Selasa, 03 Desember 2013

Polemik Kondom dan Kegigihan Otak Cabul

  
Ada kaidah yang mengatakan, "Kebohongan yang sering disuarakan secara konsisten suatu saat akan diterima sebagai sebuah fakta."

Setiap akhir tahun kita senantiasa dihadapkan pada polemik "kondom". Saya sendiri mengenal polemik ini sejak tahun 2006. Saat itu saya membaca tulisan di sebuah koran tentang sekelompok mahasiswa-mahasiswi salah satu Universitas di Jakarta berkeliling sambil melakukan ‘devile’ sejuta kondom untuk dibagikan kepada siapapun yang dijumpai.

Dari dulu sudah ada pendapat dari pakar bahwa kondom tidak bisa mencegah virus HIV/AIDS, karena virus HIV lebih kecil dari pori-pori kondom apalagi jika kondomnya melar. Jadi, kampanye kondom untuk mencegah AIDS tiada lain hanyalah kebohongan besar. Kampanye yang paling logis adalah, “Anda mau selamat takutlah kepada Allah dan setialah kepada suami/istri anda”.

Tapi fakta tersebut itu tidak ada artinya bagi mereka. Sebab tujuan mereka memang bukan untuk mengurangi penderita AIDS, tapi untuk memperbanyak pelaku seks bebas. Dengan begitu kondom dari produsen sponsor mereka juga makin laku. Dan merekapun kecipratan untungnya.

Lihatlah betapa gigihnya mereka! Tiap tahun mereka mendapat penolakan namun tak menyurutkan semangat mereka. Saat itu program kondomisasi belum mendapat dukungan atau paling tidak belum menjadi bagian dari program pemerintah. Namun program legalisasi seks bebas ini terus menerus digalakkan dan diadakan besar-besaran tiap tahun hingga akhirnya menjadi program pemerintah dan dibiayai dengan menggunakan uang rakyat. Jika dulu hanya 1 hari maka sekarang 1 pekan. Inilah yang kita saksikan hari ini.

Tahun depan mungkin kondom akan kembali menjadi polemik. Namun, polemik-polemik tahunan seperti ini tidak selayaknya menjadikan kita putus asa. Justru kita jadikan sebagai pelecut kesabaran dan pemantik semangat untuk terus menyuarakan kebenaran. Selain itu, “kreatifitas” dan “agresifitas” mereka juga harus membuat kita semakin kreatif dan lebih agresif dalam mengusung kebenaran. Tentu saja kreatif dan agresif yang masih dalam koridor syariat. Semoga Allah Ta'ala menolong kita.
"Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. al-Qashas: 83).[]

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi komentar dengan tetap mengedepankan adab berkomunikasi secara syar'i