Pembangunan Tembok Baja, Runtuhnya Ukhuwah
06:13 | Author: Abu Fauzan ibnu Lamu

Diterbitkan di Buletin Pekanan Al-Balagh Edisi 46
Kondisi umat Islam di Gaza, Palestina, sangat menyedihkan khususnya setelah distribusi bantuan makanan bagi rakyat Palestina di Jalur Gaza dihentikan PBB dengan alasan kekurangan bahan bakar.
Orang-orang Palestina telah berada dalam kesulitan untuk mendapatkan makanan sejak Palestina diduduki pada tahun 1946. Di beberapa resort, bahkan sebagian lagi memakan rumput.
Badan PBB yang mengelola distribusi bantuan, UNRWA, menghentikan pengiriman bantuan makanan ke Gaza dua minggu lalu karena kendaraan mereka mengalami kekurangan bahan bakar. Lebih dari 80% penduduk Gaza mengandalkan bantuan kemanusiaan, dengan pasokan makanan dari PBB memenuhi kebutuhan 1,5 juta orang. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak.

Dalam kondisi yang mengenaskan seperti itu secara mengejutkan Mesir yang notabene adalah negara Islam berencana membangun tembok baja untuk menutup akses terowongan-terowongan bawah tanah yang digali warga Gaza agar bisa mendapatkan kebutuhan hidup sehari-hari yang sulit mereka temui di Gaza akibat blokade Israel.
Tak hanya menutup bantuan dari dunia luar, tembok baja sedalam 15 meter yang dibangun oleh Mesir juga akan mengancam cadangan air bawah tanah yang ada di Jalur Gaza, jadi Gaza akan semakin memblokade secara ekonomi dan pasokan airnya juga terancam.
Boleh dikata pembangunan “dinding kematian” tersebut semakin “menyempurnakan” penderitaan bagi 1,5 juta warga Gaza yang selama bertahun-tahun di bawah pengepungan dan blokade Israel.
Pembaca yang budiman, jika pemblokiran atas saudara kita di Gaza dilakukan oleh kaum penjajah, zionist Israel maka itu hal tersebut bukan lagi menjadi berita asing bagi kita, tapi ini dilakukan oleh Negara Islam dengan mayoritas penduduk muslim! Sebagai seorang muslim sudah sewajarnya hal tersebut memiriskan hati kita dan kita pun berhak untuk bertanya kemana gerangan persaudaraan Islam (Ukhuwah Islamiyah) sekarang ini?

Ukhuwah Islamiyah
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang melapangkan kesempitan dunia seorang mu'min, maka Alla akan melapangkan baginya kesempitan pada hari kiamat. Dan barang siapa yang mempermudah kesulitan seseorang, maka Allah akan mempermudahnya dalam kehidupan dunia dan akhirat. Barang siapa yang menutupi sela seorang muslim, maka Allah akan menutupi celanya di dunia dan di akhirat. Dan Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selagi hamba-Nya tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim)
Ukhuwah merupakan sesuatu yang terlahir dari keimanan yang mendalam, dan juga merupakan buah dari ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Oleh karena itulah, ulama mengatakan, bahwa tidak ada iman tanpa ukhuwah, sebagaimana tidak ada ukhuwah tanpa adanya pondasi iman. Membenarkan hal tersebut, firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (QS. al Hujurat : 10)
“Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”
Seorang yang beriman apabila tidak memiliki rasa ukhuwah terhadap sesama muslim lainnya, hal ini menunjukkan bahwa imannya belum sempurna. Dalam hadits, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
“Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari)

Persatuan Umat; Buah Ukhuwah
Ukhuwah memilki nilai positif yang sangat luas, salah satunya adalah terwujudnya al-wihdah al-islamiyah (persatuan umat). Karena dengan adanya ukhuwah, setiap muslim tidak akan memandang seseorang dari sukunya, bahasanya, negaranya, warna kulitnya, warna rambutnya, organisasinya, partainya dan lain sebagainya. Namun ia akan melihat seseorang dari segi aqidahnya. Siapapun ia, jika ia mentauhidkan Allah, beragamakan Islam, bermanhajkan Al-Qur'an, berkiblatkan ka'bah, bersunahkan sunah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam maka ia adalah saudaranya. Sehingga ia akan memandang bahwa di setiap daerah, setiap wilayah atau bahkan di negara manapun yang di sana terdapat orang-orang yang memperjuangkan kalimatullah, maka itu adalah negrinya. Dan setiap muslim memiliki kewajiban untuk senantiasa menolong saudaranya di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Atau paling tidak, harus memiliki kepedulian terhadap kebutuhan dan kesusahan yang dialami saudaranya.
Adapun pada zaman sekarang ini, berangkat dari ketiadaan ukhuwah, maka seolah tiada pula persatuan dan kesatuan di kalangan umat Islam. Hampir setiap organisasi, kelompok, partai berpecah belah satu dengan yang lainnya. Ini masih dalam satu negara, maka apatah lagi jika sudah berbeda negara, berbeda warna kulit dan lain sebagainya. Kondisi seperti ini diperparah lagi dengan adanya konspirasi kaum barat yang berusaha untuk memecah belah kaum muslimin. Sehingga saat ini dapat dikatakan tidak ada satu negara muslim pun yang secara politiknya mencoba untuk merealisasikan ukhuwah dalam politik luar negerinya terhadap negara muslim lainnya. Padahal ukhuwah merupakan bagian terpenting dari keimanan. Karena tiada kesempurnaan iman tanpa adanya ukhuwah.

Fanatisme, Penyakit Jahiliyah
Penduduk Jazirah Arabia pada umumnya, hingga masa-masa awal kenabian Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, lebih banyak membentuk ikatan antar mereka dari sisi silsilah keturunan. Semakin dekat garis keturunan antar mereka, maka semakin kuat tali perkawanan dan persekutuan. Izzah tertinggi (kemuliaan) bagi masyarakat ini adalah pengabdian kepada suku. Auz dan Khazraj, dua suku Arab penduduk Yatsrib (Madinah), mewakili gambaran di atas.
Kepentingan seseorang adalah mewakili kepentingan suku. Pengabdian anggota suku adalah untuk suku masing-masing. Lantaran fanatisme kesukuan yang sangat tinggi, tiap orang berbangga atas kesukuannya, dan ketika tak ada kepentingan kecuali atas nama kepentingan suku, maka peperangan, kebencian dan permusuhan telah membelenggu kedua suku ini selama bertahun-tahun.
Fanatisme kenegaraan, penyakit sekuler inilah yang sekarang ini menggerogoti kebanyakan para pemimpin Negara Islam khususnya Negara Mesir. Tindakan-tindakan mereka sudah tidak berlandaskan pada kepentingan agama dan umat Islam tapi pada kepentingan negaranya tanpa peduli lagi dengan nasib kaum muslimin yang sedang menderita dan sangat membutuhkan pertolongan di jalur Gaza. Bahkan pemboikotan mereka bisa jadi merupakan bentuk tolong menolong dengan bangsa kafir dan penjajah, yahudi yang telah lama melakukan pemboikotan dan pembunuhan terhadap warga Gaza untuk menekan perlawanan mereka.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah ditanya tentang hukum mencintai orang-orang kafir dan lebih mengutamakan daripada kaum muslimin, beliau menjawab bahwa orang yang lebih mencintai orang-orang kafir daripada kaum muslimin, telah melakukan perbuatan haram yang besar, karena seharusnya ia mencintai kaum muslimin dan mencintai kebaikan bagi mereka sebagaimana bagi dirinya sendiri. Adapun lebih mencintai musuh-musuh Allah
daripada kaum muslimin, tentunya ini bahaya besar dan haram, bahkan tidak
boleh mencintai mereka walaupun tidak melebihi cintanya terhadap kaum
muslimin, hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
“Artinya : Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah
dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang
Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak
atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung” (Al-Mujadilah : 22)
Dan firmanNya. “Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu” (Al-Mumtahanah : 41)
Demikian juga orang yang memuji mereka dan lebih mengutamakan mereka
daripada kaum muslimin dalam bidang pekerjaan atau lainnya, berarti ia telah
berbuat dosa dan berburuk sangka terhadap saudara-saudaranya sesama muslim dan berbaik sangka kepada orang-orang yang tidak pantas untuk disangka baik.
Seharusnya seorang mukmin lebih mendahulukan kaum muslimin daripada yang lainnya dalam segala urusan pekerjaan dan lainnya. Jika ada kekurangan pada
kaum muslimin, maka hendaknya ia menasehati dan memperingatkan serta
menjelaskan kepada mereka dengan tidak bersikap aniaya. Mudah-mudahan dengan demikian Allah menunjuki mereka melalui tangannya.Wallahu Ta’ala Alam
Diolah dari berbagai sumber

Baca Selengkapnya...

Link ke posting ini
Kabut Tebal Infotainment
16:04 | Author: Abu Fauzan ibnu Lamu

Diterbitkan di Buletin Pekanan Al-Balagh Edisi 44
Ironi Infotainment
Di abad informasi, tidak ada yang lebih berpengaruh daripada televisi. Sejak Farm Sworth dari Amerika Serikat menemukan televisi pada 1927 dan mulai masuk ke Indonesia sesudah pertengahan abad ke-20, televisi menjadi media yang sangat berpengaruh bagi semua kalangan. Pengaruh televisi yang semakin hegemonik telah menjadi bagian dari dinamika kehidupan. Tak heran jika banyak pihak yang mengatakan bahwa hidup tanpa televisi ibarat hidup tanpa makan.


Begitu banyak masyarakat yang kontak dengan televisi setiap hari. Di ruang keluarga, kamar tidur, lobi hotel, bahkan di dalam kendaraan televisi bercokol. Program televisi yang dikemas sedemikian rupa, disajikan dengan format audio visual, mengkonstruksi pikiran publik secara tak sadar. Besarnya animo publik terhadap televisi membuat industri media bersaing merebut “kue” pemirsa dengan mata acara yang dianggap memiliki nilai lebih dibandingkan media lain. Begitu banyak tayangan menarik yang disajikan demi mengalihkan perhatian publik. Mulai dari berita, sinetron, kuis, infotainment, sampai realitas buatan yang disulap menjadi fakta objektif.
Yang menjadi persoalan, adalah televisi saat ini kurang berpihak pada kepentingan publik. Atas nama rating dan iklan, mayoritas stasiun TV menomorsekiankan aspek dampak negatifnya. Dan bisa ditebak akibatnya, masyarakat menjadi korban karena dibiarkan menyaring sendiri tayangan mana yang layak ditonton, dan mana yang tidak.

Korban-korban Kotak Televisi
Survei termutakhir UNICEF pada 2007 silam bak dering jam weker yang pantas membuat orangtua awas. Kata badan PBB itu, para bocah di Indonesia terpekur rata-rata lima jam sehari di depan layar kaca atau total jenderal 1.560 hingga 1.820 jam setahun. Angka ini, menurut UNICEF, jauh lebih gemuk ketimbang jumlah belajar mereka yang 1.000 jam setahun di sekolah.
Maka jadilah kotak televisi sekolah tandingan bagi anak-anak ini. Naasnya, jika diamsalkan sekolah, maka televisi adalah sekolah yang berbahaya.
Disebut sekolah berbahaya lantaran kotak televisi sesungguhnya dijubeli materi-materi khusus untuk orang dewasa. Tayangan infotainment menggeruduk di pagi hari tatkala anak tengah sarapan. Tayangan sinetron tumpah ruah di layar kaca bak air bah dari sore hingga menjelang tidur.
Maka, alangkah malangnya anak-anak (zaman sekarang) ini, keceriaan dan kepolosannya mereka -disadari atau tidak- berpeluang terbang akibat masuknya persoalan orang-orang dewasa ke dalam otak mereka. Lewat televisi.
Banyak tayangan televisi yang tidak mempertimbangkan aspek psikologis. Kasus meninggalnya anak laki-laki akibat tayangan smack down akhir tahun 2005 silam menunjukkan betapa besar peran industri media dalam membentuk pola pikir dan perilaku anak-anak. Adopsi gaya hidup dan serapan nilai konsumerisme melalui televisi juga menjadi bagian dari realitas sosial yang amat memprihatinkan. Hal ini terbukti dengan semakin bergesernya nilai dan norma sosial pada diri anak-anak dan remaja.
Hal yang sama juga terjadi pada acara infotainment, yang sudah menjadi kebutuhan mayoritas masyarakat Indonesia, terutama di kalangan ibu-ibu rumah tangga serta remaja perempuan. Konstruksi pemirsa infotainment dibangun berdasarkan stereotipikasi terhadap sifat perempuan yang suka bergosip. Yang perlu kita garis bawahi lagi adalah acara tersbut begitu mendominasi. Mulai pagi buta, beberapa stasiun televisi sudah menghadirkan isu-isu hangat tentang para artis. Ini masih subuh, kalau rajin mengikuti, acara itu masih akan berlanjut hingga sore habis maghrib. Tentunya dengan format dan stasiun televisi yang berbeda.
Semenjak kemunculannya pada tahun 1994, kiprah tayangan infotainment memang bisa dibilang sangat luar biasa. Buktinya, stasiun televisi seakan berlomba menayangkan program acara yang menyajikan berita seputar selebritis ini. Bahkan menurut hasil survei Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Maret 2006 tayangan infotainment telah mengisi 63 persen tayangan televisi Indonesia.
Untuk saat ini saja terdapat tak kurang dari 26 acara infotainment. Dalam sehari tersuguh 15 sampai 23 tayangan infotainment di sembilan stasiun televisi. Yang berarti dalam seminggu tidak kurang dari 150 tayanganyang disodorkan kepada pemirsa.
Lalu timbulah pertanyaan di benak kita; dengan porsi siaran sebesar itu, perlukah infotainment terus eksis?
Pertama, kita akui bersama bahwa yang namanya public figure itu adalah sorotan dan terkadang panutan. Masyarakat selalu menunggu kabar terbaru dari public figure favoritnya.
Sebenarnya yang namanya public figure atau selebritis tidak hanya artis, yang notabene berprofesi sebagai bintang film, sinetron, penyanyi, musisi, presenter kondang, dan laing sebagainya, tapi juga politikus, ustadz, olahragawan, dan lainnya. Meskipun begitu harus diakui masyarakat kita lebih tinggi untuk mengidolakan artis dibanding politikus dan lainnya. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya program infotainment.
Kedua, Indonesia mengusung kebebasan berpendapat dan termasuk kebebasan pers. Inilah yang menyebabkan infotainment berkembang dan bahkan telah menjamur di Indonesia.
Pemirsa disuguhi tayangan-tayangan rahasia pribadi para selebriti, mulai dari gaya hedonisme mereka, cara pacaran mereka, pernikahan terselubung mereka, perselingkuhan mereka, pisah ranjang mereka, perceraian mereka, hingga kemampuan seks mereka. Semuanya dijadikan tontotan.
Ini artinya, infotainment yang begitu dibanggakan para pemilik stasiun televisi, telah menjadi virus baru dalam kebudayaan populer indonesia. Jadi secara pribadi, ini bukanlah tontonan rakyat, tapi merupakan suatu infiltrasi budaya, - entah itu disengaja atau tidak - yang mengatasnamakan dirinya jurnalisme informasi dan hiburan.
Melalui infotainment, masyarakat dapat merasa dekat dengan selebriti yang gaya hidupnya jauh di awang-awang, berbeda dengan masyarakat kebanyakan. Jarak yang jauh itu terjembatani oleh media massa. Masyarakat dapat merasakan seolah-olah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para selebriti.

Gosip = Ghibah, Haram!
Pernah dengar gosip perceraian dai kondang asal Jawa Barat Aa Gym yang dihembuskan oleh infotainment? Menurut infotainment tersebut kabarnya rumah tangga Aa Gym dan Teh Nini sedang goyah, kabarnya pula itu disebabkan karena Aa Gym kesulitan untuk berlaku adil dalam berpoligami. Teh Nini katanya sudah tidak tahan dan berniat pisah dengan Aa Gym. Tapi berita bohong tersebut langsung dibantah oleh beliau dan menyatakan bahwa dari pihaknya tidak ada yang mengeluarkan pernyataan kalau rumah tangganya dengan Teh Ninih sedang guncang.
Seharusnya mereka takut dengan firman Allah dalam surat Al Hujarat ayat 12 :
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
Menggosip adalah tindakan yang paling dibenci Allah. Tapi celakanya, kebiasaan ini justru disukai banyak orang, baik di kantor, ditempat kerja atau bahkan di rumah. Terurama kalangan ibu-ibu
Banyak hal yang bergeser dan berubah dengan hadirnya pesawat televisi ke rumah kita, terutama yang berkaitan dengan budaya dan akhlak. Salah satu yang jelas terlihat yaitu pergeseran makna bergunjing atau menggosip.
Menggosip adalah tindakan yang tidak terpuji yang celakanya, kebiasaan ini seringkali dilekatkan pada sifat kaum wanita. Dulu, orang akan tersinggung jika dikatakan tukang gosip. Seseorang yang ketahuan sedang menggosip biasanya merasa malu. Namun, sekarang kesan buruk tentang menggosip mungkin sudah mengalami pergeseran.
Ghibah atau gosip merupakan sesuatu yang dilarang agama. “Apakah ghibah itu?” Tanya seorang sahabat pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. “Ghibah adalah memberitahu kejelekan orang lain!” jawab Rasul. “Kalau keadaaannya memang benar?” Tanya sahabat lagi. “Jika benar itulah ghibah, jika tidak benar itulah dusta!” tegas Rasulullah. Percakapan tersebut diambil dari HR Abu Hurairah.
Dalam Al Qur'an (QS al-Hujurat :12), orang yang suka menggibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu. Meriwayatkan “Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat seperti bau bangkai maka Rasul pun bersabda, “Tahukah kalian, bau apakah ini? Inilah bau dari orang-orang yang mengghibah orang lain”. (HR Ahmad)
Dalam hadits lain dikisahkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, “Pada malam Isra' mi'raj, aku melewati suatu kaum yang berkuku tajam yang terbuat dari tembaga. Mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka sendiri. Lalu aku bertanya pada Jibril” Siapa merka?” Jibril menjawab, “Mereka itu suka memakan daging manusia, suka membicarakan dan menjelekkan orang lain, mereka inilah orang-orang yang gemar akan ghibah!” (dari Abu Daud yang berasal dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu).
Begitulah Allah mengibaratkan orang yang suka menggibah dengan perumpamaan yang sangat buruk untuk menjelaskan kepada manusia, betapa buruknya tindakan ghibah yang kini telah banyak dilakoni oleh masyarakat bahkan menjadi salah satu hiburan di televisi dalam kemasan yang bernama INFOTAINMENT. Wallahu Muawaffiq.
Di susun dari berbagai sumber

Baca Selengkapnya...

Link ke posting ini
Selamat Tinggal Lajangku...
04:46 | Author: Abu Fauzan ibnu Lamu

“Jadi, kapan (walimahnya) kita kak?” tanya seorang ikhwan yunior di sela acara walimahan.
Suatu pertanyaan yang dulu sering saya lontarkan pada ikhwan senior yang belum menikah pada acara walimahan seperti ini.
“Insya Allah tidak lama lagi, yang penting jangan bosan jadi panitia.”
Jawaban diplomatis yang juga jadi senjata para ikhwan senior dulu. Ketika satu persatu ikhwan senior kami meninggalkan masa lajangnya pertanyaan itupun pindah kepada saya.

Ah, hidup berjalan terus seiring perputaran dunia. Aku hanya tidak ingin bilang sama yunior jika mereka bertanya seperti itu bahwa, kalian akan mendapat pertanyaan seperti itu juga. Biarkan waktu yang mengantar mereka, dan seiring itu akupun meninggalkan masa lajangku –insya Allah- dan mereka menggantikan posisi saya sekarang he....he....:)
Pernah seorang ikhwan berkata kepada saya, “Ternyata kita betul-betul sudah tua, ketika masuk kampus semua ikhwah memanggil kita ‘Kak’, tidak ada yang memanggil kita, ‘Dik’.”
Yah, dunia terus berputar... dan pertanyaan tersebut tak berlaku lagi buat saya sebab saya sudah punya belahan jiwa. Selamat tinggal masa lajang.
Siluet sepasang insan beradu kasih di belakang kemudi, angin burit berhembus, sauh telah diangkat, layar terkembang, bahtera pun membelah riak ombak meninggalkan dermaga penantian...

Baca Selengkapnya...

Link ke posting ini
I Love "Yesus"
17:48 | Author: Abu Fauzan ibnu Lamu

Diterbitkan di Buletin Pekanan Al-Balagh Edisi 43
Dalam edisi kali ini kita akan membahas tentang seorang nabi yang pernah ada di muka bumi ini, Nabi yang kini oleh segolongan orang yang mengaku sebagai pengikutnya menganggapnya sebagai Tuhan dan menyebutnya dengan Yesus, ialah Nabi Isa ‘alaihi salam, nabi terakhir Bani Israil.


Nabi Isa ‘alaihi salam dilahirkan sebagai bagian dari mu’jizat Allah, karena beliau dilahirkan tanpa bapak. Dalam tarikh At Thabari jilid 1 hal. 503 disebutkan Jibril alaihi salam berkata : “wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah mengutusku untuk menemuimu agar aku memberimu seorang anak yang suci.” Maryam menjawab : “Bagaimana saya dapat memiliki seorang anak, sementara saya masih perawan dan tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuh dan berhubungan denganku..?”
Jibril berkata : “itulah ketentuan Tuhanmu, dan demikianlah adanya”.
Setelah mendengar berita bahwa Maryam melahirkan seorang laki-laki padahal dia belum pernah bersuami, maka kaum Bani Israil menuduh Maryam telah melakukan sesuatu yang munkar. Atas tuduhan ini, maka Maryam menyuruh mereka bertanya saja langsung kepada bayinya. Tentu saja mereka bingung karena bagaimana mungkin bayi yang masih berumur 40 hari bisa bicara? Tetapi atas kehendak Allah, seperti yang disebutkan dalam al quran surat Al Maryam, bayi (Nabi Isa ‘alaihi salam) pun menjawab : “Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku kitab (Injil) dan menjadikanku seorang nabi.”
Kata-kata nabi Isa tersebut secara eksplisit adalah sebuah pernyataan bahwa Nabi Isa adalah nabi. (bukan Tuhan ataupun anak Tuhan). Di dalam Al Quran surat Maryam 35-36, Nabi Isa juga menegaskan : “Tidaklah layak bagi Allah mempunyai anak. Maha suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berfirman “Jadilah” maka jadilah ia. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu juga. Maka sembahlah Dia (Allah) oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.”

Kedudukan Nabi Isa ‘alaihi salam sangat tinggi dalam Islam
Kedudukan nabi Isa memang sangat tinggi dalam Islam. Allah subhanahu wa Ta’ala bahkan menyebut namanya dalam al-Qur’an sampai dua puluh lima kali.
Dan memang sesungguhnya Nabi Isa memang benar-benar seorang nabi yang wajib diimani dan dihormati. Tentunya dengan nabi-nabi yang lainnya. Walau pun tidak harus menjadikan sang Nabi sebagai tuhan.
Namun penghormatan kepada nabi Isa dalam pandangan Islam berbeda dengan pandangan kristiani. Islam tidak menuhankannya, Islam hanya mengakuinya sebagai manusia biasa, namun beliau menerima wahyu dan syariah yang berlaku untuk kaumnya saja.
Adapun untuk umat Islam, yang dijadikan sandaran dalam hukum syariah adalah sikap dan teladan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adanya Keterkaitan antara Isa ‘alaihi salam dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
Sebenarnya hubungan antara agama yang dibawa nabi Isa dengan yang dibawa oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. berasal dari sumber yang sama. Kecuali kemudian orang-orang sesat menyelengkan peninggalan beliau dan menggantinya dengan agama yang mereka karang sendiri.
Dan karena hubungannya sangat dekat, tidak aneh kalau nama Nabi Isa diulang-ulang sebagai 25 kali dalam Al-Quran.

Isa ‘alaihi salam dibunuh?
Menurut Islam adalah sebagai berikut : Bahwa setelah perdebatan antara nabi Isa dengan Yahudi yang tidak mempercayainya, keselamatan Nabi Isa semakin terancam. Iapun diburu oleh tentara Pilatus karena difitnah bahwa Nabi Isa ingin menjadi raja atas bani Israil. Pada saat perburuan ini, Nabi Isa dikhianati oleh muridnya yang murtad. Persembunyian nabi Isa dibocorkan oleh murid murtad tersebut dengan imbalan uang. Tetapi Allah telah menyelamatkan Nabi Isa, seperti yang disebutkan pada Q.S Ali Imran 54-55, yang menyebutkan bahwa nabi Isa akan diangkat ke langit. Sedangkan yang berhasil ditangkap dan disalib adalah murid yang murtad tadi, yang ternyata wajahnya mirip nabi Isa. Pada Q.S An Nisa 157 Allah berfirman : ”adapun orang-orang yang durhaka itu, tidaklah mereka membunuh dan menyalib Isa, tetapi hanya orang yang diserupakan Allah yang tersalib“.

Kenaikan Isa Al-Masih dalam Pandangan Islam
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak ada seorang nabi-pun antara saya dan Isa. Sesungguhnya, dia akan turun ke bumi. Maka jika kalian melihatnya, kenalilah dia. Dia adalah seorang laki-laki dengan ukuran sedang, berkulit putih kemerah-merahan. Dia memakai dua baju kuning terang. Kepalanya seakan-akan ada air yang mengalir walaupun sebenarnya ia tidak basah. Dia akan berperang melawan manusia untuk membela Islam. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapuskan jizyah. Allah akan menghapuskan semua agama di zamannya kecuali Islam. Isa akan menghancurkan Dajjal dan dia akan hidup di bumi selama 40 tahun dan kemudian dia meninggal, kaum muslimin akan menyembahyangkan jenazahnya.” HR Abu Dawud.
Menurut pandangan Islam, setelah nabi Isa ‘alaihi salam lolos dari rencana pembunuhan oleh orang-orang Yahudi, lalu diangkat ke langit dan masih hidup hingga saat ini, akan turun kembali nanti menjelang hari kiamat dan bertugas selama 40 tahun untuk menegakkan kebenaran Islam dan meluruskan ajarannya yang telah diselewengkan, diantaranya tentang salib, karena nabi Isa selama misinya hingga terangkatnya ke langit, sama sekali tidak pernah mengajarkan perihal salib, juga akan membunuh babi yang telah dihalalkan oleh umat Kristen, di mana beliau sendiri tidak pernah menghalalkannya sejak Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan.

Prinsip Islam terhadap Keyakinan Ketuhanan Isa’alaihi salam
Islam dengan tegas menyatakan bahwa orang-orang yang menuhankan Isa ‘Alaihi Salam adalah orang kafir. Allah Ta’ala berfirman: ”Sungguh telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah itu adalah Al Masih bin Maryam (Nabi Isa)”. (QS. Al Maidah: 17 dan 72).
Di ayat lainnya, Allah juga berfirman : “Sungguh telah kafirlah orang-orang yang menyatakan: “Sesungguhnya Allah adalah salah satu dari tuhan yang tiga (keyakinan trinitas)”. (QS. Al Maidah: 73).
Ayat di atas juga dengan tegas membantah paham pluralisme yang mengatakan bahwa semua agama itu sama, bagaimana bisa sama jika Allah sendiri yang mengatakannya kafir?

Turunnya Nabi Isa ‘alaihi salam
Nabi Isa ‘alaihi salam adalah nabi yang diutus kepada bani Israel yang disertai kemukjizatan sejak pada masa penciptaannya hingga pada masa menjalankan misinya, mukjizat-mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada beliau sangat nyata menunjukkan bahwa Isa putra Maryam adalah utusan Allah , namun sayang, hanya sedikit orang-orang Israel yang mempercayainya bahkan mereka berencana membunuh Isa ‘alaihi salam, karena mereka tidak percaya dengan nabi Isa as walaupun dengan kemukjizatan-kemukjizatan yang luar biasa, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan nabi Isa ‘alaihi salam dengan mengangkatnya ke langit dan menjaganya tetap hidup hingga sekarang ini.
Turunnya nabi Isa’alaihi salam menjelang hari kiamat nanti, merupakan kemukjizatan yang luar biasa bagi manusia, di mana Isa putra Maryam yang lahir ribuan tahun sebelumnya, ternyata masih hidup pada masa menjelang hari kiamat, tentu saja hal tersebut akan menjadikan seseorang sulit untuk tidak mempercayai kebenaran Isa putra Maryam. Sehingga ketika nabi Isa ‘alaihi salam menyampaikan kebenaran Islam tidak seorangpun yang menolak temasuk orang-orang Yahudi yang dulu sombong : “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An-Nisaa: 159)
Satu lagi, ditakdirkannya nabi Isa ‘alaihi salam belum mengalami mati hingga saat ini, adalah untuk menjelaskan dan membuktikan bahwa dirinya tidak disalib, sehingga orang-orang yang tidak mempercayai informasi al-Qur’an yang menyatakan nabi Isa as tidak dibunuh dan tidak pula disalib akan langsung percaya. Dan untuk menjelaskan bahwa beliau ‘alaihi salam tidak pernah menyampaikan kepada manusia untuk menyembah dirinya atau untuk mengakui dirinya sebagai Tuhan.
”Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku mengatakannya yaitu:”Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maaidah :117)
Padahal dalam Bible sendiri, tidak ditemukan ayat yang menyatakan “Yesus” mengaku sebagai Allah dan memerintahkan manusia untuk menyembah dirinya, mereka tidak percaya yang dinyatakan al-Qur’an, tetapi baru akan percaya bila “Yesus” sendiri yang menjelaskan.
Dari sini kita dapat melihat siapa sebenarnya yang telah menempatkan “Yesus” pada kedudukan yang semestinya sebagai seorang hamba dan utusan Allah? Tiada lain adalah kaum muslimin yang mencintai Isa ‘alaihi salam sebagaimana terhadap nabi-nabi lainnya. Meski tak harus ikut-ikutan atau sekedar memberikan ucapan selamat atas perayaan agama yang telah menuhankan beliau ’alaihi salam. Wallahu Ta’ala A’lam

Disusun dari berbagai sumber


Baca Selengkapnya...

Link ke posting ini
Obat AIDS
17:44 | Author: Abu Fauzan ibnu Lamu

Diterbitkan di Buletin Pekanan Al-Balagh Edisi 42
Pada tanggal 1 Desember 2009 lalu para penggiat yang katanya peduli dengan penderita HIV/AIDS kembali memperingati Hari HIV/AIDS sedunia, meski tiap tahunnya diperingati hari HIV/AIDS, namun jumlah penderitanya tak berkurang. Justru semakin meningkat secara signifikan. Data terakhir menunjukkan 298 ribu penduduk Indonesia hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).
Berapa banyak dana yang telah digelontorkan untuk mengkampanyekan kehati-hatian dan pencegahan terhadap HIV/AIDS. Namun hasilnya justru tidak sesuai harapan. Sayang rasanya jika dana sebesar itu digunakan untuk sesuatu yang terkesan tidak solutif. Bahkan timbul kesan ada komersialisasi produk pada kampanye tersebut.

Kondomisasi; Pembodohan Massal
Mau aman? Ya pakai kondom!” begitu bunyi slogan pada iklan layanan masyarakat tentang ajakan penggunaan kondom beberapa tahun lalu.
Iklan dan kampanye penggunaan kondom untuk mencegah AIDS sering dilakukan banyak pihak. Tidak hanya di situ, berbagai pihak juga kerapkali turun ke jalan membagi-bagikan kondom secara gratis pada peringatan hari AIDS se-dunia yang jatuh setiap 1 Desember ini.
Namun faktanya, meski ajakan dan sosialisasi terkait kondom sering dilakukan, angka penderita AIDS justru mengalami peningkatan. Apakah benar kondom bisa mengurangi penderita HIV/AIDS?
Mestinya mereka belajar dari negara AS dan Eropa, sejak 20 tahun lalu telah melakukan program ini, hasilnya justru mendongkrak jumlah penderita AIDS. Apalagi menurut ilmu kedokteran bahwa kondom sesungguhnya dibuat sebagai alat kontrasepsi alias pencegah kehamilan. Sementara virus HIV/AIDS ukurannya jauh lebih kecil dari diameter pori-pori kondom. Jadi bisa dikatakan penggunaan kondom hanyalah solusi bobrok yang dipaksakan atau boleh jadi ini justru adalah salah satu kampanye pelegalan seks bebas yang membuat penderita AIDS semakin menjamur. Ini terbukti dengan dibagikannya kondom secara gratis kepada siapa saja tanpa mau tahu apakah sudah punya istri/suami atau tidak, bahkan anak SD pun bisa mendapatkannya.
Secara tak langsung kampanye ini menyerukan kepada masyarakat, “Silahkan berhubungan seks dengan siapa saja asalkan pake kondom”.
Dan ajakan halus ini tenyata efektif, ini dapat kita lihat bahwa sikap permisifisme masyarakat terhadap seksualitas semakin menjadi-jadi. Hal itu diperparah oleh kondisi Indonesia yang berasaskan HAM yang sering disalahgunakan. Contohnya, dengan mengatasnamakan HAM banyak orang tidak malu berbuat sesuka hati mereka, seks bebas, homoseksual dan sebagainya. Padahal, HIV/AIDS penularannya sangat berpotensi dari situ. Tak hanya itu, Indonesia yang hingga kini ditengarai tempat suburnya peredaran narkoba.

Islam punya Obat
Direktur Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Prof. Dr. Ahmad Zahro, MA mengatakan, meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS pada tiap tahunnya membuktikan kegagalan manusia menangggulangi masalah itu.
Karena itu, Guru Besar Ilmu Fikih IAIN Sunan Ampel ini menentang keras upaya pencegahan HIV/AIDS dengan cara lama yang selama ini dilakukan pemerintah, baik melalui kondomisasi maupun lokalisasi.
Lebih jauh dia menegaskan, hukum yang dibuat manusia tidak sedikit pun bisa mengeliminasi dan memberantas penyakit tanpa obat itu. Alih-alih terkurangi, justru penyakit tersebut malah semakin massif.
“Tidak ada cara lain dalam memberantas HIV/AIDS, kecuali dengan menerapkan syariat Islam. Cara manusia sudah terbukti gagal total,” tegas Direktur Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.
Beda dengan Islam. Bagi para pezina, baik yang mukhson maupun ghoiru mukhson mendapat hukuman secara langsung. Bagi yang belum menikah (ghoiru muhson) akan dicambuk. Setidaknya hal itu merupakan shock therapy bagi mereka.
Namun kita juga tidak memungkiri, bahwa bukan hal mudah untuk memahamkan kepada masyarakat akan solusi syariat Islam dalam mencegah hal tersebut. Sebab saat ini saja masih banyak masyarakat Islam sendiri masih phobia dengan kata-kata syariat Islam. Padahal jika direnungkan dengan baik dan diresapi secara jujur dan ikhlas, maka akan sangat banyak solusi problematika kehidupan yang bisa didapatkan dari penerapannya. Salah satunya dalam persoalan HIV/AIDS ini.
Mari kita sedikit merenungkan sebuah ayat yang Allah Ta’ala turunkan dalam Al Qur’an: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. al-Isra’: 32)
Begitu juga dengan ayat:
“… janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan …” (Al Baqarah: 125)
Jika kedua ayat ini kita resapi dan kita coba untuk melaksanakannya, maka insya Allah penyakit HIV/AIDS bisa kita hindari.
Pertanyaannya, kok bisa?
Ya, bisa. Coba kita urai.
Bukankah kita semua sepakat, bahwa penyebab utama meluasnya HIV/AIDS adalah melalui hubungan seks bebas dan jarum suntik (pengguna narkoba)? Menurut Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) bahwa penularan AIDS 55% disebabkan seks bebas, 42% karena narkoba suntik, dan sisanya penyebab lain.
Nah, seks bebas dalam perspektif syariat Islam adalah perbuatan zina dan Allah Ta’ala telah melarangnya. Bukan hanya melakukannya, tapi mendekatinya.
Logikanya, jika mendekati saja dilarang, apalagi melakukannya.
Begitu pula dengan penggunaan narkoba. Tidak ada yang tidak sepakat akan bahaya narkoba bagi diri kita. Dan tidak ada yang akan membantah jika kita katakan bahwa penggunaan narkoba akan membawa penggunanya kepada kehancuran. Jika kita kembali merujuk pada ayat di atas, maka hal ini sangatlah jelas. Allah Ta’ala telah melarang kita jauh-jauh hari agar jangan menjatuhkan diri kepada apa saja yang bisa membawa kehancurannya. Sebenarnya bukan hanya narkoba saja, tapi sampai makanan yang tidak halal dan buruk pun dicegah olehNya. Seperti dalam ayat: “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah Yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. al-Mai’dah: 88)
Sebab, makanan yang tidak halal lagi baik akan membawa tubuh kita kepada kehancuran atau sakit. Dimulai dari Keluarga
mencegah HIV/AIDS dibutuhkan cara yang cukup kompleks. Tidak hanya tergantung peran pemerintah, yang terpenting adalah ketahanan orangtua. Jika dirunut secara garis besar ada tiga hal penyebab penularan HIV/AIDS. Yakni, pornografi, narkoba, dan musik (song). Ketiga hal tersebut terutama dialami para anak muda. Apalagi yang minim bimbingan dan asuhan dari orangtua. Pertama mereka akan terlena mendengar musik, kemudian mengonsumsi narkoba dan selanjutnya seks bebas. Ibaratnya keluarga adalah ‘benteng’ bagi seorang anak agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas dan orang tua adalah penjaga benteng tersebut.
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrim: 6)

Usaha Serius Pemerintah
Peran pemerintah juga sangat penting, namun selama ini pencegahan HIV/AIDS dilakukan secara parsial dan tidak menyeluruh sehingga menimbulkan kesan tidak serius, misalnya usaha mencegah penularan HIV/AIDS lewat penggunaan jarum suntik patut dicungi jempol tapi di sisi lain tempat-tempat prostitusi masih menjamur bahkan sebagiannya dilokalisasi. Langkah kongkret yang seharusnya diambil pemerintah adalah menutup semua tempat-tempat tersebut yang menjadi penyumbang terbesar bagi penularan HIV/AIDS. Tentu saja kita harapkan bukan hanya karena untuk mencegah penyakit mengerikan tersebut tapi lebih pada pertanggung jawaban di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang amat dimurkai-Nya.

Penutup
Kita tidak ingin menghakimi siapa pun dalam hal ini. Tulisan ini pun adalah juga dimaksudkan sebagai bentuk keprihatinan sekaligus partisipasi dalam menghadapi masalah ini.
Begitu pun dengan pengidap HIV/AIDS atau biasa disebut ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Tidak ada maksud untuk mengucilkan mereka. Bahkan kita mengajak mereka untuk kembali kepada rel syariat Islam. Sebab, setelah semua yang dialami, hanya kepada Dia jualah kita kembali.
Mencegah dan mengobati HIV/AIDS adalah tanggung jawab kita bersama. Oleh karena itu mari kita bersama-sama merenungi dan menerapkan apa yang telah Allah ajarkan kepada kita. Agar kita semua terhindar dari hal-hal yang merusak diri dan masyarakat sekitar kita.
Kepada sahabat-sahabatku para pemuda, mari kita dekatkan diri kita kepada Allah. Agar kita bisa terhindar dari keburukan seperti HIV/AIDS. Amin. Wallahul Musta’an.
Baca Selengkapnya...

Link ke posting ini
Ngaku Salafi Tapi Kok Hipokrit?
15:23 | Author: Abu Fauzan ibnu Lamu

Salaf ataupun salafi, jika dulu istilah ini hanya dikenal di lingkungan pesantren maka seiring dengan munculnya gerakan-gerakan kebangkitan Islam istilah ini mulai popular dikalangan aktivis dakwah yang kemudian menjadi familiar dalam khutbah-khutbah dan ceramah juga di majalah-majalah islam.

Salaf dan salafi
Dari sebuat artikel dipaparkan secara singkat mengenai istilah salaf, berikut kutipannya
“Kata salaf secara lughawi semakna dengan kata qobla yang berarti sebelum atau yang lampau. Kata ini sering dilawankan dengan khalaf, yang berarti belakangan. Dalam perkembangannya makna Salaf menyempit untuk menyebut suatu babakan histories tertentu dalam sejarah Islam yang berwenang memberi legitimasi ajaran Islam atas kurun dan sesudahnya.
Menurut Dr. Muhammad Said Ramadan al-Buthi, otoritas tersebut hanyalah melekat pada tiga generasi awal Islam, yakni para Sahabat, Tabiin, dan Tabiit Tabiin. Pemahaman Muhammad Said Ramadan tersebut mungkin banyak diilhami oleh sabda Nabi, “Sebaik-baik kurun adalah masa saya, kemudian yang mengikutinya, lalu yang mengikutinya.
Sudah selayaknya jika generasi sahabat pendamping setia Nabi, lebih banyak mendengar langsung ajaran Islam dari beliau. Bahkan menyaksikan langsung segenap derap langkah dan gerak-gerik Nabi, sehingga otoritas mereka tidak diragukan lagi. Hal serupa dapat pula kita temukan pada generasi tabiin, dan generasi Tabiit Tabiin.”
Berdasarkan penjelasan di atas maka ber-Islam sesuai dengan metode (manhaj) Salaf adalah wajib, dan tidaklah orang yang membenci mereka kecuali orang-orang yang tidak suka kepada Islam itu sendiri.
Dalam sebuah tulisan karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah yang berjudul "Mengapa harus Salafi?" di antaranya menyebutkan "Siapa saja yang memisahkan antara Al-Kitab dan As-Sunnah dengan As-Salafus Shalih bukanlah seorang yang benar selama-lamanya." Dan juga artikel dari beliau lainnya yang menyebutkan, "Sesungguhnya kelompok atau perkumpulan Islam mana saja yang tidak tegak di atas kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wassalam serta di atas manhaj salafus shalih tentu ia dalam kesesatan yang nyata!"
Kemudian istilah salafi sendiri adalah orang-orang yang berusaha untuk konsisten mengikuti, memahami dan mengamalkan Islam sesuai dengan apa yang telah ditempuh oleh salaf ash sholeh, yakni tiga generasi terbaik.
Dengan ini saya mengaku salafi. Perkenalkan saya bermanhaj salaf, anda boleh percaya boleh tidak itu hak Anda. Bahkan Anda wajib tidak percaya jika perbuatan-perbuatan yang saya lakukan berseberangan dengan pengakuan saya. Sebagaimana yang saya baca dalam iklan yang mempromosikan sebuah buku berjudul “Aku Bukan Salafi?” tertulis “Kalau kata Salafi itu berarti berkata-kata kasar, mudah menuduh sesama muslim sebagai Ahli Bid’ah, mudah menganggap bahwa hanya diri sendiri salafi sementara salafi lain adalah salafi palsu, maka saksikanlah SAYA BUKAN SALAFI.” Ya, semua orang bisa menisbatkan diri pada istilah ini. Tapi jika isinya tidak sesuai labelnya atau bahkan berseberangan maka ini sangat berbahaya sebagaimana bahayanya menempel sertifikat halal pada kemasan dendeng babi!!!
Sejatinya Laila adalah gadis suci yang menjaga diri tapi ia terstigma sebagai wanita penggombal karena banyaknya laki-laki yang tergila-gila sampai harus mencium tembok saking cintanya pada Laila. Ini sebagai perumpamaan kondisi sekarang ini dimana banyak orang yang mengaku salafi tapi karena perilakunya tidak mencerminkan akhlak salaf sehingga istilah salafi sendiri kemudian menjadi sesuatu momok yang dibenci oleh sebagian masyarakat. Salafi kemudian diidentikkan dengan kata-kata kasar, suka menuduh tanpa dasar, mudah membid’ahkan tanpa bukti, mencela ulama dan sebagainya. Alhasil salaf ash-sholeh pun mendapat cipratan buruknya, mereka seakan menjadi tertuduh sebagai sumbernya semua itu. Tapi pemahaman ini tidak akan terjadi pada orang yang tahu duduk persoalannya dan objektif dalam menilai.

Salaf ash sholeh Anti Hipokrit
Hipokrit dalam Kamus Besar Bahasa Indobesia (KBBI) adalah kata sifat yang mempunyai arti 'munafik'--'orang yang suka berpura-pura', sementara itu, kata 'munafik' sendiri mempunyai arti 'suka (selalu) mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perkataannya'—
Dalam penjelasan lain Hipokrit berasal dari bahasa Yunani ὑποκρίτης (hypokrites), yang artinya orang yang berpura-pura memiliki sikap yang baik, tetapi perbuatannya sangat bertolak belakang dengan sikapnya.
Jika mencermati sejarah generasi terbaik Islam maka kita akan dapati bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat anti dengan istilah munafik, mereka sangat takut jika perilaku yang diancam dengan azab di kerak neraka ini menimpa mereka. Apa-apa yang mereka kerjakan akan selalu mereka usahakan untuk sesuai dengan apa yang terucap dari lisannya dan dimantapkan dengan hatinya.
Seorang yang hipokrit dalam amalan sehari-harinya akan penuh dengan kontradiksi antara amalan dengan ucapannya atau amalan yang satu dengan amalan yang lainnya.

Contoh Kasus pengaku ‘Salafi’ yang Hipokrit
Untuk contoh kasus ini saya lebih suka memakai istilah hipokrit yang lebih halus dibanding dengan kata munafik, saya harap Anda sebagai pembaca pun demikian, jadi cukup pada taraf hipokrit tidak lebih.
Berikut kasusnya; Ini menimpa segelintir orang yang mengaku salafi dan mengelola website yang bernama almakassari.com dalam sebuah artikel berseri mereka yang berjudul Mengapa Saya Keluar dari Wahdah Islamiyah? (Bag. 1) yang ditulis oleh Abu Abdillah Sofyan Chalid bin Idham Ruray salah satu pragrafnya tertulis, “Sampai hari ini, apabila kita melihat situs-situs atau blog-blog pribadi orang-orang WI, maka kita akan dapati mereka mencantumkan sebagai LINK mereka, situs Ar Rahmah.com dan Eramuslim.com. Demi Allah, hal ini tidak akan dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kecemburuan kepada manhaj yang haq dan terdidik di atas manhaj yang haq, mengingat dalam kedua situs tersebut dengan sangat jelas terdapat banyak sekali penyimpangan bahkan celaan kepada para Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”
Begitulah pengaku ‘salafi’ tipe ini, hanya suka menuduh dan mencela tanpa sedikitpun memberikan solusi. Bagi saya pribadi dua situs Islam tersebut mungkin ada kekurangan dan kesalahannya tapi manfaat yang diambil oleh kaum muslimin utamanya berita-berita tentang perkembangan dunia Islam sangat banyak. Seharusnya kita harus adil dalam hal ini, vonis total yang mematikan karakter hanya akan memperkeruh masalah, jika ada yang salah maka disitulah kita mengambil peran dalam ber-islah.
Sekarang ini di era slogan “siapa yang menguasai media maka akan menguasai dunia,” website yang betul-betul memberikan pemberitaan yang bertanggung jawab masih dihitung jari, kecuali jika almakassari.com bisa mengakomodir semuanya maka saya akan menyambut baik, tapi sayang tulisan yang ada hanya berkisar pada tulisan yang membosankan dari dulu hanya pada satu topik, “Kesesatan Wahdah Islamiyah”.
Lebih jelasnya kenapa mereka saya beri gelar hipokrit? Ternyata ketika mereka menghujat media-media Islam tersebut beserta pemberitaannya, pada saat yang sama berita dari media yang tidak islami justru mereka pasang di website mereka Anda bisa melihat di http://almakassari.com/wahdah-islamiyah-makassar-terlibat-jaringan-teroris
Berita dusta tersebut sudah diklarifikasi oleh Wahdah Islamiyah, namun ketika isu terorisme kembali marak merekapun mengungkit-ungkit lagi berita basi tersebut di awal tulisan buletin mereka, “Mungkin kita sama-sama telah membaca Harian Fajar tanggal 3 Maret 2007 halaman 11, yang memuat tentang pernyataan resmi dari Polda SulSel, bahwa ada enam kelompok yang disinyalir sebagai kelompok teroris.” 28 Juli 2009) Lihat di http://almakassari.com/artikel-islam/aqidah/jangan-buang-bom-sembarang-tempat.html

Juga ketika terjadi tragedi “keseleo pena” oleh wartawan yang menulis bahwa Wahdah Islamiyah akan membentuk partai politik (http://www.tribun-timur.com/read/artikel/55329) seseorang dari mereka mengangkat hal tersebut dalam kolom komentar website almakassari.com, itupun langsung diapprove dan diamini oleh adminnya (Berita tersebut telah diklarifikasi melalui jumpa pers dan website resmi Wahdah Islamiyah, http://www.wahdah.or.id/wis/index.php?option=com_content&task=view&id=2177&Itemid=1).
Lihatlah mereka lebih percaya pada media yang menampilkan gambar wanita pengumbar syahwat dan tak jarang memunculkan artikel-artikel syi’ah daripada klarifikasi oleh Wahdah Islamiyah sendiri. Mereka selayaknya ditanya dengan pertanyaan mereka sendiri, “Mana kecemburuan terhadap yang haq tersebut?”
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” QS. al-Hujurat (49) : 6

Penutup
Hindarilah sikap hasad, dengki dan penyakit-penyakti lainnya sebab itu hanya akan melahirkan sikap hipokrit sebagaimana dedengkot munafik Abdullah bin Ubay bin Salul yang hasad kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena merasa kekuasaanya di Madinah direbut oleh Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Abdullah bin Ubay bin Salul pun melakoni peran yang sangat melelahkan di dunia, hipokrit. Penyakit hati juga bisa menularkan kebiasaan lalat yang suka mencari sesuatu yang kotor-kotor dan tak sadar jika ia sebenarnya juga dalam keadaan kotor, jadinya hidup penuh kontradiksi.
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” QS. an-Nisa' (4) : 82
Jika sekiranya sesuatu itu bukan dari Allah (kebenaran) maka pastilah akan didapatkan berbagai pertentangan di dalamnya.
Wallahu Musta’an.
Baca Selengkapnya...

Link ke posting ini
Resensi Situs almakassari.com
07:55 | Author: Abu Fauzan ibnu Lamu

“Situs ini adalah Situs Informasi Ahlussunnah Makassar. Situs ini bertujuan untuk mendekatkan dakwah ahlussunnah kepada kaum muslimin di Makassar dan Indonesia pada khususnya serta Dunia pada umumnya.” Itu adalah sepenggal kalimat yang bisa kita baca dari profil situs almakassari.com.

Dari segi artistik tampilan, website ini lumayan cukup bagus dengan paduan warna putih dan didominasi dengan warna hijau. Penempatan navigasi menu dan link juga menambah apik website ini apalagi di poles dengan animasi javascript yang atraktif.

Website ini dikelola oleh beberapa orang yang bisa kita lihat di bagian profil, diantaranya Ustadz Dzulqarnain, dan Ustadz Lukman Jamal sebagai Penasehat, dan sebagai administrator yakni Ustadz Hammad Abu Muawiyah, Abu Ismail Sulthan, Abu Fudhail Ulla’, Abu Khalil Habibi, Abu Zubair Bahrul.

Pengunjung website ini bisa dibilang cukup banyak, dalam sehari sekitar 140 orang mengakses website ini.

Rubrik-rubrik yang ditampilkan pun cukup beragam mulai dari akidah, manhaj, fiqh, fatwa dll.
Tapi dibalik penampilannya yang elegan, jika kita amati sebagian besar artikel-artikelnya maka kita akan dapatkan bahwa tag atau kata kunci yang paling banyak dipakai adalah “WAHDAH ISLAMIYAH” berdampingan dengan "TERORIS", "KHAWARIJ" dll. Di modul Artikel Pilihan pun didominasi oleh artikel-artikel yang menjelaskan tentang ‘kesesatan’ Wahdah Islamiyah’. Artikel terbaru website inipun lagi-lagi menyoal tentang alasan seseorang keluar Wahdah Islamiyah dan terbit pas pada hari berlangsungnya Mukernas VI Lembaga Dakwah yang berpusat di Makassar tesebut. Dan tak tanggung-tanggung langsung menempati urutan terfavorit alias paling banyak dibaca.

Mulanya saya berharap akan menemukan artikel yang menyoal tentang beredarnya “Pin bergambar ‘Nabi’” mengingat kasus ini terjadi di Makassar, kota pengelola website ini, tapi saat mencarinya lewat widget search dengan kata kunci “pin nabi” saya tidak menemukannya, malah yang saya dapatkan justru artikel yang tidak nyambung dan lagi-lagi dikaitkan dengan Wahdah Islamiyah dengan judul “Jangan Buang BOM Sembarang Tempat!!!”

Mungkin pengelolanya tidak tahu, lupa atau memang lebih sibuk membuat artikel tentang Wahdah Islamiyah, namun secara pribadi timbul pertanyaan jika saja tuduhan mereka terhadap Wahdah Islamiyah adalah betul, manakah yang lebih berbahaya, “Bid’ahnya Wahdah Islamiyah atau kekafiran syi’ah?” Ataukah ini adalah efek dari penyakit hati yang disebut dengan hasad sehingga mengalahkan ghirah yang seharusnya lebih dominan?

Dari hal tersebut sebagai kesimpulan atas resensi website dengan deskripsi “Situs Informasi Ahlussunnah Makassar” ini mungkin lebih tepat jika disebut dengan “WAHDAH ISLAMIYAH WATCH”.

Penilaian saya di atas hanya pendapat pribadi dan tentu saja kebenaran hanyalah dari Allah Azza wa Jalla dan kepadanya kita senantiasa bermohon ampun atas segala yang salah dan tersalah dari kita. Wallahu ta’ala a’lam.
Baca Selengkapnya...

Link ke posting ini
Imam Syafi’i Rahimahullah dengan Syi’ah
10:46 | Author: Abu Fauzan ibnu Lamu

Sedikit catatan atas tulisan ”Iran, Syiah, dan Pengaruhnya di Indonesia” Oleh: Ismail Amin di Rubrik Opini Harian Tribun Timur, Jumat, 23 Oktober 2009

Saya tidak akan menanggapi secara detail dan menyeluruh, hanya catatan dari beberapa kejanggalan yang saya tangkap dari tulisan tersebut.

Sebenarnya uneg-uneg ini telah lama ada semenjak saya membaca artikel tersebut, namun karena beberapa kesibukan akhirnya saya tunda dan baru bisa menuliskannya setelah ada kesempatan.

Dari penilaian saya secara umum, Ismail berusaha untuk memberikan fakta-fakta kepada pembaca bahwa Syi’ah yang sekarang dianggap sebagai aliran sempalan dan berbahaya oleh masyarakat sunni di Indonesia justeru adalah agama ”nenek moyang” bangsa Indonesia sendiri dan jika menolaknya sama saja mengabaikan dan tidak menghargai budaya nenek moyang bangsa Indonesia.

Bagi pembaca dengan modal ilmu agama yang pas-pasan dan akidah yang rapuh boleh jadi akan tergugah dengan tulisan tersebut. Tapi jelas ini adalah manhaj (metodologi) beragama yang salah dan dicela oleh Allah, dalam al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya “Jika dikatakan kepada mereka, Ikutilah apa yang Allah turunkan. Mereka menjawab, Tidak. Akan tetapi kami mengikuti (melakukan) apa yang kami dapati dari pendahulu kami.” (QS. Luqman : 21).

Selain itu, Al-Qur’an juga melarang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan,
“Dan janganlah kalian mengikuti apa yang tidak kalian ketahui.” (QS. Al-Isra : 36).

Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam pun berpesan kepada kita “Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian ashabiyah Jahiliyah dan kebanggaan dengan nenek moyang. Sesungguhnya yang ada hanyalah seorang mukmin yang bertakwa atau pendurhaka yang tercela. Manusia adalah anak cucu Adam, dan Adam diciptakan dari tanah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang Ajam kecuali dengan takwa” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dan lainnya).

Jika sejarah dirunut lebih ke belakang, jauh sebelum ”Syi’ah” –sebagaimana anggapan Ismail- datang ke negeri ini, agama nenek moyang kita adalah mayoritas Hindu dan beberapa aliran kepercayaan bahkan paganisme. Pertanyaannya adalah apakah ketika ada misionaris Hindu yang berusaha untuk menyebarkan agamanya di tengah kaum muslimin bisa dianggap sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja dan tidak membahayakan dengan alasan mereka juga adalah agama nenek moyang kita?

Kita baru berbicara metode, belum subtansi ajarannya.

Imam Syafi’i Rahimahullah adalah Syi’ah?
Hal yang paling menggelikan buat saya dari tulisan tersebut adalah ketika Ismail juga berusaha memberikan pendekatan bahwa madzhab syafi’i yang mayoritas dianut di Indonesia dipengaruhi oleh ajaran syi’ah, seperti barzanji, wirid-wirid, membuat kubah di kuburan dsb. Lagi-lagi Ismail meluputkan pembaca dari masalah subtansi;. Satu lagi pertanyaan, Apakah memang betul itu adalah ajaran Imam Syafi’i?

Barzanji sendiri baru ada sekitar tahun 1180 M atau kurang lebih 3 abad setelah Imam Syafi’i meninggal dunia, bagaimana ia bisa dianggap sebagai bagian dari madzhab Imam Syafi’i?

Imam Syafi’i rahimahullah sebagai salah satu Imam Ahlusunnah dikenal tegar dalam memperjuangkan dan membela sunnah dan membenci segala bentuk dan perilaku bid’ah dan kesyirikan mustahil jika beliau membolehkan wirid-wirid bid’ah apalagi mengagung-agungkan kuburan dengan membangun kubah di atasnya sebagaimana tradisi Syi’ah –seharusnya Ismail membaca buku ”Aqidah 4 Imam Madzhab-. Sebenarnya usaha seperti yang Ismail lakukan ini bukanlah hal yang baru, ini telah dilakukan oleh orang-orang syi’ah sejak dulu, misalnya adanya klaim dari syi’ah bahwa Imam Syafi’i memiliki pemahaman kesyi’ah-syi’ahan. Dalil yang mereka sering angkat adalah syair dari Imam syafi’i yang mengatakan, "Jika benar Syi’ah Rafidhah itu adalah cinta keluarga Muhammad… maka hendaklah jin dan manusia bersaksi bahwa aku adalah orang Syi’ah Rafidhah.”

Sayang, syair yang dibuat Imam Syafi'i itu justru untuk mempermalukan mereka sebagaimana yang menimpa kafir Ahlul Kitab yang menganggap bahwa Allah punya anak, Allah azza wa Jalla menyindir mereka;
”Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu)." (QS Az-Zukhruf: 81).

Dan perhatikanlah perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Syi'ah Rafidhah dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal, 2/27-28, karya Al-Imam Adz-Dzahabi)

Syi’ah Akar Penyempalan Madzhab
Di akhir tulisan tersebut secara tidak langsung Ismail mengklaim bahwa semua tradisi-tradisi bid’ah dan kesyirikan khususnya di tanah air ini, mulai dari barzanji, wirid-wirid dan segala bentuk bid’ah bahkan sampai taraf syirik, seperti mengambil berkah di kuburan, ajaran wihdatul wujud atau Manunggal ing Kawula Gusti adalah asli produk syi’ah.

Kalaupun kemudian dikatakan bahwa terjadi sinkritisme antara madzhab Syafi’i di Indonesia dengan tradisi Syi’ah maka saya berterima kasih kepada Ismail atas artikel yang ia buat karena membuat cakrawala berpikir saya semakin terbuka. Ternyata Syi’ah tidak jauh beda dari induk semangnya, Yahudi la’natullah ’alaihi. Yahudi merupakan sang akar pembelotan agama samawi dari ajaran tauhidnya, dan Syi’ah yang merupakan representasi keberhasilan misi Yahudi dalam menghancurkan Islam juga berbuat sama yakni menyempalkan ajaran madzhab dalam hal ini madzhab syafi’i dari ajaran sebenarnya.

Nyatanya saya semakin mengenal Syi’ah tapi kemurnian tauhid saya –mudah-mudahan- dengan tegas mengatakan, "Saya semakin membenci Syi’ah".
Wallahu muwaffiq.
Baca Selengkapnya...

Link ke posting ini
Setelah Ramadhan, Apa yang Bertahan?
20:20 | Author: Abu Fauzan ibnu Lamu

Dimuat di Buletin al-Balagh
Bulan penuh ampunan, berkah, dan berbagai macam kemuliaan ukhrawi telah berlalu beriring dengan berjalannya waktu. Pergi untuk selamanya atau kembali pada tahun berikutnya. Menyadari itu mungkin ada di antara kita yang merasa sedih, menyesal atau perasaan semacamnya tapi kembali kita diingatkan oleh pesan ulama ”Kun rabbaniyyan wala takun Ramadhaniyyan”, (Jadilah hamba-hamba Allah dan janganlah menjadi hamba-hamba Ramadhan). Dan juga pesan mereka adalah “Man ya'budu ramadhan fa innahu qod fata, wa man ya'budullah fa innahu hayyun la yamut”

Ramadhan ibarat ladang pahala yang sangat subur sehingga wajar ketika amalan ibadah pada bulan tersebut kita tingkatkan kualitas dan kuantitasnya, tapi ia bukanlah momen untuk berspekulasi ataupun memanipulasi iman, semua maksiat terhenti untuk sementara tapi setelah Ramadhan dilanjutkan kembali. Sebagaimana yang dilansir dalam suatu media islam bahwa saat awal hingga akhir Ramadhan pencari kata “seks” dari sebuah mesin pencari menurun drastis. Namun, ketika Ramadhan berakhir, para pengguna internet yang mencari kata “seks” berlipat-lipat lagi, dan bahkan mencapai puncaknya.

Beroperasinya kembali tempat-tempat maksiat setelah ditutup secara resmi selama sebulan. Seolah Allah hanya ada pada bulan Ramadhan. Menurut ulama bahwa mereka adalah seburuk-buruk orang yang hanya mengenal Allah pada bulan Ramadhan saja. Padahal, Allah adalah Tuhan dan Pemilik semua bulan, tak pernah lengah sedetikpun, Maha Hidup dan tak pernah tidur.

Ramadhan seharusnya menjadi ajang latihan buat untuk menjadi hamba yang lebih baik dari sebelumnya. Keberhasilan dari suatu latihan dilihat di arena pertandingan bukan hanya saat latihan saja. Satu bulan penuh kita latihan dan sebelas bulan berikutnya adalah waktu untuk bertanding dan saat inilah penentuan kemenangan.

Bukti diterimanya ibadah dalam satu musim kebaikan adalah setelah melakukan ibadah tersebut. Begitupun dalam bulan Ramadhan, ada banyak amalan shaleh baik yang wajib maupun sunnah dapat kita lakukan dengan mudah dan ringan, alangkah baiknya jika amalan-amalan tersebut tetap dipertahankan meski dengan intensitas yang lebih sedikit dibanding dalam bulan Ramadhan. Berikut ini beberapa contoh amalan tersebut.

Shaum/Puasa
Shaum adalah kewajiban selama sebulan penuh di bulan Ramadhan, di bulan lain pun ada banyak shaum sunnah yang bisa dilakukan dan bisa kita rutinkan misalnya shaum hari senin dan kamis, shaum 3 hari pada tanggal 13, 14, 15 tiap bulan hijriyah, atau shaum sebagaimana Nabi Daud 'alaihi salam sehari shaum dan sehari berbuka. Dari jenis shaum tersebut kita bisa merutinkan apa yang termudah dan bisa kita lakukan, dan mudah-mudahan dengan itu kita mendapatkan sebagaimana kabar gembira dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam buat orang-orang yang ahli shaum:
“Sesungguh dalam syurga ada satu pintu yang disebut dengan rayyan, orang-orang yang shaum akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut tak ada orang selain mereka yang memasukinya. Jika telah masuk orang terakhir yang puasa ditutuplah pintu tersebut barang siapa yang masuk akan minum dan barang siapa yang minum tak akan merasa haus untuk selamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan banyak lagi keutamaan shaum yang tidak bisa disebutkan satu persatu di ruang yang terbatas ini.

Ada juga jenis shaum pada momen tertentu misalnya shaum hari arafah 9 Dzulhijjah, shaum 6 hari di bulan Syawal.

Untuk shaum yang terakhir di atas Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa shaum penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (shaum) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia shaum selama satu tahun ." (HR. Muslim).

Imam Ahmad dan An-Nasa'i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Shaum Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (shaum) sepuluh bulan, sedangkan shaum enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (shaum) dua bulan, maka itulah bagaikan shaum selama setahun penuh." (Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam "Shahih" mereka.)

Shaum 6 hari di bulan Syawal tidak mesti berurutan, dilakukan selang-seling insyaAllah tak mengapa.

Shalat Lail
Shalat tarwih yang kita lakukan tiap malam Ramadhan sebenarnya adalah shalat lail sebagaimana tahajjud dan witir. Alangkah baiknya jika shalat lail tetap ditegakkan di bulan-bulan lainnya. Bagi pemula, shalat tahajjud yang dikerjakan setelah tidur mungkin agak berat sehingga memerlukan latihan yang bertahap. Paling minimal kita menjaga shalat witir tiap malam. Kalaupun masih berat dilakukan pada seperdua atau sepertiga malam setelah tidur maka witir bisa dikerjakan sebelum beranjak untuk tidur.
"Barang siapa takut tidak bangun di akhir malam, maka witirlah pada awal malam, dan barang siapa berkeinginan untuk bangun di akhir malam, maka witirlah di akhir malam, karena sesungguhnya shalat pada akhir malam masyhudah ("disaksikan") (HR. Muslim).

Shalat Berjama'ah
Pada bulan Ramadhan khususnya di malam awal-awal Ramadhan masjid menjadi ramai, tapi sayang seiring dengan berlalunya Ramadhan masjid kembali sepi sebagaimana semula. Hukum shalat berjama'ah bagi laki-laki dalam hal ini ada ikhtilaf di kalangan ulama, sebagian mengatakan wajib dan ada yang berpendapat sunnah muakkadah (sunnah yang mendekati wajib). Terlepas dari itu motivasi-motivasi untuk shalat berjama'ah dari banyak hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seharusnya membangkitkan semangat kita untuk senantiasa memenuhi panggilan dan menjadi tamu di rumah-rumah Allah di tiap waktu shalat dan berjama'ah di dalamnya.

Tadarrus al-Qur'an
Pada Ramadhan lalu mungkin di antara kita ada yang sempat khatam al-Qur'an satu, dua atau bahkan lebih tiga kali. Keakraban dengan al-Qur'an yang terbina pada bulan al-Qur'an tersebut sedapat mungkin tetap terjaga pada bulan-bulan lainnya. Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu pernah mengatakan bahwa seharusnya seorang muslim membaca al-Qur'an sekurangnya 80 ayat tiap hari.

Pada bulan lainpun seharusnya kita punya target untuk mengkhatamkan al-Qur'an misalnya satu bulan sekali, kalaupun dirasa berat maka bisa sekali khatam dalam dua atau tiga bulan. Ini akan terasa ringan jika tiap hari kita menyediakan waktu khusus untuk bersama dengan al-Qur'an meski sebentar.

Tentu saja kedekatan dengan al-Qur'an kita tidak inginkan hanya sebatas huruf-huruf saja tapi mengetahui makna-makna yang terkandung di dalamnya kemudian mengamalkan dan mendakwahkannya adalah merupakan kewajiban setiap muslim. Dengan itu mudah-mudahan kita bukan termasuk orang yang diadukan oleh Rasulullah kepada Allah sebagaimana dalam al-Qur'an

Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan ". (QS. al-Furqan (25) : 30)

Shadaqah
Bulan Ramadhan menjadi berkah tersendiri bagi fakir miskin, bagaimana tidak? Banyak di antara orang-orang yang punya menjadikan Ramadhan sebagai bulan berbagi. Shadaqah di bulan Ramadhan memang lebih utama dibandingkan di luar Ramadhan, karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutnya dengan bulan muwasah/saling tolong menolong. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sangat dermawan di bulan Ramadhan, tepatnya ketika malaikat Jibril menemuinya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lebih dermawan terhadap hartanya daripada angin yang berhembus. Tapi beliau tetaplah seorang yang dermawan di luar bulan Ramadhan.

Berdo’a

Tak satupun di antara kita yang bisa memastikan amalan ibadah pada bulan Ramadhan diterima oleh Allah atau tidak. Pada akhirnya kita tetap berharap mudah-mudahan keikhlasan dan keinginan untuk i'tiba' (mengikuti) Rasulullah menjadi sebab diterimanya amalan ibadah kita. Ulama salaf memberikan teladan kepada kita, bahwasanya 6 bulan setelah Ramadhan maka salah satu lantunan do’a yang senantiasa keluar dari bibir mereka adalah agar amalan ibadah mereka yang telah di kerjakan pada bulan Ramadhan di terima oleh Allah Azza wa Jalla, mereka begitu khawatir jangan sampai amalan mereka sia-sia, tentunya kita pada generasi sekarang ini lebih berhak untuk itu.

Itulah sekelumit amalan-amalan yang sebaiknya tetap dipertahankan agar kita menikmati Ramadhan sepanjang masa dan ketakwaan yang telah tumbuh tak layu meski Ramadhan telah berlalu. Wallahu a'lam bishshowab.

Baca Selengkapnya...

Link ke posting ini
Kenapa Pohon dan Batu Masih Enggan untuk Berbicara?
23:47 | Author: Abu Fauzan ibnu Lamu

Yahudi sejatinya telah menjadi musuh seluruh penduduk langit dan bumi. Alam telah bosan dengan sederet pembangkangan, pengkhianatan, kekejian dan kekejaman yang Allah Azza wa Jalla sendiri mengabadikannya dalam Kitab suci-Nya, dan itu masih bisa kita lihat hingga sekarang ini.

Kitapun yakin bahwa puncak dari perseteruan ini adalah ketika semua saling bahu membahu untuk melenyapkan bangsa yang pernah dikutuk menjadi kera ini. Dalam sebuah riwayat nubuwwah dikabarkan bahwa sampai-sampai pohon dan batu akan berbicara kepada orang yang mengejar si yahudi yang bersembunyi dan menyuruhnya untuk segera membunuhnya.



Tapi, orang-orang yang manakah akan mendapat kemuliaan tersebut? Ini yang mungkin kadang luput dari pertanyaan kita, atau mungkin kita menganggap bahwa itu adalah diri kita meski hanya dengan modal teriakan ”Allahu Akbar!”.

Takwa adalah Faktor dan Esensi kemenangan
Ada baiknya kita menoleh pada sejarah yang masih hangat untuk kita ingat. Ketika itu beberapa negara Islam di timur tengah tengah ’mengeroyok’ yahudi, mereka menyerangnya dari segala penjuru darat, laut dan udara. Dari segi hitungan jumlah, strategi, dan peralatan perang seharusnya yahudi sudah ’babak belur’ dan bertekuk lutut di hadapan mereka. Tapi apa yang terjadi? Yahudi masih berdiri tegak dan komandan mereka berkata bahwa kami memang akan kalah tapi bukan oleh kalian, tapi oleh umat yang shalat subuhnya sebagaimana shalat jumatnya. Sebuah ’ejekan’ cerdas yang seharusnya membuat kita bangun dari mimpi dan bertanya kitakah umat itu?

Konon pasukan-pasukan yang dikirim untuk menggempur mereka adalah pasukan yang masih doyan dengan film-film cabul, siang hari mereka berperang melawan orang kafir akan tetapi di malam hari berhura-hura bersama setan larut dalam hawa nafsunya. Wallahu a’lam wa musta’an.

Saya juga ingin mengajak Anda melirik sejarah sedikit yang lebih jauh ke belakang, tentang pasukan penakluk Yerusalem, pasukan Sultan Shalahuddin al Ayyubi. Pasukan santun melawan pasukan budak salib yang beringas. Telah sampaikah kabar kepada kita tentang pasukan sang Sultan bahwa sepertiga dari mereka adalah orang-orang yang senantiasa mendirikan shalat lail, sepertiga lainnya tak pernah alpa shalat berjama’ah, dan sepertiganya lagi adalah orang-orang yang selalu menjaga puasa sunnah. Ya, mereka adalah sebaik-baik pasukan yang telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.

Kitapun bisa belajar dari Perang Hunain, pasukan yang dipimpin oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam sendiri sempat menjadi kocar-kacir disebabkan karena kesombongan yang terbetik di hati sebagian mereka. Mereka yakin takkan terkalahkan dengan jumlah mereka yang banyak. Betapa banyak pasukan yang kecil mengalahkan pasukan yang banyak atas izin Allah disebabkan karena kesabaran mereka, begitulah Allah menggambarkan dalam al-Qur’an.

Jumlah pasukan dan peralatan canggih ternyata bukanlah faktor utama penentu kemenangan. Ini masalah berhak atau tidaknya kita menerima kemenangan atas ketakwaan yang ada pada diri kita. Ketakwaan adalah sebab kemenangan bahkan ketakwaan yang terjaga adalah kemenangan itu sendiri. Dari sini kita kemudian tahu, apa yang seharusnya kita persiapkan.

Hingga saat ini yahudi masih terus melakukan pembantaian terhadap saudara-saudara kita di Palestina bahkan di depan mata kepala kita sendiri. Dan kembali pada pertanyaan, ”Kenapa Pohon dan Batu Masih Enggan untuk Berbicara?” Entahlah, tapi mungkin kita memang belum pantas untuk mendapat kemuliaan itu karena takaran ketakwaan belum cukup dibanding dosa yang masih terus menumpuk. Wallahu Ta’ala A’lam.
26 Ramadhan 1430

Baca Selengkapnya...

Link ke posting ini