Senin, 25 April 2011

Cerita Unik di Balik UN

Berikut ini saya akan menceritakan beberapa kisah menarik terkait dengan pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Semua kejadian di bawah ini terjadi di kota Makassar, diceritakan oleh beberapa ikhwah melalui cerita lepas.
****
Seorang ustadz ditelpon oleh mutarabbinya. Si mutarabbi ini mengadukan kepadanya dan minta pertimbangan terhadap masalah yang saat itu dia hadapi. Katanya saat itu ia sedang mengawas Ujian Nasional (UN) di suatu sekolah. Tiba-tiba kepala sekolah tempat ia mengawas datang ke kelas, lalu tanpa minta izin langsung membagi kunci jawaban pada siswa yang lagi ujian.
Kepala sekolah tersebut kemudian berkata kepadanya, bahwa kejadian yang tadi jangan sampai disebarkan ke orang lain. Si Ikhwa ini pun bingung, serba salah, membuatnya langsung menelpon murabbinya untuk meminta nasehat.
****
Kisah ini dialami seorang ustadz yang juga guru di salah satu sekolah Islam swasta. Saat itu ia sedang bertugas mengawas UN di salah satu sekolah (tentu saja di sekolah lain, sebab menurut aturan, guru tidak boleh mengawas UN di tempat ia mengajar). Di tengah ujian berlangsung, seorang guru di sekolah tersebut datang ke ruang tempat ia mengawas. Guru tersebut kemudian meminta izin kepadanya untuk membagi kunci jawaban pada siswa-siswanya. Tentu saja ia tidak membolehkannya. Namun guru tersebut tetap bersikeras karena katanya ini sudah disepakati oleh seluruh pengawas. Bahkan di awal pembicaraanya guru ini mengatakan, “sesuai dengan kesepakatan kita…”
Guru ini harus pergi sambil “gigit jari” karena sang ustadz tak goyah dengan pendiriannya. Tentu saja setelah mendengar sedikit ceramah darinya.
****
Cerita yang ini terjadi di lokasi lain, di sebuah tempat yang menjadi tempat berkumpulnya para pengawas UN, beberapa hari sebelum UN dilaksanakan.
Terjadi perdebatan sengit antara pengawas. Sebagian pengawas ingin agar para pengawas ujian memberikan kelonggaran terhadap segala upaya yang membantu siswa pada saat UN. Namun keinginan tersebut ditentang oleh sebagian guru yang notabene berasal dari sekolah Islam. Dengan diwakili oleh seorang guru para “penentang ini” mengemukakan alasan bahwa kecurangan tersebut tidak boleh dibiarkan, alih-alih untuk membantu anak malah membuat anak menjadi malas belajar karena mereka akan mendapat bantuan dari para gurunya. Terlebih jika kecurangan ini berlanjut dan ia bawa sampai dewasa sehingga melahirkan bentuk kecurangan yang lain, seperti korupsi, penggelapan uang dan sebagainya. Dan kalaupun ia menjadi guru kelak maka ia pun akan berlaku hal yang sama kepada siswanya jadilah UN hanya sekedar sandiwara. Kalau tidak dipangkas dari sekarang maka akhlaknya buruk ini akan menggurita.

Seorang kepala sekolah yang hadir pada rapat tersebut dengan terang-terangan berkata bahwa, seandainya ia punya banyak uang banyak maka ia akan membayar dengan jumlah yang besar kepada setiap pengawas asal pengawasan dilonggarkan. Namun pernyataan itu kembali disanggah oleh para guru yang kontra. Salah seorang dari mereka kembali menimpali bahwa itu adalah upaya sogok, “yang menyogok dan disogok sama-sama masuk neraka…”. Ucapan itu disambut riuh sebagai tanda setuju oleh sebagian hadirin. Mereka kemudian menegaskan bahwa mereka tidak akan menerima uang yang lebih dari yang telah ditetapkan. Jika lebih maka mereka akan mengembalikannya.
Cek percek ternyata kubu kontra ini tidak dipakai untuk mengawas di sekolah Bapak Kepsek tadi.
****
Duh UN, UN, standarmu tinggi dan sulit dikejar, sebagian guru jadi darah tinggi dan tambah “pintar”…

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi komentar dengan tetap mengedepankan adab berkomunikasi secara syar'i