Kumpulan catatan Zainal Lamu, socialpreneur yang masih belajar.

Rabu, 13 Mei 2009

Di Antara Kaki-kaki Suci Berdebu

As shalaf as Shaleh, mendengar dua untaian kata ini, kadang khayalanku terbang ke dimensi waktu berpuluh abad yang lalu, ingin kusalami, kucium, kupeluk, dan kupandangi wajah-wajah mereka. Tapi sungguh, aku hanya bisa memandang kaki-kaki suci berdebu mereka. Wajah mereka terlalu suci untuk aku hadirkan dalam benak yang kadang dinodai lamunan setan ini.
Meski tinta sejarah tak jarang menggambarkan jelas wajah-wajah mereka, namun pikiranku lebih diasyikkan dengan laku gerak dan langkah kaki mereka yang tegap, lincah berdebu.

Di waktu malam kaki-kaki kokoh itu diam tegak lama tak bergeming, setia memapah tubuh yang bergetar di hadapan Rabb-Nya, sayup terdengar Kalamullah yang kadang lirih disertai sesenggukan mengharukan.

Aku semakin asyik memandang kaki-kaki itu gesit di tengah ringkikan kuda, teriakan takbir, dentingan pedang beradu baju besi, kaki-kaki itu merengsek kesana kemari membawa tuannya mencari syahid. Dengan debu-debu sucinya menjadi saksi bisu kepahlawanan mujahid.

Kaki-kaki itulah yang menaklukkan gurun panas jazirah Arab meski harus mengelupas namun takkan mundur sebelum memenuhi amanah Ilahi, menggetarkan singgasana kesombongan kaisar Romawi, dan menginjak permadani altar kecongkakan Parsi. Kaki-kaki yang membawa al Qur’an dan menyebarkan Sunnah di mana ia melangkah bersama debu-debu suci.

Aku berharap dan berdoa suatu saat kakiku berada di antara kaki-kaki itu berjalan di hamparan permadani empuk dan jutaan karunia Surgawi. Amin

Kamis, 23 April 2009

Dilema FaceBook?

Artikel ini saya buat khusus untuk menjawab pertanyaan ‘Guest’ di shoutbox blog ini. Pertanyaannya, “Ana kira facebook itu produk yahudi??? Katanya boikot produk yahudi?”

Kalau saya ditanya secara langsung maka saya akan menjawab, “Kadang kita harus menggunakan senjata musuh untuk melumpuhkannya.”

Facebook sebagai produk tidak bisa disamakan dengan produk lainnya yang secara langsung bisa memberi keuntungan kepada perusahaannya ketika seseorang menjadi pengguna facebook. Setahu saya owner facebook hanya akan mendapat dollar dari iklan (ads) yang ia pasang di halaman facebook ketika iklan itu diklik oleh pengguna, dalam bisnis online disebut PPC (Pay Per Click). Dari itu kita tentu tahu bagaimana agar kehadiran kita di facebook tidak memberikan keuntungan apa-apa kepada mereka. JANGAN BERIKLAN DAN MENGKLIK IKLANNYA.

Sebagai sarana komunikasi facebook memberikan kemudahan tersendiri dalam berinteraksi dengan pengguna lainnya. Tentunya tak lepas lagi dari kaidah media “Ibarat pisau bermata dua”. Ia akan bermanfaat jika digunakan dengan niat dan tujuan yang baik begitupun sebaliknya.

Sejak diluncurkannya facebook mendapat sambutan yang booming, dunia maya dilanda demam facebook. Setiap orang yang menjadi pengguna tentu mempunyai tujuan dan tendensi yang bermacam-macam pula, entah baik atau buruk. Para politikus menjadikannya sebagai ajang untuk mencari dukungan, pengusaha menggunakannya sebagai sarana efektif untuk memperkenalkan dan memasarkan produk/jasanya, Pejuang dakwah yang memanfaatkannya untuk berinteraksi dengan mad’u dan memberikan nasehat kepada mereka, sampai para mujahid yang menjadikannya ladang jihad sebagaimana yang dilakukan oleh saudara ‘Sniper’, jelasnya bisa dilihat di sini http://www.facebook.com/group.php?gid=54224301439

Pada kenyataannya para mujahidin kadang menggunakan fasilitas musuh untuk melancarkan aksinya, misalnya yang dilakukan oleh mujahid cyber Taliban yang memanfaatkan perusahaan hosting di Amerika sebagai tempat menyimpan website yang berisi pesan jihad dan propaganda Islam lainnya, beritanya bisa di lihat di sini . Mungkin sama seperti website yang saya buat dengan hosting gratis dari sana; www.kisah-islam.co.cc (he... he... sekalian promosi) begitupun dengan blog.

Kembali kepada facebook, insyaAllah tergantung dari niat dan tujuan penggunaannya. “Rebut senjatanya, arahkan kepadanya”.

Pendapat di atas hanya pandangan pribadi saya, kalau ada yang salah mohon dikoreksi.

Kamis, 16 April 2009

Kaum Muslimin di Antara Inkubasi Sekulerisme dan Doktrin Demokrasi

Tulisan ini juga diterbitkan di buletin al-Balagh dan juga dimuat di wimakassar.org.

Pemilu legislatif telah usai, namun masih menjadi pembicaraan dan berita yang hangat dan menarik. Dimana-mana hasil pemilu menjadi diskusi tak habis-habisnya mulai dari perolehan suara, koalisi, hingga tingkah aneh caleg yang tidak lolos masuk parlemen.

Terlepas dari itu semua, sebagai makhluk yang percaya akan ke-Esa-an dan ke-Sempurna-an Allah Subhanahu wa Ta'ala amat sedikit diantara kita yang mencoba mencari tahu atau minimal mempertanyakan sistem yang berlaku di negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini. Hanya segelintir diantara kaum muslimin yang peduli dan mau bertanya apakah sistem demokrasi yang katanya universal untuk semua bangsa ini sesuai dengan tuntunan Allah dan rasul-Nya atau tidak. Dan itulah sikap yang diharapkan dari tiap diri kaum muslimin dalam mengkritisi segala persoalan dalam rangka kehati-hatian mereka agar tidak melanggar dari apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Apalagi jika kita mengetahui bahwa salah satu pembatal ke-Islaman adalah ketika kita meyakini adanya hukum yang lebih baik dari hukum atau syariat yang ditetapkan Allah Subhanhu wa Ta'ala.

Logika orang beriman pasti akan menerima bahwa Allah Azza wa Jalla adalah Pencipta yang lebih mengetahui apa yang maslahat dan mudharat bagi ciptaan-Nya.
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” QS. al-Mai'dah (5) : 50

Dan siapapun yang berpaling dari hukum Allah takkan lepas dari ancaman-Nya;
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allh), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia adalah orang-orang yang fasik.” QS. al-Mai'dah (5) : 49

Menepis Virus Sekularisasi
Salah satu bentuk keberhasilan musuh dalam upaya menghancurkan Islam adalah penyakit sekularisme yang sekarang mewabah di tengah kaum muslimin, bukan hanya dalam tataran sistem pemerintahan tapi juga merambah pada individu-individu Muslim.

Islam dengan kesempurnaan dan keuniversalannya yang seharusnya dijadikan tumpuan dalam menjawab segala persoalan-persoalan hidup itu kemudian menjadi tanda pengenal saja, tak lebih. Pada tingkatan ekstrim mereka beranggapan Islam hanya berhak mengatur soal akhirat, tapi untuk urusan dunia nanti dulu.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” QS. al-Baqarah (2) : 208

Untuk suatu perkara dalam Islam kebanyakan kaum muslimin kadang menerima sebagian tapi menolak sebahagian yang lain. Misalnya, banyak di antara kaum muslimin yang rajin shalat hingga telah menunaikan ibadah haji bahkan mungkin berkali-kali tapi mereka masih melakukan praktek riba. Begitu juga tidak sedikit kaum muslimin yang rajin zakat dan bersedekah tapi pergaulan antara sesama muslim masih diwarnai dengan permusuhan, hasad, dengki dan penyakit hati lainnya, ini adalah imbas dari doktrin sekuler, Islam dipahami hanya berkisar pada shalat, puasa, zakat atau haji saja. Islam diibaratkan pakaian yang dengan begitu mudah dilepas dan dipakai jika dibutuhkan.

Kita semua tahu bahwa tujuan diciptakannya umat manusia tiada lain hanyalah untuk menghamba kepada Allah semata (Adz-Dzariyat (51) : 56), dalam tiap detik dan desah nafas kita mestinya isi dalam bentuk ketaatan kepada-Nya. Dengan semangat itu seharusnya menjadikan orang yang beriman untuk tunduk dan patuh dengan sepenuh jiwa dan raga mereka kepada apapun yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam keadaan bagaimanapun, kapanpun dan dimanapun tanpa kecuali. Dan tampaklah siapa yang betul-betul hamba dan siapa yang bukan,
“Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” QS. an-Nisa' (4) : 61

Demokrasi dalam Timbangan Islam
Demokrasi adalah sistem ciptaan manusia yang kini dianut oleh hampir seluruh negara-negara di dunia tak terkecuali oleh negara kaum Muslimin. Dengan dimotori oleh AS, sistem tersebut kemudian dipromosikan dan tak jarang dipaksakan untuk dianut oleh suatu negara yang belum menerapkannya dengan tekanan atau dengan perang sekalipun sebagaimana yang telah terjadi di Irak. Siapa negara yang bisa melaksanakan demokrasi dengan baik akan mendapat pujian bertubi-tubi dari negara penjajah ini dan siapa yang tidak mau melaksanakannya akan dicap sebagai negara terbelakang dan takkan bisa berkembang. Tapi lagi-lagi itu hanyalah isapan jempol yang sebenarnya hanya untuk memuluskan hegemoni dan menunjukkan kediktatoran negara tersebut, misalnya kemenangan Hamas atas Fatah pada pemilu di Palestina, ditolak mentah-mentah oleh AS karena hasilnya tidak sesuai dengan keinginannya.

Dalam sebuah buku yang berjudul “Gelombang Demokratisasi Ketiga” oleh Samuel P. Hungtinton menyebutkan bahwa, “doktrin Islam mengandung unsur-unsur yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan demokrasi.” Masih dalam buku terjemahan ini Hungtinton bahkan menegaskan: “...Islam dan Konfusius menghadapkan perkembangan demokrasi dengan penghalang yang tidak mudah teratasi.”

Meski sekarang muncul pernyataan “Islam sesuai dengan Demokrasi” dan istilah-istilah semisal “Demokrasi Islam”, “Islam Demokratis” tapi itu semua lahir dari pemaksaan bahkan penzhaliman terhadap Islam, siapapun yang mengatakan itu.

Falsafah demokrasi “vox populi vox dei” (suara rakyat suara Tuhan) adalah salah satu pokok kerancuan demokrasi. Jelas ini adalah perusak akidah, sesuatu yang telah baku ditetapkan Allah Azza wa Jalla bisa termentahkan oleh penolakan sekelompok orang. Ini bisa kita lihat bagaimana RUU anti pornografi dan pornoaksi yang diharapkan bisa meminimalisir dampak yang ditimbulkan perbuatan asusila tersebut begitu susahnya untuk disahkan di parlemen hanya karena penolakan dari fraksi tertentu.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” QS. al-An'am (6) : 116

Dalam Islam kebenaran tidaklah diukur berdasarkan keinginan orang banyak, ia adalah hak Allah yang tidak bisa diganggu gugat, kalaupun ada perkara yang kurang jelas atau masuk dalam wilayah ijtihad juga dalam urusan memilih pemimpin maka diserahkan kepada Majelis Syuro' atau lembaga yang disebut dengan Ahlul Hilmi wal Aqdi yang terdiri atas orang-orang yang dikenal akan keshalihan dan keilmuannya dari kaum muslimin.

Tidak seperti demokrasi yang menurut Adian Husaini secara inhern mengandung kezhaliman. Sistem ini menyamakan antara orang pandai dan orang bodoh. Suara seorang profesor ilmu politik dihargai sama dengan suara seorang penduduk pedalaman yang buta huruf dan tidak pernah tahu hal ihwal politik sama sekali. Suara ulama yang shalih sama saja dengan suara seorang penjahat. Apakah ini adil? Al-Qur'an jelas membedakan antara “orang pandai” dan “orang bodoh”.

Dalam Realita dan Cita-cita
Adalah sangat ideal ketika konsep-konsep Islam bisa ditegakkan dalam diri pribadi seorang muslim hingga dalam lingkup pemerintahan. Muslim manapun yang memiliki kepedulian terhadap agamanya akan merindukan kondisi seperti itu. Tapi realita mungkin berbicara jauh, untuk sampai ke sana masih butuh pengorbanan dan perjuangan yang panjang. Mau tidak mau kita masih menghirup udara sekularisme dan aroma demokrasi, tapi berlepas diri secara mutlak dari kungkungan sistem ini adalah sikap yang kurang bijak bahkan akan merugikan kaum muslimin sendiri.

Pada dua edisi lalu (”Inilah Caleg Pilihan Umat”) kami memaparkan tentang caleg-caleg yang baiknya dipilih oleh kaum muslimin sebagai upaya untuk meminimalisir mudharat yang timbul. Bukan berarti membenarkan atau malah larut dalam sistem yang tidak Ilahiyah ini. Insya Allah sikap ini didukung oleh pendapat beberapa ulama kita (penjelasannya bisa di download di www.wahdah.or.id) dan mudah-mudahan inilah sikap pertengahan.

Kita tidak bisa bayangkan jika saja kaum muslimin golput atau salah pilih maka besar kemungkinan yang menjadi anggota legislatif atau pemimpin adalah nonmuslim atau yang tidak paham agama yang justru akan merugikan kaum muslimin khususnya perjuangan Islam ke depan. Meski semua terjadi atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala tapi bukan berarti kita harus pasif tanpa usaha sebagaimana firman-Nya,
“...sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." QS. al-Anfal (8) : 53

Kita semua seharusnya bercita-cita dan berupaya agar hukum Allah kembali tegak di muka bumi ini dan Allah memberikan kejayaan di tangan kaum muslimin sebagaimana yang telah terjadi pada pendahulu kita. Dan langkah yang kongkrit adalah melakukan pembinaan-pembinaan kepada kaum muslimin lewat dakwah dan tarbiyah secara bertahap dan berkelanjutan. Tentu saja kita harusnya mulai dari diri pribadi kita, keluarga dan teman kita hingga masyarakat secara keseluruhan.

Allahumma Izzatul Islam wal Muslimin. Amin

Senin, 13 April 2009

Teratai di Pesta Ramai

Kemarin di suatu pesta ramai, Aku kembali melihat si Teratai, tapi ia tak seperti dulu lagi Ia tampil seronok lagi berani.

Aku tercengang diam dalam miris, dulu aku kenal ia adalah pingitan, pantang disentuh yang bernajis yang padanya aku sempat menaruh harapan.

Demi menarik perhatian orang ramai dan agar tak kalah dengan bunga yang lain. Ia melenggak lenggok aduhai tersenyum manis pada semua. Tak habis pikir dan makin percaya bahwa semua bisa berubah karena dunia.

Seseorang bergumam, “Ah Teratai masih mending. Lihat yang lain jauh lebih erotis?” Aku berpaling dan berkata, “Kalau engkau ditangkap karena maling ayam apakah kamu akan bebas karena yang lain justru maling sapi?”

Aku pergi tak tahan memandangi Teratai berlama-lama, ternyata aku tak sendiri yang menanggung kecewa, banyak yang pergi dan menggerutu tak percaya, bukan hanya pada Teratai tapi pada semua bunga...

Toh, Pesta Ramai bukanlah cita-cita dan asa yang pasti, suatu saat ia akan terganti tak ada lagi bunga-bunga lain apalagi si Teratai, entah kapan tapi saatnya untuk berbuat dan berkarya sampai mati tanpa harus berpecah dalam bayang bunga-bunga dan juga si Teratai.

Dalam izzatul Islam wal Muslimin

Jumat, 27 Maret 2009

Bangsa Penghibur, Terancam Hancur

Historia Vitae Magistra, kalimat yang hingga saat ini masih saya ingat dari pelajaran sejarah kelas 1 SMU (sekarang SMA). Meski sudah lupa dari bahasa apa tapi maknanya kira-kira begini; sejarah adalah guru bagi kehidupan. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa yang telah lampau bahkan beberapa detik yang lalu. Dalam al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak menyebutkan kisah-kisah orang terdahulu sebagai pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahnya. Bahkan 1/3 isi dari al-Qur’an adalah kisah-kisah yang tentu saja bebas dari dusta, kebohongan karena goresan-goresan tangan manusia yang jahil.

"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman". (QS. Yusuf: 111)

Saya telah banyak membaca kisah orang, bangsa dan peradaban. Bagi saya semua bermanfaat tapi tidak ada yang membuat saya kagum selain kisah-kisah Islam, pada awal datangnya, perjuangan Rasulullah serta sahabat, dilanjutkan dengan masa tabi’in, selanjutnya atba’ut tabi’in. Baik penilaian secara umum maupun perorangan bagi saya semua kata yang melukiskannya dengan proporsional adalah mutiara, semua istimewa, semua sempurna, dan semua adalah guru.

Untuk menjadi mujahid sejati maka kisah mereka tak berbilang, Anda tak perlu kisah bohongan Rambo yang bisa melawan tentara Vietnam seorang diri. Bukalah lembaran sejarah Bara’ bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu si ‘kurus’ pemburu syahid yang berhasil membunuh 100 musuh dalam sekali perang tanding satu lawan satu. Tidakkah Anda tergetar dengan seruannya menyemangati tentara kaum muslimin ketika terdesak, “Wahai penduduk Madinah, hari ini Madinah tidak lagi milik kalian. Tapi yang ada hanya Allah dan surga.”.

Ingin menjadi menjadi ibu atau istri yang baik? Ratusan teladan ummahat lebih bermanfaat untuk Anda simak daripada cerita karangan di novel, cerpen atau sinetron yang dari dulu hanya berputar pada tema yang sama. Lihatlah Aisyah binti Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhuma dalam menjaga kesucian dan kehormatan dirinya meski pada orang yang telah meninggal, saat masuk kamar tempat Rasulullah dan Abu Bakar dimakamkan beliau tidak menjaga hijabnya, tapi itu tidak ia lakukan setelah Umar bin Khattab juga dikuburkan di dekat makam Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Atau simaklah perkataan Asma’ binti Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhuma dalam mendidik dan mengajarkan kepada anaknya tentang arti sebuah kepahlawanan "Terserah engkau, ya Abdullah! Bukankah engkau sendiri yang lebih tahu tentang dirimu. Bila engkau yakin dalam kebenaran, maka teguhkan hatimu seperti para prajuritmu yang telah gugur. Tapi bila engkau menginginkan kemewahan dunia, sudah tentu engkau seorang laki-laki yang pengecut. Berarti engkau mencelakakan diri sendiri, dan menjual murah harga sebuah kepahlawanan."

Ingin menjadi pemimpin yang baik dan disegani? Belajar dari pemimpin-pemimpin sukses dunia kontemporer ada baiknya, tapi tidak ada di antara mereka yang menyamai kisah Umar bin Abdul Aziz yang atas izin Allah seluruh wilayah dalam kepemimpinannya dalam keadaan sejahtera sampai-sampai tidak ada orang yang mau menerima zakat sehingga muzakki (pemberi zakat) pun bingung dimana ia berikan zakatnya. Kematian beliau ditandai oleh penggembala dengan dimangsanya gembalaannya oleh serigala yang biasanya rukun bahkan minum bersama hewan gembalaannya. Adakah pemimpin sekarang ini seperti beliau yang tidak ingin menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan keluarga meski hanya minyak lampu tempel dalam beberapa menit saja? Apalagi untuk korupsi. Pantas saja puncak kegemilangan Islam Allah berikan pada kekhalifaannya.

Bagi pemuda, seharusnya cemburu dengan Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘Anhu yang diangkat oleh Rasulullah menjadi panglima perang dalam umur 17 tahun membawahi pasukan yang juga terdiri dari sahabat senior semisal Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan lainnya. Atau kisah Abdullah bin Abbas yang ahli tafsir pada umur masih belia dan masih banyak lagi kisah pemuda-pemuda hebat lainnya yang menelaahnya jauh lebih bermanfaat daripada membaca komik atu novel rekaan semata.

Singkatnya mereka semua adalah teladan dan guru kehidupan, mengidolakannya bukanlah kemunduran zaman. Zaman hanyalah hitungan waktu yang tidak bisa mengubah subtansi dari suatu kehidupan di era manapun ia terjadi. Justru merekalah tokoh-tokoh yang dirindukan oleh tiap orang di setiap zaman meski kebanyakan manusia mencarinya dengan cara yang salah.

Kisah-kisah mereka telah dikaburkan dengan hiburan-hiburan melenakan. Tergantikan dengan hayalan-hayalan pengarang yang dituang dalam skenario sinetron kemudian dilakonkan oleh manusia yang bernama selebritis. Meski status mereka tidak pernah bergeser dari istilah ‘penghibur’. Tapi merekalah yang memenuhi benak-benak sebagian besar masyarakat kita sekarang ini. Betapa banyak pemuda-pemudi yang kemudian tergiur untuk mengikuti jejak ‘kesuksesan’ mereka. Parahnya standar kebenaran seolah-olah ada pada tangan orang-orang yang biasanya hanya mengandalkan tampang tersebut. Meski kehidupan realitas para sebagian selebritis sering diliputi dengan berita yang tidak beres, anehnya itupun menjadi tontonan yang menarik sampai pada urusan nomor sepatu yang cocok buat mereka sangat hangat untuk didiskusikan dan dibuat acara khusus untuk itu.

Kampanye akhir-akhir ini membuat lapangan kerja baru buat selebritis ini, dengan alasan menarik massa meski dengan biaya berjuta-juta kampanye tidak lengkap tanpa kehadiran mereka. Sedihnya, partai-partai yang mengatasnamakan Islampun menggunakan trik politik ini. Wallahu musta’an. Saya jadi teringat dengan sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang juga nasihat Aisyah Radhiyallahu ‘Anha melalui surat kepada Muawiyah bin Abu Sufyan, “Barangsiapa mencari keridhaan Allah dengan (sesuatu yang menyebabkan) kemarahan manusia, maka Allah akan melindunginya dari kejahatan manusia. Dan barangsiapa mencari keridhaan manusia dengan (sesuatu yang menyebabkan) kemurkaan Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia”

Tujuan yang baik tidaklah bisa menghalalkan semua cara, mestilah ditempuh dengan cara yang baik pula.
Imam Malik Rahimahullah pernah berkata bahwa, tidak akan pernah jaya umat ini –kaum muslimin- melainkan apa yang telah membuat jaya dahulu. Hadits dari Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam “Apabila kalian telah terlibat jual beli ‘inah (riba), kalian telah mengambil ekor-ekor sapi, merasa senang dengan pertanian dan kalian tinggalkan jihad, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan timpakan kehinaan kepada kalian. Tak akan dicabut kehinaan itu hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3458)

Sejak dahulu, tidak ada bangsa yang bisa dijayakan dengan mengandalkan selebritis, bukalah lipatan sejarah adakah yang mereka punya andil untuk itu. Bahkan malah sebaliknya kebanyakan mereka dijadikan alat oleh musuh-musuh suatu negara untuk melenakan anak-anak bangsa tersebut dalam buaian hedonisme, biusan paham materialistik sehingga lahir generasi-generasi pengecut, kehilangan jati diri dan pegangan yang dengan mudahnya dipermainkan, menjual harga diri dan bangsa dengan setumpuk uang dan untuk selanjutnya bangsa tersebut tinggal menghitung waktu kehancurannya.

Prestasi apa yang dipersembahkan oleh para penjual kecantikan/ketampanan dan kemerduan suara untuk bangsa ini? Apakah prestasi itu membuat kita semakin maju dan terhormat di mata masyarakat dunia yang dengannya kita semakin disegani? Atau malah kita sudah dianggap tidak lebih sebagai bangsa penghibur, tidak diperhitungkan oleh mereka kecuali applause sebagaimana yang dilakukannya pada tukang sirkus.

Agama Islam tidaklah anti dengan hiburan, tapi semua mempunyai batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar oleh manusia dalam menghamba kepada-Nya. Selama tidak melanggar syari’at hiburan boleh dilakukan dengan seperlunya, tidak melenakan kita dari mengingat-Nya. Hiburan seharusnya bukanlah menjadi tujuan pokok apalagi menjadi arus utama (mainstream) dalam masyarakat sebagaimana yang kita rasakan sekarang ini khususnya di Indonesia. Wallahu Musta’an.