Sabtu, 14 Agustus 2010

Mumpung Ramadhan, Nyalakan Nyalimu!

Malam ke 4 Ramadhan seperti biasa saya shalat tarwih di Masjid Wihdatul Ummah. Sebagaimana tiga malam sebelumnya masjid ini terisi ¾ bagian, kalau mengingat tahun lalu biasanya 10 malam terakhir masjid akan penuh oleh jama’ah yang kebanyakan berasal dari wilayah lain di kota Makassar bahkan dari luar kota untuk i’tikaf di masjid ini. Salah satu daya tariknya mungkin adalah bacaan Imam tarwih yang bagus dan panjang dan motivasi lain adalah bertemu dengan para ikhwah yang bersemangat dalam beribadah yang dengannya juga akan menambah semangat mereka.

Setelah selesai dua rakaat pertama, beberapa pemuda mengambil sajadah yang ada di hadapan mereka dan berkumpul di teras samping masjid, mereka berbicara satu dengan yang lainnya. Dari wajah mereka tampaknya mereka orang baru. Ketika berdiri untuk melanjutkan rakaat berikutnya, ekor mata saya menangkap keempat pemuda tersebut pergi entah kemana. Hmm, nampaknya mereka tidak kuat untuk melanjutkan shalat tarwih mereka di sini, mungkin mereka terkejut dengan bacaan imam yang panjang tidak seperti imam tarwih di masjid lainnya yang biasanya hanya membaca beberapa ayat saja tiap rakaatnya.


Dari fisik sebenarnya mereka pemuda yang kuat, setidaknya dibanding dengan beberapa orang tua yang ikut shalat tarwih pada saat itu. Terlebih dibanding para muslimah yang juga ikut shalat tarwih di lantai bawah, termasuk istri saya yang hamil 7 bulan.

Cuma yang mungkin tidak ada adalah semangat yang menyalakan nyali mereka. Yah, betapa banyak orang yang secara fisik kelihatan lemah tapi menjadi kuat karena semangat mereka yang menggebu. Sebaliknya betapa banyak orang yang kuat tapi bisanya hanya berbuat yang kecil-kecil karena semangatnya yang kerdil. Jadi, jangan lihat postur tubuh tabi’in Ahnaf bin Qais rahimahullah yang kurus dan penuh cacat, tapi lihat semangat dan keberanian Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu yang ada padanya. Yang oleh Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu mengatakan “Seandainya ia marah maka seluruh bani Tamim juga akan marah tanpa tahu penyebabnya.”

Anda juga mungkin pernah mendengar tentang sosok Al-Barra’ Ibn Malik radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saudara kandung dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat menyebutkan bahwa tubuhnya kecil dan kurus, tapi ia sangat terkenal karena semangat dan keberaniannya di medan perang. Pada perang melawan kaum murtadin yang pimpinan Musailamah al-Kadzdzab, al-Barra bin Malik adalah kunci bobolnya benteng pasukan Musailamah. Sebelumnya atas permintaan dirinya sendiri al-Barra dilemparkan ke dalam benteng tempat berlindung pasukan Musailamah, karena pada saat itu pasukan kaum muslimin yang dipimpin Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu tidak bisa mendekati dan membuka benteng karena hujan anak panah dari dalam benteng.

Sesampainya di dalam benteng pemilik semboyan “Allah dan Surga” tersebut langsung merangsek ke pasukan penjaga pintu benteng, memporak-porandakan mereka dan akhirnya berhasil membuka pintu benteng yang dengannya pasukan kaum muslimin bisa masuk dan menghancurkan pasukan si Nabi palsu, Musailamah al-Kadzdzab.

Saya jadi teringat dengan kekaguman syekh Mamduh Farhan al-Buhairi terhadap beberapa ikhwah Universitas Negeri Makassar (UNM) yang berhasil menangani safari dakwah Syaikh di Makassar. Kekaguman tersebut beliau tuangkan dalam tulisannya di majalah Qiblati edisi Ramadhan 1431. Awalnya syaikh dan ustadz yang ia temani meragukan kemampuan para ikhwa tersebut bisa memenej kegiatan syaikh dan segala apa yang ia perlukan selama di Makassar, melihat bahwa mereka rata-rata masih muda bahkan belum ada yang menikah. Namun akhirnya para ikhwa yang dikomandoi oleh al-Akh Ardian Kamal -Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi ketabahan kepadanya dan keluarganya atas meninggalnya Ayahanda beliau tadi malam, di Bone saat shalat Isya- bisa menangani dengan baik. Syaikh Mamduh, menyatakan bahwa mereka sebenarnya bukan orang-orang kecil tapi para ikhwah tersebut adalah orang-orang besar dikarenakan semangatnya yang besar.

Kembali pada shalat tarwih tadi, sebenarnya shalat tarwih dengan bacaan 1 juz yang kini dianggap oleh sebagian orang terlalu panjang jika dibanding dengan shalat yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat ridhwanullahi ‘ajma’in tidaklah ada apa-apanya.

“Dari Nu’man bin Basyir beliau berkata: kami pernah shalat berjama’ah bersama Rasulullah pada malam 23 di bulan Ramadhan sampai sepertiga malam yang pertama kemudian kami pada malam yang ke 25 shalat bersama Rasulullah hingga ½ malam, kemudian Rasulullah berdiri bersama kami pada malam ke 27 sampai kami menyangka bahwa kami tidak akan mendapatkan al-falah. Kami dulu menyebut bahwa makan sahur itu adalah al-falah” (HR. Ali Syaibah dishahihkan oleh syaikh Albani)
Dan masih banyak hadits lainnya yang menerangkan panjangnya bacaan shalat lail Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lagian shalat tarwih yang hanya sekitar 1,5 jam juga relative sebentar jika dibandingkan dengan konser musik berjam-jam, namun ternyata sekarang menghadiri konser musik dengan pengorbanan yang tidak sedikit, uang, waktu, berdiri berjam-jam, berdesakan dan panas justru lebih digandrungi oleh sebagian anak muda daripada hadir shalat tarwih meski dengan bacaan pendek-pendek sekalipun.

Jadi sebenarnya bukan pada panjang pendeknya tapi pada semangat dan keinginan yang tidak ada untuk menyalakan nyali. Ramadhan yang disebut Allah sebagai “ayyaman ma’dudat” (hari-hari yang berbilang” kadang pergi tanpa terasa, musim melimpahnya kebaikan seharusnya tidak dilewatkan begitu saja. Ibadah-ibadah selain shaum tentunya; seperti shalat lail (tarwih), tadarrus al-Qur’an, sedekah dan sebagainya jika kita lakukan dengan penuh keimanan dan semangat menggebu-gebu serta nyali yang menyala-nyala ingin mengharapkan limpahan pahala dari Allah insya Allah semua akan terasa ringan berganti dengan kepuasan, sebagaimana Al-Barra bin Malik dalam kisah di atas meskipun beliau mendapat 80 tusukan pedang…
wallahu a'lam.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi komentar dengan tetap mengedepankan adab berkomunikasi secara syar'i