Minggu, 25 Januari 2009

Saksikan, I am a Moslem!

Ketika Anda telah mengecap manisnya iman dan berjalan di atas titian hidayah maka seharusnya dalam diri Anda muncul perasaan bangga dan mulia, merasa percaya diri, menjauhi rasa minder dan mengubur rasa malu yang menghalangi Anda untuk menampakkan ketaatan kepada-Nya.
Persaksikanlah kepada dunia bahwa Anda berada di atas al-haq diterangi bashirah yang jelas; ini adalah aqidah yang benar, ini adalah syariat yang sempurna, ‘tepuklah dada’ Anda dan katakan kepada semuanya bahwa Anda adalah penebar dan pembela kebenaran dan akan membelanya dengan peluh, darah dan dengan segala yang Anda miliki.
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang muslim (berserah diri)?" (QS. Fushshilat: 33).
Merasa mulia dengan kebenaran bukanlah kesombongan, keangkuhan atau ketakaburan sebab masing-masing berjalan pada sisi yang berbeda. Kalaupun ‘dipaksa’ untuk tetap dikatakan sombong, angkuh atau takabur, maka ‘kesombongan’, ‘keangkuhan’, ‘ketakaburan’ akan kebenaran itu adalah hal yang wajib ada pada diri Anda.
Bukankah kemaksiatan baik secara tak langsung maupun tidak setiap hari dengan semangat dan tak malu-malu ‘berteriak’ mengajak serta menantang Anda. Lihat iklan bank di reklame besar itu mengajak Anda menikmati riba! Spanduk itu mengajak Anda menonton konser musik! Eh... televisi itu menampilkan... jangan dilihat!
Harusnya Anda lebih PD dari penebar-penebar maksiat tersebut. Dengan kepercayaan diri yang luar biasa itu menjadikan Anda bersemangat untuk mengajak orang lain untuk ikut mengikuti ‘ketenaran’ Anda. Menjadi jalan untuk meningkatkan karier meraih gelar ‘bintang’ terbaik,
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran: 110)
Maka jangan ragu, malu apalagi takut, tampakkan bahwa Your is a Moslem, meskipun Anda akan sedikit ‘asing’, itu sunnatullah. But you can say:
“Ini bukan untuk tampil beda juga bukan kebebasan ekspresi, tapi ini syari’at kalo beda harap maklum.”
Saksikan, I am a Moslem, Forever! InsyaAllah.[]

3 komentar:

  1. Artikel yang bagus, tapi sayang tidak disebutkan dalil-dalil ulama yang membolehkan demonstrasi. Mengenai ikhtilat di demonstrasi yg kata Anda adalah efek, alangkah baiknya jika efek itu di eliminir dengan tidak mengikutkan akhawat dlm demonstrasi, sy kira ini lebih logis, sesuai syariat -paling tidak mendekatinya-
    > Hehehe...afwan ustad...saya bukan ulama...jadi bukan kompetensi saya untuk dalilnya, masuk kategori penuntut ilmupun saya masih jauh di bawah level paling rendah. Karena saya suka sejarah dan dikit2 politik saya ingin menyorotinya dari sisi itu.

    Lebih bagus lagi klo Anda paparkan tata cara berdemonstrasi tanpa melanggar syari'at, dengan begitu mungkin akan lebih mencerahkan.
    > Saya cuma memberikan sudut pandang lain ustad. Ttg hal itu, antum bisa bertanya kepada yang lebih tahu.
    Mengenai Syaikh Abdullah bin Wahab Rahimahullah, akan lebih adil jika kita melihat efek dari 'pemberontakan' beliau, dimana pada saat itu terjadi fitnah yang besar; kesyirikan merajalela -penyembahan kuburan dan sebagainya-, bid'ah dan khurafat menjadi tradisi di dukung oelh penguasa pada saat itu. Dan alhamdulillah kemurnian tauhid -yg merupakan perkara terpenting di atas segalanya- yang masih kita nikmati sekarang ini bukan tidak mungkin adalah berkat jasa 'pemberontakan' beliau.
    > Yup, sepakat! Saya cuma ingin menunjukkan fakta bahwa toh Syaikhul Islam kita juga melakukan itu. Apakah salah kalau hal itu kembali terulang di zaman kita. Atau adakah hukum khusus yang berlaku buat beliau?
    wallahu a'alam

    BalasHapus
  2. Takutnya...kalau saya muat dalil2nya terus saya komentari...entar dituduh nyolot karyanya ulama..hehehe
    Siapa saya mau tambah2i fatwanya ulama...

    BalasHapus

Silahkan mengisi komentar dengan tetap mengedepankan adab berkomunikasi secara syar'i