalan kita yang perlu untuk ditimbang dengan al-Qur’an.

Perkara untuk berpedoman pada petunjuk Allah melalui kitab-Nya, bukan sekedar pilihan atau seenaknya saja. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (QS. al-Ahzab: 36)
Tegasnya, menjadikan kitab Allah Subhanahu wa Ta`ala sebagai sumber petunjuk satu-satunya dalam kehidupan, dan mengembalikan segala masalah hanya kepada-Nya, merupakan suatu keharusan oleh setiap diri kita.

Umat meninggalkan al-Qur’an, akibatnya?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Berkatalah Rasul:”Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”. (QS. al-Furqan: 30)
Ada beberapa bentuk meninggalkan al-Quran. Setiap bentuk memiliki perbedaan kadarnya dengan yang lainnya, sebagaimana telah disebutkan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Adapun bentuk-bentuk meninggalkan al-Quran sebagai berikut. Pertama, tidak mau mendengarkannya, mengimaninya, dan memerhatikannya. Hal itu telah menyelisihi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Dan, apabila dibacakan Al-Quran, dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. al-A’raaf: 204).
Kedua, tidak mengamalkannya dengan tidak memerhatikan apa yang telah dihalalkan dan diharamkannya walaupun ia membacanya dan mengimaninya. Padahal, dalam ayat yang disebutkan di atas, al-Quran adalah petunjuk ke jalan yang lurus. Berarti, jika tidak melaksanakan al-Quran, kesesatan menjadi sebuah kepastian.
Ketiga, tidak mau berhukum dengan al-Quran, baik dalam masalah akidah maupun yang lainnya. Kemudian, menganggap bahwa al-Quran tidak memberikan keyakinan dan lafaz-lafaznya tidak menghasilkan keilmuan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Dan, Kami turunkan kepadamu Alkitab (al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS an-Nahl : 89).
Keempat, tidak merenungkannya, memahaminya, dan tidak berusaha untuk mengetahui keinginan Sang Pembicara di dalam al-Quran, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Firman Allah,
“Maka, apakah mereka tidak memerhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. an-Nisa: 82).
Para musuh Islam berusaha keras untuk menjauhkan kaum muslimin secara personal maupun kelompok dari sumber utama kekuatannya yaitu al-Quran. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh al-Quran sendiri mengenai target rahasia mereka dalam memerangi kaum muslimin dalam firman-Nya:
“Dan orang-orang yang kafir berkata:”Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka).” (QS. Fushshilat: 26)
Kesibukan kita terhadap al-Qur’an kini diganti dengan sinetron-sinetron dan acara televisi lainnya, musik dan konser-konsernya, dan segala bentuk yang melalaikan kita dari al-Qur’an yang sebenarnya dibalik itu adalah peran dari kuffar dan munafik untuk mengalihkan kita dari Islam, dari petunjuk Allah, al-Qur’an.
Jauhnya umat terhadap al-Quran merupakan suatu masalah besar yang sangat fundamental dalam tubuh kaum muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah mengangkat beberapa kaum dengan Kitab (al-Quran) ini dan menghinakan yang lain dengannya pula.” (HR. Muslim)
Heru Sriwidodo penulis buku “Inspiring Qur’an” menyatakan, tidak sedikit kaum muslimin yang memperlakukan al-Qur’an lebih rendah dari buku pelajaran sekolah padahal kitab suci itu merupakan pedoman yang menginspirasi Muslim mencapai sukses hidup di dunia dan akhirat. Bahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berhasil mengubah masyarakatnya dengan al-Qur’an. “(Umat) Islam ‘mundur’ karena meninggalkan Al Qur’an,” katanya.

Menurut Heru, keberhasilan umat Islam di masa lampau membentuk dan menguasai peradaban dunia selama 700 tahun sebelum bangsa-bangsa Barat maju adalah karena mereka berpegang teguh pada al-Qur’an. Namun umat Islam kemudian mengalami kemunduran setelah mereka meninggalkan al-Qur’an.
Ringkasnya, ketika umat Islam telah jauh dari Kitabullah, maka musibah dan malapetaka serta segala jenis penyakit hati akan datang silih berganti, sebagaimana yang saat ini kita lihat sendiri secara kasat mata.
Kita patut mencontoh masyarakat di Gaza, dalam kondisi yang serba kekurangan dan keamanan yang tidak terjamin mereka mendidik anak mereka sejak kecil untuk dekat dengan al-Qur’an. Mereka berlomba untuk memasukkan anak mereka dalam kamp-kamp penghapal al-Qur’an, maka tak heran ribuan penghapal al-Qur’an mereka cetak dalam waktu beberapa bulan. Mereka sadar betul bahwa kemenangan atas kaum kafir tidak akan mereka  raih kecuali dengan teguhnya mereka dan generasi penerus mereka dengan al-Qur’an.

Ini bisa dilihat dari penggalan surat yang dikirimkan oleh seorang muslimah Gaza kepada para muslimah di Indonesia yang dititipkan pada relawan dari Wahdah Islamiyah dan KOMAT Palestina yang menyampaikan bantuan di sana:
“…kami mendorong mereka untuk selalu mentarbiyah anak-anak mereka dengan tarbiyah Islamiyah dan komitmen dengan Syariat Allah; karena dalam itu semua terdapat pembinaan terhadap ruh dan jiwa, serta keteladanan terhadap akhlak Rasul kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia. Perhatikanlah sahabat mulia, ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu ketika mengatakan:
“Janganlah seorang dari kalian meminta dari dirinya selain al-Qur’an. Sebab jika ia mencintai al-Qur’an dan mengaguminya, niscaya ia akan mencintai Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun jika membenci al-Qur’an, maka ia akan membenci Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Karena itu, siapakah di antara kita yang dapat menerima dirinya atau anak-anaknya menjadi orang yang benci kepada Allah dan Rasul-Nya yang kelak akan memberi syafaat kepada kita di hari kiamat?
Itulah sebabnya, saya membisikkan ke telinga saudara-saudara kami tercinta, kaum muslimin di manapun berada: “Kalian harus terus mempelajari dan menghafalkan al-Qur’an, serta berpegang teguh dengan ajaran-ajaran Islam. Sebab sesungguhnya siapapun yang menginginkan kemuliaan dengan Islam, niscaya Allah akan memuliakannya. Namun siapa yang mencari kemuliaan dengan selain Islam, niscaya Allah akan menghinakannya.”
Menjadi pertanyaan sekarang, apakah ada terbetik dalam hati kita untuk menjadi penghapal al-Qur’an? Atau minimal keinginan kita untuk mempunyai anak yang hafidz (hapal) al-Qur’an yang kelak akan menjadi syafaat –insya Allah- di akhirat kelak. Tidakkah kita rindu jika kelak di akhirat kita memakai mahkota kehormatan disebabkan anak kita yang hafal al-Qur’an? Mestinya kita berbangga ketika anak-anak kita bisa menghapal al-Qur’an ketimbang mereka meraih gelar keduniaan yang belum tentu bermanfaat di dunia apalagi di akhirat.
Kita berdoa kepada Allah, semoga Dia mengerakkan hati dan memudahkan langkah kita dan umat Islam lainnya untuk kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Nabinya, sehingga menjadi umat yang terbaik sebagaimana firman-Nya :
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”  (QS. Ali Imran: 110)
Ramadhan akan menjelang, mari kita jadikan momentum tersebut untuk kembali pada al-Qur’an, membacanya, mentadabburinya, mengamalkan dan kalau bisa mengajarkannya, dimulai dari diri kita untuk kemudian mengajak kepada keluarga, teman dan umat muslim sekitar kita. Wallahu a’lam.[]

Diterbitkan di Buletin al-Balagh edisi 73 tahun V Sya’ban 1431 H

Silahkan daftar email Anda di bawah ini untuk mendapat kiriman tulisan dari kami
Masukkan alamat Email Anda:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi komentar dengan tetap mengedepankan adab berkomunikasi secara syar'i