Sabtu, 01 Oktober 2011

Beginilah Islam Menjaga Wanita

Menjaga Wanita  
Islam adalah syariat yang sempurna dan paripurna. Tak satupun persoalan di dunia ini melainkan telah diatur dan diberikan jalan keluar dalam Islam. Semua syariat (hukum) yang berasal dari arrahman, Allah Azza wa Jalla melalui perantaraan rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tiada lain adalah demi kemaslahatan ummat manusia. Dan siapakah yang lebih mengetahui apa yang terbaik baik bagi kehidupan manusia melebihi Allah Ta’ala yang menciptakan kita?

Termasuk yang menjadi perhatian besar dalam Islam adalah persoalan wanita. Tidak dipungkiri bahwa Islam datang dengan salah satu tujuannya adalah untuk memuliakan makhluk yang dikenal dengan kelembutannya ini. Pada zaman jahiliyah, wanita tak lebih dari sekedar benda dan pemuas nafsu bagi lelaki. Mereka tak berhak akan harta warisan, malah mereka menjadi salah satu ‘harta’ warisan.

Senin, 22 Agustus 2011

Anggap Saja Ini Ramadhan Terakhir

Anggap Saja Ini Ramadhan Terakhir
Ramadhan telah lewat separuh, Hari Raya Idul Fitri insya Allah tinggal beberapa hari lagi. Dalam beberapa hari tersisa ini bagi kaum muslimin yang benar-benar menginginkan keberkahan Ramadhan tentu lebih memaksimalkan lagi amalan-amalan ibadahnya. Shalat sunnah makin ia perbanyak, shalat berjam'aah ia takkan alpa, tadarrus Qur'an lebih ditingkatkan, sedekah makin digiatkan. Waktu untuk istirahat semakin sedikit untuk melaksanakan ibadah-ibadah tersebut, tapi itu tidaklah mengapa sebab kemenangan sudah ada di depan mata.

Ibarat pelari yang telah hampir mendekati garis finish, ia akan semakin mempercepat larinya. Ia akan dianggap pelari yang bodoh jika justru pada detik-detik yang menentukan itu ia malah memperlambat larinya.

Rabu, 13 Juli 2011

Bagaimana Kalau Bapak Saya Lempar dengan Batu Bata?

Beberapa Jama’ah tampak tersenyum dan tertawa mendengar guyonan seorang penceramah yang membawakan ceramah tarwih di atas mimbar, “…Bagaimana mungkin setan yang diciptakan dari api bisa disiksa dengan api, tidak masuk akal.” Penceramah mengulangi kata-katanya.
 
Tapi tidak semua jama’ah sepakat dan menerima pernyataannya, apalagi ikut tertawa. Tampak dari raut muka mereka ada yang menunjukkan kekurang setujuan. Termasuk seorang ustadz muda yang berada di jejeran depan. Hatinya panas mendengar keyakinannya sebagai orang Islam diobok-obok oleh sang penceramah dengan hanya berdasar pada logika lemah, tanpa dalil apalagi sampai menjadikannya bahan tertawaan. Ini tidak boleh dibiarkan! Ia pun berpikir cara untuk memberikan “pelajaran” kepada penceramah ini. Jama’ah tidak boleh diracuni dengan syubhat murahannya!

Sabtu, 02 Juli 2011

Apakah Bunda Teresa Masuk Surga?

 
Pertanyaan ini sering dilontarkan oleh kaum pluralis untuk memancing orang masuk ke dalam kajian pluralismenya, bahwa semua agama sama. Mereka tidak rela orang-orang yang berjasa terhadap kemanusiaan dikategorikan sebagai penghuni neraka “hanya” karena tidak beragama Islam.

Saya akan memperkenalkan sedikit bagi Anda yang belum mengenal Bunda Teresa. Dia adalah seorang biarawati berkebangsaan Albania. Separuh umurnya dia habiskan untuk mendedikasikan dirinya melayani masyarakat miskin di India. Tahun 1952, ia membuka Nirmal Hriday Home for Dying Destitutes di Kalkuta. Ia juga mendirikan rumah sakit lepra di luar kota Kalkuta.  Saat itu penderita lepra menjadi pemandangan umum di India dan di setiap bagian kota Kalkuta. Atas jasa-jasanya bagi masyarakat India, ia memperoleh penghargaan Padmashri pada tahun 1963. Kiprahnyapun di akui dunia dengan memperoleh penghargaan nobel perdamaian tahun 1979.

Jumat, 24 Juni 2011

Muslim, Nasrani dan Burung Beo

“Kalau begitu ya Alhamdulillah…”, ucapan tersebut meluncur dari pemilik toko yang selama ini saya kenal beragama Nasrani. Saya sempat kaget dengan perkataan tersebut. “Apa arti kata Alhamdulillah, bagi dia? Apakah dia tahu kalau makna kalimat ini begitu agung bagi seorang Muslim, Ini adalah kalimat pujian sebagai tanda syukur kepada sang Esa, Allah Subhanahu wa Ta’ala” pikirku. Beberapa bulan yang lalu anak pemilik toko komputer ini juga saya dengar mengucapkan, “Astaghfirullah…” ketika melihat barang-barang yang menumpuk dan belum diangkat.

Beberapa kalimat yang merupakan dzikir dalam Islam kini mulai menjadi “bumbu” lumrah dalam percakapan sehari-hari, baik yang diucapkan secara sadar ataupun tidak. Mungkin karena kalimat-kalimat tersebut telah menjadi kata serapan ke dalam bahasa Indonesia. Jika kita berjanji maka tak lengkap rasanya jika tanpa mengatakan “Insya Allah…”,. Jika kaget, kita serta merta juga mengucapkan, “Astaghfirullah…” atau “Masya Allah…”. Jika mendapat nikmat ucapan “Alhamdulillah…” menjadi penyempurnanya.

Sabtu, 18 Juni 2011

Ini Bukan Urusan Teh dan Kopi

Ini bukan urusan minuman
Seorang Ustadz membawakan pengajian di sebuah masjid. Hal yang dibahas adalah masalah bid'ah-bid'ah yang berkembang di masyarakat.

Pada sesi tanya jawab seseorang  memberikan pernyataan bahwa kita seharusnya tidak usah mempersoalkan  antara yang mana sunnah dan yang mana bid'ah. Sebab katanya semua itu ibarat minuman yang ada, tergantung orang mau pilih yang mana, mau teh atau kopi.

Argumen tersebut langsung disanggah oleh sang ustadz, bahwa ini bukan urusan teh dan kopi, tapi ini masalah surga dan neraka!

Sabtu, 11 Juni 2011

Antara Alfamart dengan Alfamaret


Warung Sari Laut Alfamaret” ini tertulis di spanduk sebuah warung di samping toko retail Alfamart. Bagi saya ini cukup menggelikan, ketenaran Alfamart dimanfaatkan oleh warung sari laut ini. Alfamart boleh dikata sudah dikenal luas di masyarakat, seiring dengan menjamurnya toko campuran ini. Nah, daripada membuat brand baru lebih baik menggunakan merek yang terkenal meski sedikit diplintir, dari Alfamart ke Alfamaret. Dijamin orang yang membacanya tidak akan mudah lupa. Begitu mungkin pikiran pemilik warung ini.

Buat Para Pendamba Khilafah

Saya pernah mendapat SMS seperti ini, 
“Jadi apakah dengan tegaknya khilafah umat dapat sejahtera dan mengerti akan agama Islam ini..? Sebagaimana dalam hadits bahwa khilafah akan tegak kembali sebagaimana di atas manhaj nubuwwah yang dilakukan para khullafaurrasyidin. Pertanyaannya adalah siapakah yang akan memperjuangkan atas tegaknya khilafah tersebut? Apakah akan datang sendiri atau sebagaimana firman Allah, “Barangsiapa yang menolong agama Allah niscaya Allah pun menolongnya”
 Tidak sulit untuk menebak arah pertanyaan di atas. Dengan tegaknya khilafah maka umat Islam akan sejahtera, mereka akan semakin mengenal Islam. Begitu? Tunggu dulu!

Rabu, 11 Mei 2011

Syi'ah Tidak Pantas Disebut Mazhab

Pantas disebut Mazhab?
Sejak dahulu para pengikut syi’ah memperjuangkan agar ajaran yang mereka anut diakui sebagai salah satu mazhab dalam Islam. Mereka ingin agar cap sesat terhadap mereka hilang dengan legalitas mazhab tersebut.

Di beberapa Negara Islam ajaran syi’ah adalah ajaran terlarang dan divonis sesat seperti di negara Arab Saudi, Brunai dan Malaysia. Di Indonesia meski belum di atur dalam peraturan pemerintah, namun MUI telah memfatwakan bahwa syi’ah adalah ajaran sesat dan menyesatkan. Meski demikian para pengikut sy’iah dengan berbagai cara gencar mewacanakan bahwa syi’ah adalah salah satu mazhab dalam Islam.

Senin, 25 April 2011

Cerita Unik di Balik UN

Berikut ini saya akan menceritakan beberapa kisah menarik terkait dengan pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Semua kejadian di bawah ini terjadi di kota Makassar, diceritakan oleh beberapa ikhwah melalui cerita lepas.
****
Seorang ustadz ditelpon oleh mutarabbinya. Si mutarabbi ini mengadukan kepadanya dan minta pertimbangan terhadap masalah yang saat itu dia hadapi. Katanya saat itu ia sedang mengawas Ujian Nasional (UN) di suatu sekolah. Tiba-tiba kepala sekolah tempat ia mengawas datang ke kelas, lalu tanpa minta izin langsung membagi kunci jawaban pada siswa yang lagi ujian.

Senin, 31 Januari 2011

Jilbab, Kehormatan Wanita Beriman

Peristiwa berikut ini terjadi pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. seorang perempuan Arab bercadar datang ke pasar Bani Qainuqa dengan membawa barang dagangan. Di pasar itu, wanita tersebut datang ke penjual emas. Tiba-tiba, orang-orang di pasar itu menggoda wanita tersebut dan membuka cadar yang dipakainya. Wanita itu sontak melawan dan menolak perlakuan seperti itu. Sang penjual emas rupanya juga bersekongkol dengan para penggoda wanita tersebut. Diam-diam, ia mengikatkan ujung kain yang dikenakan oleh wanita itu. Ketika wanita itu berdiri, kain yang dikenakannya pun lepas. Orang-orang Qainuqa ramai menertawakan wanita itu. Ia kemudian menjerit-jerit menahan malu.

Cari Artikel