Kumpulan catatan Zainal Lamu, socialpreneur yang masih belajar.

Selasa, 30 November 2021

3 Macam Orang Yang Shalat, Kamu Yang Mana?


"Jangan salam (mengakhiri shalat) sebelum menghadirkan hati kepada Allah."

-----

Orang yang shalat setidaknya ada 3 macam.

Yang pertama adalah orang yang sepanjang shalat hatinya tidak pernah terputus dari mengingat Allah Ta'ala. Seperti inilah shalat Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dan sahabat beliau radhiyallahu 'anhu 'ajmain.

Dikisahkan setelah perang Badar, 2 orang sahabat bertugas berjaga malam. Mereka sepakat untuk bergiliran. Salah seorang dari mereka kemudian tidur dan sahabat yang lain berjaga.

Untuk memanfaatkan waktu sahabat yang berjaga menunaikan shalat. Tiba-tiba datang seorang Quraisy, ia kemudian melesatkan panah dan tepat mengenai sahabat ini.

Namun sahabat ini tidak bergeming, ia tetap melanjutkan shalatnya. Sampai anak panah kedua kembali bersarang di tubuhnya.

Sahabat yang tidur tadi pun terbangun dan orang Quraisy itu  kemudian melarikan diri.

Melihat teman berjaganya terluka, ia pun bertanya kenapa dia tidak dibangunkan? Sang sahabat mengatakan bahwa ia tidak ingin memutus ayat Al-Qur'an yang ia baca saat shalat tadi.

Kisah-kisah mengagumkan seperti ini banyak kita jumpai dalam sirah-sirah para salaf.

Model kedua, orang yang shalat namun hatinya tidak pernah 'nyambung' dengan Allah. Badannya saja yang kelihatan shalat namun hatinya melanglang buana entah kemana, mulai dari takbiratul ihram sampai ia salam.

Orang seperti ini merasa cukup telah shalat dan biasanya langsung pergi tanpa berdzikir lagi.

Model ketiga, adalah orang yang dalam shalatnya kadang 'nyambung' dengan Allah dan kadang dilalaikan dengan urusan lainnya. Ini adalah model shalat yang kebanyakan kita lakukan.

Setan akan menggunakan berbagai cara untuk melalaikan kita dari mengingat Allah, utamanya dalam shalat.

Semut kecil yang kita lihat di tempat sujud bisa menjadi jalan pikiran kita untuk berkelana keluar. "Kenapa semut bisa di sini? Mungkin karpetnya tidak bersih. Siapa yang tugas membersihkan hari karpet hari ini?" Saat sujud muncul ketakutan, bagaiman kalau semutnya masuk di telinga, bagaimana kalau semutnya membisikkan sesuatu. Dsb.

Jebakan pikiran seperti ini harus dilawan. Saat shalat kita harus senantiasa menjaga kekhusyu'an, memfokuskan pikiran, menghadirkan hati tunduk kepada Allah, menghayati bacaan-bacaan shalat kita.

Kalaupun hati sempat terlalaikan harus berusaha untuk kembali khusyuk lagi.

InsyaAllah dengan kejuhudan kita melawan godaan setan akan lebih besar lagi pahalanya.

Seorang guru pernah berpesan, "Jangan salam (mengakhiri shalat) sebelum menghadirkan hati mengingat Allah."

Kata Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, "sesungguhnya amalan itu tergantung dari akhirnya."

Semoga Allah Ta'ala mengaruniakan kepada kita nikmat shalat yang khusyuk. Dan semoga Allah mematikan kita dalam keadaan mengingat kepada-Nya. Aamiin.[]


Jumat, 26 November 2021

Ilmu Mengangkat Derajat


Jika saja Uqbah bin Amir al-Juhani tetap dalam pendiriannya untuk terus menggembalakan kambing-kambingnya, mungkin ia hanya akan dikenal tak lebih sebagai penggembala kambing. Mungkin juga namanya tak tercatat dalam kitab-kitab sejarah Islam sebagai salah satu sahabat utama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Namun siapa sangka keputusannya untuk meninggalkan padang gembalaan, lalu pergi ke Madinah bermulazamah dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kelak akan mengubah hidupnya biidznillah...

Uqbah menjadi salah seorang sahabat yang selalu dekat dengan Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam. Ia senantiasa menyertai Rasulullah dalam perjalanan seperti bayangan yang selalu mengikuti tuannya.

Uqbah memegang tali kekang kendaraan Nabi shallallahu alaihi wa sallam ke mana pun ia berjalan. Uqbah dijuluki dengan "Radif Rasulullah" karena seringnya membonceng di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kesempatan itu tak disia-siakannya untuk menimba dan mereguk segarnya ilmu langsung dari sumbernya.

Dan Uqbah sendiri tak menyangka dengan jalan itu kelak ia akan menjadi salah seorang Ulama dari deretan para ulama besar sahabat, dia akan menjadi qari' di antara syaikh para qurra', dia akan menjadi panglima di antara para panglima penakluk yang gagah berani dan dia akan menjabat sebagai gubernur di antara gubernur Islam yang diperhitungkan.

Lihatlah! Dari penggembala kambing menjadi gubernur. Allah Ta'ala mengangkat derajatnya karena ilmunya. Maha Benar Allah dengan firman-Nya,

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

“Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman dan diberikan ilmu di antara kalian beberapa derajat. Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al Mujadilah [58]: 11).

Semoga Allah Ta'ala menganugerahi kita ilmu yang bermanfaat.