Kumpulan catatan Zainal Lamu, socialpreneur yang masih belajar.

Minggu, 07 November 2010

Kalian Hidup seperti Binatang, namun Kalian Mencela Kami.

Kami sudah muak dengan protes dan celaan kalian. Kami muak dengan segala bentuk diplomasi dan retorika kalian. Kalian sok pintar dan modern namun dalam pandangan kami hidup kalian tidak ubahnya seperti binatang.

Atas nama pemberantasan teroris kalian justru menebar teror ke seluruh negeri-negeri kami. Lucunya jika tidak patuh dengan kediktatoran kalian maka kalian akan menganggap kami sebagai penjahat perang. Aneh, padahal siapa yang tidak melawan jika ia diperangi.

Dalam mimbar internasional kalian lihai berbicara tentang kemanusiaan dan kebebasan yang setara. Itu omong kosong, kemanusiaan tidak untuk kami sebab pembantaian demi pembantaian kalian lakukan di negeri-negeri kami. Juga kebebasan bukan milik kami, kalian bahkan ingin mengatur kehidupan kami di negeri kami sendiri. Apalagi saudara kami yang tinggal di negeri kalian, apakah ada kebebasan mereka untuk sekedar menjalankan keyakinannya?


Poligami sebagai syariat dari agama kami, tak luput dari serangan kalian, kalian menuduhnya sebagai penindasan terhadap wanita dan kemanusiaan. Tapi sungguh sayang, sangat kontradiksi dengan hidup kalian yang gonta-ganti pasangan semaunya. Iya, kalian tidak suka POLIGAMI, tapi kalian sangat akrab dengan POLISEKS.

Kalian mengejek wanita kami yang mengenakan hijab, namun justru membanggakan Istri kalian yang bisa dinikmati oleh siapa saja! Kalian juga mencemooh wanita kami yang tinggal di rumah untuk mengurusi anak-anak kami. Kata kalian itu juga adalah bentuk pengekangan terhadap kaum wanita, tapi kalian menghormati wanita dengan menelanjanginya dan mengekploitasinya sedemikian rupa! Memberinya beban untuk mencari nafkah dan memperkerjakannya pekerjaan sebagaimana yang dilakukan oleh laki-laki. Apakah itu adalah bentuk penghormatanmu? Jawablah! Dimana engkau simpan permatamu? Apakah engkau menyimpannya di jalanan? Kami sedih dengan kehidupan istri kalian, Ia hanya memiliki satu suami tapi punya banyak pacar. Kalian bahkan tidak tahu ayah dari anak yang dilahirkan istri kalian!

Kalian sungguh lucu, protes dengan nikah dini yang dilakukan oleh pemuda-pemudi kami, tapi kalian tidak peduli dengan seks bebas tanpa batas yang menjadi hobi anak-anak muda kalian. Kalian alergi dengan kata NIKAH DINI tapi kalian terbiasa dengan kata ABORSI! Apakah tidak sampai di telingamu jika anak gadismu diejek oleh temannya jika masih perawan di usia 20 tahun? Saya tahu kalian juga berbangga dengan anak laki-laki kalian yang menghamili seorang gadis.

Lebih dari itu kalian juga memiliki kelainan seks, banyak di antara kalian ternyata lebih menyukai sesama jenisnya, sesuatu yang binatang pun jijik untuk melakukannya. Homo seks dan Lesbian semakin merebak dalam masyarakat kalian. Kalian bahkan menganggapnya sebagai bagian dari keberagaman. Komunitas mereka kini mulai mendominasi hingga di kantor pemerintahan kalian.

Kalian memang punya akal namun hidup kalian seperti binatang. Sudahlah hentikan gonggongan kalian, karena binatang tidak berhak mengatur kehidupan manusia!

Sabtu, 14 Agustus 2010

Mumpung Ramadhan, Nyalakan Nyalimu!

Malam ke 4 Ramadhan seperti biasa saya shalat tarwih di Masjid Wihdatul Ummah. Sebagaimana tiga malam sebelumnya masjid ini terisi ¾ bagian, kalau mengingat tahun lalu biasanya 10 malam terakhir masjid akan penuh oleh jama’ah yang kebanyakan berasal dari wilayah lain di kota Makassar bahkan dari luar kota untuk i’tikaf di masjid ini. Salah satu daya tariknya mungkin adalah bacaan Imam tarwih yang bagus dan panjang dan motivasi lain adalah bertemu dengan para ikhwah yang bersemangat dalam beribadah yang dengannya juga akan menambah semangat mereka.

Setelah selesai dua rakaat pertama, beberapa pemuda mengambil sajadah yang ada di hadapan mereka dan berkumpul di teras samping masjid, mereka berbicara satu dengan yang lainnya. Dari wajah mereka tampaknya mereka orang baru. Ketika berdiri untuk melanjutkan rakaat berikutnya, ekor mata saya menangkap keempat pemuda tersebut pergi entah kemana. Hmm, nampaknya mereka tidak kuat untuk melanjutkan shalat tarwih mereka di sini, mungkin mereka terkejut dengan bacaan imam yang panjang tidak seperti imam tarwih di masjid lainnya yang biasanya hanya membaca beberapa ayat saja tiap rakaatnya.

Kamis, 29 Juli 2010

Back to al-Qur’an

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)
Al-Qur’an adalah petunjuk dan jalan hidup
Sebuah alat elektronik biasanya dilengkapi dengan buku petunjuk operasional. Kita semua tentu tahu dan  sepakat bahwa jika penggunaan alat tersebut tidak sesuai dengan yang tertera dalam buku petunjuk, tentu akan berdampak negatif terhadap alat tersebut yang pada akhirnya hanya akan membuatnya rusak dan tidak bisa digunakan. Iya, karena kita yakin buku itu dibuat oleh si pembuat alat tersebut yang tentu lebih tahu cara mengoperasikan dan menjaga agar alat tersebut tidak rusak.

Begitulah al-Qur’an dan sunnah, dua warisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, petunjuk segala lini dan sendi kehidupan manusia dalam upaya meraih kebahagiaan hakiki dunia akhirat. Secara khusus al-Qur’an berisi firman-firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan yang menciptakan kita, dunia dan seisinya, yang lebih tahu apa yang terbaik buat kita, Yang lebih tahu apa yang dapat merusak kehidupan kita.
Maka jika kita percaya pada apa yang dijelaskan si pembuat buku, terus kenapa kita tidak percaya kepada yang menciptakan kita?

Rabu, 21 Juli 2010

Ad-Dayyuts; Laki-laki tak Punya Rasa Cemburu

Disebutkan di dalam hadits, bahwa Saad bin Ubadah Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sekiranya aku melihat seorang laki-laki bersama dengan isteriku, niscaya akan kutebas ia dengan pedang,” ucapan itu akhirnya sampai kepada Rasulullah. Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Apakah kalian merasa heran terhadap kecemburuan Saad? Demi Allah, aku lebih cemburu daripadanya, dan Allah lebih cemburu daripadaku.” (HR. Bukhari)

Dalam kesempatan lain Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah itu pencemburu dan seorang mukmin juga pencemburu. Kecemburuan Allah itu terjadi bila ada seorang hamba datang kepada-Nya dengan perbuatan yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari).

Salah satu sifat orang beriman adalah cemburu. Sebab, cemburu merupakan isyarat adanya cinta kasih. Islam memuji lelaki yang punya rasa cemburu dan mencela orang yang tidak memilikinya. Tentu saja selain menganjurkan cemburu, Islam memberikan batas-batasnya. Bila batas tersebut dilanggar, rusaklah kebahagian rumah tangga.

Sabtu, 10 Juli 2010

BROKEN CRUCIFIX, Detik-detik Jatuhnya Tentara Salib

Alhamdulillah, siang tadi saya menyempatkan diri untuk membeli sebuah buku yang telah membuat saya penasaran. Saya tertarik dengan buku tersebut setelah melihat iklannya di salah satu situs Islam. Sayapun mencarinya di beberapa toko buku Islam yang saya kenal di Makassar, ternyata buku ini belum beredar luas, mungkin karena baru terbit bulan Juni lalu. Akhirnya saya berinisiatif untuk datang sendiri ke penyalur utama daerah Makassar yang saya tahu setelah menghubungi nomor HP yang tercantum dalam iklan tersebut. Terus terang ini adalah buku yang paling membuat saya penasaran di antara buku dari penulis kontemporer lainnya. Kenapa? Berikut Ini adalah kutipan dari resensi penerbit, sebagai perindu kejayaan Islam mudah-mudahan Anda juga penasaran dengan buku ini (afwan sedikit beriklan, :-)).

Rabu, 30 Juni 2010

Langkah Awal Merebut Palestina

Palestina Barometer Umat
Dalam sebuah seminar tentang Palestina, syaikh Dr. Sa’ad Abu Mahfuh mengatakan, “Kondisi al-Aqsha menjadi barometer kesungguhan umat Islam dalam memperjuangkannya.”

Masjid al-Aqsha dalam surah al-Israa ayat pertama, kita dapat lihat dengan jelas bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala begitu memuliakan masjidil al-Aqsha, kiblat pertama kaum muslimin. Masalah Palestina tidak bisa dipandang remeh, sebab ini menyangkut akidah kaum muslimin. Al-Aqsha yang kini dikuasai oleh zionis yahudi adalah harga diri dan kehormatan kaum muslimin yang diinjak-injak.

Namun semua itu adalah cerminan dari kondisi umat Islam, sekarang ini umat islam dalam keadaan lemah dan terpuruk. Tak lain karena telah terjangkiti oleh penyakit wahn. Al-Wahn (cinta dunia dan takut mati), inilah penyakit yang disinyalir oleh Rasulullah yang akan menimpa umatnya dimana umatnya akan diperebutkan oleh umat lain seperti memperebutkan makanan, padahal jumlah kaum muslimin merupakan mayoritas.


Cinta dunia dan takut mati adalah dua penyakit yang akan selalu berkaitan, ketika seseorang cinta dunia maka dipastikan dia juga takut akan mati. Dunia telah menjadi cita-cita utamanya, masalah akhirat itu urusan nanti atau hanya sekedar ilusi dalam benaknya, sebab ia memang tidak menginginkan bertemu dengannya alias takut mati. Otomatis semangat untuk berjuang di jalan Allah baik dengan harta apalagi jiwa juga akan pupus.

Dan inilah yang sekarang mewabah di tengah umat persis sebagaimana yang terjadi pada akhir abad 5 Hijriyah dimana kaum Muslimin kalah dari pasukan salib. Sebelum terjadi invasi pasukan Salib kondisi umat Islam berada dalam kemunduran dan kerusakan yang parah. Para penguasa meninggalkan amanat yang diemban dan gila dengan kemewahan serta kekuasaan, bahkan mereka berlaku dzolim kepada rakyat. Para ulama pun banyak yang menjadi “ulama dunia” dengan mencari muka di depan para penguasa demi sebuah simpati atau jabatan dan bahkan tidak jarang terjadi permusuhan dan saling menjatuhkan antar ulama. Singkatnya, ada arus penyimpangan kolektif yang dilakukan oleh berbagai lapisan umat setelah ditinggalkan oleh tiga generasi emas (shalafus shalih). Penyimpangan yang merambah semua kalangan umat baik pemerintah, ulama, tentara, kaum kaya dan masyarakat biasa.

Ada 2 hal yang benar-benar orang Yahudi takutkan, Yaitu ketika Semua umat Muslim benar-benar menjadikan Al-Quran sebagai Pedoman dalam semua aspek kehidupan, sehingga ghirah Al-Quran akan terasa pada diri setiap umat Muslim di dunia. Yang kedua berdasarkan pernyataan salah seorang pemimpin yahudi sendiri bahwa mereka baru akan takut kepada umat Islam ketika Jamaah shalat Subuh sama Banyaknya dengan Jamaah pada saat Shalat Jum’at.

Apalah gunanya mayoritas jika perhatiannya terhadap al-Qur’an tidak ada, bahkan beramai-ramai membuat hukum buatan mereka sendiri atau mengadopsi hukum buatan orang kafir? Apa artinya jumlah yang banyak jika mereka lebih doyan menonton bola berjama’ah sampai pagi dibanding shalat berjama’ah di masjid? Jika seruan Allah melalui mu’adzin “hayya ‘ala shalah!” (Mari menunaikan shalat!) saja diabaikan apatah lagi “Hayya’alal jihaad!” (Mari berperang di jalan Allah!)

Membangkitkan Generasi Shalahuddin
Menurut Dr. Adian Husaini dalam artikelnya yang berjudul “Sabar Membebaskan al-Aqsa” bahwa, PR terbesar umat ini adalah mengembalikan akhirat sebagai tujuan tertinggi, meskipun ini tidak mudah karena menyangkut pola pikir dan budaya. Perlu proses yang panjang. Dan inilah langkah awal sebagaimana yang dijelaskan tadi tentang cinta dunia dan takut mati sebagai penyebab lemah dan terpuruknya umat ini.

Menurut beliau, perjuangan membebaskan Palestina bukanlah kali pertama dilakukan umat Islam. Sejarah menunjukkan, perjuangan membebaskan diri dari suatu penindasan seringkali membutuhkan waktu yang panjang. Kita ingat, kemerdekaan Indonesia harus dicapai setelah ratusan tahun harus berjuang melawan penjajah Belanda. Dalam kaitan inilah, kita perlu meningat, bahwa syarat penting untuk meraih kemenangan dalam perjuangan adalah sabar dalam berjuang. “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan perkuatlah kesabaranmu dan bersiap-siagalah dan bertaqwalah kepada Allah, mudah-mudahan kamu meraih kemenangan.” (QS Ali Imran:200).

Dalam sebuah buku yang berjudul “Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib” memaparkan bahwa, sekitar 90 tahun setelah kekalahan kaum muslimin dari pasukan salib, tampil Shalahuddin Al-Ayyubi yang memimpin pasukannya merebut Hitthin sebagai pembuka jalan untuk merebut Palestina kembali. Apa gerangan yang terjadi? Apakah Shalahuddin Al-Ayyubi seoran utusan langit yang datang begitu saja untuk menyelamatkan umat? Apakah Shalahuddin seorang pahlawan tunggal yang berjuang sendirian dan mengandalkan segala keistimewaan pribadinya? Jawabannya tentu tidak. Sejak awal Shalahuddin “hanya” seorang anak didik Nuruddin Zanki yang sudah menyiapkan mimbar baru untuk Masjidil Aqsha jauh sebelum itu.

Di sisi lain, sejarah tidak mungkin melupakan karya dan peran signifikan sejumlah ulama dan tokoh umat Islam yang hidup dalam kurun waktu tersebut, seperti Al-Ghazali, Abdul Qodir al-Jilani, Ibnu Qudamah al-Madisi dan sederetan nama lainnya yang berhasil melakukan perubahan radikal pada paradigma pemikiran dan pendidikan umat. Mereka berhasil mengikis virus-virus yang menggerogoti imunitas internal umat berupa hegemoni filsafat, aliran kebatinan, dikotomi fiqih dan tasawuf, mazhabisme dan lain-lainnya, sebelum melahirkan sebuah generasi baru yang mengimplementasikan nilai-nilai nilai-nilai Islam dan mengusung panji kejayaannya saat berhadapan dengan lawan-lawannya.

Pertanyaan kemudian timbul dari Dr. Adian, apakah umat Islam saat ini mempunyai ulama-ulama yang hebat semacam itu? Jika tidak, maka kewajiban utama umat Islam adalah mewujudkannya. Setelah itu, para ulama didukung untuk mendidik satu generasi yang tangguh, sebagaimana dijelaskan dalam QS al-Maidah ayat 55. Yakni, generasi yang dicintai Allah dan mencintai Allah, berkasih sayang terhadap sesama mukmin, dan bersikap tegas terhadap kaum kafir, berjihad di jalan Allah, dan tidak takut terhadap berbagai celaan. Mereka yakin dan kokoh dengan keyakinan dan tujuan perjuangan.

Semua itu membutuhkan proses dan waktu yang panjang. Perjuangan Islam membutuhkan kesabaran, kesungguhan, dan kecerdikan. Sebab, tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Godaan untuk cepat-cepat melihat hasil perjuangan, bisa menghancurkan proses perjuangan. Godaan inilah yang menjadi penyebab hancurnya pasukan Islam pada perang Uhud, gara-gara sebagian pasukan panah tergoda oleh harta rampasan perang. Maka, keliru besar jika ada yang menyangka bahwa jika ada sebagian aktivis dakwah telah menduduki suatu jabatan tertentu di pemerintahan, dikatakan, bahwa mereka telah berhasil dalam dakwah.

Keliru juga jika menyangka bahwa pejuang dakwah yang hebat adalah yang rajin mengeluarkan pernyataan tentang perlunya berdiri sebuah negara Islam; sementara pada saat yang sama, dia tidak melakukan tindakan apa-apa untuk memajukan umat Islam dan melawan kemungkaran yang bercokol di sekitarnya.

Walhasil, perjuangan memerlukan kesabaran dan strategi yang matang. Perjuangan bisa berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya. Nafsu untuk cepat-cepat melihat hasil perjuangan dapat menghancurkan tujuan perjuangan itu sendiri. Karena itulah, kita sangat berutang budi pada para ustadz dan aktivis dakwah yang tidak pernah tersorot kamera TV atau liputan media massa, tetapi gigih mengajarkan aqidah Islam, baca tulis al-Quran, atau membendung gerakan-gerakan pemurtadan yang merusak umat Islam. Para pejuang Islam ini mungkin tidak menyadari, bahwa yang mereka kerjakan adalah sebuah langkah besar dalam menjaga aqidah dan eksistensi umat Islam, papar Dosen Pasca Sarjana- Progam Studi Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (PSTTI-UI) ini.

Kita semua bisa mengambil peran dalam memperjuangkan kejayaan Islam, memperjuangkan Palestina dengan apa yang kita punya dan potensi kita. Mulailah dari memperbaiki diri kita, keluarga kita dan masyarakat kita. Pelajarilah agama ini dengan baik. Amalkanlah semampu Anda. Insya Allah dengan terbentuknya masyarakat yang Islami maka Rahmat dan pertolongan Allah akan datang.

Istiqomah dalam Perjuangan

Kemenangan adalah anugerah Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia hanya diberikan kepada yang layak untuk mendapatkannya. Apakah kita akan menikmatinya atau tidak itu bukanlah sesuatu yang penting. Namun bagaimana peran kita dalam proses merebut kemenangan itu. Kemenangan yang nyata adalah istiqomah dalam memperjuangkan kebenaran, dan disinilah sebenarnya ujiannya.

Keinginan untuk cepat melihat hasil, tergesa-gesa alamat menebar benih kegagalan. Keikhlasan, hanya mengharap ridha Allah itu adalah hal utama yang harus tetap dipertahankan. wallahu a’lam.
Diterbitkan di buletin al-Balagh edisi 69 tahun V Rajab 1431H

Euforia Piala Dunia dan Nasib Palestina

Serangan zionis yahudi kepada relawan di kapal Mavi Mara yang membawa bantuan untuk rakyat Gaza beberapa pekan lalu membuat mata dunia sedikit berpaling ke negeri Islam yang kini dijajah zionis yahudi, Palestina khususnya kota Gaza yang selama 4 tahun terakhir berada dibawah blokade zionis. Kecaman dan gelombang protes berdatangan dari segala penjuru, terutama dari sebagian kaum muslimin. Berbagai upaya mereka lakukan seperti kampanye dan tabligh akbar peduli Palestina, hingga penggalangan dana dan relawan untuk Palestina.

Ini untuk kesekian kalinya, telah berkali-kali dan begitulah seharusnya muslim yang beriman, ketika saudara mereka merasakan kesakitan maka sontak merekapun merasakannya. Seperti satu tubuh.

“Orang-orang Muslim itu ibarat satu tubuh; apabila matanya marasa sakit, seluruh tubuh ikut merasa sakit; jika kepalanya merasa sakit, seluruh tubuh ikut pula merasakan sakit.” (HR Muslim)

Jasad mereka memang terpisah tapi asa dan tujuan mereka satu. Batas negara, perbedaan warna kulit dan bahasa tak menjadi masalah sebab akidah mereka sama.

Tapi saya katakan tadi “sebagian kaum muslimin”, bahkan sebagian kecil saja. Dengan kata lain sebagian besar mungkin hanya mematung, menonton atau malah pura-pura lupa atapun tidak ingin tahu.

Sebagian lagi malah sibuk menyalahkan, katanya dari dahulu sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pembantaian atas kaum muslimin telah ada, itu sunnatullah. Tidakkah mereka berpikir bahwa sunnatullah tidak mengajar kita untuk diam berpangku tangan, di dalamnya ada ujian bagi kita untuk menentukan dimana posisi kita. Apakah Rasulullah tinggal diam atas pembantaian itu?

Pada periode Makkah, dimana kaum muslimin masih sedikit, melihat penganiayaan kaum muslimin oleh kaum kafir Quraisy, Rasulullah dan para sahabatnya tidak tinggal diam. Melihat pembantaian atas keluarga Yasir, Rasulullah memang tidak bisa berbuat banyak tapi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menghibur dan mendoakan mereka. Melihat penganiayaan Bilal oleh tuannya, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga tidak tinggal diam, beliau kemudian menebusnya dengan tebusan yang tinggi dan memerdekakannya.

Pada periode Madinah tentu kita sudah pernah membaca bahwa Rasulullah kemudian mengusir kabilah-kabilah yahudi karena terbunuhnya seorang Muslim dan karena pelanggaran mereka atas perjanjian damai dengan kaum Muslimin.

Katanya lagi, rakyat Gaza tak layak untuk ditolong karena pelanggaran syariat mereka banyak, mereka berpecah dan sebagainya. Sekali lagi, kenapa mereka tidak berpikir bahwa sangkaan itu adalah urusan penduduk Gaza dengan Allah Ta’ala? Kenapa harus dihakimi? Setidaknya mereka adalah muslim yang berhak untuk ditolong, bukankah Rasulullah mengajar kita untuk menolong saudara muslim kita yang dizhalimi ataupun yang menzhalimi?

“Tolonglah saudaramu ketika dia berbuat zhalim atau ketika dia dizhalimi.” Seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, aku akan menolongnya jika ia terzhalimi, namun apabila dia berbuat zhalim, bagaimana aku menolongnya?” Beliau menjawab, “Cegahlah dia atau tahanlah dia dari berbuat zhalim, maka ini adalah pertolongan baginya.” (HR. Al Bukhari)

Jadi tak ada alasan untuk diam berpangku tangan.

Segolongan yang lain berkilah, kenapa harus membantu mereka sedangkan di negeri sendiri masih banyak orang yang juga berhak untuk dibantu? Kita katakan, penderitaan ataupun kesusahan yang dirasakan oleh sebagian masyarakat kita tidaklah sebanding dengan penderitaan rakyat Palestina khususnya di kota Gaza yang 1,5 juta warganya dalam kelaparan dan ketakutan, setiap saat rudal dan peluru zionis yahudi mengancam untuk menghancurkan rumah dan mengoyak tubuh mereka.

Alasan-alasan mereka tak lain hanya memperkerdil semangat jihad dan mempersempit ukhuwah.

Dari Gaza ke Afrika Selatan

Palestina dari dulu dan sekarang masih “sakit” dan sebagian besar mata kaum muslimin telah berpaling dari Gaza ke Afrika selatan menonton Piala Dunia.
Menurut ustadz Said Abdul Shamad, Lc., umat Islam sekarang ini seakan diamputasi tanpa mereka rasakan, karena sebelumnya mereka telah dibius dengan informasi dan hiburan semu. Membuat mereka tak sadar, satu persatu tubuh mereka dilucuti. Begitulah perumpamaannya, sejak tahun 1946 penjajahan zionis yahudi atas Palestina, jengkal demi jengkal negeri para Nabi mereka ambil, pengusiran demi pengusiran mereka lakukan, pembunuhan demi pembunuhan bahkan diperlihatkan di depan mata kaum muslimin.

Tapi sudah terlanjur, kaum muslimin telah terbius dengan euforia dunia yang sempit, sesempit lapangan sepakbola. Urusan tendang dan kejar satu bola kini jauh lebih penting daripada pembantaian-pembantaian kaum muslimin di Gaza. Dukungan untuk kemenangan klub-klub jagoan mereka jauh lebih penting dibanding dukungan agar menangnya kaum muslimin atas kafir yahudi. Mengenai siapa yang berhak merebut piala dunia lebih patut untuk diperjuangkan daripada kembalinya al-Quds kepangkuan kaum muslimin!

Lihatlah mereka rela merogoh kantong dalam-dalam untuk membeli atribut klub jagoannya sebagai bentuk dukungannya. Tapi apakah mereka akan melakukan hal yang sama ketika mereka diminta untuk membantu meringankan kelaparan rakyat Gaza?

Begitu mudahnya airmata mengalir dan lampiasan emosional mereka ketika sesuatu yang buruk menimpa tim jagoannya, tapi korban anak-anak dan wanita, gedung-gedung yang hancur, rumah yang digusur akibat kebejatan zionis yahudi apakah membuat hati mereka terketuk?

Singkatnya, begitu besar pengorbanan mereka untuk event ini, mereka seperti lupa bahwa di dunia ini tugas kita adalah untuk beribadah, detik demi detik seharusnya bernilai pahala. Apa yang mereka inginkan dari pengorbanan tersebut? Apakah mereka menginginkan pahala dari gelaran yang diramaikan dengan 40 ribu pelacur? Na’udzubillah.

Saya yakin jika mereka masih memiliki secuil keimanan dalam hati mereka tentu tidak ridha terhadap hal tersebut, hanya saja mungkin tidak tahu bahwa Rasulullah telah bersabda bahwa di akhirat kelak seseorang akan dikumpulkan bersama dengan orang yang dicintainya.

“Bius-bius” mematikan telah banyak disuntikkan oleh kaum kafir dalam tubuh kaum muslimin; adu domba, pendangkalan akidah, kebiasaan-kebiasaan buruk, dan sebagainya telah melenakan kaum muslimin. Dan untuk bangkit dari tidur panjang tersebut obatnya adalah kita kembali kepada agama ini, mempelajari agama ini dengan sebaik-baiknya dan mengamalkannya. Proteksilah diri kita dan anak-anak kita dari bius tersebut dengan didikan agama yang shahih.

Palestina tak membutuhkan kita.

Dalam catatan sejarah Palestina telah menjadi perebutan antara kaum muslimin dengan orang kafir dan kini ia kembali dikuasai oleh kaum kuffar yahudi, tapi jangan pernah berpikir bahwa ia membutuhkan kita. Tidak, bahkan sebaliknya kitalah yang membutuhkan untuk berjuang membebaskannya dari cengkraman penjajah zionis yahudi. Ada tidaknya kita takkan menjadi masalah, sebab kalau bukan kita yang memperjuangkannya maka pasti akan selalu ada yang lainnya. Namun alangkah ruginya jika kesempatan yang ada di depan mata kita abaikan dan lebih memilih sibuk untuk urusan yang tidak ada artinya.

Kita yakin bahwa cepat atau lambat Palestina akan kembali ke pangkuan kaum muslimin, namun pertanyaannya adalah apakah kita punya andil dalam usaha tersebut?

Meski kita belum bisa untuk ke sana maka hal yang minimal yang kita lakukan adalah turut andil dalam memberikan bantuan berupa harta yang mereka butuhkan. Ringankan penderitaan mereka, ingatlah masalah Palestina adalah masalah kaum muslimin masalah kita juga.

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, tidak menzhalimi atau mencelakakannya. Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya sesama Muslim dengan menghilangkan satu kesusahan darinya, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan di hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi aib seorang Muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR Bukhari)

Bercita-citalah dan rindukanlah untuk berkunjung ke Al-Quds kota suci ketiga kaum muslimin dan masjid al-Aqsha sebagaimana kerinduan anda untuk mengunjungi Masjidil Haram di Makkah dan masjid Nabawi di Madinah.

Tanamkanlah pada diri Anda dan generasi Anda bahwa tanah Palestina adalah milik kaum muslimin, milik Anda dan penerus Anda.

Jangan lupa senjata utama orang yang beriman yakni doa. Doakanlah mereka, sesungguhnya salah satu doa yang makbul adalah orang yang mendoakan saudaranya yang jauh.

Wallahu ‘alam.

Diterbitkan di Buletin Pekanan Al-Balagh edisi 68 Rajab 1431 H

Jumat, 25 Juni 2010

Akhwat, Kenapa Kau Harus Menghapus Fotomu di Internet?

Tulisan ini hanya sekedar peringatan buat akhwat yang masih suka memajang foto-fotonya di internet seperti di Blog, Situs Forum, khususnya di Facebook dimana sekarang hampir semua aktivis dakwah yang melek internet mempunyai akun di situs pertemanan tersebut.

Dari pengamatan saya selama memiliki akun di Facebook yang paling membuat miris adalah banyaknya wanita berjilbab yang memajang foto mereka bahkan beberapa di antaranya ada yang close up. Dari profile mereka ketahuan bahwa sebagian besar dari mereka adalah aktivis dakwah. Bagi yang masih mempunyai foto yang diupload ke FB, FS ataupun lainnya maka saya sarankan untuk segera menghapusnya dengan pertimbangan berikut ini:

1. Anda bisa jadi korban pornografi

Ketika Anda mengupload foto ke internet maka yakinlah foto tersebut sudah bukan milik Anda, tidak ada yang benar-benar privasi di dunia maya. Anda mungkin merasa aman karena foto tersebut tersimpan di akun Anda yang kapan saja kalau mau Anda bisa menghapusnya tapi itu hanya perkiraan Anda. Jutaan orang yang bisa mengakses ke profil Anda, mereka bisa mendownloadnya dan menyebarkannya di tempat lain. Jadi meskipun dikemudian hari Anda menghapusnya tapi ia sudah terlanjur menyebar dan mustahil bagi Anda untuk mencegahnya.

Hal yang paling ditakutkan adalah ketika orang-orang usil mendapatkannya dan “tergoda” untuk menjahili Anda. Ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang benci dengan Islam. Misalnya dengan memanipulasinya dan menjadikan Anda “Bintang Pornografi”. Dengan kecanggihan software pengolah gambar hal itu bisa dilakukan dengan waktu hanya beberapa menit. Setelah itu mereka bisa menebarnya ke ribuan link hanya dalam hitungan detik.

Hal ini sudah pernah terjadi pada seorang artis dimana foto syurnya beredar di internet, sampai-sampai harus menurunkan pakar telematika, Roy Suryo untuk membersihkan namanya dengan menjelaskan bahwa foto tersebut hasil manipulasi. Dan tidak dipungkiri bahwa banyak foto wanita berjilbab bahkan bercadar dengan tubuh telanjang yang bersiliweran di dunia maya, termasuk korbannya adalah salah seorang istri ustadz kondang.

Meski dengan mudah orang menebaknya sebagai sesuatu yang di rekayasa, tapi bukankah itu sudah cukup untuk menghinakan dan melecehkan, namun kitalah memberi peluang kepada orang hasad tersebut untuk melakukannya. Nah, sebelum terlanjur hapus foto Anda dari dunia maya!

2. Anda pajang untuk siapa?

Ada pertanyaan bagi muslimah yang memajang fotonya di internet, foto itu Anda pajang untuk siapa?

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan muslim dan muslimah untuk menjaga pandangannya dari lawan jenis yang bukan mahram. Tak sampai di situ Allah pun memerintahkan masing-masing kepada mereka untuk saling menjaga diri (An-Nur (24): 30-31). Di sini ada simbiosis mutualisme, jika seorang wanita yang menjaga dirinya dengan hijab yang syar’i maka dengan sendirinya laki lain juga akan terjaga pandangannya meski laki-laki tersebut tidak paham agama, nah bagaimana jika laki-laki tersebut juga paham akan agama tentu ia juga menjaga diri dan pandangannya. Sadar atau tidak mereka saling menguatkan dalam kebaikan, dan itulah mungkin maksudnya Allah menegaskan dalam firman-Nya bahwa laki-laki beriman dan wanita yang beriman adalah penolong bagi yang lainnya, dan mereka saling menguatkan dalam keimanan dan keta’atan (QS. at-Taubah (9) : 71.).

Ketika mengupload foto Anda di internet maka anda secara tak langsung telah “menandatangani kontrak” bahwa anda membebaskan siapapun bebas untuk memandang Anda tanpa terkecuali. Terus dimana penjagaan Anda terhadap kehormatan Anda dan orang lain?

Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mengatakan bahwa seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup dan melihat tingkah laku wanita pada zaman tersebut maka tentu beliau akan melarangnya untuk keluar rumah. Perkataan ini beliau katakan ketika para sahabat masih berada di tengah-tengah mereka dan mengajarkan ilmu kepada mereka, mereguk Islam seperti menikmati air langsung dari mata airnya, ketika para muslimah masih menjaga hijab-hijab mereka, bandingkanlah keadaan tersebut dengan sekarang ini dimana kebanyakan wanita sudah tidak bisa menjaga kehormatannya.

Wahai wanita malulah! Wahai para suami cemburulah! Wahai para orang tua jagalah anakmu dari kerusakan! Wahai para ikhwa yang akan menggenapkan separuh agamanya jagalah dirimu dan carilah wanita yang shalehah yang menjaga dirinya serta berlindunglah dari wanita yang masih suka “menjajakan” dirinya. Wallahu a'lam.

Senin, 21 Juni 2010

Facelim Alternatif Facebook, Buatan Muslim Muda Indonesia

Pelecehan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan event “Every body draw muhammad day” di Facebook menuai protes dari kaum Muslimin. Pemerintah Pakistan sendiri langsung memblokir facebook dan Youtube di negaranya karena memuat event tersebut. Ternyata hal tersebut juga memancing pemuda muslim untuk membuat situs jejaring sebagai alternative dari FB. Dimulai dari millatfacebook.com yang kabarnya dibuat oleh pemuda Pakistan dan kini telah mempunyai ratusan ribu user dari berbagai negeri. Dan alhamdulillah kini muncul situs pertemanan yang dibuat oleh pemuda muslim Indonesia facelim.com. Sekarang sudah memiliki ratusan anggota.


Dari tampilan sangat mirip FB tapi dengan warna dasar hijau. Versi bahasa yang tersedia masih ada dua yakni english dan Indonesia. Proses pendaftaran sangat mudah sebagaimana Facebook, bahkan lebih mudah karena Anda tak perlu nomor HP, untuk aktivasi cukup lewat email. Selain itu Anda dengan leluasa bisa merubah tampilan halaman berdasarkan pilihan yang ada. Dibanding dengan millatfacebook, akses facelim masih tergolong lebih cepat meski pernah drop, tapi alhamdulillah sudah berhasil ditangani.

Aplikasi boleh dibilang lengkap sebagaimana di FB bahkan ada yang menurut saya tidak ada di FB seperti fasilitas online store dan chat room. Yang lebih penting, Anda tak perlu menghilangkan iklan mesum (karena memang tidak ada, he..he). Anda tak perlu lagi menahan diri untuk klik iklan toh uangnya takkan mengalir ke Zionis Yahudi. Oh ya bagi Anda yang ingin beriklan silahkan hubungi nomor 081333679991 an. Haris Iwan.

Pengelola masih perlu untuk menambah kapasitas servernya untuk itu sangat diharapkan sokongan dana dari iklan dan juga donasi demi pengembangannya ke depan. Nah, cintai produk buatan muslim. Itu adalah boikot nyata!

Yahudi dalam Fakta dan al-Qur’an

Sekarang ini mendengar kata “yahudi” maka yang terlintas di kepala hanyalah kebobrokan demi kebobrokan kaum tersebut. Kejahatan, kebengisan, kelicikan, kecongkakan, pengingkaran, penjajahan, penjarahan, keras kepala dan rentetan keburukan yang lain selalu melekat di belakang nama kaum yang Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Qur’an juga menyebutnya dengan Bani Israil. Sejak dahulu sifat-sifat buruk tersebut telah melekat dan apa yang kita saksikan sekarang ini hanyalah lanjutan dari pendahulu-pendahulu mereka. Allah Subahanhu wa Ta’ala telah menegaskan dalam al-Qur’an:
“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”. (QS. al-Isra’ : 4).
Paling keras permusuhannya dengan Islam

Ketika kita kembali mengingat sejarah orang-orang yahudi yang suka membantah ajakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju jalan yang benar, maka kita bisa melihat betapa angkuh dan keras hati mereka. Kebencian mereka terhadap Islam tak akan pernah surut sampai kapan pun. Mereka tak akan pernah rela kepada umat Islam, sampai umat Islam mau mengikuti hawa nafsu mereka. Memang musuh Islam banyak (tak hanya yahudi), bahkan orang yang beragama Islam yang munafik kepada agama Islam bisa menjadi musuh Islam juga. Namun, rasa permusuhan yang ada dalam hati para yahudi lebih keras dan sadis dibanding dengan musuh-musuh yang lain.

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang yahudi dan orang-orang musyrik…” (QS. Al-Maidah : 82).

Kita semua sekarang juga bisa melihat fakta kebencian mereka terhadap orang-orang Islam yang ada di Gaza. Bertahun-tahun yahudi Israel menjajah, mengusir dan menyiksa rakyat Palestina.

Israel dan Amerika menuduh Hamas adalah kelompok teroris yang harus dihancurkan, padahal Israel dan AS yang sebenarnya lebih pantas disebut Teroris. Banyak fakta-fakta yang kuat yang bisa dijadikan penguat atas hal ini, seperti pembunuhan ratusan ribu orang di Irak atas tuduhan senjata pemusnah masal/nuklir yang akhirnya tak bisa dibuktikan oleh George W. Bush, begitu juga pembantaian oleh tentara-tentara Israel kepada warga sipil di Gaza, Palestina. Sungguh sikap mereka sangat keji dan tidak manusiawi.

Dan permusuhan tersebut akan berlanjut hingga akhir zaman sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan (pernah) senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka…” (QS. al-Baqarah : 120)
Membunuh adalah hal biasa

Pembunuhan ribuan orang di Gaza dan pembantaian 20-an relawan di kapal Mavi Marmara hanyalah rentetan kecil catatan kejahatan pembunuhan yang dilakukan oleh yahudi. Pembunuhan bukan hal asing dalam sejarah yahudi. Sebab dalam pandangan mereka wajib memerangi orang-orang yang kontroversi dengan keinginan mereka, bahkan nabi-nabi yang di utus kepada mereka, seperti Nabi Zakariya dan Nabi Yahya pun dibunuh. Mereka juga mengira telah berhasil membunuh Nabi Isa dan bangga atas usahanya. Tapi Al-Quran membantahnya (QS.an-Nisaa’:157).

Yahudi bangsa penakut

Penyerangan terhadap relawan di kapal Mavi Marmara adalah bukti kepengecutan yahudi. Relawan yang tak bersenjata di serang dengan persenjataan lengkap. Ketakutan yang berlebihan akan adanya senjata yang diselundupkan di kapal tersebut memperkuat bukti paranoidnya. Menurut statemen mereka sendiri bahwa mereka melarang selempeng besipun masuk di Gaza termasuk semen dan benda yang dianggap berbahaya, mereka takut para pejuang Hamas menjadikannya senjata. Padahal mereka dengan bebasnya membuat senjata nuklir, dan sebagaimana kita ketahui bahwa Israel adalah salah satu negara yang menolak menandatangani kesepakatan pembatasan nuklir di dunia!

Sejak dahulu bangsa yahudi memang penakut. Mereka pernah menolak janji Allah yang memastikan kemenangan jika mau berperang bersama Nabi Musa, membuktikan sebenarnya yahudi adalah bangsa penakut, pesimis, tamak terhadap dunia, dan lebih memilih hidup hina daripada mati mulia. Perhatikan dialog mereka dengan Nabi Musa ‘alaihi salam berikut ini yang termaktub dalam al-Qur’an

“Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.
Mereka berkata: “Wahai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.”
Berkatalah dua orang (Musa dan Harun) di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS. al-Mai’dah : 21-24)

Janji penyemangat dari Nabi Musa mereka tanggapi dingin, bahkan dengan sombongnya menyuruh Musa dan Tuhannya saja yang berperang.

“Mereka berkata: “Wahai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”. (QS. al-Mai’dah : 25)

Karena pembangkangannya kaum yahudi diharamkan untuk masuk di tanah suci tersebut.

Keras kepala dan Menghalalkan segala cara

Al-Quran menggambarkan bahwa kerasnya batu tidak bisa mengimbangi kerasnya hati kaum yahudi. Sebab masih ada batu yang terbelah lalu keluar mata air darinya dan ada juga yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah (QS. 2:74). Keras hati kaum yahudi ini di antaranya disebabkan hobi mereka mendengarkan berita dusta dan makan dari usaha yang diharamkan (QS. 5:24).

Salah satu sistem perdagangan hasil cetusan dari yahudi adalah riba, saat ini sistem ini telah menjamur baik di kalangan non muslim ataupun muslim sendiri, harta haram yang mereka makan dari sistem ini menjadi salah satu penyebab butanya hati mereka dari larangan Allah untuk melakukan praktek riba.

“Pintar” membolak-balikkan fakta

Ada hal yang mengherankan dari insiden “Mavi Marmara”. Zionis yahudi yang telah jelas-jelas melanggar karena menyerang masyarakat sipil tak bersenjata di perairan internasional,tapi dengan kekuatan media yang mereka kuasai, dengan mudahnya mereka membolak-balikkan fakta.

Mereka menyebarkan berita bohong di media-media bahwa merekalah yang diserang dengan senjata api dari para relawan, padahal sebilah pisaupun tidak dimiliki oleh relawan. Kalaupun tentara yahudi diserang oleh relawan toh itu adalah suatu hal yang wajar karena mereka datang seperti penyamun dan membajak kapal.

Merekapun berkilah bahwa tak akan membiarkan siapapun untuk mengganggu kedaulatannya, padahal para relawan datang bukan untuk menyerang Zinosi tapi untuk memberi bantuan kepada penduduk Gaza yang kelaparan. Bahkan zionislah yang mengganggu kedaulatan laut Gaza. Zionis tidak memiliki hak untuk mengendalikan perairan teritorial milik Gaza apalagi untuk menghentikan armada bantuan yang datang untuk masuk di perairan Gaza. Paradoks!

Kebiasaan membolak-balikkan fakta tersebut ternyata lagi-lagi bukanlah hal yang baru, kitab suci yang merupakan wahyu Allah mereka ubah dengan tangan mereka dan mengatakan ini dari Allah.

“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui.” (QS. al-Baqarah : 75)

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, karena apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, karena apa yang mereka kerjakan.” (QS. al-Baqarah : 79)

Suka melanggar dan ingkar janji

Penyerangan atas Mavi Marmara di perairan bebas internasional adalah melanggar hukum internasional. Penggunaan bom cluster, pembunuhan masyarakat sipil tak bersalah, penyiksaan dan pemerkosaan wanita dalam penjara adalah pelanggaran atas konvensi Jenewa. Tapi bagi zionis yahudi itu hal biasa. Berbagai perjanjian telah disepakati antara zionis dengan Palestina tapi semua berakhir dengan pengkhianatan yahudi. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan kepada kita akan karakter lekat yahudi tersebut

“(Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya).” (QS. al-Anfal : 56)

Inilah fakta lain tentang yahudi yang sudah diungkapkan Al-Quran sejak awal risalah Islam. Karenanya akan sangat aneh jika masih ada pemimpin Islam yang berharap banyak untuk mengadakan perjanjian dengan Israel, seolah-olah lupa dengan Fakta Quran dan fakta sejarah kenabian. Jika kita membaca ulang sejarah yahudi dalam Sirah Nabawiyah, maka akan ada kesimpulan utuh bahwa sejarah Yahudi adalah sejarah pembangkangan dan pengkhianatan.

Bahkan sampai-sampai Allah Ta’ala mengangkat bukti Thursina untuk mengambil janji agar mereka melaksanakan Taurat tapi mereka kemudian mengatakan “Kami dengar tetapi tidak mentaati”. (QS. al-Baqarah : 93)

Penutup

Sejak dahulu al-Qur’an telah membuka borok-borok yahudi dan sekarang kitapun masih melihat bahwa apa yang ada dalam al-Qur’an khususnya berkaitan dengan mereka adalah, dari dulu dan sekarang ternyata mereka sama saja.

Wallahu a’lam.

Diterbitkan di buletin al Balagh edisi 67 tahun V Jumadil Akhir 1431 H

Sabtu, 12 Juni 2010

Pelajaran dari Kebrutalan Zionis Yahudi

Untuk kesekian kalinya zionis israel kembali menunjukkan wajah aslinya di hadapan dunia internasional. Ancaman militer israel yang akan menyerang armada kapal Freedom Flotilla ternyata benar-benar dibuktikannya. Penyerangan yang dilakukan Israel ini dilakukan saat kapal Mavi Marmara sedang berada di perairan internasional. Padahal para aktivis tersebut tidak memiliki senjata yang membahayakan sebagaimana yang disinyalir oleh Israel, bahkan sebilah pisaupun karena ada aturan ketat bagi para aktivis untuk tidak mempersenjatai diri.

Dr Hazim Faruk Mansur relawan yang berasal dari Mesir menceritakan, sekitar jam empat dini hari, mereka melakukan shalat subuh berjamaah. Namun di tengah-tengah shalat, mereka dikejutkan dengan beberapa helikopter yang terbang di atas kapal mereka, serta 4 kapal yang dilengkapi dengan meriam dan 16 kapal lainnya yang membawa sekitar delapan orang di setiap kapal.

Kemudian helikopter itu langsung menurunkan serdadunya dengan senjata yang lengkap, dan menembakkannya kepada mereka. Seketika para relawan langsung berlarian. Namun sebagian dari mereka ada yang tertangkap oleh tentara Israel, dan tidak segan-segan tentara Israel itu membunuh mereka di depan relawan lainnya. Ketika itu sebanyak 14 relawan dari Turki langsung gugur di tempat, dan beberapa beberapa orang lainnya luka-luka.

Setelah itu tentara Israel menyerang tempat yang digunakan sebagai perlindungan para relawan perempuan. Tentara itu menodongkan senjata ke kepala mereka. Tentara Israel memperlakukan mereka dengan kejam, tidak pandang bulu. Semua orang akhirnya diborgol.

Armada kapal yang mengangkut 700 relawan dan 10.000 ton bantuan untuk rakyat Palestina akhirnya ditawan oleh Israel. Menurut kabar terakhir 20 aktivis gugur akibat dari insiden tersebut.

Beberapa hari sebelumnya teroris Israel juga melakukan serangan udara di jalur utara Gaza dan melukai sedikitnya 15 rakyat sipil dan polisi.

Zionisme, gerakan haus darah

Catatan sejarah telah mengoleksi berbagai kebengisan zionis yahudi, negara Israel yang mereka dirikan di atas tanah Palestina yang mereka rampas, mereka bangun dengan tumpahan darah kaum Muslimin. Sudah lebih 60 tahun Pelestina dan Masjidil Aqsha dalam cengkraman Israel, sudah ribuan nyawa muslim yang menjadi korban, dan tak terhitung rumah dan pemukiman yang digusur oleh buldozer Israel. Tak terhitung penduduk Palestina yang terusir dari kampung halamannya.

Insiden “Mavi Marmara” hanyalah contoh kejahatan “kecil” Israel, masih ingat dengan agresi militer yang dilakukan Israel terhadap penduduk Gaza pada Januari tahun 2009 lalu? Perang tak seimbang dan membabi buta tersebut menewaskan ribuan rakyat Palestina dan kebanyakan yang tewas adalah anak-anak dan wanita, jadi pembantaian di Mavi Marmara masih tergolong “kecil”.

Bahkan dengan bangganya Netanyahu, perdana menteri Israel dalam konferensi persnya mengatakan apa yang dilakukan tentaranya sudah benar. Kecaman-kecaman yang datang dari berbagai pihak hanya dianggap sebagai angin lalu dan nampaknya Israel memang sudah bermuka tebal untuk itu.

Jangan berharap pada orang kafir!

Tindakan brutal Israel yang telah jelas melanggar hukum internasional karena menyerang di kawasan perairan internasional ditanggapi dingin oleh Dewan Keamanan PBB. Amerika Serikat yang selama ini gencar memerangi “teroris” pun untuk kesekian kalinya bungkam dan hanya menyampaikan “penyesalan” pada korban jiwa dan cedera yang diakibatkan oleh penggunaan kekerasan oleh pasukan Israel, gedung putih hanya sampai pada kalimat ‘menyesalkan’ tanpa berani mengutuk.

Sungguh benar firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (QS: Al Maa’idah/5:51)

Untuk menyelesaikan konfrontasi-konfrontasi antara Palestina dan israel, sejak terbentuknya negara Israel secara sepihak, Amerika yang mengontrol PBB hanya mengeluarkan resolusi-resolusi yang menguntungkan Israel, dan jika dianggap merugikan oleh israel maka resolusi itu hanya akan menjadi basi, sebagaimana seruan AS kepada israel untuk menghentikan pembangunan 1000 pemukiman baru, namun selang setelah itu israel mengumumkan untuk tetap melanjutkan pembangunan pemukiman tersebut. Di mata internasional ini jelas mempermalukan AS, tapi alhasil hubungan keduanya masih akrab saja. Jadi semua hanya sebagai sandiwara saja, tak lebih!

Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan dalam sebuah hadits bahwa ada seorang lelaki dari kalangan musyrikin bertemu dengan Nabi shallahu ‘alaihi wa salam, dan ingin ikut berperang bersama-sama bersama beliau, kemudian beliau bersabda kepadanya, “Pulanglah, sesungguhnya kami tidak akan pernah meminta pertolongan kepada orang musyrik”.

Kemenangan tidak akan mungkin digantungkan dengan pertolongan dan berteman dengan orang-orang kafir, yang mereka sudah terang-terangan memusuhi kaum muslimin. Hal ini seperti juga dikemukakan oleh Ibnu Jarir, yang dengan sangat tegas, yang memberikan komentar firman Allah Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu)”, mengatakan, “Orang-orang yang mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin, maka ia digolongkan sebagai pengikut orang kafir”, ucapnya.

Karena orang yang orang lain sebagai pemimpin, maka ia akan selalu bersamanya, bersama keyakinannya dan bersama apa yagn diridhai pemimpinnya. Jika ia telah ridha kepadanya dan agamanya, berarti ia telah mengesampingkan segala hal yang ia benci dari sifat-sifat orang kafir.

Bahaya Sekularisme

Terus apa reaksi dunia, khususnya negara Islam? Seperti biasa tidak lebih dari sekedar kecaman dan penyampaian rasa prihatin belasungkawa. Pada agresi militer Israel tahun lalu, kaum muslimin yang berjumlah lebih dari 1,5 milar –termasuk saya dan Anda- hampir tak berkutik dan hanya menjadi penonton ketika saudaranya dibantai oleh yahudi yang hanya berjumlah 5 juta jiwa di Israel. Batasan teritorial negara telah memecah kekuatan kaum muslimin menjadi lemah, parahnya paham pemisahan antara urusan agama dengan urusan negara (sekularisme) telah menjadai “trend” di beberapa negara Islam. Agresi militer dan pencamplokan tanah yang dilancarkan oleh Israel terhadap Palestina hanya dianggap sebagai masalah antara dua negara saja.

Perlu untuk kita ketahui bahwa konflik Palestina-israel bukanlah konflik antar Negara tapi ia adalah konflik antar dua agama yang berbeda, Islam dan yahudi. Dalam melegitimasi aksinya israel mengklaim bahwa wilayah Palestina (Yerussalam) adalah “tanah yang dijanjikan” sebagaimana yang tertera dalam Talmud, kitab suci bagi mereka. Lebih dari itu, berdirinya “Negara Israel” merupakan hasil konspirasi musuh-musuh Islam terhadap kaum muslimin di Palestina khususnya dan masjid Al Aqsha, kiblat umat Islam yang pertama.

Terbukti hanya berselang 10 menit setelah proklamasi “kemerdekaan Israel” , Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman langsung mengumumkan sikap resmi negaranya dengan mengakui dan mendukung berdirinya “Negara Israel”, serta langsung membuka hubungan diplomatik secara resmi.

Tapi sayang, meski dianggap sebagai konflik agama, Negara Islam yang sudah dirasuki sistem sekuler tidak bisa berbuat apa-apa, semua kebijakan kemudian didasarkan pada untung rugi negara, ghirah ukhuwah Islamiyah (semangat persatuan Islam) sudah dikesampingkan di atas kepentingan negara.

Yang menggemaskan Negara Mesir yang notabene adalah Negara Islam juga turut membantu Israel melakukan blokade terhadap Palestina di Jalur Gaza dengan membuat tembok baja sepanjang perbatasan Mesir-Palestina untuk menutup terowongan yang selama ini digunakan untuk menyalurkan bantuan bagi rakyat Palestina. Meski pasca insiden “Mavi Marmara” jalur untuk masuk ke Mesir kembali dibuka itupun hanya pada jam-jam tertentu saja.

Jika pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, pembunuhan satu orang muslim karena membela kehormatan muslimah yang diganggu oleh yahudi sudah menjadi alasan kuat untuk mengusir satu kabilah yahudi dari Madinah, maka sekarang ini kematian ribuan kaum muslimin di tangan yahudi tak cukup kuat untuk menggerakkan pemimpin Negara Islam untuk sekedar mencegah penzhaliman tersebut. Ini adalah keberhasilan kaum kafir untuk memecah belah Islam dengan virus sekularisme yang mereka tanamkan dan tak jarang mereka paksakan untuk menjadi sistem dalam Negara Islam.

Keikhlasan dalam berjuang

Manusia hanya mampu berusaha dan hasilnya hanya Allah-lah yang menentukan. Keinginan para relawan untuk sampai dan memberikan bantuan pada rakyat Palestina di Gaza adalah hal yang mulia. Namun yang paling penting adalah keikhlasan dalam perjuangan tersebut dan dimanapun keikhlasan itu sebenarnya harus selalu ada dan dijaga. Meskipun mereka pada akhirnya tidak berhasil sampai di Gaza namun dengan niat mereka yang ikhlas insya Allah mereka dalam hal ini telah mendapat “kemenangan yang besar”. Dalam perjuangan menang kalah adalah hal yang lumrah. Bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sang Penentu, hasil bukanlah masalah namun sejauhmana keikhlasan yang dilandasi tauhid dalam proses tersebut.

Mudah-mudahan saudara-saudara kita yang telah berupaya untuk masuk ke Gaza mendapat pahala sebagaimana keikhlasan mereka. Tak lupa kita mendoakan saudara kita di Palestina untuk tetap sabar dalam cobaan yang mereka hadapi.

“…Ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, jalan keluar bersama kesempitan dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.” (HR. At Tirmidzi)

Wallahu A’lam

Sabtu, 29 Mei 2010

Belas Kasih Sejati pada Wanita

Antara Eksploitasi dan Kasih Sejati
Rima Fakih, namanya sempat mencuat di beberapa media karena keberhasilannya menjadi pemenang Ratu Kecantikan USA yang pertama dari keturunan Arab, konon kabarnya ia beragama Islam, dalam wawancara dia sendiri mengatakan bahwa di Islam liberal –ini agama jenis baru yang dipopulerkan kaum liberal. Meski banyak yang kontra khususnya kaum muslimin di USA sendiri, tapi banyak juga yang mengelu-elukannya.

Dengan bangganya Rima bertekad memanfaatkan gelar Ratu Kecantikan itu, untuk memperbaiki citra umat Islam di Amerika. Ia ingin semua orang bangga atas dirinya, baik sebagai imigran muslim maupun warga Amerika. Hebat, untuk menghilangkan image teroris ternyata harus berbikini di atas panggung. Na'udzubillah.


Pada tahun 2009 silam, dalam artikel di sebuah situs yang mengkritik keras keikutsertaan putri Indonesia, Zivanna Letisha Siregar dalam ajang Miss Universe 2009, situs ini secara tegas mengkritik kontes tersebut: ”Beginikah kiblat kemajuan sebuah peradaban dimana wanitanya harus berani meludahi ajaran para Nabi, terutama Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam? Beginikah simbol sebuah kemajuan peradaban dimana wanitanya akan dihormati manakala berani membuka dada dan paha? Ataukah beginikah standar kecantikan wanita manakala layak tubuhnya dijadikan simbol penglaris dagangan saja?”

Dalam sebuah artikelnya Prof. Daoed Joesoef menulis "Pemilihan ratu-ratuan seperti yang dilakukan sampai sekarang adalah suatu penipuan, disamping pelecehan terhadap hakikat keperempuanan dari makhluk (manusia) perempuan. Tujuan kegiatan ini adalah tak lain dari meraup keuntungan berbisnis, bisnis tertentu; perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan, dengan mengeksploitasi kecantikan yang sekaligus merupakan kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki dan kebutuhan akan uang untuk bisa hidup mewah. Sebagai ekonom aku tidak apriori anti kegiatan bisnis. Adalah normal mencari keuntungan dalam berbisnis, namun bisnis tidak boleh mengenyampingkan begitu saja etika. Janganlah menutup-nutupi target keuntungan bisnis itu dengan dalih muluk-muluk, sampai-sampai mengatasnamakan bangsa dan negara,”.

Bahkan, Daoed Joesoef menyamakan peserta kontes kecantikan itu sama dengan sapi perah: "setelah dibersihkan lalu diukur badannya dan kemudian diperas susunya untuk dijual, tanpa menyadari bahwa dia sebenarnya sudah dimanfaatkan, dijadikan sapi perah. Untuk kepentingan dan keuntungan siapa?

Hmm, kita memang hidup di akhir zaman, dimana antara yang haq dan bathil sudah terlalu biasa untuk dicampur adukkan, meski perbedaan keduanya amat jelas tapi perasaan dan akal kadang menjadi takaran penentu yang membutakan, tanpa memperhatikan lagi apa yang telah digariskan Allah melalui risalah yang dibawa Rasul-Nya. Atas nama kebebasan wanita kemudian di”ekspolitasi”, namun gayung bersambut dalam keadaan tersebut kebanyakan wanita seperti di atas menara gading “kasih sayang”.

Inilah Kasih Sayang Sejati
Coba kita sedikit tengok ke zaman Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam, sang panutan. Bagaimana seharusnya memberikan kasih sayang sejati kepada kaum wanita.

Dari Urwah bin Zubair diceritakan bahwa ada seorang wanita mencuri pada zaman Rasulullah di dalam Perang Fatah (Penaklukan Kota Makkah). Lalu kaum (keluarga) wanita tersebut mengadu kepada Usamah bin Zaid seraya memohon syafa'at (pertolongan) kepadanya. Kemudian, lanjut Urwah, ketika Usamah membicarakan hal itu dengan Rasulullah, maka wajah beliau pun berubah. Lalu beliau bertanya, “Apakah engkau berbicara denganku mengenai (dispensasi) dalam hal had (sanksi hukum) yang telah ditetapkan oleh Allah?” Usamah pun berkata, “Mohonkanlah ampunan untukku, ya Rasulullah.” Kemudian pada petang harinya Rasulullah berdiri seraya berkhutbah. Beliau memuji Allah dengan sifat-sifat yang layak bagi-Nya. Lalu beliau bersabda, “Amma ba'du, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian tidak lain adalah karena mereka dahulu apabila orang yang terhormat di antara mereka mencuri, maka mereka membiarkannya. Namun apabila orang yang lemah di antara mereka mencuri, maka mereka melakukan had (sanksi hukum) terhadapnya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, andaikata Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku akan memotong tangannya.” Kemudian Rasulullah memerintahkan agar wanita itu dipotong tangannya. Setelah itu wanita tersebut bertaubat dengan baik dan menikah. Aisyah mengatakan, “Setelah itu wanita tersebut datang kepadaku, lalu aku pun melaporkan keperluannya kepada Rasulullah .“ (HR. Bukhari)

Ini adalah lembar sejarah yang cemerlang dan sangat langka di dalam sejarah umat manusia pada umumnya. Saya kira kecemerlangan semacam itu tidak akan pernah terulang sampai Hari Kiamat. Sejarah belum pernah dan tidak akan pernah mengenal orang yang lebih hebat belas kasihnya kepada kaum wanita dibandingkan Rasulullah. Beliau berwasiat tentang wanita, memerintahkan untuk memuliakannya, menganjurkan untuk merawatnya, tabah menghadapi tabiatnya, dan memaafkan kekhilafannya.

Kendati rasa belas kasih beliau kepada kaum wanita demikian agung, namun beliau tidak akan pernah melanggar ketentuan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah. Bahkan ketika pemberlakuan ketentuan itu akan menimpa seorang wanita muslimah sekalipun.

Ini yang tidak kita jumpai pada diri banyak penguasa, para penanggung jawab maupun para orang tua yang menyerahkan kendali sepenuhnya kepada wanita, dengan dalih belas kasih kepadanya. Akibatnya, mereka tidak mencegah kaum wanita melakukan sesuatu yang melanggar syari'at Allah. Mereka membiarkan kaum wanita keluar rumah dengan pakaian yang tidak menutup aurat, bersolek, bergaul bebas dengan lawan jenis dan melakukan apa saja yang dikehendakinya. Ini sama sekali bukan belas kasih kepada wanita. Karena membiarkan wanita melakukan sesuatu yang bisa mengundang murka dan hukuman dari Allah bukanlah wujud belas kasih kepadanya.

Apakah seorang ibu bisa disebut berbelas kasih kepada putrinya ketika dia membiarkannya bermain korek api? Bukankah dia pasti mencegahnya atau mengambil korek api tersebut dari tangannya, kendati si anak sangat menikmati aktifitas menyalakan korek api tersebut, demi mencegahnya membakar dirinya atau membakar rumah beserta isinya?

Belas kasih yang sejati ialah apa yang diterapkan oleh Rasulullah, yakni syari'at Allah yang agung. Syariat itu berfungsi melindungi keselamatan manusia di dunia dan di akhirat, bahkan ketika ia mencegah mereka memperturutkan hawa nafsu mereka dari menghalangi mereka dari kesenangan-kesenangan yang diharamkan.

Barangkali taubat yang dilakukan oleh wanita dari kabilah Makhzum dengan dipotong tangannya tersebut memberikan peringatan (warning) kepada wanita muslimah masa kini yang merasa keberatan terhadap sesuatu yang jauh lebih ringan daripada harus dipotong tangannya. Yaitu wanita yang keberatan untuk menutup auratnya, keberatan untuk tinggal di rumah, dan keberatan untuk taat kepada suaminya. Peringatan itu menunjukkan bahwa semua itu bisa dilakukan oleh kaum wanita dengan pertolongan Allah. Dan di dalam taubat itulah terkandung jaminan keselamatan dan kemenangannya di dunia dan Akhirat.

Andaikata Sayyidah Fatimah mencuri, niscaya ayahnya yakni Nabi sendiri yang akan memotong tangannya. Apakah pemotongan itu paradoks (bertentangan) dengan rasa belas kasih?! Justru itulah belas kasih yang sejati. Karena adzab di Akhirat teramat pedih dan maha dahsyat, sementara melakukan eksekusi (pemotongan tangan) akan membuatnya selamat dan adzab Akhirat tersebut.

Maka dari itu, tidaklah berbelas kasih ketika seorang ayah membiarkan putrinya atau seorang suami membiarkan istrinya melakukan apa saja sesuka hatinya meski bermaksiat kepada Allah.

Peristiwa pencurian yang dilakukan oleh wanita Makhzumiyah itu terjadi pada waktu penaklukan kota Makkah. Yaitu sebuah momentum yang disambut dengan suka cita oleh seluruh kaum muslimin. Akan tetapi momentum suka cita itu tidak mengabaikan pelaksanaan hukuman (had) yang telah ditetapkan oleh Allah.

Tidak lupa juga kita memberikan perhatian khusus kepada iman yang dimiliki oleh wanita Makhzumiyah tersebut dan taubat yang dilakukannya dengan baik. Dia tidak murtad (keluar) dan agamanya ketika Nabi menolak syafa'at yang diajukan melalui Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu. Begitu juga ketika hukuman (had) dilakukan terhadap dirinya. Justru dia bensikap pasrah dan bertaubat. Dia bahkan mau datang kepada Sayyidah Aisyah , lalu keperluannya dilaporkan kepada Nabi. Ini adalah bukti nyata yang menunjukkan keseriusan dan kekuatan iman di dalam dirinya.

Hal itu juga akan menjadi persaksian baginya, dan dia -insya Allah- akan menemukan buah dan kepasrahannya itu di Akhirat kelak. Sebab, dunia ini akan berlalu bersama kenangan manis dan pahitnya. Sedangkan Akhirat akan tetap kekal dan abadi. Akhirat jauh lebih baik daripada dunia dengan perbandingan yang tiada tara. Karena nilai dunia jika dibandingkan dengan Akhirat tidak lebih dan air yang menempel di ujung jari ketika dicelupkan ke dalam samudera berbanding dengan seluruh air yang ada di dalamnya. Wallahu a’lam.[]


Selasa, 18 Mei 2010

Apa Koruptor punya Tuhan?

Siang itu, panas matahari terik menyengat, dua orang berjalan di tengah gurun pasir, dua orang itu tak lain adalah sahabat yang mulia Amirul Mukminin Umar bin Khattab dan Abdullah bin Dinar radhiyallahu ‘anhum. Mereka sedang mengadakan perjalanan dari Madinah ke Makkah. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan seorang anak gembala. Lalu timbul dalam hati Khalifah Umar untuk menguji sejauh mana kejujuran dan keamanahan si anak gembala itu.

Maka, terjadilah dialog berikut ini. “Wahai anak gembala, juallah kepadaku seekor anak kambing dari ternakmu itu!” ujar Amirul Mukminin. “Aku hanya seorang budak,’ jawab si gembala. Umar bin Khattab berkata lagi, “Katakan saja nanti pada tuanmu, anak kambing itu dimakan serigala.”

Anak gembala tersebut diam sejenak, ditatapnya wajah Amirul Mukminin, lalu keluar dari bibirnya perkataan yang menggetarkan hati Khalifah Umar, “Fa ainallah? (Dimana Allah?) Kurang lebih maknanya adalah, “Jika Tuan menyuruh saya berbohong, lalu di mana Allah? Bukankah Allah Maha Melihat? Apakah Tuan tidak yakin bahwa siksa Allah itu pasti bagi para pendusta?”

Umar bin Khattab adalah seorang khalifah, pemimpin umat yang sangat berwibawa lagi ditakuti, dan tak pernah gentar menghadapi musuh. Akan tetapi, menghadapi anak gembala itu beliau gemetar, rasa takut menjalari seluruh tubuhnya, persendian-persendian tulangnya terasa lemah, kemudian beliau menangis. Menangis mendengar kalimat tauhid itu, yang mengingatkan pada keagungan Allah, dan tanggung jawabnya di hadapan-Nya kelak.

Lalu dibawanya anak gembala yang berstatus budak itu kepada tuannya, kemudian ditebusnya, dan beliau berkata, “Dengan kalimat tersebut (Fa ainallah?) telah kumerdekakan kamu dari perbudakan itu dan dengan kalimat itu pula insya Allah kamu akan merdeka di akhirat kelak.” Peristiwa di atas jelas merupakan cermin jiwa yang ihsan, serta gambaran iman yang melahirkan sifat jujur dan amanah. Seorang anak yang terdidik dengan nilai-nilai Islam dan tauhid yang kuat. Manusia yang langka untuk zaman sekarang ini.

Alangkah indahnya negeri ini bila penduduknya memiliki iman dan ihsan seperti anak gembala itu. Apalagi jika iman dan ihsan itu ada pada orang-orang yang dominan memegang peranan penting di negeri ini. Kita akan menikmati kesungguhan presiden dengan jajaran para menteri kabinet dan seluruh aparat pemerintahannya untuk memajukan bangsa dan memakmurkan rakyatnya, bebas dari rasa takut, bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Dibandingkan dengan harapan tersebut realita yang ada hal tersebut masih sesuai dengan pepatah “jauh panggang dari api”. Berita-berita korupsi di tanah air seakan tak ada habis-habisnya. Menurut lansiran sebuah media bahwa data dari pihak kejaksaan agung angka tindak pidana korupsi tiap tahunnya meningkat sampai 100%. Uniknya kebanyakan kasus korupsi yang terungkap selalu saja kasusnya menggurita kemana-mana melibatkan banyak oknum, dengan kata lain ternyata “perampokan” tersebut sudah tidak dilakukan sendiri-sendiri tapi beramai-ramai.

Uang negara yang katanya ‘bantuan’ namun tak lain adalah utang dari luar negeri juga tak luput dari incaran koruptor. Profesor Sumitro Djoyohadikusumo, pendiri fakultas ekonomi dari Universitas Indonesia, pernah menyatakan bahwa paling sedikitnya 30% dari pinjaman yang diberikan kepada pemerintah Indonesia telah dicuri.

Baru-baru ini kita dicengangkan dengan berita bahwa, salah seorang ketua Pengadilan Negeri yang sekaligus ketua majelis hakim kasus Gayus, mengakui kecipratan uang haram sebesar Rp 50 juta. Ironisnya, uang hasil penyuapan tersebut digunakan untuk umrah. Itu menandakan bahwa para koruptor di negara ini sudah sedemikian parah. Mereka tidak lagi takut kepada peradilan yang ada di dunia ini, bahkan peradilan akhirat.

Dari berita-berita yang kasat mata bahwa banyak diantara pejabat yang terlibat kasus-kasus korupsi itu juga ibadat formalnya tidak kalah rajin juga, seperti salat maupun umrah, bahkan haji. Namun sebagaimana diketahui, ibadah dengan menggunakan uang haram tidak akan mendatangkan pahala, tapi dosa, bahkan laknat. Ibadah memang dianjurkan. Namun, harta yang dipakai untuk ibadah harus diperoleh dengan cara yang halal.

Dulu, pernah ada pertanyaan yang muncul di benak saya -mungkin juga Anda-, “Kok bisa ya orangnya shalat di masjid tapi pulangnya membawa sandal orang lain?”

Jawabannya mungkin kita bisa lihat dari hadits panjang berikut
“Dari Umar radhiyallahuanhu juga dia berkata: Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu”, kemudian dia berkata: “anda benar”. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman”. Lalu beliau bersabda: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk”, kemudian dia berkata: “anda benar“. Kemudian dia berkata lagi: “Beritahukan aku tentang ihsan”. Lalu beliau bersabda: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya”. Dia berkata: “Beritahukan aku tentang tanda-tandanya”, beliau bersabda: “Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya”, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “Tahukah engkau siapa yang bertanya?”. aku berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau bersabda: “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian”. (HR. Riwayat Muslim)

Dari hadits tersebut dikenal istilah ‘Islam’, ‘Iman’ dan ‘Ihsan’. Islam menekankan pada aspek ubudiyah atau ibadah formal, Iman menekankan pada aspek akidah dan Ihsan menekankan pada aspek moralitas. Celakanya ketiga aspek tersebut diterapkan secara parsial dan terpisah. Sendiri-sendiri tanpa menyatu. Aspek Islam, misalnya tadi, salat dan umrahnya rajin, tapi akidahnya kadang-kadang masih bolong-bolong dan bopeng. Masih suka ke dukun, para normal, ramalan bintang, dan sebagainya, mau jadi caleg, mau dapat jodoh ke mbah ini atau ke kuburan anu, dsb. Ada yang akidahnya bagus, kuat, tapi ‘Islam’nya (ibadahnya) berantakan. Shalat di masjid, keluar dari masjid, tukar sandal, nah. Andaikan bila ‘Ibadahnya bagus, imannya bagus, tapi ihsannya (moralitasnya) berantakan. Korupsinya rajin, menilep uang negara (rakyat) juga tak kalah gesit, dst. Kenapa??? Karena difahami bahwa ajaran Islam tidak diintegralkan dan disatukan.

“Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat daripadanya dari pada urat lehernya.” (QS. Qaaf 50:16)

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempat. Dan tiada pembicaraan antara lima orang, melainkan Dia-lah yang keenam. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melaikan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada, kemudian Dia akan memberitahukan kapada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Mujadalah 58:7)

Iman dan Ihsan erat kaitannya dengan muraqabatullah (senantiasa merasa diawasi oleh Allah) bila muraqabatullah ini terasa melemah ini menunjukkan iman juga sedang lemah. Kalau kita renungkan diantara penyebab penting hingga bangsa ini hampir bangkrut adalah lemahnya muraqabatullah. Kebohongan sudah menjadi kultur bangsa kita; mahasiswa nyontek, pejabat korup, bisnis penuh tipu, dan lain-lain itu bersumber karena lemahnya muraqabatullah.

Namun bila iman dan ihsan menyebar di negeri ini, maka kita akan mendapati politisi yang jujur, jauh dari praktik rekayasa negatif untuk menjatuhkan lawan politiknya, polisi yang mengayomi masyarakat, karyawan dan para buruh yang memiliki dedikasi dan tanggung jawab. Insya Allah, peraturan akan dipatuhi, negara akan aman, kemakmuran akan dinikmati, hati penduduk negeri menjadi damai.

Demikian memang jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka.” (Al A”raf: 96).

Wallahu Ta’ala A’lam. [af]

(Buletin Al-Balagh Edisi 63 Tahun V 1431 Jumadil Ula)

Selasa, 19 Januari 2010

Pembangunan Tembok Baja, Runtuhnya Ukhuwah

Diterbitkan di Buletin Pekanan Al-Balagh Edisi 46
Kondisi umat Islam di Gaza, Palestina, sangat menyedihkan khususnya setelah distribusi bantuan makanan bagi rakyat Palestina di Jalur Gaza dihentikan PBB dengan alasan kekurangan bahan bakar.
Orang-orang Palestina telah berada dalam kesulitan untuk mendapatkan makanan sejak Palestina diduduki pada tahun 1946. Di beberapa resort, bahkan sebagian lagi memakan rumput.
Badan PBB yang mengelola distribusi bantuan, UNRWA, menghentikan pengiriman bantuan makanan ke Gaza dua minggu lalu karena kendaraan mereka mengalami kekurangan bahan bakar. Lebih dari 80% penduduk Gaza mengandalkan bantuan kemanusiaan, dengan pasokan makanan dari PBB memenuhi kebutuhan 1,5 juta orang. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak.

Dalam kondisi yang mengenaskan seperti itu secara mengejutkan Mesir yang notabene adalah negara Islam berencana membangun tembok baja untuk menutup akses terowongan-terowongan bawah tanah yang digali warga Gaza agar bisa mendapatkan kebutuhan hidup sehari-hari yang sulit mereka temui di Gaza akibat blokade Israel.
Tak hanya menutup bantuan dari dunia luar, tembok baja sedalam 15 meter yang dibangun oleh Mesir juga akan mengancam cadangan air bawah tanah yang ada di Jalur Gaza, jadi Gaza akan semakin memblokade secara ekonomi dan pasokan airnya juga terancam.
Boleh dikata pembangunan “dinding kematian” tersebut semakin “menyempurnakan” penderitaan bagi 1,5 juta warga Gaza yang selama bertahun-tahun di bawah pengepungan dan blokade Israel.
Pembaca yang budiman, jika pemblokiran atas saudara kita di Gaza dilakukan oleh kaum penjajah, zionist Israel maka itu hal tersebut bukan lagi menjadi berita asing bagi kita, tapi ini dilakukan oleh Negara Islam dengan mayoritas penduduk muslim! Sebagai seorang muslim sudah sewajarnya hal tersebut memiriskan hati kita dan kita pun berhak untuk bertanya kemana gerangan persaudaraan Islam (Ukhuwah Islamiyah) sekarang ini?

Ukhuwah Islamiyah
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang melapangkan kesempitan dunia seorang mu'min, maka Alla akan melapangkan baginya kesempitan pada hari kiamat. Dan barang siapa yang mempermudah kesulitan seseorang, maka Allah akan mempermudahnya dalam kehidupan dunia dan akhirat. Barang siapa yang menutupi sela seorang muslim, maka Allah akan menutupi celanya di dunia dan di akhirat. Dan Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selagi hamba-Nya tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim)
Ukhuwah merupakan sesuatu yang terlahir dari keimanan yang mendalam, dan juga merupakan buah dari ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Oleh karena itulah, ulama mengatakan, bahwa tidak ada iman tanpa ukhuwah, sebagaimana tidak ada ukhuwah tanpa adanya pondasi iman. Membenarkan hal tersebut, firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (QS. al Hujurat : 10)
“Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”
Seorang yang beriman apabila tidak memiliki rasa ukhuwah terhadap sesama muslim lainnya, hal ini menunjukkan bahwa imannya belum sempurna. Dalam hadits, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
“Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari)

Persatuan Umat; Buah Ukhuwah
Ukhuwah memilki nilai positif yang sangat luas, salah satunya adalah terwujudnya al-wihdah al-islamiyah (persatuan umat). Karena dengan adanya ukhuwah, setiap muslim tidak akan memandang seseorang dari sukunya, bahasanya, negaranya, warna kulitnya, warna rambutnya, organisasinya, partainya dan lain sebagainya. Namun ia akan melihat seseorang dari segi aqidahnya. Siapapun ia, jika ia mentauhidkan Allah, beragamakan Islam, bermanhajkan Al-Qur'an, berkiblatkan ka'bah, bersunahkan sunah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam maka ia adalah saudaranya. Sehingga ia akan memandang bahwa di setiap daerah, setiap wilayah atau bahkan di negara manapun yang di sana terdapat orang-orang yang memperjuangkan kalimatullah, maka itu adalah negrinya. Dan setiap muslim memiliki kewajiban untuk senantiasa menolong saudaranya di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Atau paling tidak, harus memiliki kepedulian terhadap kebutuhan dan kesusahan yang dialami saudaranya.
Adapun pada zaman sekarang ini, berangkat dari ketiadaan ukhuwah, maka seolah tiada pula persatuan dan kesatuan di kalangan umat Islam. Hampir setiap organisasi, kelompok, partai berpecah belah satu dengan yang lainnya. Ini masih dalam satu negara, maka apatah lagi jika sudah berbeda negara, berbeda warna kulit dan lain sebagainya. Kondisi seperti ini diperparah lagi dengan adanya konspirasi kaum barat yang berusaha untuk memecah belah kaum muslimin. Sehingga saat ini dapat dikatakan tidak ada satu negara muslim pun yang secara politiknya mencoba untuk merealisasikan ukhuwah dalam politik luar negerinya terhadap negara muslim lainnya. Padahal ukhuwah merupakan bagian terpenting dari keimanan. Karena tiada kesempurnaan iman tanpa adanya ukhuwah.

Fanatisme, Penyakit Jahiliyah
Penduduk Jazirah Arabia pada umumnya, hingga masa-masa awal kenabian Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, lebih banyak membentuk ikatan antar mereka dari sisi silsilah keturunan. Semakin dekat garis keturunan antar mereka, maka semakin kuat tali perkawanan dan persekutuan. Izzah tertinggi (kemuliaan) bagi masyarakat ini adalah pengabdian kepada suku. Auz dan Khazraj, dua suku Arab penduduk Yatsrib (Madinah), mewakili gambaran di atas.
Kepentingan seseorang adalah mewakili kepentingan suku. Pengabdian anggota suku adalah untuk suku masing-masing. Lantaran fanatisme kesukuan yang sangat tinggi, tiap orang berbangga atas kesukuannya, dan ketika tak ada kepentingan kecuali atas nama kepentingan suku, maka peperangan, kebencian dan permusuhan telah membelenggu kedua suku ini selama bertahun-tahun.
Fanatisme kenegaraan, penyakit sekuler inilah yang sekarang ini menggerogoti kebanyakan para pemimpin Negara Islam khususnya Negara Mesir. Tindakan-tindakan mereka sudah tidak berlandaskan pada kepentingan agama dan umat Islam tapi pada kepentingan negaranya tanpa peduli lagi dengan nasib kaum muslimin yang sedang menderita dan sangat membutuhkan pertolongan di jalur Gaza. Bahkan pemboikotan mereka bisa jadi merupakan bentuk tolong menolong dengan bangsa kafir dan penjajah, yahudi yang telah lama melakukan pemboikotan dan pembunuhan terhadap warga Gaza untuk menekan perlawanan mereka.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah ditanya tentang hukum mencintai orang-orang kafir dan lebih mengutamakan daripada kaum muslimin, beliau menjawab bahwa orang yang lebih mencintai orang-orang kafir daripada kaum muslimin, telah melakukan perbuatan haram yang besar, karena seharusnya ia mencintai kaum muslimin dan mencintai kebaikan bagi mereka sebagaimana bagi dirinya sendiri. Adapun lebih mencintai musuh-musuh Allah
daripada kaum muslimin, tentunya ini bahaya besar dan haram, bahkan tidak
boleh mencintai mereka walaupun tidak melebihi cintanya terhadap kaum
muslimin, hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
“Artinya : Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah
dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang
Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak
atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung” (Al-Mujadilah : 22)
Dan firmanNya. “Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu” (Al-Mumtahanah : 41)
Demikian juga orang yang memuji mereka dan lebih mengutamakan mereka
daripada kaum muslimin dalam bidang pekerjaan atau lainnya, berarti ia telah
berbuat dosa dan berburuk sangka terhadap saudara-saudaranya sesama muslim dan berbaik sangka kepada orang-orang yang tidak pantas untuk disangka baik.
Seharusnya seorang mukmin lebih mendahulukan kaum muslimin daripada yang lainnya dalam segala urusan pekerjaan dan lainnya. Jika ada kekurangan pada
kaum muslimin, maka hendaknya ia menasehati dan memperingatkan serta
menjelaskan kepada mereka dengan tidak bersikap aniaya. Mudah-mudahan dengan demikian Allah menunjuki mereka melalui tangannya.Wallahu Ta’ala Alam
Diolah dari berbagai sumber

Kamis, 07 Januari 2010

Kabut Tebal Infotainment

Diterbitkan di Buletin Pekanan Al-Balagh Edisi 44
Ironi Infotainment
Di abad informasi, tidak ada yang lebih berpengaruh daripada televisi. Sejak Farm Sworth dari Amerika Serikat menemukan televisi pada 1927 dan mulai masuk ke Indonesia sesudah pertengahan abad ke-20, televisi menjadi media yang sangat berpengaruh bagi semua kalangan. Pengaruh televisi yang semakin hegemonik telah menjadi bagian dari dinamika kehidupan. Tak heran jika banyak pihak yang mengatakan bahwa hidup tanpa televisi ibarat hidup tanpa makan.


Begitu banyak masyarakat yang kontak dengan televisi setiap hari. Di ruang keluarga, kamar tidur, lobi hotel, bahkan di dalam kendaraan televisi bercokol. Program televisi yang dikemas sedemikian rupa, disajikan dengan format audio visual, mengkonstruksi pikiran publik secara tak sadar. Besarnya animo publik terhadap televisi membuat industri media bersaing merebut “kue” pemirsa dengan mata acara yang dianggap memiliki nilai lebih dibandingkan media lain. Begitu banyak tayangan menarik yang disajikan demi mengalihkan perhatian publik. Mulai dari berita, sinetron, kuis, infotainment, sampai realitas buatan yang disulap menjadi fakta objektif.
Yang menjadi persoalan, adalah televisi saat ini kurang berpihak pada kepentingan publik. Atas nama rating dan iklan, mayoritas stasiun TV menomorsekiankan aspek dampak negatifnya. Dan bisa ditebak akibatnya, masyarakat menjadi korban karena dibiarkan menyaring sendiri tayangan mana yang layak ditonton, dan mana yang tidak.

Korban-korban Kotak Televisi
Survei termutakhir UNICEF pada 2007 silam bak dering jam weker yang pantas membuat orangtua awas. Kata badan PBB itu, para bocah di Indonesia terpekur rata-rata lima jam sehari di depan layar kaca atau total jenderal 1.560 hingga 1.820 jam setahun. Angka ini, menurut UNICEF, jauh lebih gemuk ketimbang jumlah belajar mereka yang 1.000 jam setahun di sekolah.
Maka jadilah kotak televisi sekolah tandingan bagi anak-anak ini. Naasnya, jika diamsalkan sekolah, maka televisi adalah sekolah yang berbahaya.
Disebut sekolah berbahaya lantaran kotak televisi sesungguhnya dijubeli materi-materi khusus untuk orang dewasa. Tayangan infotainment menggeruduk di pagi hari tatkala anak tengah sarapan. Tayangan sinetron tumpah ruah di layar kaca bak air bah dari sore hingga menjelang tidur.
Maka, alangkah malangnya anak-anak (zaman sekarang) ini, keceriaan dan kepolosannya mereka -disadari atau tidak- berpeluang terbang akibat masuknya persoalan orang-orang dewasa ke dalam otak mereka. Lewat televisi.
Banyak tayangan televisi yang tidak mempertimbangkan aspek psikologis. Kasus meninggalnya anak laki-laki akibat tayangan smack down akhir tahun 2005 silam menunjukkan betapa besar peran industri media dalam membentuk pola pikir dan perilaku anak-anak. Adopsi gaya hidup dan serapan nilai konsumerisme melalui televisi juga menjadi bagian dari realitas sosial yang amat memprihatinkan. Hal ini terbukti dengan semakin bergesernya nilai dan norma sosial pada diri anak-anak dan remaja.
Hal yang sama juga terjadi pada acara infotainment, yang sudah menjadi kebutuhan mayoritas masyarakat Indonesia, terutama di kalangan ibu-ibu rumah tangga serta remaja perempuan. Konstruksi pemirsa infotainment dibangun berdasarkan stereotipikasi terhadap sifat perempuan yang suka bergosip. Yang perlu kita garis bawahi lagi adalah acara tersbut begitu mendominasi. Mulai pagi buta, beberapa stasiun televisi sudah menghadirkan isu-isu hangat tentang para artis. Ini masih subuh, kalau rajin mengikuti, acara itu masih akan berlanjut hingga sore habis maghrib. Tentunya dengan format dan stasiun televisi yang berbeda.
Semenjak kemunculannya pada tahun 1994, kiprah tayangan infotainment memang bisa dibilang sangat luar biasa. Buktinya, stasiun televisi seakan berlomba menayangkan program acara yang menyajikan berita seputar selebritis ini. Bahkan menurut hasil survei Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Maret 2006 tayangan infotainment telah mengisi 63 persen tayangan televisi Indonesia.
Untuk saat ini saja terdapat tak kurang dari 26 acara infotainment. Dalam sehari tersuguh 15 sampai 23 tayangan infotainment di sembilan stasiun televisi. Yang berarti dalam seminggu tidak kurang dari 150 tayanganyang disodorkan kepada pemirsa.
Lalu timbulah pertanyaan di benak kita; dengan porsi siaran sebesar itu, perlukah infotainment terus eksis?
Pertama, kita akui bersama bahwa yang namanya public figure itu adalah sorotan dan terkadang panutan. Masyarakat selalu menunggu kabar terbaru dari public figure favoritnya.
Sebenarnya yang namanya public figure atau selebritis tidak hanya artis, yang notabene berprofesi sebagai bintang film, sinetron, penyanyi, musisi, presenter kondang, dan laing sebagainya, tapi juga politikus, ustadz, olahragawan, dan lainnya. Meskipun begitu harus diakui masyarakat kita lebih tinggi untuk mengidolakan artis dibanding politikus dan lainnya. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya program infotainment.
Kedua, Indonesia mengusung kebebasan berpendapat dan termasuk kebebasan pers. Inilah yang menyebabkan infotainment berkembang dan bahkan telah menjamur di Indonesia.
Pemirsa disuguhi tayangan-tayangan rahasia pribadi para selebriti, mulai dari gaya hedonisme mereka, cara pacaran mereka, pernikahan terselubung mereka, perselingkuhan mereka, pisah ranjang mereka, perceraian mereka, hingga kemampuan seks mereka. Semuanya dijadikan tontotan.
Ini artinya, infotainment yang begitu dibanggakan para pemilik stasiun televisi, telah menjadi virus baru dalam kebudayaan populer indonesia. Jadi secara pribadi, ini bukanlah tontonan rakyat, tapi merupakan suatu infiltrasi budaya, - entah itu disengaja atau tidak - yang mengatasnamakan dirinya jurnalisme informasi dan hiburan.
Melalui infotainment, masyarakat dapat merasa dekat dengan selebriti yang gaya hidupnya jauh di awang-awang, berbeda dengan masyarakat kebanyakan. Jarak yang jauh itu terjembatani oleh media massa. Masyarakat dapat merasakan seolah-olah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para selebriti.

Gosip = Ghibah, Haram!
Pernah dengar gosip perceraian dai kondang asal Jawa Barat Aa Gym yang dihembuskan oleh infotainment? Menurut infotainment tersebut kabarnya rumah tangga Aa Gym dan Teh Nini sedang goyah, kabarnya pula itu disebabkan karena Aa Gym kesulitan untuk berlaku adil dalam berpoligami. Teh Nini katanya sudah tidak tahan dan berniat pisah dengan Aa Gym. Tapi berita bohong tersebut langsung dibantah oleh beliau dan menyatakan bahwa dari pihaknya tidak ada yang mengeluarkan pernyataan kalau rumah tangganya dengan Teh Ninih sedang guncang.
Seharusnya mereka takut dengan firman Allah dalam surat Al Hujarat ayat 12 :
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
Menggosip adalah tindakan yang paling dibenci Allah. Tapi celakanya, kebiasaan ini justru disukai banyak orang, baik di kantor, ditempat kerja atau bahkan di rumah. Terurama kalangan ibu-ibu
Banyak hal yang bergeser dan berubah dengan hadirnya pesawat televisi ke rumah kita, terutama yang berkaitan dengan budaya dan akhlak. Salah satu yang jelas terlihat yaitu pergeseran makna bergunjing atau menggosip.
Menggosip adalah tindakan yang tidak terpuji yang celakanya, kebiasaan ini seringkali dilekatkan pada sifat kaum wanita. Dulu, orang akan tersinggung jika dikatakan tukang gosip. Seseorang yang ketahuan sedang menggosip biasanya merasa malu. Namun, sekarang kesan buruk tentang menggosip mungkin sudah mengalami pergeseran.
Ghibah atau gosip merupakan sesuatu yang dilarang agama. “Apakah ghibah itu?” Tanya seorang sahabat pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. “Ghibah adalah memberitahu kejelekan orang lain!” jawab Rasul. “Kalau keadaaannya memang benar?” Tanya sahabat lagi. “Jika benar itulah ghibah, jika tidak benar itulah dusta!” tegas Rasulullah. Percakapan tersebut diambil dari HR Abu Hurairah.
Dalam Al Qur'an (QS al-Hujurat :12), orang yang suka menggibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu. Meriwayatkan “Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat seperti bau bangkai maka Rasul pun bersabda, “Tahukah kalian, bau apakah ini? Inilah bau dari orang-orang yang mengghibah orang lain”. (HR Ahmad)
Dalam hadits lain dikisahkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, “Pada malam Isra' mi'raj, aku melewati suatu kaum yang berkuku tajam yang terbuat dari tembaga. Mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka sendiri. Lalu aku bertanya pada Jibril” Siapa merka?” Jibril menjawab, “Mereka itu suka memakan daging manusia, suka membicarakan dan menjelekkan orang lain, mereka inilah orang-orang yang gemar akan ghibah!” (dari Abu Daud yang berasal dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu).
Begitulah Allah mengibaratkan orang yang suka menggibah dengan perumpamaan yang sangat buruk untuk menjelaskan kepada manusia, betapa buruknya tindakan ghibah yang kini telah banyak dilakoni oleh masyarakat bahkan menjadi salah satu hiburan di televisi dalam kemasan yang bernama INFOTAINMENT. Wallahu Muawaffiq.
Di susun dari berbagai sumber

Senin, 04 Januari 2010

Selamat Tinggal Lajangku...

“Jadi, kapan (walimahnya) kita kak?” tanya seorang ikhwan yunior di sela acara walimahan.
Suatu pertanyaan yang dulu sering saya lontarkan pada ikhwan senior yang belum menikah pada acara walimahan seperti ini.
“Insya Allah tidak lama lagi, yang penting jangan bosan jadi panitia.”
Jawaban diplomatis yang juga jadi senjata para ikhwan senior dulu. Ketika satu persatu ikhwan senior kami meninggalkan masa lajangnya pertanyaan itupun pindah kepada saya.

Ah, hidup berjalan terus seiring perputaran dunia. Aku hanya tidak ingin bilang sama yunior jika mereka bertanya seperti itu bahwa, kalian akan mendapat pertanyaan seperti itu juga. Biarkan waktu yang mengantar mereka, dan seiring itu akupun meninggalkan masa lajangku –insya Allah- dan mereka menggantikan posisi saya sekarang he....he....:)
Pernah seorang ikhwan berkata kepada saya, “Ternyata kita betul-betul sudah tua, ketika masuk kampus semua ikhwah memanggil kita ‘Kak’, tidak ada yang memanggil kita, ‘Dik’.”
Yah, dunia terus berputar... dan pertanyaan tersebut tak berlaku lagi buat saya sebab saya sudah punya belahan jiwa. Selamat tinggal masa lajang.
Siluet sepasang insan beradu kasih di belakang kemudi, angin burit berhembus, sauh telah diangkat, layar terkembang, bahtera pun membelah riak ombak meninggalkan dermaga penantian...

Cari Artikel

Arsip

www.wahdahmakassar.org