Rabu, 26 Desember 2012

Mengapa Saya Tidak Mau Mengucapkan Selamat Natal?


Mengapa saya tidak mau mengucapkan selamat Natal? Saya punya banyak alasan untuk itu, di antaranya akan saya sebutkan secara gamblang dalam tulisan ini.

Saya tahu dari kaum kristiani sendiri bahwa hakikat Natal bagi kristiani adalah saat untuk menghayati kasih Tuhan melalui kelahiran putra-Nya yang dikenal dengan nama Yesus (Isa al-Masih). Allah punya putra? Ini adalah penisbatan yang keji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah telah melaknat orang yang berkeyakinan seperti ini dengan firman-Nya (yang artinya):

"Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu anak Allah, dan orang-orang Nasrani berkata. “Al Masih itu anak Allah. Demikianlah itu ucapan dengan mulut mereka, mereka meniru ucapan/perkataan orang-orang kafir yang terdahulu, dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling" (QS. At-Taubah [9] : 30)
Bagaimana saya bisa mengucapkan selamat kepada orang-orang yang telah dilaknat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Allah Subhanahu wa Ta’ala pun telah mencap mereka sebagai kafir:
"Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam", padahal Al-Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun" (QS. Al-Maidah [5] : 72) 
"Sesungguhnya kafir orang-orang yang mengatakan: "Bahwa Allah itu adalah salah seorang dari yang tiga (Tuhan itu ada tiga), padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak: berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan disentuh siksaan yang pedih" (QS. AI-Maidah [5] : 73) 
Apakah saya perlu memberikan selamat atas kekafiran dan ancaman neraka atas mereka? Bentuk toleransi apa yang bisa menerima itu?

Islam agama yang lurus telah mengajarkan kepada saya bahwa Allah itu Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):
"Katakanlah: "Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas [112] : 1-4)
Bagaimana mungkin akidah yang lurus ini saya campur adukkan dengan memberikan selamat atas kelahiran tuhan mereka?

Isa ‘alaihi salam memang patut kita hormati dan imani sebagai Nabi Allah dan tidak membeda-bedakannya dengan utusan Allah yang lain. Namun bukanlah bentuk penghormatan kepada beliau ‘alaihi salam dengan memberikan selamat kepada orang yang telah meninggalkan ajarannya bahkan menghinanya dengan menganggapnya sebagai anak tuhan.

Isa ‘alaihi salam yang mereka pertuhankan justru berlepas diri dari akidah syirik tersebut di akhirat kelak. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberitakannya dalam firman-Nya (yang artinya):
"Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putra Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia (kaummu) : jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah? Isa menjawab: "Maha Suci Engkau (Allah), tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya tentu Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku sedangkan Aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu: Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Tetapi setelah Engkau wafatkan aku, Engkau sendirilah yang Menjadi pengawas mereka. Engkaulah pengawas dan saksi atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana" (QS. Al-Maidah [5] : 116-118)
Jika Isa ‘alaihi salam sendiri telah berlepas diri dari kaum kristiani yang mempertuhankan dia, trus kenapa kita mau dengan legowo-nya mendatangi dan mengucapkan selamat atas kesesatan mereka?

Menjadikan sesembahan selain Allah adalah syirik. Syirik adalah dosa terbesar, tidak ada dosa yang lebih besar dari itu. Syirik merupakan satu-satunya dosa yang tak terampuni dan pelakunya terancam kekal di neraka.  Maka tak pantas pelaku syirik itu diberikan ucapan selamat? Sangat tak masuk akal kan ketika kita mengucapkan selamat kepada pezina, pemabuk, penjudi, pencuri? Maka lebih tak masuk akal lagi kita memberikan ucapan selamat kepada orang yang bermaksiat kepada Allah dengan dosa terbesar, syirik!

Na’udzubillahi mindzalik.

Makassar, 12 Shafar 1435 (25 Desember 2012)

Abinna Fauzan


0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi komentar dengan tetap mengedepankan adab berkomunikasi secara syar'i