Senin, 13 April 2009

Teratai di Pesta Ramai

Kemarin di suatu pesta ramai, Aku kembali melihat si Teratai, tapi ia tak seperti dulu lagi Ia tampil seronok lagi berani.

Aku tercengang diam dalam miris, dulu aku kenal ia adalah pingitan, pantang disentuh yang bernajis yang padanya aku sempat menaruh harapan.

Demi menarik perhatian orang ramai dan agar tak kalah dengan bunga yang lain. Ia melenggak lenggok aduhai tersenyum manis pada semua. Tak habis pikir dan makin percaya bahwa semua bisa berubah karena dunia.

Seseorang bergumam, “Ah Teratai masih mending. Lihat yang lain jauh lebih erotis?” Aku berpaling dan berkata, “Kalau engkau ditangkap karena maling ayam apakah kamu akan bebas karena yang lain justru maling sapi?”

Aku pergi tak tahan memandangi Teratai berlama-lama, ternyata aku tak sendiri yang menanggung kecewa, banyak yang pergi dan menggerutu tak percaya, bukan hanya pada Teratai tapi pada semua bunga...

Toh, Pesta Ramai bukanlah cita-cita dan asa yang pasti, suatu saat ia akan terganti tak ada lagi bunga-bunga lain apalagi si Teratai, entah kapan tapi saatnya untuk berbuat dan berkarya sampai mati tanpa harus berpecah dalam bayang bunga-bunga dan juga si Teratai.

Dalam izzatul Islam wal Muslimin

2 komentar:

  1. Barakallahu Fiikum atas artikelnya. Sangat indah. Afwan, boleh di copy ustadz??? Buat di tempel di rumah juga buat mading di kampus. insya Allah dicantumkan sumbernya. Saya mau minta izin kalau diperkenankan. Syukran

    BalasHapus
  2. @Anonim: tafaddal, semua artikel di blog ini boleh-boleh aja di copy, terutama untuk tujuan dakwah.

    BalasHapus

Silahkan mengisi komentar dengan tetap mengedepankan adab berkomunikasi secara syar'i